
Keesokan paginya.
Setelah mendengar cerita dari Melissa, Alexander merasa suasana hatinya menjadi lebih baik. Dari cerita tersebut, pria itu langsung memiliki beberapa pemahaman tentang rencana yang ingin Annie lakukan. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ‘memungut hewan liar’ bisa membuatnya mendapatkan banyak keuntungan. Mungkin itu karena suatu hal misterius yang disebut keberuntungan.
Pada awalnya, Alexander merasa kalau informasi tentang dirinya dan Annie hampir seimbang. Mengetahui beberapa hal tentang lawan, tetapi masih banyak yang disembunyikan. Namun, informasi yang Melissa bawa membuat Alexander merasa agak puas karena walau sedikit ... tetapi memang masih membuatnya agak unggul setidaknya satu langkah ke depan.
Ketika sarapan bersama, rekan-rekan Alexander tampak terkejut ketika melihat pria itu makan lebih banyak. Namun yang lebih membuat mereka terkejut adalah penampilan bahagia pria tersebut. Tampaknya merasa lebih ceria dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Kelima wanita tersebut tidak bisa tidak melihat ke arah Melissa yang sedang makan sambil menunduk. Wanita itu tampaknya merasa malu, karena tidak hanya menginap, tetapi dia juga mengambil makanan gratis dari beberapa orang yang dulu dia anggap.
Sementara itu, Aurora dan keempat wanita lain menjadi sedikit tidak senang, bahkan memiliki sedikit jejak permusuhan kepada Melissa.
Tentu saja, sebagai pelaku, Alexander sama sekali tidak berpikir terlalu banyak. Sama sekali tidak merasakan sedikit perbedaan suasa, malah masih makan lahap seperti biasa.
Selesai sarapan, Alexander langsung menanyai Melissa.
“Jadi, apa rencanamu sekarang?” tanya Alexander.
“Aku tidak tahu kapan Nona Annie akan datang, tetapi jelas tidak sepagi ini. Jadi aku akan tinggal di sini sampai jam sembilan, lalu kembali ke Distrik 4,” jawab Melissa.
“Apakah kamu perlu dikawal sampai di sana? Tentu saja, maksudku bukan aku atau rekan-rekanku yang mengawal, tetapi aku bisa memanggil bawahan Damian untuk mengantarmu sampai rumah. Setidaknya dengan begitu kamu tidak akan mengalami kecelakaan di jalan,” ucap Alexander santai.
“...”
Melissa terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Faust akan membantunya sejauh ini. Sekarang pria itu bahkan menawarkan bantuan lain. Hal itu benar-benar membuatnya semakin bingung.
“Kenapa?” tanya Melissa dengan ekspresi heran.
“Apanya?” balas Alexander.
“Kenapa kamu membantuku sejauh ini? Bukankah kamu teman buronan itu? Kenapa kamu harus membantuku? Kamu bahkan bisa melakukan hal-hal buruk kepadaku, tetapi kamu memilih untuk membantu. Itu membuatku bingung. Jadi ... kenapa?” Melissa bertanya dengan linglung.
“Bukankah itu hanya uluran tangan? Aku sama sekali tidak merasa dirugikan. Jadi aku tidak keberatan memberikan sedikit bantuan,” balas Alexander dengan senyum ramah di wajahnya.
“Tapi itu bukan bantuan kecil bagiku!” seru Melissa.
“Sebaliknya, itu hanya bantuan kecil bagiku, jadi tidak perlu dipedulikan.” Alexander menggelengkan kepalanya.
Melissa kembali tenang. Dia menatap Alexander yang tampak santai dengan ekspresi terheran-heran di wajahnya. Wanita itu merasa sangat rumit. Bahkan pikiran negatif sebelumnya mulai menghilang, digantikan oleh kebimbangan.
‘Mungkinkah aku salah menilai Faust? Mungkin saja dia pria baik yang suka menolong orang, dan V yang sombong itu ditolong olehnya secara tidak sengaja? Kemungkinan besar seperti itu. Lagipula, tidak mungkin Aura, hunter level 2 itu mengikuti pria acak jika tidak memiliki kelebihan kan?’
