After Apocalypse

After Apocalypse
Cara Membaur


__ADS_3

“Kamu benar-benar sudah gila!”


Norris berteriak keras. Dia menunjuk ke arah Boris dengan ekspresi marah dan tertekan di wajahnya. Benar-benar tidak menyangka kalau adiknya akan menjadi begitu liar. Sama sekali tidak mempedulikan hukum dan bertingkah seenaknya.


“Aku? Gila? Hahahaha!”


Boris menunjuk ke arah wajahnya sendiri tertawa dengan nada serak dan tidak nyaman didengar. Dia kemudian bangkit lalu mengambil sebuah bungkusan besar yang bersandar pada dinding.


Pada saat bungkusan dibuka, tampak sebuah pedang besar. Boris sendiri biasanya suka menggunakan pedang besar untuk pamer, tetapi tidak sering menggunakannya karena menguras tenaga. Namun, pedang besar yang sekarang dia bawa berbeda dibandingkan sebelumnya.


Bentuknya sama sekali tidak mewah atau indah. Pedang itu tampak sederhana, tetapi juga terlihat solid dan cukup berkualitas. Hanya saja, bentuknya agak aneh. Hampir mirip dengan pisau daging yang diperpanjang dan diperbesar.


Boris memikul pedang itu di pundaknya lalu berjalan ke kerumunan sambil terhuyung. Dia menujuk ke wajah Norris lalu berkata dengan nada gila.


“Bukankah kamu ingin membunuhku, Kak Norris? Kemarilah! Ayo, bunuh aku! BUNUH AKU!”


Melihat betapa gila dan mendominasi Boris, beberapa orang tanpa sadar mengambil langkah mundur. Orang-orang itu tidak menyangka kalau mereka akan ditakuti oleh pria ceroboh yang sering dianggap sebagai pemborosan.


“Bukankah kamu sudah berada di late stage? Setidaknya kamu sudah meminum tujuh ramuan evolusi kan? Kamu begitu sombong ketika berkata sebaik Kak Moris, tetapi kenapa kamu mundur? Kemarilah! Ayo! Kemari dan bunuh aku!” teriak Boris dengan ekspresi terdistorsi.


Mendengar teriakan Boris, Norris sangat marah. Dia benar-benar ingin membantah, tetapi ekspresi adiknya benar-benar membuatnya agak takut. Merasa sedang dihina, pria paruh baya itu hanya bisa menelan kebencian.


“Sudah cukup, Boris! Kembali ke rumahmu, Kak Norris akan memberimu kompensasi besok! Jangan membuat kekacauan dan mempermalukan keluarga kita!”


Saat itu, sosok pria yang lebih tua beberapa tahun dibandingkan Boris muncul. Dibandingkan penampilan Boris atau Norris, pria itu lebih tampan dan berwibawa. Namanya adalah Moris, anak ke-4 dan dianggap paling kuat dari lima bersaudara (sekarang empat karena ayah Aurora sudah meninggal).


Melihat Moris, Boris berdecak dengan ekspresi tidak puas. Dia menunjuk ke arah Norris sambil melotot. Dibandingkan dengan Norris yang merupakan anak ke-2, tampaknya Boris lebih menghormati Moris. Jadi akhirnya dia memilih untuk mundur.


Pria itu masuk ke dalam rumah, meraih kerah pemuda yang ada di ruang tamu lalu melemparkan tubuhnya ke halaman depan.


“Aku tidak membutuhkan sampah di rumahku! Bersihkan sendiri!”


BANG!


Boris langsung membanting pintu sampai tertutup. Membuat semua orang tercengang karena semuanya terjadi terlalu cepat.


Norris menggertakkan gigi ketika melihat putranya yang hampir mati di tangan Boris. Pria paruh baya itu melihat ke arah Moris untuk memintanya membantu mengurus masalah ini, tetapi pria itu hanya menggeleng ringan dengan ekspresi dingin. Jelas, Moris juga tidak menghargainya dan sama sekali tidak takut padanya.


Norris hanya bisa menahan emosinya. Dia langsung berteriak pada bawahannya.

__ADS_1


“Kenapa kalian hanya diam saja?! Bawa dia kembali!”


“B-Baik, Pak!” jawab para bawahan Norris.


Pria paruh baya itu kemudian mendengus dingin sebelum kembali ke rumahnya.


Sementara itu Moris melirik ke arah rumah Boris sejenak. Beberapa saat kemudian, dia segera berbicara kepada para penjaga. Pria itu juga meminta para anggota keluarga cabang yang menonton kesenangan segera kembali ke rumah masing-masing.


Masalah itupun segera diselesaikan.


Sedangkan perihat dua budak Boris, sama sekali tidak ada yang membicarakannya. Mereka dianggap ‘properti’, jadi hidup mati mereka sama sekali tidak dipedulikan.


Ya ... begitulah dinginnya manusia sekarang.


Setelah mengusir orang-orang, Boris langsung meminta para budak untuk membuang mayat dan membersihkan rumah sementara dirinya sendiri langsung pergi ke kamar dengan ekspresi kesal. Pria itu langsung membanting pintu kamar sampai tertutup, membuat para budak menggigil ketakutan.


Di dalam kamar, Boris langsung meletakkan pedangnya di dekat tempat tidur lalu duduk di ranjang dengan ekspresi lelah.


Ya ... akting yang dia lakukan benar-benar membuat kelelahan.


