After Apocalypse

After Apocalypse
Grey Jackal


__ADS_3

Malam harinya.


Setelah meminta Daisy dan Aster beristirahat, Alexander mengambil jubah dan topeng hitamnya. Pemuda itu kemudian keluar dari rumah dan menghilang dalam gelap malam.


Sekitar satu jam kemudian, Alexander berhenti di depan sebuah bangunan besar bertuliskan ‘Golden Wheat’ yang tampak mencolok.


‘Tsk! Seperti yang diharapkan dari shelter dengan kepadatan penduduk paling tinggi.’


Alexander tidak bisa tidak bergumam dalam hati.


Sekarang dia berdiri di depan sebuah bar besar, salah satu dari tiga tempat minum terpopuler di lingkaran 5. Masih tidak lepas dari pandangan Blood Cross, tetapi pengawasan bisnis di lingkaran tersebut memang sangat minim.


Sama seperti Shelter 13, Shelter 11 juga memiliki ‘mata uang’ mereka sendiri. Biasanya bisa ditukarkan dengan poin kontribusi atau bisa didapat dari bisnis mereka sendiri.


Sedangkan alasan kenapa Alexander memilih Golden Wheat ... tentu karena paling besar dan lebih aman dibandingkan dengan dua tempat lainnya. Bukan hanya veteran, tetapi para rookie juga sering minum di tempat ini.


Setelah diam di tempatnya selama beberapa saat, Alexander mengikuti kerumunan dan masuk ke dalam bar.


Ketika masuk ke tempat itu, suasananya jauh lebih ramai daripada di Shelter 13. Tampaknya bukan hanya karena jumlah penduduknya lebih banyak, tetapi orang-orang yang tinggal di sini hidup lebih santai dan nyaman.


Bisa dibilang, kebanyakan orang dari Shelter 13 sering berhubungan dengan monster, sementara orang di Shelter 11 berhubungan dengan manusia. Di tempat ini, tampaknya lebih banyak orang yang sering bertengkar dengan orang lain. Berbeda dengan suasana dimana mereka sibuk berburu dan kembali untuk melepaskan stres.


Pada saat Alexander berjalan, banyak orang yang mengawasinya dengan serius. Walau banyak orang yang datang, tetapi mereka bisa mengenali orang yang pernah datang. Jadi, semua orang yakin kalau dia adalah pendatang baru.


Bukannya hanya Alexander yang merupakan pendatang baru. Banyak pendatang baru setiap minggunya. Meski begitu, penampilan Alexander memang cukup mencolok dan membuat mereka tertarik.


Jubah bertudung hitam, topeng hitam dengan satu lubang mata, bahkan berpakaian dan membawa peralatan serba hitam. Jelas, warna hitam itu tampak cukup mencolok.


Alexander mengabaikan orang-orang. Dia langsung pergi memesan minuman. Setelah memesan dua botol anggur, pemuda itu memberi kupon lebih lalu bergumam dengan suara yang hanya bisa dia dan penjaga toko itu dengar.


“Aku ingin menemui Grey Jackal.”


Seorang pria paruh baya gemuk, botak, dan memiliki sisa rambut putih menyempitkan matanya. Dia menerima uang yang diberikan oleh Alexander lalu mengangguk.


“Tolong ikuti saya Pak.”


Setelah itu, pria tua itu mengantar Alexander menuju ke area lebih dalam dimana lebih banyak kelompok yang berkumpul mengelilingi meja masing-masing. Orang-orang itu lebih baik daripada yang ada di luar. Kebanyakan dari mereka adalam tim kecil berisi hunter level 1, dan bahkan ada beberapa tim cukup besar dengan satu atau dua hunter level 2 di dalamnnya. Benar-benar berbeda dengan bagian depan yang dipenuhi magang hunter.


