After Apocalypse

After Apocalypse
Pengakuan


__ADS_3

Alexander melirik ke arah tangan kanannya, lalu seluruh jubah yang terciprat oleh darah merah.


“Bukankah ini juga berwarna merah? Aku pikir warnanya biru karena mengaku sebagai bangsawan, mungkin emas karena bertindak seolah lebih mulia.”


Setelah mengatakan itu, Alexander tiba-tiba terkekeh, membuat banyak orang yang mendengar tawanya merinding. Pria itu kemudian menutup wajahnya dengan tangan kiri sambil menahan tawa. Beberapa saat kemudian, dia langsung meraung.


“BERANINYA ... BERANINYA KALIAN MELAKUKAN HAL SEMACAM INI!”


“BERANINYA KALIAN MERUSAK TEMPAT INDAH YANG TELAH AKU BANGUN!!!”


Mendengar raungan Alexander yang terdengar seperti iblis dari dasar jurang, para bangsawan dan ksatria yang ada di sana bergidik ngeri. Bahkan para penjaga dan penonton juga merasa jantung mereka berdebar kencang karena ketakutan.


“Aku tidak peduli kalian bersikap superior atau semacamnya. Atau menganggap diri kalian mulia, bahkan seperti dewa. Atau bermain dengan wanita cantik yang kalian tangkap dari luar dan dianggap sebagai piala. Atau memamerkan kekayaan dan koleksi kalian. Atau hal-hal bodoh lainnya yang kalian anggap luar biasa.


Aku tidak peduli semua itu! Namun ... sekarang kalian telah melewati batas.


Kalian menyerang orang yang tidak memprovokasi kalian terlebih dahulu. Kalian menyerang secara acak karena kesenangan belaka. Memaksa kami terlibat bahkan jika kami memilih posisi netral. Bahkan, sekarang menginjak-injak tempat indah yang kami bangun dengan kaki kotor kalian.


Ini adalah tempat dimana semua orang bisa bersantai dan tertawa. Tempat dimana tidak peduli apakah kamu tua atau muda, laki-laki atau perempuan, orang biasa atau bangsawan ... tempat semua setara dan bisa tenang tanpa mencoba terlibat dengan banyak hal!”


Melihat Alexander yang tampaknya hampir gila, banyak orang mulai gelisah. Salah satu ksatria yang memimpin pasukan, hunter level 3 akhirnya mencoba memberanikan diri untuk berkata.


“J-Jangan pikir kamu akan dibiarkan begitu saja V!” teriaknya.


“Lalu tangkap aku.”


Alexander berkata dengan nada datar, bahkan mengulurkan kedua tangannya. Meminta para penjaga mengikat lalu membawanya pergi.


“TANGKAP AKU, B-JINGAN!” teriaknya.


Mendengar teriakan Alexander, orang itu langsung menundukkan kepalanya. Bahkan jika sama-sama level 3, dia merasa takut ketika menghadapi orang di depannya. Selain itu, dia tidak mungkin berani melakukan hal sebodoh itu karena ... sekarang mereka dikelilingi.


Bukan hanya para penjaga yang sudah datang dan mengelilingi mereka semua, tetapi banyak sekali penonton yang telah mencabut senjata mereka. Gerakan itu seolah menggambarkan, jika mereka benar-benar berani menyentuh V ... orang-orang itu tidak akan segan melawan dan berusaha membunuh mereka semua.


Tampaknya V bukan hanya tokoh yang mereka kagumi. Namun, sekarang juga tokoh yang mereka hormati dan anggap sebagai cahaya bagi para hunter bebas yang selama ini merasa tertindas.


Apa yang dikatakan Alexander bukanlah bualan semata. Sekarang tidak banyak konflik antara berbagai kelompok hunter bebas. Banyak mereka sudah berdamai karena tiga kelompok besar telah beraliansi. Juga, Grey Triangle Pavilion memang telah menjadi tempat yang diidam-idamkan banyak hunter bebas.


