
“Senjata?”
Ketika mendengar ucapan Alexander, mata Tuan Lenka langsung berbinar. Sebagai orang yang berjuang melawan banyak monster sebelumnya, pria itu jelas menyukai senjata. Namun pria paruh baya itu tampak agak kecewa ketika melihat kotak yang ditunjukkan Alexander kepadanya.
Berdasarkan ukuran kotak, tidak mungkin ada senjata panjang atau berat di dalamnya. Jadi jenis senjata yang disimpan di dalamnya sudah jelas ... belati.
Benar saja, ketika membuka kotak itu, tampak dua belati di dalamnya. Hanya saja, Tuan Lenka yang sudah mempersiapkan diri masih terkejut dengan apa yang ada di dalamnya.
“Meski dibuat dengan bahan dari monster level 2, tetapi tidak buruk bukan? Setidaknya, aku tidak akan rugi jika mengirimkannya sebagai hadiah,” ucap Alexander setengah bercanda.
Perkataan pria itu langsung menyadarkan Tuan Lenka dari lamunannya. Pria paruh baya itu menatap ke arah Alexander dengan ekspresi tidak percaya. Dia kemudian kembali menatap dua belati dalam kotak.
Belati itu terbuat dari taring binatang yang tidak diketahui. Namun pengerjaannya bisa dibilang sangat halus dan detail. Di bagian paling bawah gagang pedang tampak ukiran tanduk kambing melengkung. Tidak hanya di sana, tetapi tampak beberapa detail kecil yang mempercantik sepasang belati tersebut.
Warna abu-abu adalah warna utama yang cukup menonjol di bagian bilahnya. Di bagian handle (pegangan) berwarna hitam, terbuat dari kayu yang kokoh dan dilapisi kulit binatang berwarna hitam. Ada juga tambahan batu darah (sejenis kristal mirip rubi) yang digunakan sebagai hiasan, membawa kesan elegan dan mewah.
“Bukan hanya indah, tetapi juga nyaman dipegang.” Tuan Lenka memuji dengan ekspresi heran.
“Kamu juga bisa menguji ketajaman dan kekuatannya,” ucap Alexander santai.
“Tidak perlu.” Tuan Lenka menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu kamu harus mempercayai keterampilanku. Aku percaya kalau senjata yang baik bukan hanya senjata yang indah, tetapi bisa digunakan untuk bertarung. Lagipula, itu dibuat untuk digunakan dalam pertempuran, bukan hanya pajangan,” ucap Alexander.
“Sepertinya kamu percaya diri dengan kemampuanmu menempa dan membuat berbagai peralatan V?” Tuan Lenka menatap Alexander lekat-lekat.
“Aku bisa membuat beberapa ramuan sederhana. Keterampilanku dalam membuat ramuan masih kalah dengan Faust itu. Namun, aku sangat percaya diri dalam pembuatan senjata. Bahkan sangat yakin lebih baik daripada orang itu,” balas Alexander.
__ADS_1
“Oh?”
Tuan Lenka mengangkat alisnya. Meski Vermillion Shop belum lama dibuka, dia sangat jelas perihal informasi toko tersebut. Bukan hanya menjual ramuan dengan kualitas baik dengan harga rendah, tetapi toko itu juga menjual beberapa senjata dengan kualitas yang baik. Tidak banyak dan sulit dibeli, tetapi memiliki kualitas yang memuaskan pelanggannya.
Alexander berbicara dengan ramah. Selama ini, senjata dan peralatan yang dia buat sebenarnya tidak mengandung banyak seni. Sebaliknya, berbagai item itu terlihat sangat sederhana tetapi halus. Bukan karena dia tidak bisa melakukannya, tetapi karena pria itu terlalu sibuk dan dikejar waktu. Jadi selama senjata itu memiliki kualitas baik, itu sudah cukup.
Hanya saja, karena beberapa alasan, Alexander akhirnya mulai membuat beberapa ‘barang mewah’ untuk dijual. Kelompok besar seperti Cursed Lambs dan beberapa kelompok lain pasti tidak akan tertarik dengan senjata ‘biasa’. Bahkan jika kualitasnya sangat baik, itu kurang menarik perhatian mereka karena masing-masing kelompok pasti membesarkan penempa senjata. Meski tidak berada di puncak, tetapi kualitasnya cukup tinggi.
Bentuknya kurang lebih hampir sama, jadi mereka tidak repot membuang banyak uang hanya demi sedikit peningkatan.
“Ini memang indah dan pasti banyak orang yang tertarik. Jadi, kamu berencana untuk menjual ini di pesta?” tanya Tuan Lenka.
“Tidak. Daripada pesta biasa, aku mengusulkan untuk membuka pelelangan. Kita bisa menjual berbagai bahan langka di sana. Misalnya menjual senjata, ramuan evolusi, bahkan beberapa bahan berharga.
