After Apocalypse

After Apocalypse
Keluarga Trolley


__ADS_3

Alexander mengerutkan kening, langsung menolak orang-orang itu tanpa sedikitpun keraguan.


“Ditolak. Kalian tidak perlu mengikutiku. Aku menolong kalian bukan karena aku membutuhkan bayaran. Orang-orang itu sudah kelewatan, jadi aku menghentikan mereka. Ya ... hanya itu,” ucapnya dengan nada datar.


Percy dan rekan-rekannya saling memandang. Sebelum mereka mengatakan apapun, suara Alexander langsung menginterupsi mereka semua.


“Jangan berlutut di sana, bangunlah. Beristirahat dengan baik dan segera pulih. Jika ingin berterima kasih, lebih baik kalian segera sembuh lalu melanjutkan pekerjaan kalian seperti biasa. Jual berbagai bahan seperti buah-buahan kepadaku, dan beli yang aku jual di tokoku. Itu lebih dari cukup untuk berterima kasih,” sela Alexander.


Mendengar ucapan Alexander, mereka akhirnya tidak bersikeras mengikuti pria itu. Walau tidak tahu apakah sepenuhnya menyerah atau tidak, setidaknya mereka tidak akan terlalu mengganggunya, dan itu membuatnya sedikit lega.


“Terima kasih banyak, Tuan V!” seru mereka serempak.


“Sama-sama.” Alexander mengangguk ringan. Dia melirik ke arah penjaga yang bertugas. “Bagaimana dengan keluarga mereka?”


“Sudah diamankan, Komandan!” jawab para penjaga serempak.


“Dimana mereka?” tanya Alexander.


“Lapor! Mereka dikumpulkan di ruang belakang lantai pertama karena jumlahnya cukup banyak,” jawab salah satu penjaga.


“Urus makanan mereka dan rawat yang terluka. Setelah sembuh, mereka bisa kembali, dan yakinkan mereka kalau tidak perlu takut serangan lain dari para bangsawan,” ucap Alexander.


“Dimengerti!”


Pria itu langsung memberi hormat kepada Alexander sebelum pergi.


Ucapan Alexander sama sekali tidak salah. Karena sekarang orang-orang dari Crimson Hornet dan keluarganya tinggal di dekat lingkungan Grey Triangle Pavilion, seharusnya para bangsawan tidak berani mengganggu mereka lagi. Selain itu, dia cukup tertarik dengan kelompok tersebut.


Tidak seperti Cursed Lambs, Black Punisher, atau Thorns Dragon yang mengambil rute pasukan besar, Crimson Hornet memilih rute tim lebih kecil. Setiap anggota lebih mirip keluarga, mirip apa yang Alexander lakukan, atau Claude juga melakukan itu sebelumnya.


Anggota Crimson Hornet ada 13 orang termasuk Percy yang menjadi pemimpinnya. Semua anggotanya laki-laki, dan empat dari mereka sudah menikah. Sedangkan sisanya tampaknya tidak ingin berkeluarga.


Setelah bercakap-cakap sebentar dengan mereka, Alexander pun pergi. Langsung menuju ke lantai tiga, di mana Sir Gareth seharusnya sudah menunggunya.


***


Sekitar tiga jam kemudian.


Alexander yang selesai mendengar penjelasan Sir Gareth benar-benar terpana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ada jenis keluarga yang begitu aneh. Alih-alih menunjuk laki-laki sebagai pewaris, malah wanita yang dipilih sebagai pewaris. Bukan karena wanita lebih dihormati dalam keluarga itu, tetapi hampir setiap keturunan laki-laki berakhir mati. Tentu saja, ada pengecualian jika hanya ada satu anak laki-laki.


Sebagai contoh, kakek Norvin memiliki istri dan dua orang anak. Satu laki-laki dan satu perempuan. Perempuan tersebut adalah ibu Norvin, dan paman Norvin tidak menikah. Seperti kebiasaan keluarga sebelumnya, pria itu mencari orang yang dia rasa pantas diikuti, dan ... akhirnya terbunuh sebelum mencapai puncak.


Ibu Norvin memiliki tiga orang anak, yaitu dua kakak perempuan Norvin dan pria itu sendiri. Dua kakak perempuannya bertugas meneruskan garis keturunan keluarga, dan Norvin pergi untuk mencari cahayanya sendiri, orang yang ingin dia ikuti.


Alexander merasa tidak yakin apakah keturunan Keluarga Trolley biasanya berbakat atau tidak. Namun, Norvin jelas berbakat dan sangat pekerja keras sehingga bisa menjadi hunter level 3 dengan waktu secepat itu. Jenis yang bahkan tidak bisa dilakukan banyak keluarga besar.