Hunter biasa bisa bekerja selayaknya ksatria dan dihormati banyak orang. Bahkan para budak yang biasanya hanya menjual jasa setiap malam bisa bekerja seperti orang normal dan menjalani kehidupan baik.


Dimulai dari Grey Triangle Pavilion, banyak orang juga mulai berubah. Tidak memusuhi orang lain hanya karena dari kelompok berbeda. Meski masih menggunakan hukum rimba dimana yang kuat berkuasa, tetapi mereka tidak memandang rendah yang lemah seolah-olah mereka sampah yang bisa dibuang kapan saja.


Mungkin bukan tempat yang sempurna, tetapi setidaknya sebuah tempat indah bagi para hunter bebas seperti mereka.

__ADS_1


Merasakan tatapan semua orang, pemimpin ksatria itu akhirnya berkata, “K-Kalau begitu kami pergi.”


Para ksatria berbalik, tetapi tidak bisa pergi karena telah dikelilingi. Mereka langsung merasa semakin gugup, khususnya ketika merasakan tatapan orang-orang yang terus memperhatikan mereka, seolah bisa maju dan menebas kapan saja.


“Buat jalan. Biarkan mereka pergi dari sini.”


Saat itu, suara Alexander terdengar. Bersamaan dengan kata-katanya, para penjaga akhirnya membuka jalan, membiarkan para ksatria dan bangsawan pergi dengan terburu-buru.


Setelah mereka semua pergi, orang-orang melihat ke arah Alexander. Pria itu tampak tak acuh, bahkan langsung melambaikan tangannya dengan tidak sabar seolah sedang mengusir ayam.


“Tidak ada lagi yang perlu ditonton. Pergi! Pergi dan lanjutkan apa yang kalian lakukan tadi.”


Alexander kemudian pergi. Para penjaga pun mengikuti di belakangnya, langsung pergi menuju halaman Grey Triangle Pavilion. Sementara lima ketua tim lain memandang Alexander lebih hormat, Norvin mengepalkan tangannya dengan ekspresi penuh kegembiraan di wajahnya.


“Maaf karena membuat kalian kerepotan. Karena semua masalah dibereskan tanpa menjadi lebih besar, semua orang yang tidak dalam jadwal shift bisa kembali,” ucap Alexander.


“Tidak masalah, Komandan!” teriak mereka serempak.


“Bubar!”


Mendengar ucapan Alexander, mereka langsung memberi hormat lalu bubar. Meski semua orang berpencar, banyak dari mereka yang masih berbicara dengan beberapa teman dengan ekspresi bersemangat di wajah mereka.


Alexander menghela napas panjang. Pria itu kemudian pergi memasuki pavilion dan menuju ke lantai dua tempat Percy dan bawahannya dirawat. Baru saja sampai di lantai dua, dia menoleh ke belakang lalu bertanya, “Kenapa kamu masih berada di sini, Norvin?”


BRUK!


“Nama saya Norvin Trolley, mohon izinkan saya mengikuti anda, Tuanku!”


“...”


Mendengar itu, Alexander langsung tertegun di tempatnya. Dia selalu berpikir kalau Norvin adalah jenius yang cerdas dan sangat kompeten. Namun tiba-tiba berubah dengan cara seperti itu.


“Apakah kamu bodoh?” ucap Alexander penuh keraguan.


“Mungkin anda tidak tahu, Tuanku. Kami, Keluarga Trolley adalah tangan kanan dan orang paling setia. Setiap orang dari keluarga kami mengikuti yang kuat, mengikuti orang yang bisa menjadi cahaya kami dan membawa kami terbang tinggi!


Kakek buyut saya, kakek saya, paman saya ... mereka mengikuti orang yang mereka yakini. Meski mereka meninggal dalam pengejaran cita-cita, tetapi sebagai anggota Keluarga Trolley, saya percaya kalau kami bisa menjadi lebih mulia dan mendapatkan pengakuan jika mengikuti orang yang tepat.


