
“Alexander!”
Saat itu, suara teriakan Rowan membuat Alexander tersadar dari lamunannya. Ketika menoleh, pemuda itu langsung terkejut ketika melihat kondisi pria paruh baya itu.
Rowan jatuh berlutut dengan telinga berdarah. Tangan kanan yang sebelumnya digunakan untuk memukul tubuh makhluk itu tampak membusuk. Tidak sampai hancur total, tetapi jelas terlihat gejala keracunan yang cukup serius. Ditambah lagi, tampaknya pria paruh baya itu juga terkena cakaran gagak bermata satu yang beracun.
‘Racun semacam itu ...’
Mata Alexander menyempit, ekspresinya menjadi semakin serius. Dia melirik ke arah Rowan lalu berkata ramah, “Beristirahatlah.”
Setelah mengatakan itu, Alexander langsung berjalan ke area paling dalam gua. Tempatnya hanya dipenuhi bebatuan, tetapi lebih gelap. Bahkan area sudutnya juga gelap gulita.
Saat itu, Alexander melihat gagak bermata satu yang bangkit. Melihat kondisi mengerikan makhluk itu, dia langsung yakin.
“Tampaknya kamu tidak terlalu cepat, tidak memiliki pertahanan kuat, tidak memiliki kemampuan regenerasi ... bahkan tidak memiliki pengalaman bertarung.”
Setelah mengatakan itu, Alexander mengeluarkan kedua pedangnya. Tanpa pikir panjang, dia langsung berlari mendekati makhluk itu secepatnya untuk memberi pukulan terakhir. Namun, apa yang tidak terduga terjadi.
Ketika Alexander sangat dekat, gagak bermata satu yang tampaknya sekarat membuka lebar matanya. Makhluk itu kemudian membuka paruhnya dan membuat suara keras, lalu melesat ke arah pemuda itu untuk mencakar lehernya.
Suara itu jelas membuat Alexander terkejut, tetapi tidak membuatnya tertegun di tempatnya. Meski merasakan otaknya agak berguncang dan tubuhnya sulit dikendalikan, pemuda itu masih menebas dengan keras.
Slash!
Alexander sukses mendaratkan serangan pada makhluk itu. Namun, akhirnya masih menerima serangan di bagian dada kanan sampai bahu. Untungnya pemuda itu masih sempat menghindari serangan yang mengincar lehernya.
“Ugh!”
Merasakan racun yang menyebar di tubuh, Alexander menggertakkan gigi. Awalnya dia berpikir racun itu masih cukup mudah ditahan. Namun, ternyata racunnya cukup kuat.
Menggelengkan kepalanya, Alexander menyeka darah dari kedua telinganya. Saat itu juga, dia merasa kalau pendengarannya terganggu. Pemuda itu langsung mengawasi sekitar dengan waspada, tetapi sedikit terkejut ketika tidak mendengar apa-apa.
‘Jika dugaanku benar, maka ini masih bisa dilakukan.’
Sembari memikirkan itu, Alexander berdiri tegak lalu memejamkan matanya. Energi telekinesis yang tidak terlihat melapisi tubuhnya. Kemudian, energi tersebut menyebar di sekitar dengan tenang.
Sama sekali tidak menggerakkan benda apapun, tetapi malah membuat Alexander bisa merasakan benda-bendar yang ada di sekitarnya. Seolah menjadikan dirinya sebagai radar untuk mendeteksi lingkungan sekitar.
Saat itu, Alexander tiba-tiba merasakan sesuatu yang melesat ke arahnya dengan cepat. Pemuda itu langsung menggunakan ledakan kecepatan lalu menebas tanpa membuka matanya.
SLASH!
Alexander merasakan darah beracun merusak pakaian dan juga sedikit melukai kulitnya. Ketika membuka mata, dia melihat gagak bermata satu sudah jatuh terpenggal.
Melihat makhluk itu kehilangan nyawanya, Alexander tampak lega. Saat itu juga, dia merasa kalau ada banyak faktor yang membantu kemenangannya dan mempermudah semuanya.
