After Apocalypse

After Apocalypse
Tugas Belum Selesai


__ADS_3

“KAMU ...”


Melihat bagaimana adiknya berbicara padanya dengan nada penuh ejekan membuat Moris naik pitam. Namun saat itu beberapa kenangan muncul dalam benaknya.


Berbagai perbedaan Boris yang dulu dan kembali dari misi tidak begitu mencolok. Masih orang yang sembrono, masih tamak, masih melakukan berbagai kejahatan, dan sebagainya. Meski begitu, masih ada beberapa perbedaan halus.


Selain semakin menjauhi orang-orang, tampaknya ‘Boris’ menjadi sedikit lebih bisa diandalkan.


Pada awalnya Moris merasa itu sama sekali bukan masalah. Sebaliknya, pencerahan adiknya membuatnya merasa lebih lega. Semakin bisa diandalkan, berarti dia memiliki pendukung yang semakin baik.


Hanya saja, sekarang Moris menyadari kalau semua itu salah.


Ketika melihat ‘Boris’ yang biasanya sedikit bungkuk dan sembrono sekarang berdiri tegak sembari menatapnya dengan senyum main-main, dia tahu kalau selama ini ‘Boris’ itu sama sekali bukan adiknya.


“Kamu bukan-“


SLASH!


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, sosok Aurora melintas. Wanita itu langsung memenggal leher Moris dengan kejam. Sama sekali tidak membiarkannya membuang lebih banyak waktu.


BRUK!


Tubuh tanpa kepala jatuh ke tanah tertutup salju. Melihat pemandangan seperti itu, Alexander yang berperan sebagai Boris langsung mendecak.


“Kamu benar-benar kejam.”


“Kejam?” Aurora memiringkan kepalanya. “Setidaknya aku lebih baik hati dibandingkan dirimu. Belum lagi, kamu menggunakan banyak cara kotor dan menjijikkan.”


“Menurutku ... hasil adalah yang terpenting.”


Setelah mengatakan itu, Alexander mengambil sebotol ramuan di sisi kiri ikat pinggangnya. Dia mengambilnya dengan tangan kiri, membuka dengan jempolnya, lalu meminumnya tanpa memperhatikan orang-orang yang memandanginya dengan ekspresi bingung.


Alexander kemudian mengambil pedang besar lalu memikulnya di sisi kanan bahunya. Pemuda itu berjalan ke arah Aurora. Sampai ke sisi wanita itu, dia pun berbisik pelan.


“Apakah semuanya berjalan lancar?” tanya Alexander.


“Ya.” Aurora mengangguk ringan.


“Apakah ‘dua’ melakukannya dengan baik? Apa yang ‘enam’ pilih?” tanya Alexander.


Walau mereka berbisik pelan, tetapi Alexander memilih untuk tidak menyebut mereka dengan nama secara langsung. Lagipula, ada berbagai macam miracle root. Mungkin masih ada beberapa orang yang bisa mendengarkan percakapan mereka.

__ADS_1


Apa yang Alexander maksud dengan dua tentu saja Daisy dan Aster. Sementara enam adalah Nene, Jane, dan empat pelayan baru yang diberikan Blue Lantern kepada Boris.


“Dua melakukan semuanya dengan baik. Sementara itu, dari enam, dua orang memilih untuk mengikuti dan empat lainnya memilih untuk pergi,” balas Aurora.


Mendengar jawaban wanita itu, Alexander mengangguk. Pil racun yang diberikan kepada Jane, Nene, dan empat gadis lain lebih lemah daripada yang digunakan oleh Daisy dan Aster. Meski begitu, masih agak merepotkan untuk membuat penawarnya. Namun Alexander sudah menyiapkan enam pil penawar.


Sebelum pergi, Alexander meminta Aurora untuk menyuruh keenam pelayan Boris memilih. Setelah Keluarga Grasswald dimusnahkan, mereka diberi pilihan untuk melarikan diri dengan pelayan-pelayan lain atau mengikuti Alexander. Tentu saja, mengikuti pemuda itu berarti masa depan mereka penuh bahaya, jadi biarkan mereka mengikuti hati nurani mereka.


Pada awalnya, Alexander berpikir kalau mereka berenam akan meminum pil dan pergi. Namun, tampaknya dia salah.


Jane dan Nene sendiri sudah tidak memiliki siapa-siapa. Mereka tidak memiliki tempat untuk pergi, jadi memilih untuk mengikuti Alexander. Sedangkan keempat wanita lainnya tampaknya masih berpikir kalau ada tempat bagi mereka untuk kembali.