__ADS_1


Setelah memikirkan baik-baik, Alexander merasa itu cukup masuk akal. Dibandingkan dengan keturunan keluarga besar yang naik level dengan mengandalkan pembagian sumber daya keluarga, keturunan Keluarga Trolley yang aneh pergi mengelana untuk mencari cara mengembangkan diri mereka sendiri. Lebih mandiri dan tidak seperti bunga dalam rumah kaca yang menunggu disiram.


Itu berarti, Norvin Trolley ini juga cukup berbakat, dan beruntung. Ya ... berbakat saja tidak cukup untuk bertahan di luar sana. Hanya dengan otak yang baik dan keberuntungan menemani, dia bisa tumbuh lebih cepat daripada anak-anak keluarga besar.


Hanya saja, Alexander bertanya-tanya dalam hatinya.


‘Meski otaknya cerdas, bukankah tujuannya agak bodoh? Maksudku, daripada mengandalkan orang lain, bukankah lebih baik mendaki puncak dengan kekuatannya sendiri?’


Melihat ekspresi Alexander, Sir Gareth terkekeh. Dia kemudian menjelaskan.


“Mungkin kamu bertanya-tanya kenapa Norvin, atau anggota keluarganya memiliki pemikiran seperti itu. Omong-omong, apakah kamu sudah melihat hunter level 5 dalam hidupmu, V?” tanya Sir Gareth.


Mendengar pertanyaan itu, Alexander langsung teringat mendiang kakeknya yang murahan. Meski lelaki tua itu menyiksanya ketika masih kecil, dia memang hunter yang sangat kuat. Hunter level 5 yang diidolakan oleh mendiang kakaknya. Hanya saja, seingat Alexander, kakeknya mengalami luka dalam yang tidak bisa disembuhkan dan tubuhnya rusak parah ... tetapi tidak menjelaskan bagaimana mendapatkan luka tersebut.


Setidaknya Alexander yakin kalau kakeknya bukanlah orang ceroboh yang menantang Abyssal Basilisk dewasa untuk menguji kekuatannya. Juga, luka ditubuhnya jelas tidak ada kaitannya dengan efek serangan Abyssal Basilisk. Jadi sampai sekarang dia juga bingung, sebenarnya apa yang bisa melukai hunter level 5 jenius di masa jayanya.


“Ya.” Alexander mengangguk.


“Mungkinkah kamu pernah bertemu dengan mendiang pemimpin Blood Cross?” tanya Sir Gareth dengan ekspresi terkejut.


“Tidak.” Alexander menggelengkan kepalanya.


“Jadi begitu ...” Sir Gareth menggelengkan kepalanya. “Memang dunia sangat luas, dan banyak orang-orang yang begitu kuat.”


“Omong-omong, pernahkah kamu mendengar cerita ‘King Alan’ sebelumnya?” tanya Sir Gareth.


“Hm?” Alexander memiringkan kepalanya. “Dongeng yang sering diceritakan oleh orang-orang tua itu?”


“Ya. Dongeng tentang perjalanan Raja Alan.” Sir Gareth tersenyum misterius.


“Apakah itu ada hubungannya dengan pembahasan kita kali ini? Aku rasa kita sedang membicarakan Norvin kan?”


“Tentu saja ada.”


Sir Gareth menatap Alexander dengan ekspresi serius di wajahnya. Setelah beberapa saat diam, barulah dia melanjutkan.


“Seperti yang kita ketahui secara singkat, dongeng Raja Alan mengisahkan perjalanan Raja Alan untuk menjadi hunter yang kuat. Dia menemukan banyak teman, mengalahkan banyak monster, menyelamatkan banyak kota, mempersatukan bangsa, dan melakukan banyak hal hebat lainnya.


Norvin dan keluarganya mempercayai kalau mereka adalah keturunan asli dari Jonathan Trolley. Mungkin namanya tidak begitu mencolok dibandingkan dengan Raja Alan dan sahabat dekatnya. Namun, dia adalah pengikut setia Raja Alan. Bukan orang yang hebat, berbakat, atau semacamnya ... tetapi orang yang beruntung karena mengikuti orang yang tepat, dan ikut naik ke tempat tinggi (hunter level 5) yang selama ini dia anggap sebagai angan-angan belaka.”


Mendengar penjelasan Sir Gareth, Alexander masih agak bingung. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang sebenarnya orang-orang dari ‘Keluarga Trolley’ inginkan. Pria itu pernah mendengar nama Jonathan Trolley dalam dongeng, dan merasa ... orang itu sama sekali tidak bisa diandalkan, bahkan bisa dianggap sebagai karakter tambahan yang berperan sebagai komedian.


