After Apocalypse

After Apocalypse
Keluarga Rosewald


__ADS_3

Sekitar setengah jam kemudian.


Selesai menyimpan barang dan mengganti pakaiannya, Alexander menemui Aurora yang menunggu di ruang tamu.


Alasan kenapa pemuda itu tidak langsung berbicara padanya bukan hanya karena harus menyimpan berbagai bahan dengan baik, tetapi juga menenangkan diri. Lagipula, dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan Aurora lagi.


Alexander meletakkan secangkir teh panas yang masih mengepul di depan Aurora. Pemuda itu kemudian duduk di kursinya. Dia melirik ke kamar dimana Diasy dan Aster tinggal sebentar, lalu melihat tepat ke wajah Aurora.


“Jadi ... ternyata kamu datang ke Shelter 11? Apakah kamu berasal dari sini?” tanya Alexander dengan nada ringan.


“Memang, aku terlahir di sini dan tumbuh di Shelter 11 ini. Hanya pergi setelah mulai dewasa untuk mencapai tujuanku sendiri.” Aurora mengangguk. Dia menatap Alexander lalu memiringkan kepalanya. “Apakah kamu tidak penasaran kenapa aku datang menemuimu?”


“Jika kamu mau, kamu akan mengatakannya bahkan jika aku tidak bertanya. Jika kamu tidak mau, kamu tidak akan menjawabnya jika aku bertanya.”


Setelah mengatakan itu, Alexander mengambil cangkir lalu mulai menyesap teh dengan ekspresi datar di wajahnya. Tampaknya benar-benar tidak ingin mengajukan banyak pertanyaan kepada Aurora.


“Kamu benar-benar masih seperti sebelumnya Al. Sama sekali tidak berubah,” ucap Aurora. Tanpa dia sadari, senyum lembut muncul di wajah dinginnya.


“Bukan hanya kamu, tetapi aku juga berubah.” Alexander meletakkan cangkir di atas meja. “Setelah hampir satu tahun tidak bertemu, aku sudah bertambah kuat. Seperti yang kamu lihat, Daisy dan Aster yang dulunya pengungsi yang hampir mati kelaparan telah menjadi hunter level 1.”


“...” Aurora hanya diam.


“Lihat dirimu sekarang. Level masih stagnan dan belum mendapatkan satu pun ramuan evolusi, tubuh lebih kurus, kulit tampak pucat, bahkan terlihat kurang istirahat,” kata Alexander dengan nada datar.


“Apakah ini caramu menyambut tamu, Al? Mengejek atas ketidakberdayaanku ketika berpisah denganmu?” tanya Aurora dengan senyum masam di wajahnya.


“Tidak. Aku sama sekali tidak mengejekmu. Aku hanya mengatakan fakta. Selain itu, kamu yang sekarang membuatku sedikit penasaran.


Tahun lalu kamu pergi dengan terburu-buru dan berkata bahwa kamu ingin melakukan sesuatu. Namun, apa yang sekarang terjadi padamu? Apakah ini pengejaran yang selama ini kamu inginkan?”


“CUKUP!” teriak Aurora.


Wanita itu langsung bangkit dan meraih kerah Alexander. Dia mengangkat pemuda itu agak tinggi sambil menatapnya dengan ekspresi penuh kemarahan dan kesedihan. Namun, Alexander sama sekali tidak membalas. Pemuda itu malah menatapnya dengan ekspresi datar. Hanya saja ...


Rasa iba terlihat di matanya.

__ADS_1


“Siapa yang ingin hidup dengan cara seperti ini?! Kamu pikir aku mau melalui semua ini?! Aku ... aku hanya ingin kehidupan yang lebih baik!” teriak Aurora dengan ekspresi tertekan.


Alexander menepuk tangan wanita itu dengan lembut, tanpa sadar Aurora langsung menurunkannya. Wanita itu kemudian bergegas ke arahnya lalu memeluk erat tubuhnya. Menenggelamkan diri dalam dekapannya sambil terisak.


Setelah beberapa saat, Aurora mulai berhenti menangis dan suasana menjadi agak canggung. Dia ingin melepaskan diri dari Alexander. Namun, saat itu pemuda tersebut tiba-tiba mengangkatnya.


Alexander membawa Aurora duduk ke kursi, bahkan memangkunya.


“Apa yang kamu-“


“Ssttt!” Alexander menyela Aurora dan memberi isyarat agar wanita itu tidak berisik.


Duduk di atas pangkuan Alexander membuat Aurora merasa malu. Pada akhirnya, dia hanya pasrah bersandar pada pemuda itu. Entah kenapa, merasakan kehangatan yang telah lama hilang membuatnya merasa nyaman. Jadi dia hanya memejamkan mata dalam diam ketika Alexander membelai lembut kepalanya.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu berakhir seperti ini?” tanya Alexander.


“Itu ... itu semua salahku.” Aurora tampak sedih.