Melissa buru-buru menggelengkan kepalanya. Dia tak lagi ingin banyak berpikir, jadi akhirnya hanya bisa menggigit bibir sebelum berkata dengan enggan.
“Kalau begitu mohon bantuannya!” ucapnya dengan kepala tertunduk. Terlihat benar-benar merasa malu karena kesombongan sebelumnya.
“Kalau begitu sudah beres!” jawab Alexander santai.
Setelah piring dan gelas bekas sarapan dibersihkan, Nene dan Jane bersiap untuk membuka toko. Alexander langsung pergi menuju ke toko Damian untuk meminta bantuannya. Sementara itu, Aurora hendak mengajak dua wanita lainnya pergi berburu, tetapi tiba-tiba dihentikan oleh Melissa.
__ADS_1
“Apa?” tanya Aurora dingin.
“Bolehkah aku bertanya kenapa kamu menyukai Faust dan mau menjadi pasangannya?” tanya Melissa.
Mendengar pertanyaan Melissa, Aurora tertegun sejenak. Saat itu, dia mengingat pertemuannya dengan Alexander lalu waktu yang telah mereka lewati bersama. Tampak tidak banyak hal spesial, tetapi ada beberapa hal kecil yang bisa dibilang ... membuatnya merasa nyaman.
Alexander mungkin sering bersikap seperti penjahat, suka melakukan hal kejam untuk mencapai tujuannya. Meski begitu, bagi Aurora, dia adalah rekan dan guru yang baik. Ya ... seorang guru yang mau mengajarkan banyak ilmu kepadanya sehingga kemampuannya meningkat ketika mereka melakukan perburuan bersama.
Sedangkan salah satu yang paling disukai Aurora dari Alexander adalah ... sifat pria itu yang selalu menepati janji.
Alexander memang jahat, bahkan cukup kejam. Namun, sekali dia membuat janji, orang itu tidak akan pernah ingkar. Bahkan jika janji itu dikatakan kepada musuhnya sendiri.
“Bukankah itu karena dia sedikit konyol, dan cukup menarik,” jawab Aurora lembut.
Ya. Bagi Aurora, sikap Alexander agak konyol. Dia jelas-jelas memerankan peran penjahat kejam, tetapi masih menjunjung beberapa prinsip penting. Bahkan sesekali terlihat seperti ksatria yang sebenarnya.
Sedangkan pikir Melissa, apa yang Aurora sebut konyol itu adalah sifat Faust yang suka menolong orang tanpa pandang bulu.
“Terima kasih atas jawabanmu,” ucap Melissa sambil mengangguk.
“Jika tidak ada pertanyaan lain, kami akan pergi,” balas Aurora.
Setelah itu, Melissa melihat Aurora pergi bersama Daisy dan Aster. Melihat kepergian mereka, wanita itu mengerutkan kening. Dia sedikit menunduk, tampak agak bingung.
“Sepertinya ... aku pernah melihat wanita bernama Aura ini di suatu tempat?” gumamnya.
Hari dimana dia harus bertemu dengan Annie Rosewald dan mendapatkan bantuannya!
***
Siang menjelang sore.
Alexander duduk di kantor dengan ekspresi cukup serius. Tampak selembar kertas yang memiliki catatan bahan. Hampir semuanya telah dicoret, dan hanya ada dua yang masih belum dicoret.
“Kenapa dua bahan ini sangat sulit ditemukan? Jika aku bisa menemukannya, maka latihanku pasti dipermudah. Kecepatannya juga meningkat setidaknya dua kali lipat,” gumam Alexander dengan ekspresi tertekan.
Apa yang Alexander pegang adalah resep untuk menyeduh anggur obat. Jenis anggur yang sangat kuat dengan efek sangat baik karena terbuat dari bahan berharga. Bahkan, bisa dibilang lebih berharga daripada kebanyakan potion.