Mereka berdua kemudian berjalan menuju ke tempat agak sudut yang sedikit gelap dan tidak mencolok. Di sana, tampak seorang pria paruh baya kurus dengan jubah penuh tambalan. Rambutnya berwarna abu-abu, kumis dan jenggotnya tidak terlalu panjang tetapi tidak terawat. Namun, matanya tampak tajam dan dia juga memiliki seringai berbahaya.


Pria itu dikelilingi banyak wanita yang tampil cukup mempesona. Dia sibuk minum dan bersenang-senang dengan mereka. Sama sekali tidak memperhatikan kedatangan dua orang itu.


“Aku mengantar pelanggan untukmu, Gery!” ucap pria tua itu.

__ADS_1


“Panggil aku Grey Jackal, Pak Tua!” ucap pria paruh baya yang menoleh dengan ekspresi tidak puas.


Setelah itu, Gery melihat ke arah Alexander. Melihat sosok misterius yang membuatnya merasakan bahaya itu, ekspresinya menjadi lebih serius.


“Kalau begitu kita berhenti di sini, Cantik! Kita akan melanjutkannya lain kali, ‘Daddy’ memiliki bisnis penting di sini!” ucap Gery dengan nada bercanda.


Para wanita itu mengeluh dengan centil, tetapi masih segera bangkit dan pergi. Walau mereka tampak dekat dengan Gery, tetapi tidak berani ikut campur dan mengganggu bisnisnya.


Setelah para wanita pergi, pria botak itu berkata, “Aku juga akan kembali. Urus saja urusan kalian.”


“Terima kasih.”


Alexander berkata dengan suara yang tidak bisa dibedakan apakah laki-laki atau perempuan. Pemuda itu mengangguk ringan lalu mengalihkan pandangannya pada Gery.


“Silahkan duduk. Maaf kalau berantakan,” ucap Gery dengan senyum ramah. “Bagaimana aku harus memanggil anda? Err ... Tuan? Nyonya?”


“Panggil saja aku V (Vi).”


Setelah mengatakan itu, Alexander duduk di seberang meja yang langsung berhadapan dengan Gery. Dia kemudian meletakkan satu botol anggur di depannya dan botol lain di depan Gery. Kemudian pemuda itu memberi isyarat, mempersilahkan Gery untuk minum.


‘Benar-benar menarik!’ pikir Gery.


Gery sendiri terkenal dengan sebutan Grey Jackal. Dia adalah seorang perantara. Pria itu biasa memperkenalkan penjual dan pembeli. Terdengar biasa, tetapi sebenarnya sangat berharga karena berbeda dengan perantara lain yang tidak bisa dipercaya ...


Biayanya tidak murah, tetapi pria paruh baya itu memiliki banyak koneksi. Entah ingin menjual atau membeli barang, dia bisa menemukan pasangan yang cocok untuk orang tersebut. Terlebih lagi, dia sangat terkenal karena sering bergerak di antara hitam dan putih.


Entah itu baik atau jahat, tidak ada masalah selama pelanggan tersebut membayar jasanya.


“Kamu benar-benar ramah. Kalau begitu, apa yang kamu butuhkan dariku, V?” tanya Gery.


Alexander tidak langsung menjawab. Dia membuka tutup botol, menuangkan anggur ke gelas kecil. Pemuda itu sedikit mengangkat topengnya lalu meminum anggur dengan tenang.


Setelah meletakkan gelasnya, barulah dia menjelaskan.


“Ada tiga alasan kenapa aku mencarimu, Grey Jackal.”


Alexander mengeluarkan beberapa lembar kupon (uang) lalu meletakkannya di atas meja depan Gery.


“Pertama, aku adalah pendatang baru dan memerlukan informasi tentang Shelter 11 darimu. Kedua, aku ingin kamu mencarikanku pembeli yang mau dan mampu membeli cukup banyak ramuan. Ketiga, aku ingin mencarikanku pemasok bahan baku ramuan dan bahan lain.”


Bukannya langsung menjawab, Gery malah balik bertanya, “Apakah kamu tidak takut aku membawa kabur uang ini, V?”


