
“BORIS!!!”
Pada saat itu, teriakan Moris mengejutkan banyak orang. Menyadari kalau pria yang berteriak adalah kakak dari ‘korban’ itu sendiri, semua orang sedikit mengangguk dengan ekspresi penuh pemahaman.
Hanya saja, alasan kenapa Moris berteriak berbeda dari yang mereka bayangkan. Pria itu tidak berteriak karena menyayangi adiknya atau semacamnya. Sebaliknya, dia merasa sangat tertekan dan putus asa karena memikirkan masalah yang akan menimpanya.
Pada awalnya, alasan kenapa Keluarga Grasswald diserang lebih banyak musuh dikarenakan Boris. Walau memenangkan pertempuran, kerugian keluarga sangat berat. Setelah kembali, semuanya akan menjadi tanggung jawab Boris.
Bisa dibilang, Moris berniat menjadikan Boris sebagai kambing hitam!
Hanya saja, jika Boris tumbang di sini, sesuatu yang buruk akan terjadi padanya. Dia akan dicap sebagai patriak (kepala keluarga) yang tidak becus mengelola keluarga besar. Bukan hanya berdosa karena telah membiarkan Boris banyak membantu kelompok gelap, tetapi juga berdosa karena membuat anggota keluarga terbunuh secara sia-sia.
‘Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Apakah Keluarga Grasswald akan jatuh di sini?’
Moris menjadi semakin panik. Saat itu juga, dia menatap ke arah sosok misterius berjubah hitam. Sosok itu memakai jubah hitam longgar, topeng paruh burung menutupi wajahnya, dan memegang sebuah pedang pendek yang tampak sangat tajam di tangan kanannya.
Melihat orang itu, Moris merasa sangat marah.
“Kamu ... ini semua karena kamu!”
Pada saat mendengar teriakan marah Moris, orang-orang di Keluarga Grasswald langsung mengutuk pria itu karena kebodohan dan kecerobohannya.
Jelas, sebelumnya mereka hampir tidak bisa mengalahkan lawan tetapi berhasil sehingga bisa berpura-pura tenang. Membuat lawan menjadi ragu apakah harus menyerang atau tidak. Namun, teriakan panik Moris mengacaukan semuanya.
Orang-orang di pihak lawan langsung menyadari kalau Keluarga Grasswald tidak sekokoh sebelumnya. Tampaknya mereka semua menahan rasa panik dan berpura-pura tegar. Jadi, saat itu juga orang-orang langsung bergegas untuk menyerang mereka.
Sementara itu, Moris langsung melesat ke arah sosok misterius itu.
Moris sendiri menyerap miracle root dari belalang hantu gurun. Jenis yang mirip belalang pada umumnya memiliki kaki kuat, tetapi memiliki tambahan kekuatan berupa kulit luar yang lebih keras.
Miracle root pria itu membuatnya mengubah bentuk kakinya sedikit mirip dengan kaki belalang. Bukan hanya tampak kuat karena dilapisi lapisan luar yang kuat, tetapi ada juga beberapa duri di bagian belakang kakinya.
Sedangkan efek kemampuannya ... tentu saja membuat Moris bisa melompat sangat jauh dan cukup fleksibel, bahkan melebihi ledakan kecepatan biasanya!
Moris muncul di depan sosok berjubah itu lalu mengayunkan pedangnya.
Swoosh! KLANG!
Kedua pedang bertabrakan dengan keras. Tubuh mereka mundur beberapa langkah. Namun, Moris kembali melompat maju dan terus menebas. Melakukan serangan terus-menerus sehingga lawannya berada di bawah tekanan dan masuk dalam kondisi pasif.
BANG!
__ADS_1
Benturan keras terjadi, membuat keduanya mundur cukup jauh. Pada saat Moris hendak mendekat, bayangan hitam muncul dalam pandangannya. Merasakan bahaya, dia langsung merubah arah dan berguling-guling di salju sebelum kembali bangkit dan melihat lawan dengan ekspresi serius.
Saat itu, tangan kiri sosok berjubah hitam dilapisi dengan armor tangan berwarna hitam dengan kilau keunguan. Bukan hanya cakarnya tampak sangat tajam, tetapi juga sangat beracun.
“Memang, seperti kata pria itu, miracle root ini lebih cocok digunakan untuk bertarung di medan rumit seperti hutan lebat atau bangunan-bangunan padat.”
Saat itu, suara wanita yang terdengar tak acuh muncul dari sosok misterius bertopeng burung. Suara itu juga membuat Moris dan beberapa orang terkejut. Sama sekali tidak menyangka kalau sosok misterius itu ternyata adalah seorang perempuan.
“Kamu ... siapa kamu sebenarnya?” tanya Moris dengan ekspresi terkejut dan ragu.
Pada saat itu juga, tiba-tiba jeritan sengsara muncul terus-menerus. Satu per satu anggota Keluarga Grasswald tiba-tiba dikalahkan oleh musuh. Dibunuh begitu saja padahal sebelumnya bisa bertarung dengan ganas dan penuh semangat.
Moris sendiri juga merasakan ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya. Dia merasa, awalnya tubuhnya lebih bersemangat dibandingkan dengan biasanya, tetapi sekarang kondisi tubuhnya tiba-tiba semakin menurun.