Setelah menenangkan diri, pria itu duduk dengan ekspresi serius di wajahnya.


‘Hubungan Boris dan ketiga kakaknya sama sekali tidak baik, tetapi dia masih agak takut pada Moris. Meski tindakanku agak berlebihan, tetapi semua orang seharusnya memakluminya.’


Memikirkan itu, Alexander merasa cukup lega. Dia juga merasa beruntung karena hubungan Boris dan keluarganya sangat buruk. Jadi penyamaran sulit terbongkar ketika dia berpura-pura menjadi pria itu.


Itu juga salah satu alasan Alexander mengincar Boris, bukan tiga orang lainnya. Sedangkan alasan lain kenapa dia mengincar Boris adalah miracle root miliknya.


Miracle root yang dimiliki Boris cukup terkenal. Sebenarnya cukup berguna, tetapi tidak terlalu kuat. Kemampuannya adalah membuat racun dari darahnya. Kemampuan itu didapat dari ulat bulu bermutasi level 2 yang tampak aneh.


Menurut rumor, racunnya cukup kuat, tetapi kemampuannya sia-sia karena hanya itu. Sama sekali tidak menambah kekuatan, kecepatan, atau merubah bagian dari tubuhnya.


Justru karena kesederhanaan ini, Alexander mengincarnya. Lagipula, dia juga bisa membuat racun, bahkan lebih kuat daripada milik Boris. Benar-benar cocok dengan kemampuannya dimana pemuda itu bahkan tidak perlu menggunakan skill lain miliknya.


‘Bukankah orang ini benar-benar terlalu mudah dibodohi? Dia benar-benar berpikir kalau miracle root bisa berevolusi, jadi mengambil miracle root dari ulat yang belum bermetamorfosis.


Memikirkan bagaimana dia mempercayakan masa depannya hanya karena omongan orang membuatku merasa luar biasa. Ternyata ada orang yang begitu bodoh dan santai dalam memilih miracle root.


Benar-benar membuka mataku.’

__ADS_1


Alexander menghela napas panjang. Meski merasa kalau Boris bodoh, dia juga merasa cukup beruntung karena kebodohan ini bisa dia manfaatkan.


Sekarang, ada yang menggangu Alexander. Dia telah memiliki penampilan, bahkan suara dan bertingkah seperti Boris. Masalahnya, pemuda itu sama sekali tidak memiliki ingatan Boris. Jadi tidak tahu siapa yang dekat dan tidak dekat dengannya.


Informasi yang tersebar jelas tidak bisa menunjukkan 100% sisi Boris. Dia dekat dengan banyak orang, tetapi tidak tahu siapa yang dipercayainya. Belum lagi, mungkin saja pria itu memiliki hubungan khusus dengan anggota kelompok gelap tertentu. Lagipula, jika dipikirkan baik-baik, uang yang dia dapatkan dari keluarga saja pasti kurang dan habis ketika digunakan untuk bersenang-senang.


‘Ini sedikit merepotkan.’


Alexander mengelus dagu dengan ekspresi tertekan.


Tok! Tok! Tok!


Pada saat itu, pintu kamar tiba-tiba diketuk.


Setelah memastikan tidak ada yang salah, Alexander baru berkata, “Masuk.”


Pintu terbuka dan dua orang wanita masuk ke dalam ruangan. Mereka berdua membungkuk bersamaan lalu berkata, “Tugasnya sudah beres, Tuan.”


Ketika keduanya mengangkat kembali kepala mereka, Alexander langsung mengamati mereka berdua. Pada saat tadi menghitung, dia tahu kalau Boris memiliki 11 pelayan. Namun, dibandingkan 9 pelayan lainnya, dua wanita ini adalah yang paling cantik dan tampaknya paling disukai Boris.


Jika sembilan orang lainnya dianggap setara dengan wanita bar kecil, maka keduanya adalah wanita populer di tempat yang lebih besar dan megah.


Kualitasnya benar-benar berbeda, setidaknya hampir menyamai Daisy dan Aster. Hanya saja jauh lebih kurus, hampir sama saat pemuda itu menemukan keduanya.


Salah satu wanita berpenampilan cantik tetapi agak biasa membuat Alexander kurang tertarik. Belum lagi, wanita itu selalu ketakutan.


Sebaliknya, Alexander cukup tertarik dengan wanita satunya. Rambut hitam, mata seperti amber, kulit coklat gelap dan tampak eksotis ... tubuhnya benar-benar tampak menggoda. Namun, bukan tubuh wanita itu atau paras cantiknya yang membuat Alexander tertarik.


Matanya ... bukan matanya yang indah, tetapi Alexander merasakan jejak dingin dan benci di mata itu. Seolah-olah merasa tidak senang Boris kembali dan berharap pria itu mati.


Jika wanita lain tampaknya pasrah karena hidup mereka tidak akan berubah bahkan jika Boris mati, maka wanita itu tampaknya memendam dendam tertentu pada Boris.


“Kamu keluar.”


Alexander berkata pada wanita yang ketakutan itu. Seperti permintaan pria itu, wanita tersebut langsung membungkuk dan keluar dari kamar dengan terburu-buru.


“Kamu ...”


Alexander menunjuk ke arah wanita yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, lalu menyeringai kejam.

__ADS_1


“Temani aku malam ini.”


>> Bersambung.


__ADS_2