“Aku tidak percaya kamu akan merusak reputasi untuk uang sekecil itu. Selain itu, apa yang kuberikan padamu hanyalah uang jalan, bukan komisimu.

__ADS_1


Kamu perlu jalan-jalan untuk menemukan pelanggan dan pemasok untukku. Kamu juga harus menceritakan banyak informasi tentang Shelter 11. Itulah harganya.


Sedangkan setelah kamu dapat memperkenalkanku kepada pembeli potion dan penjual bahan, tentu saja ada komisi lain. Harga itulah yang sekarang sedang kita bicarakan.”


Mendengar penjelasan Alexander, Gery tertegun di tempatnya. Setelah beberapa saat, dia tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha! Memberiku uang untuk jalan-jalan dan berbicara? Kamu benar-benar menarik, V!


Hey! Seharusnya lebih banyak orang pintar sepertimu. Kebanyakan dari mereka pelit. Bahkan sebagian besar dari mereka enggan mengeluarkan uang padahal keuntungan yang mereka dapatkan banyak.”


Gery menggelengkan kepalanya. Dia membuka tutup botol lalu ikut minum. Pria itu menatap ke arah Alexander untuk mengawasi sosok misterius di depannya. Namun, sekali lagi dia dikejutkan betapa misteriusnya orang itu. Tampak begitu tenang dan tidak menunjukkan sedikitpun rasa canggung atau gugup.


“Apakah kamu tidak takut dirugikan?” tanya Gery santai.


“Aku memiliki dasar penilaianku sendiri, jadi kamu bisa tenang,” jawab Alexander datar.


“Menarik! Aku benar-benar berharap bisa bekerja sama dengan pelanggan sepertimu, V. Apakah kamu memiliki persyaratan?” tanya Gery.


“Tentu saja ada.” Alexander mengangguk. “Untuk pembeli, harga bisa sedikit lebih murah daripada di pasar gelap. Namun sebaiknya kamu bisa mendapatkan pembeli yang memiliki daya konsumsi tinggi sehingga aku bisa memasok mereka. Sedangkan untuk penjual bahan, carikan yang lebih lengkap. Asalkan dia juga bisa memasok bahan langka, harga bahan biasa yang sedikit lebih mahal bukan masalah.”


“Pantas saja kamu mencariku, V. Kamu ingin berdagang dengan kelompok hunter cukup besar dan para pedagang besar. Caramu mencari titik aman memang sangat baik,” ucap Gery.


“Apakah kamu bisa menyediakannya?” tanya Alexander datar.


“Ini bisa dibilang ujian bagiku. Namun bisnis besar ini memang menggelitik minatku. Sungguh, kamu adalah pembicara yang hebat V.” Gery tersenyum ramah.


“Untuk melakukan itu, apakah kamu memiliki persyaratan?” tanya Alexander.


“Bisakah kamu memberiku satu sampel yang akan ditunjukkan kepada calon pelanggan. Lagipula, meski sama-sama ramuan tingkat rendah, itu juga masih tergantung pada kualitas pembuatannya.


Orang-orang itu tidak akan percaya dengan kata-kata belaka. Namun jika kamu khawatir aku akan mencurinya, maka aku juga bisa mencoba meyakinkan mereka terlebih dahulu.”


“Tidak masalah.” Alexander mengangguk ringan. “Aku akan memberimu masing-masing satu botol sebagai contoh.”


“Kamu tidak takut tertipu?” ucap Gery yang semakin ragu.


“Menurutku, entah itu uang atau hal-hal lainnya hanyalah sarana.” Alexander tampak tak acuh. “Apakah ada yang lain?”


“Tidak.” Gery buru-buru menggelengkan kepalanya. “Tidak ada lagi yang aku ragukan.”


Mendengar itu, Alexander mengangguk ringan. Dengan senyum tipis di balik topengnya, pemuda itu kembali berkata.


“Kalau begitu ... mari kita bahas biaya komisinya.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2