Alasan kenapa saya bergabung dengan Thorns Dragon karena saya tidak memiliki tujuan. Master saya, Sir Gareth mengajarkan saya banyak hal. Hanya saja, saya merasa kalau dia bukanlah cahaya yang saya cari. Beliau juga pernah berpesan kalau saya bisa pergi jika telah menemukan cahaya yang saya cari, jadi ...


Tolong izinkan saya mengikuti anda, Tuanku!”


Alexander benar-benar bingung harus mengatakan apa. Dia sekali lagi bertanya, “Apakah kamu perlu obat? Apakah kamu diracuni dan berhalusinasi?”

__ADS_1


“Jangan paksa V dengan cara seperti itu, Norvin. Biarkan dia mencernanya terlebih dahulu.”


Pada saat itu, suara lain terdengar. Alexander langsung melihat Sir Gareth dengan senyum santai di wajahnya. Lelaki tua itu mengangguk, memberinya isyarat agar pergi. Dia akan menangani sisanya terlebih dahulu.


Alexander mengangguk lalu pergi dengan tergesa-gesa. Merasakan tatapan Norvin yang begitu menyilaukan seperti sedang menemukan cinta sejatinya membuat pria itu bergidik ngeri. Dia jelas tidak memiliki hobi bengkok. Hidup dengan Aurora dan empat pengikutnya sudah harum, bagaimana mungkin dia memikirkan hal mengerikan semacam itu.


Setelah masuk ke ruang perawatan di belakang panggung, Alexander merasa agak lega. Namun, hal-hal aneh kembali terjadi.


Saat itu, Percy turun dari ranjang lalu berlutut ke arah Alexander. Anggota Crimson Hornet lainnya juga berlutut kepadanya. Bahkan gadis kecil yang berada di samping Percy.


“Saya tidak memiliki apapun yang berharga untuk membayar anda, jadi tolong izinkan saya mengikuti anda, Bos!” teriak Percy.


“Izinkan kami mengikuti anda, Bos!” teriak anggota Crimson Hornet lainnya.


“Bos!” teriak gadis kecil yang tampak bingun, tetapi mengikuti orang dewasa di sekitanya.


Saat itu, Alexander tertegun di tempatnya. Pria itu merasa sangat bingung. Rasanya semuanya tiba-tiba berubah, seolah sekarang dia berada di dunia yang sama sekali tidak dikenal. Bahkan membuatnya merasa ingin menampar diri sendiri karena penasaran apakah dirinya berhalusinasi!


***


Sementara itu, di markas Nine Gates.


“BERISIK!” teriak Yona dengan dingin.


“Pfftt!”


Chris yang duduk tidak jauh darinya tidak bisa menahan tawa. Melihat bagaimana Yona berdiri sambil berteriak dengan sikap pura-pura keren, dia merasa penampilan rekannya itu malah lucu karena terlalu dibuat-buat.


“Apanya yang salah?” ucap Yona tidak puas.


“Tidak. Bukan begitu.” Chris menggelengkan kepalanya. “Jika teriakan V sebelumnya membuatku merinding dan merasakan tekanan kuat, kamu malah seperti anak kucing yang marah. Membuatku ingin menculikmu.”


“Tidak mungkin! Aku juga bisa bersikap dingin dan kejam!” balas Yona marah.


“Ya, ya. Terserah padamu. Namun aku tidak menyangka kalau memeriksa kelakuan para bangsawan bisa membuatku bertemu temanmu. Jujur saja, aku merasa kalau dia memang cukup keren.” Chris menopang dagu.


Yona tidak mengatakan apa-apa, tetapi memelotiti Chris dengan ekspresi tidak puas.


Sementara itu, Chris mengabaikan Yona dan memikirkan sesuatu yang terasa agak janggal.


‘Jika orang semacam itu muncul, seharusnya ketua mengetahuinya. Jadi ...’


Chris melirik Yona yang merajuk.

__ADS_1


‘Kenapa ketua tidak langsung mengatakannya kepada Yona?’


>> Bersambung.


__ADS_2