“Ceritakan padaku. Aku mungkin tidak sekuat itu, tetapi juga mungkin bisa membantumu,” ucap Alexander.


“Ini semua salahku, Al. Jika sebelumnya aku tidak meninggalkan rumah, kedua orang tuaku pasti tidak akan mati. Adikku juga tidak akan menderita karena menggantikanku.


Sebenarnya keluargaku tidak sebesar itu. Meski kepala keluarga selalu menjadi salah satu petinggi Shelter 11, tetapi keluarga kami sudah menurun dan tidak ada hunter level 3 di dalamnya. Meski begitu, selalu ada satu tempat untuk menjadi petinggi Shelter 11. Dikatakan itu semua bisa dilakukan karena jasa leluhur keluarga.


Jadi ... semua orang memperebutkan posisi kepala keluarga.”


Aurora tidak peduli Alexander yang tampak hening. Meski diam, dia tahu kalau pemuda itu sedang mendengarnya dengan saksama. Jadi wanita itu kembali berbicara.


“Ayahku adalah kepala keluarga sebelumnya. Karena dia hanya memiliki dua anak perempuan, banyak paman yang mencoba merebut posisinya. Meski begitu, mereka tidak berani melakukannya secara langsung dan hanya bisa melakukannya diam-diam.


Semua orang menyalahkan ayah karena kondisi keluarga semakin menurun. Jadi dia merasa semakin tertekan setiap harinya. Belum lagi, dia juga membenci aku dan adikku karena terlahir sebagai perempuan.


Pada akhirnya, ayahku menemukan sebuah solusi. Ada pria yang ingin menikahiku, dan orang itu bukan dari keluarga biasa. Dia adalah putra Aunt Ma, salah satu hunter terkuat di Shelter 11.


Seperti tanah kekeringan yang akhirnya melihat hujan datang, ayahku langsung menyetujuinya.

__ADS_1


Aku tidak mengenal pria itu dan sama sekali tidak menyukainya. Aku berpikir kalau ayahku sudah keterlaluan. Sudah jelas kalau ada Aunt Ma yang merupakan hunter wanita yang sangat kuat, tetapi dia masih merendahkan aku dan adikku.


Tidak ingin diperlakukan sebagai barang, aku memutuskan untuk pergi dari Shelter 11 dan memulai jalan untuk menjadi hunter.”


Setelah mengatakan itu, Aurora menghela napas panjang. Meski merasa kesal, tetapi wanita itu juga merasa agak tak berdaya dan sedikit bingung. Menggigit bibirnya, dia merasa semakin tertekan.


“Berbeda denganku. Adikku adalah gadis yang sangat patuh. Setelah kepergianku, dia menggantikanku untuk menikahi pria itu.


Adikku masih sangat muda, tetapi keluarga memaksanya menikah. Dia sama sekali tidak menolaknya. Pria itu juga setuju. Hanya saja, dia tampaknya tidak puas dengan adikku.


Beberapa saudara ayahku memanfaatkan kesempatan itu untuk menurunkan ayahku dari posisi kepala keluarga. Pada akhirnya, dia pun turun dari posisinya.


Selain itu, para paman juga menggunakan koneksi mereka untuk menghubungi pria itu. Dengan bantuannya, ayah ditugaskan untuk memimpin misi darurat menahan serangan gelombang monster dan akhirnya terbunuh.


Kamu pasti tahu apa yang terjadi pada wanita cantik tanpa perlindungan. Belum lagi seorang yang tanpa daya dan tidak memiliki sedikitpun kekuatan.


Setelah ayahku meninggal, ibuku tahu kalau hanya keputusasaan yang akan menunggunya. Jadi, daripada jatuh ke tangan para paman yang lebih buruk dari binatang itu, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Setelah kembali ke Shelter 11, aku menghabiskan cukup banyak waktu untuk mendapatkan bahan berharga. Aku menggunakannya untuk mencari dan membuka koneksi sehingga mendapatkan semua berita ini. Namun, ada yang membuatku bingung.


Adikku lebih cantik dariku, jadi seharusnya tidak ada masalah dengan itu. Jadi aku bingung ketika mendapatkan informasi itu.


Pada akhirnya, setelah banyak usaha, aku menemukan jawabannya.”


Setelah mengatakan itu, Aurora menatap ke arah Alexander. Dia menarik napas dalam-dalam lalu bertanya.


“Apakah kamu pernah mendengar nama Keluarga Rosewald, Al?”


Mendengar nama itu, ekspresi terkejut tampak di wajah Alexander. Memiliki sedikit keraguan, dia masih berkata, “Maksudmu ... keluarga yang memimpin dan menguasai Blood Cross?”


“Ya.”


Aurora menatap pemuda itu dengan mata bak rubi, lalu melanjutkan.


“Leluhurku yang dikatakan berkontribusi untuk Shelter 11 sebenarnya adalah anggota Keluarga Rosewald.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2