After Apocalypse

After Apocalypse
Kunjungan Ramah


__ADS_3

Annie menatap ke arah Yona dengan ekspresi penuh keheranan di wajahnya. Wanita itu kemudian menggeleng ringan. Dia masuk ke dalam ruangan lalu mencari tempat untuk duduk.


“Kamu terlalu melebih-lebihkan aku, Yona.” Setelah mengatakan itu, Annie menatap Mei. “Duduklah Mei. Ketika berada di markas, kamu harus lebih leluasa.”


“...”


Mei mengangkat alisnya. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi Annie menyela.


“Duduklah,” ucap wanita itu.


Pada akhirnya Mei mengangguk, lalu memindahkan kursi tidak jauh dari Annie. Duduk di belakang bagian kiri wanita itu. Sementara itu Yona yang sudah berdiri bergegas ke arah Chris yang menertawakannya.


Melihat kedua wanita itu ribut seperti gadis kecil, Annie menghela napas. Dia kemudian melihat sekeliling dengan tatapan penuh keraguan.


“Apakah Scarlet tidak ada di markas?” tanya Annie.


Yona menghentikan gerakannya. Wanita itu menoleh ke arah Annie lalu berkata, “Seharusnya wanita itu pergi ke luar, membunuh monster untuk menenangkan diri atau semacamnya. Haruskah aku mencarinya, Ketua?”


“Tidak perlu. Kali ini aku tidak datang untuk mencarinya. Sebaliknya, aku datang untuk mencarimu Yona,” balas Annie.


“EH?”


Mata Yona terbelalak. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Annie datang mencarinya. Lagipula, hal seperti itu sangat jarang.


“Apakah ada yang kamu butuhkan dariku, Ketua?” tanya Yona.


“Orang yang kamu sebutkan terakhir kali muncul di Shelter 1. Apakah kamu tidak berencana untuk menemuinya?” balas Annie dengan senyum ramah.


“???” Yona memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung di wajahnya.


“Ah! Maksudmu orang yang tiba-tiba muncul lalu menghapus Mad Ox dan menjadi buronan? Hmmm ...” Chris mengelus dagu. “Pria itu memang menarik.”


“???” Yona tampak semakin bingung.


“Bukannya Yona memberi pria itu kartu identitasnya? Jika belum menemukan kita, bukankah itu berarti dia telah melupakan Yona? Mungkin tidak pernah menganggap undangan itu dengan serius?” tambah Chris dengan senyum nakal di wajahnya.


“Menurutku dia seharusnya memang melupakan hal semacam itu. Lagipula, setelah melewati bencana, hal-hal yang tidak begitu berkaitan biasanya tanpa sadar dilupakan,” balas Annie sambil mengangguk ringan.


“Tunggu sebentar!”


Yona tiba-tiba menyela sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Dia kemudian menatap ke arah rekan-rekannya lalu bertanya dengan ekspresi serius.


“Kartu identitas? Apakah orang itu ... V datang ke Shelter 1?” tanya Yona dengan ekspresi curiga.


“Pfftt! Hahahaha!”

__ADS_1


Sementara dua orang lain memilih diam, Chris tidak bisa menahan tawanya. Dia menatap ke arah Yona sambil terus menertawakan si pendek yang kekanak-kanakan tetapi suka berpura-pura dewasa itu.


“Apa yang lucu!” teriak Yona sambil mengangkat hidungnya, mendengus tidak puas.


“Kamu ketinggalan berita. Pria itu, V sudah muncul di Shelter 1 sejak musim semi. Di awal, hampir menuju pertengahan musim. Sekarang sudah musim panas.” Chris menggelengkan kepalanya. “Kamu ketinggalan berita panas, hampir dua bulan sampai berita itu sudah berjamur.”


“Kenapa kalian tidak memberitahu aku?” tanya Yona dengan ekspresi tercengang.


“Aku mengira orang itu berbeda. Lagipula, ciri-ciri yang kamu ceritakan dan orang yang kami dengar dalam berita memiliki sifat yang cukup berbeda,” jawab Annie.


“Kamu tidak bertanya,” jawab Chris dengan lugas.


“Apakah orang itu benar-benar V? Mungkinkah orang lain?” Yona sendiri tampak skeptis.


“Seharusnya orang yang sama,” balas Annie tanpa mengubah senyum di wajahnya.


Mendengar ucapan Annie, Mei yang sedari tadi diam seperti boneka tiba-tiba menganggukkan kepala. Hal itu langsung membuat Yona dan Chris terkejut.


“Hey, hey, hey ... kamu tidak akan menemui orang itu kan, Ketua?” tanya Chris dengan ekspresi heran.