Tentu saja, kemungkinan besar mereka akan kecewa. Namun, itu adalah pilihan keempat orang itu sendiri. Paling tidak, jika tidak ada tempat untuk kembali, mereka akan mengikuti para pelayan-pelayan lainnya, walau tidak tahu kemana tujuan akhir mereka.


“Begitu ...”


Alexander mengangguk ringan ketika mendengarkan penjelasan Aurora. Dia kemudian mengamati sekeliling. Tampaknya, banyak orang yang sedang menatap mereka berdua.


Orang-orang itu tampaknya bingung. Tidak tahu mereka berdua berada di pihak mana. Lagipula, Boris sendiri masih berada di bawah bendera Blood Cross. Namun, sekarang pria itu jelas membantu hunter bebas untuk membunuh orang-orang Blood Cross.


‘Teman atau musuh?’


Mengetahui apa yang mereka maksud, Alexander menyeringai. Masih menggunakan wajah dan suara Boris, pemuda itu berkata dengan lantang.


“Mulai saat ini aku akan memihak para hunter bebas!”


Swoosh!


Pada saat itu juga, beberapa orang langsung melesat ke arahnya dengan ekspresi penuh kebencian.


“Pengkhianat ... mati!” teriak salah satu orang.


Klang!


Alexander menangkis serangan itu dengan ekspresi santai di wajahnya. Dia langsung mendorong pria itu mundur, lalu menghindari serangan beberapa orang lainnya.


Pemuda itu kemudian melompat mundur beberapa meter. Aurora hanya memandanginya tanpa niat untuk membantu.


Alexander mengangkat bahu. Tanpa merubah ekspresinya, pemuda itu mengayunkan pedang besar sekuat tenaga.


CRASH!

__ADS_1


Terkena ayunan pedang yang begitu berat, tubuh mereka terpental mundur. Namun mereka terus menatap Alexander dengan ekspresi penuh kebencian.


Alexander sendiri juga memakluminya. Bagi mereka, sekarang dia adalah Boris. Bukan hanya mengkhianati keluarga dan membunuh anggota keluarganya sendiri, tetapi dia juga mengkhianati Blood Cross. Sesuatu yang sama sekali tidak bisa mereka toleransi.


Alexander tampak santai, tetapi sesekali dia melirik ke arah Clark dan beberapa anggota tim red sparrow. Orang-orang itu berasal dari markas pusat dan menjalankan misi penting. Itu berarti mereka sangat setia pada Blood Cross. Kemungkinan besar, mereka akan memilih untuk menghukum ‘pengkhianat’ seperti dirinya.


Hanya saja, apa yang Alexander pikirkan sama sekali tidak terjadi. Sebaliknya, mereka masih menjadi pengamat. Menonton pertarungan dengan tenang sambil melindungi barang-barang yang harus mereka jaga.


‘Seperti yang diharapkan dari pasukan yang dikirim dari markas pusat. Mereka sama sekali tidak bodoh.’


Alexander diam-diam memuji dalam hati. Menurutnya, kemungkinan besar mereka menebak kalau dirinya adalah hunter bebas yang menyamar dengan baik dalam barisan Blood Cross. Walau dianggap musuh, tetapi mereka masih lebih mementingkan tugas. Biarkan orang-orang yang menganggapnya ‘pengkhianat’ pergi untuk bertarung dengannya.


SWOOSH! BANG!


Pada saat melamun, salah satu orang melesat melewati kerumunan lalu menyerang ke arah Alexander. Pemuda itu menangkisnya, tetapi masih mundur beberapa langkah. Namun saat melihat beberapa orang yang datang ke arahnya, dia tidak bisa tidak mengangkat alisnya.


“Oh?”


Di depannya, tampak sosok yang sangat dia kenal. Bukan hanya kenal, tetapi juga cukup akrab dengannya.


Ya ... orang itu adalah teman baiknya dari Shelter 101, Claude!


Bukan hanya Claude, tampak beberapa orang yang membentuk formasi untuk segera mengelilinginya. Bukan hanya beberapa orang mati otak yang menganggapnya sebagai pengkhianat, tetapi ada juga beberapa orang cerdas dan mereka memiliki satu kesamaan ...


Orang-orang itu dipimpin oleh Melissa!


“Aku tidak tahu bagaimana kamu bisa menyamar dan menyusup ke barisan. Namun, kamu, orang keji yang membuat rekan-rekan kami menderita ...


Bersiaplah untuk diadili!”


Melissa menghunus pedangnya, menatap ke arah Alexander dengan ekspresi tegas di wajahnya.


Sebagai balasan, Alexander mengangkat bahu dengan senyum main-main, bahkan tampak agak pahit.


“Bisakah kita menundanya? Lagipula ...”


Alexander menghela napas panjang.


“Aku memiliki tugas yang belum terselesaikan.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2