Lelang berarti bahan akan diletakkan di depan semua orang, mulai dijual dari harga normal. Orang yang menginginkannya bisa menaikkan harganya, dan orang yang mampu membeli dengan harga tertinggi adalah pemenangnya.”
Tuan Lenka melihat pria di depannya tersenyum. Meski hampir tertutup oleh topeng, tetapi senyum itu memang masih terlihat. Setelah mencerna perkataan Alexander, ekspresi Tuan Lenka menjadi lebih serius.
“Tentu saja tidak. Orang yang ingin menjual harus meminta izin. Selain dinilai kelangkaan dan kelayakan barang, penjual yang menggunakan jasa lelang harus memberi biaya pajak untuk barang yang dilelang.
Selain itu, untuk menghindari terlalu banyak barang dan kekacauan yang tidak perlu, barang yang dilelang setiap lelang harus dibatasi. Misalnya hanya melelang 25 item. Itu berisi 15 item yang cukup langka, 7 item lebih langka, dan 3 item terbaik yang paling langka.”
“Ide yang brilian.” Tuan Lenka mengelus dagu. “Sepertinya Cursed Lambs akan mendapatkan lebih banyak uang karena ini. Namun ... apakah kamu tidak takut aku berkhianat? Bisa saja aku hanya menerima hadiah dan idemu, tetapi tidak melibatkanmu dalam masalah ini.”
“Tentu saja itu karena saya percaya diri.” Alexander tertawa. “Anda bukan orang bodoh yang hanya bisa menggunakan otot, Tuan Lenka. Pesta meriah dan lelang tidak akan lengkap tanpa anggur yang harus serta senjata yang luar biasa, bukan? Aku cukup percaya diri dalam hal itu.”
“Maksudmu?” Tuan Lenka memiringkan kepalanya.
__ADS_1
“Anggur yang dibuat orang-orang itu tidak terlalu unik dan cukup mahal, hanya orang bodoh (bangsawan banyak uang) yang mau membelinya. Senjata buatan pengrajin biasa hampir tidak memenuhi syarat. Masih bisa dijual, tetapi efeknya mungkin kurang maksimal.
Selain itu, bahkan jika kamu memilih memulai sendiri, aku juga bisa menjual ideku pada Damian. Membuat pesta dan lelang yang lebih megah tanpamu.”
Mendengar perkataan penuh percaya diri dari Alexander, Tuan Lenka tampak semakin penasaran.
“Kenapa kamu memilih untuk mendatangiku? Tidak langsung membicarakannya kepada Damian?” tanya Tuan Lenka.
Alexander tidak langsung menjawab. Dia meminum segelas anggur terlebih dahulu. Setelah itu, dia menunjukkan tiga jari sembari menjelaskan.
“Pertama, karena para hunter bebas lebih tertarik dengan hal semacam ini. Sesuatu yang bisa membuat mereka bersaing dengan orang-orang yang mengaku sebagai bangsawan itu.
Kedua, aku telah banyak membantu Damian dan Faust. Sekarang mereka telah mendapatkan cukup banyak keuntungan, jadi tidak baik memberi sesuatu yang berlebihan pada mereka.
Ketiga, aku hanya ingin berteman denganmu. Bukankah ini cara yang baik untuk mendapatkan teman?”
Penjelasan Alexander membuat Tuan Lenka tersenyum. Namun, dia juga diam-diam mengetahui apa yang ‘V’ sedang rencanakan. Dalam percakapan sebelumnya, pria paruh baya itu cukup yakin kalau V masih mendapatkan sedikit keuntungan entah dari Damian atau Faust.
‘Berteman? Itu tidak salah, tapi ... bukankah kamu melakukannya karena tidak ingin meletakkan telur dalam keranjang yang sama sehingga kewalahan jika dicuri? Cih! Dasar rubah kecil!’
Tuan Lenka tahu kalau V merasa tidak aman hanya mengandalkan uang dari Damian atau Faust, jadi orang itu mencari sumber lain. Setidaknya, dengan begitu dia tidak takut uangnya hilang jika salah satu bisnis mengalami masalah.
Meski sudah mengetahui rencana V, tetapi Tuan Lenka masih memilih untuk melakukannya. Lagipula, hal itu tidak merugikannya. Bahkan memberinya lebih banyak keuntungan, jadi ... pria paruh baya itu mengulurkan tangannya.
“Kalau begitu mohon bantuanmu mulai sekarang, V.”
Mendengar jawaban positif dari Tuan Lenka, Alexander langsung menjabat tangan pria itu sambil membalas.
__ADS_1
“Senang berbisnis denganmu, Tuan Lenka.”
>> Bersambung.