Awalnya Moris berpikir kalau itu disebabkan adrenalin. Namun, sekarang dia sadar kalau semuanya salah. Baru setelah fisiknya menurun, pria itu mengetahui kalau ada yang salah dengan tubuhnya. Bukan hanya dia, tetapi juga semua anggota Keluarga Grasswald.
Saat Moris agak bingung, suara wanita tiba-tiba terdengar di telinganya.
“Bukankah berlebihan untuk tidak mengakui keluargamu sendiri, Paman Moris?”
Mendengar itu, Moris terkejut. Matanya langsung terbelalak. Setelah memperhatikan baik-baik, dia menatap ke arah wanita bertopeng burung dengan ekspresi tidak percaya di wajahnya.
Sosok berjubah hitam itu, Aurora memiringkan kepalanya. Dia menatap ke arah Moris dengan senyum dingin di balik topengnya.
“Tentu saja untuk meminta kalian, Keluarga Grasswald untuk melunasi hutang!”
“Kamu ... kamu-“
“Tidak perlu mencari paman ketiga karena dia sudah aku singkirkan dalam kekacauan tadi,” sela Aurora dengan nada dingin.
“...”
Melihat Moris tampak gugup, Aurora menggelengkan kepalanya.
“Sebenarnya yang paling ingin aku bunuh adalah Paman Kedua (Norris), tetapi kamu membunuhnya terlebih dahulu. Namun tidak masalah, selain kamu, ada lagi satu orang yang harus dibunuh.”
“Kamu sudah gila!” teriak Moris dengan ekspresi terdistorsi. “Kamu menghancurkan Keluarga Grasswald karena keegoisanmu sendiri! Kamu benar-benar menghancurkan keluargamu sendiri!”
Mendengar ucapan Moris, Aurora yang biasanya tampak dingin tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Kedua tangannya mengepal erat ketika dia menatap ke arah pamannya dengan tatapan penuh niat membunuh.
“Sekarang kamu berkata kalau kita adalah keluarga? Terlambat! Kalian membunuh ayah dan ibuku. Kalian menjual adikku dan membuatnya tersiksa sampai mati. Kalian ...
__ADS_1
KALIAN SEMUA PANTAS MATI!”
SWOOSH! KLANG!
Dua pedang kembali berbenturan dengan keras. Berbeda dengan sebelumnya dimana Aurora hanya menahan serangan, kali ini dia menyerang lebih cepat dan ganas.
Pada awalnya, mereka berdua tampak imbang. Namun, lambat laun Moris tampak dirugikan. Bukan hanya karena fisiknya menurun, tetapi gerakannya juga terbaca oleh Aurora. Pada akhirnya, tebasan demi tebasan mendarat ke tubuh Moris. Ada beberapa goresan, tetapi juga luka yang cukup dalam.
BANG!
Kedua orang kembali mundur beberapa meter. Namun, berbeda dengan sebelumnya, penampilan Moris tampak mengerikan dengan banyak bekas luka di tubuhnya.
Sadar tidak ada lagi jalan baginya, Moris menatap Aurora lalu bertanya, “Apakah kamu melakukan semuanya sendirian?”
Mendengar pertanyaan itu, Aurora mendengus dingin tetapi masih menjawab, “Tentu saja tidak.”
Jawaban itu membuat Moris menyadari kalau ada sesuatu yang salah. Jelas, efek keracunan yang terjadi diakibatkan oleh rekan Aurora. Itu berarti, ada pengkhianat dalam keluarganya sendiri. Namun, ketika melihat semua anggota Keluarga Grasswald terbunuh, dia menjadi bingung.
“Jika rekanmu adalah anggota Keluarga Grasswald yang tinggal di rumah, tidak mungkin dia bisa meracuni kami. Jadi, katakan padaku, siapa rekanmu itu? Tetua yang mana?”
Moris berkata dengan nada tidak sabar. Tubuhnya terhuyung, hampir tidak mampu berdiri. Itu karena serangan Aurora juga dilapisi dengan racun kuat. Jadi pria itu hanya ingin mengetahui siapa pengkhianat itu sebelum dia mati. Setidaknya, agar Moris tahu alasan kenapa rencananya gagal.
“Semua anggota Keluarga Grasswald di Shelter 11 telah aku bunuh sebelum datang kemari,” ucap Aurora dingin.
“Aduh duh duh ... terlalu dingin berbaring di tempat ini dalam waktu yang lama.”
Mendengar suara serak dan sembrono, semua orang terkejut dan menoleh pada saat bersamaan.
Di mata terkejut semua orang, ‘Boris’ yang seharusnya sudah ditikam sampai mati tiba-tiba berdiri dan menepuk salju di tubuhnya dengan ekspresi tidak senang. Merasakan tatapan dingin dari Aurora dan Moris, pria itu merentangkan kedua tangannya.
“Kalian terlalu lama! Selain itu, kamu benar-benar menikamku! Menikam dengan cara serius!”
Boris menunjuk ke arah Aurora dengan ekspresi marah. Dia kemudian menghela napas panjang dengan ekspresi tertekan. Seolah menyadari sesuatu, pria itu tiba-tiba berkata.
“Omong-omong ...”
Boris mengelus dagu sambil menyeringai ke arah Moris dan Aurora dengan ekspresi main-main di wajahnya.
“Apakah aktingku sudah cukup layak untuk menjadi pemain opera?”
>> Bersambung.
__ADS_1