__ADS_1
Pertama, tentu saja serangan Rowan yang sangat kuat. Dia sendiri yakin kalau serangan pria paruh baya tersebut bisa melukainya cukup parah jika sampai terkena.
Kedua, Alexander cukup yakin kalau gagak bermata satu ini belum lahir cukup lama. Bisa dibilang, dalam keadaan masih bayi. Jika tidak, cara penggunaan kemampuannya pasti tidak sesederhana itu dan levelnya pasti tidak hanya level 2.
Ada beberapa faktor lain, tetapi dua itu adalah faktor paling penting.
Alexander mencengkeram erat kaki gagak bermutasi lalu menyeretnya ke arah Rowan yang berbaring di kejauhan. Saat sampai di bawah pohon, dia melihat kalau Aurora dan tujuh orang lainnya sudah tidak ada. Lebih tepatnya, dua orang mati dan lima sisanya berhasil lari.
Seharusnya mengikuti saran Aurora untuk menunggu di luar gua sambil mengobati luka mereka.
Saat itu juga, Alexander melihat Rowan tergeletak di tanah karena keracunan parah. Lukanya cukup parah dan napasnya sudah sangat lemah. Melihat kedatangannya, tatapan penuh harap muncul di matanya. Tampaknya merasa lega ketika melihat gagak bermata satu mati dan Alexander yang kembali.
“Alexander ... potion ...” gumam Rowan dengan suara yang nyaris tidak bisa didengar.
Alexander meletakkan tubuh gagak bermutasi ke samping lalu berlutut di dekat tubuh Rowan.
“Terima kasih atas kerja kerasmu, Rowan.
Sebenarnya aku cukup yakin kalau kamu tidak melihatnya. Juga, ini bukan alasan kenapa aku melakukannya. Ya ... anggap saja aku munafik.
Jika kamu kembali, kamu akan pensiun karena tubuhmu sudah hampir tidak bisa digunakan lagi. Kamu akan duduk kesepian di rumah tanpa keluarga dan kerabat yang merawat. Jadi, aku pikir ...”
Rowan menatap Alexander yang berbicara datar dengan wajah tanpa ekspresi, tampaknya benar-benar terkejut ketika melihat sisi lain pemuda itu. Pada saat tubuhnya semakin sakit dan napasnya semakin lemah, suara lain masuk ke dalam telinganya.
“Karena dendam telah terbalaskan ...
Beberapa jam kemudian, di luar gua tempat pertempuran tragis terjadi.
“Kenapa mereka tidak keluar setelah berjam-jam?”
Salah satu prajurit level 2, Tavon bertanya dengan cemas. Sementara itu, Liam sudah tertidur karena terluka parah. Ada juga tiga orang level 1 yang terluka, tetapi mereka tidak berani tidur karena takut ditinggalkan. Jelas pengalaman sebelumnya membuat mereka trauma.
Jika bukan karena Aurora yang melempar tali dan membantu menyelamatkan mereka, orang-orang itu pasti sudah mati karena jumlah cacing yang terlalu banyak.
Sementara itu, Aurora yang menolong mereka juga merasa agak khawatir. Dia sudah melaksanakan tugas yang diberikan oleh Alexander. Membantu beberapa orang di belakang, menjauhkan mereka agar ‘kebohongan’ yang mereka katakan tidak terbongkar.
“Tenang saja, seharusnya mereka berdua baik-baik saja,” ucap Aurora meski merasa agak ragu.
Setelah menunggu cukup lama, langkah kaki terdengar dari dalam gua. Saat itu juga, mereka melihat sosok Alexander yang datang. Namun, bukannya bahagia, Tavon dan rekan-rekannya tampak sedih karena ...
Alexander menggendong dua mayat yang salah satunya adalah mayat Rowan!
Alexander meletakkan mayat Rowan dan Mari di depan rekan-rekannya lalu menjatuhkan tubuh gagak tanpa kepala yang dibungkus jubah.
__ADS_1
“Aku ... Aku sudah berusaha, tapi ...”
Alexander menggigit bibirnya, tampak sangat tertekan.