“Jika tebakanku benar. Seharusnya orang itu memang orang yang Yona maksud.” Annie masih tampak rendah hati, tersenyum lembut seperti biasa.


“Aku rasa ‘tebakan’ itu tidak perlu disebutkan. Kamu tidak pernah salah Ketua,” ucap Chris.


“Hampir Chris. Aku hampir tidak pernah salah, tetapi bukan berati tidak pernah salah menebak.” Annie mengoreksi ucapan Chris.


“Hmmm ...” Annie mengelus dagu sambil menatap langit-langit. Setelah beberapa saat, dia memiringkan kepalanya. “Dia masih muda.”


“Muda?” Chris berkedip dengan ekspresi bingung di wajahnya.


“Ya.” Annie mengangguk. “Aku tidak tahu seperti apa wajah aslinya karena sepertinya orang itu sangat ahli dalam menyamar. Namun, aku merasa dia masih muda. Omong-omong ... seperti seleramu, tampaknya orang itu benar-benar ahli dalam membuat ramuan.”


“Heee~” Chris tampak tertarik.


“Apakah kalian tidak percaya dengan informasi yang aku sampaikan sebelumnya?” tanya Yona dengan ekspresi tidak puas.


“Bukannya begitu. Hanya saja, aku merasa kalau informasi dari ketua lebih bisa diandalkan,” jawab Chris dengan senyum di wajahnya.


“Hmph!” Yona mendengus dingin.


Melihat kedua wanita itu kembali bertengkar, Annie menopang dagu. Mata merah bak rubi itu tampak redup, sepertinya sedang memikirkan beberapa hal.


Tidak lama kemudian, Annie menyela pertengkaran mereka.


“Omong-omong, aku memiliki tugas untuk kamu lakukan, Yona.”

__ADS_1


“Tugas?” Yona menoleh ke arah Annie dengan wajah bingung.


“Ya. Aku ingin kamu menemui V dan berhubungan dengannya. Kita mungkin bisa melakukan kerjasama,” ucap Annie.


“Bukankah dia bersembunyi?” tanya Yona.


“Sekarang dia memang bersembunyi. Namun, gerakanku mengusik semak tampaknya membuat ular itu terkejut. Seharusnya ...”


(Pertemuannya dengan Alexander membuat pria itu menjadi lebih waspada.)


Senyum cerah muncul di wajah Annie.


“Orang itu akan segera muncul lagi dan membuat gelombang di kolam lumpur ini.”


***


Sementara itu, di depan salah satu bangunan besar di Distrik 3 yang merupakan markas salah satu kelompok hunter bebas yang terkenal.


Lebih dari dua puluh orang mengelilingi satu orang. Ekspresi orang-orang itu tampak serius karena pengunjung kali ini cukup terkenal baru-baru ini. Sosok itu adalah orang yang bertanggung jawab atas pemusnahan kelompok Mad Ox, V.


“Tampaknya sambutan ini benar-benar sangat antusias. Namun, bisakah kita lebih santai?”


Alexander mengangkat kedua tangannya, tampaknya tidak berencana untuk bertarung dengan mereka. Namun orang-orang itu masih waspada karena kehilangan kewaspadaan bisa berakibat fatal. Khususnya ketika berhadapan dengan lawan berbahaya.


“Yo! Coba lihat siapa yang datang. Bukankah ini adalah buronan yang terkenal akhir-akhir ini?”


Seorang pria paruh baya berjalan keluar dari kerumunan. Tubuhnya tampak tinggi dan dipenuhi otot, tetapi dia memakai pakaian yang rapi berwarna hitam dengan bulu tebal di leher serta beberapa aksen putih-merah di pakaiannya.


Rambut pendeknya tampak berantakan, tetapi yang lebih mencolok adalah bekas luka mengerikan yang hampir menghancurkan wajahnya. Sepertinya dicakar oleh makhluk tertentu tetapi beruntung bisa selamat. Selain itu, ada tanda tato yang terlihat di bagian lehernya.


“Tuan Lenka dari Cursed Lambs. Pada awalnya saya tidak percaya pada rumor. Namun ...” Alexander memberi hormat dengan tulus. “Penampilan heroik anda benar-benar bertolak belakang dengan nama anda yang terdengar lembut.”


“Hahahaha! Kamu benar-benar pandai berbicara.”


Pria garang yang dipanggil Tuan Lenka itu tertawa, lalu memiringkan kepalanya.


“Jadi ... apa yang kamu inginkan dariku?”


Mendengar pertanyaan itu, Alexander mengangguk ringan lalu membalas.


“Saya datang untuk mengunjungi Cursed Lambs dan membicarakan sesuatu.”


Alexander tersenyum ringan di balik topengnya.


“Tentu saja ... sebuah kunjungan ramah.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2