Berbeda dengan Norvin yang cukup tampan, terlatih, disiplin, dan berbakat ... Jonathan dalam dongeng tersebut adalah orang yang sembrono, lemah, tidak memiliki banyak kelebihan. Jika dilihat selain kelucuannya, menurut Alexander, ada dua hal yang menonjol dari Jonathan, yaitu keberuntungannya yang tidak masuk akal, dan kesetiaannya terhadap rekan-rekannya.


Jika orang lain akan lari ketika dihadapkan bahaya dan memilih meninggalkan temannya, Jonathan yang lemah berani berdiri di depan monster level 4 untuk melindungi temannya yang sekarat. Meski digambarkan ketakutan, menangis, bahkan mengompol ... tetapi orang itu masih berdiri di depan temannya dan memilih untuk melindunginya. Sama sekali tidak berlari untuk hidupnya sendiri!

__ADS_1


‘Kesetiaannya memang patut dicontoh, tapi ... bukankah berlebihan menirukan semuanya? Bahkan mencontoh kebodohannya?’


Pada saat itu, barulah Alexander menyadari sesuatu.


“Tunggu! Jika Norvin ingin mengikutiku, berarti ...” Mata Alexander terbelalak.


“Dia menganggapmu seperti Raja Alan,” ucap Sir Gareth dengan senyum di wajahnya.


“Gila!” Alexander tidak bisa tidak memegangi dahinya. “Raja Alan, idola banyak anak-anak adalah ksatria sejati. Dia adalah keturunan mulia. Dia juga sangat baik hati, suka membantu sesama, dan melakukan banyak hal baik. Aku? Aku melakukan sangat hal buruk, bahkan bisa dibilang memiliki sifat kebalikan orang dalam dongeng itu.”


“Kamu menolong orang dan melindungi banyak orang, V.” Sir Gareth berkata santai.


“Itu demi kepentinganku sendiri. Astaga ... apakah kamu bahkan cukup bodoh untuk percaya kalau aku melakukan semuanya dengan bodoh, Sir Gareth?” ucap Alexander skeptis.


“Tentu saja aku tidak mempercayainya. Hanya saja, aku merasa kalau cara pandang Norvin sedikit unik.” Sir Gareth mengangkat bahu. “Mungkin dia melihat apa yang tidak bisa aku, bahkan kamu sendiri lihat dalam dirimu.”


“...”


Alexander terdiam. Dia merasa kalau alasan seperti itu cukup asal-asalan. Bukan hanya sembrono, tetapi jelas kurang bisa dipercayai. Pada akhirnya, pria itu pun membalas.


“Kalau begitu, biarkan saja waktu yang menentukan. Sekarang bukan saat yang tepat untuk memikirkan hal acak semacam itu.”


Mendengar ucapan Alexander, Sir Gareth mengangguk. Dia tahu apa yang pria itu maksud. Sekarang para hunter bebas sedang dalam masalah. Alih-alih memikirkan beberapa hal acak, lebih baik mencoba mencari solusi untuk menghadapi masalah tersebut.


***


Sekitar satu minggu kemudian.


“Selamat pagi, Bos!”


Suara gadis kecil yang terdengar renyah dan manis menggema di telinga Alexander. Melihat sosok gadis kecil yang membawa satu keranjang kecil berisi bunga warna-warni, Alexander menghela napas panjang.


Bunga tersebut bukanlah bunga mawar, lavender, atau berbagai jenis bunga yang dianggap indah, memiliki makna, dan cukup berharga. Bunga dibawa gadis kecil itu adalah bunga-bunga dari berbagai rerumputan liar yang hidup di sekitar pemukiman. Ukurang bunga itu sendiri tidak besar, dan perlu cukup banyak waktu untuk mengumpulkan bunga tersebut.


“Aku sudah bilang kalau kamu tidak perlu repot-repot melakukan itu, Ria.”


Ria, atau yang sebenarnya memiliki nama Astoria adalah putri Percy. Gadis itu selalu datang setiap pagi untuk mengirim bunga. Meski hanya bunga rerumputan liar yang tidak ada harganya dan tidak bisa digunakan untuk apa-apa, tetapi itu juga menunjukkan ketulusan gadis tersebut dalam berterima kasih karena sudah menyelamatkannya, ayah, ibu, dan anggota Crimson Hornet lainnya.


Gadis kecil itu tidak mengatakan apa-apa, dia meletakkan keranjang kecil berisi bunga di atas meja resepsionis lalu berlarik keluar dari paviliun dengan langkah kecilnya.


Melihat gadis kecil yang tampak ceria, lalu bunga-bunga yang ada di atas meja membuat Alexander menghela napas sembari berpikir.


‘Sungguh ... aku bahkan tidak yakin apakah pantas menerima hadiah semacam ini atau tidak.’


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2