Saat itu, Tavon, Liam, dan tiga orang lainnya melihat kondisi Alexander. Bukan hanya tampak lebih kurus, tetapi wajahnya tampak sangat pucat. Ada banyak bekas luka di sekujur tubuhnya, bahkan terlihat berlebihan. Jelas, kulitnya terkena racun sangat kuat.
Bruk!
Alexander jatuh berlutut lalu menutup mulutnya. Pemuda itu batuk beberapa suap darah, tampaknya akan roboh kapan saja.
Aurora langsung membantu Alexander. Dia membawa pemuda itu pergi berbaring dekat dinding batu lalu membuatnya menelan pil penawar racun.
Wanita itu tampak sangat panik. Dia terlihat cemas ketika mulai mengobati luka Alexander. Dia segera membersihkan luka dan mengoleskan obat. Namun gerakannya sedikit melambat ketika melihat luka keracunan yang merusak bagian luar kulit dengan sengaja.
Ya. Setelah memeriksanya, Aurora mengetahui kalau luka itu benar-benar disengaja. Itu berarti, Alexander telah mendapatkan miracle root kedua dan sekarang sedang berakting.
Melihat pemuda tak tahu malu itu, Aurora merasa kalau kekhawatirannya sia-sia. Dia ingin marah dan menampar Alexander, tetapi sadar tidak bisa melakukannya karena takut akting mereka terbongkar.
Sekitar satu jam kemudian, Alexander yang tubuhnya dililit seperti mumi akhirnya ‘sadar’ kembali. Saat itu juga, lima orang lainnya mendatangi pemuda itu.
“Aku ... aku sudah berusaha menolongnya. Namun ... namun aku benar-benar tidak berdaya.
Rowan telah berjuang sangat keras dan berhasil membunuh gagak bermata satu itu. Dia berhasil membalaskan dendamnya. Sedangkan aku sendiri ingin membantunya, tetapi bukan hanya melukai diri sendiri dengan bodohnya, tetapi juga gagal menyelamatkannya.
Seandainya lebih cepat, seandainya lebih cepat, mungkin saja racun itu tidak membunuhnya.
Maaf! Aku sangat marah sampai memotong-motong tubuh gagak itu, tetapi kemarahanku sia-sia. Bahkan jika aku menghancurkan tubuh monster itu, Rowan ... dia tidak bisa kembali.”
Setelah mengatakan itu, Alexander menggigit bibirnya. Wajahnya agak pucat dan tampak akan menangis kapan saja.
Melihat ekspresi menyakitkan di wajah ‘pemuda baik hati’ itu membuat rekan-rekan tim lainnya mulai menangis. Mereka merasa sedih sekaligus terharu karena Alexander mencoba membantu mereka. Walau berujung dengan banyak kematian, tetapi kedua orang itu masih menyelamatkan nyawa mereka berlima, dan itu pantas disyukuri.
“Aku tidak tahu apakah kalian akan membawa tubuh Rowan dan Mari kembali. Aku ... aku juga tidak bisa memberi keputusan bagi kalian. Namun, aku berharap kalian bisa memakamkan mereka dengan cara lebih layak.”
Mendengar ucapan tulus dari mulut Alexander, kelima orang itu kembali menangis. Sementara itu, Aurora hanya menunduk dalam diam. Dia memilih untuk tidak berkomentar apa-apa. Wanita itu takut aktingnya yang buruk akan merusak semuanya. Selain itu, dia juga cukup yakin akan satu hal.
Seharusnya semuanya tidak berjalan dengan sesedih dan sedramatis itu! Jelas, pemuda tidak tahu malu itu telah melakukan sesuatu!
“...”
Aurora hanya bisa diam sambil menghela napas dalam hatinya.
Setelah beberapa waktu, akhirnya diputuskan kalau mereka akan mengubur tubuh Mari dan Rowan di luar gua. Namun, mereka membawa beberapa item kecil yang bisa dianggap sebagai bukti sekaligus peninggalan dari kedua orang itu.
Barulah, mereka semua pergi untuk mencari tempat untuk beristirahat malam ini. Berencana untuk kembali di hari berikutnya.
__ADS_1
>> Bersambung.