Nama anggur itu adalah Golden Dawn. Itu masih satu series, atau lebih tepatnya tingkat terakhir dari resep anggur yang Alexander ketahui. Pertama adalah warna scarlet, kedua warna violet, ketiga warna gold (keemasan).
Anggur itu tidak memiliki nama, jadi Alexander menamainya sebagai Scarlet Dusk (senja), Violet Midnight (tengah malam), dan Golden Dawn (fajar).
Hanya saja, sangat sulit menyeduh anggur Golden Dawn. Saking sulitnya, Alexander hampir menyerah. Namun pria itu masih memasksakan diri untuk tidak menyerah karena anggur itu bisa membantu penguasaannya dalam kendali miracle root ketiga. Itu karena efeknya yang memperkuat tubuh utama, sehingga kendalinya juga meningkat.
Tok! Tok! Tok!
Suara pintu diketuk terdengar. Alexander langsung melipat kertas lalu menyimpannya di saku. Pria itu kemudian berkata, “Masuk.”
Setelah terbuka, sosok Aurora masuk ke dalam kantor.
__ADS_1
“Kamu sudah kembali? Apakah ada masalah?” tanya Alexander.
“Sama sekali tidak ada masalah. Hanya saja, aku memiliki beberapa keraguan.”
Aurora mengerutkan kening. Melihat Alexander memberi isyarat untuk duduk, dia langsung duduk di kursi yang berseberangan dengan pria itu. Langsung menatapnya dengan ekspresi serius di wajahnya.
“Katakan saja, tidak ada orang luar di antara kita,” ucap Alexander datar.
“Apakah kamu tertarik dengan wanita itu, Melissa?” tanya Aurora datar.
Alexander langsung tertegun di wajahnya. Setelah beberapa saat, pria itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Dia menyeka sudut matanya, tampaknya sedikit tak tertahankan.
“Apanya yang lucu?” Aurora mendengus dingin.
“Tidak. Hanya saja, aku tidak menyangka kalau kamu akan menanyakan hal semacam itu. Cemburu?” balas Alexander.
“Hmph!” Aurora mendengus sambil memalingkan wajahnya.
“Aku tidak akan menggodamu. Alasan kenapa aku memperlakukan Melissa dengan baik karena ...”
Alexander mulai menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya. Ketika mendengarkan ucapannya, ekspresi Aurora berubah total. Dia melihat ke arahnya dengan ekspresi aneh.
“Sudah kuduga. Kamu benar-benar tidak baik,” ucap Aurora dingin, tetapi sudut bibirnya sedikit naik.
Alexander mengangkat bahu. Dia kemudian bangkit sambil berkata, “Karena kamu sudah kembali, maka aku harus pergi bekerja.”
Rambut Alexander kembali menghitam. Pria itu kemudian melepaskan penutup mata. Ketika dia mengambil topeng di laci meja, pria itu melihat Aurora mengambil jubah hitamnya. Wanita itu membantunya mengenakan jubah dan sedikit merapikannya.
“Kamu bisa bekerja keras, tetapi jangan terlalu memaksakan diri. Kamu harus ingat, entah itu V atau Faust Vermillion hanyalah identitas sampinganmu. Kamu tetaplah Alexander yang aku kenal,” ucap Aurora dengan senyum lembut di wajahnya.
Alexander tertegun di tempatnya. Pria itu tersenyum lembut lalu mengangguk. Setelah itu, dia memakai topengnya dan menghilang dari ruangan.
Langsung pergi dari Vermillion Shop dengan tenang.
***
Sekitar setengah jam kemudian.
Alexander muncul di pinggiran Distrik 3 setelah berputar-putar cukup lama. Dia melakukan hal tersebut untuk menghindari pelacakan. Terlebih lagi, Vermillion Shop dan tempat yang harus dia awasi berad di Distrik 3.
Hanya saja, pria itu sama sekali tidak menyangka kalau sudah ada orang di lokasi kejadian yang menunggu kemunculannya.
SWOOSH!
Sosok bayangan putih jatuh dari atas, beberapa meter di depan Alexander. Sosok itu mengenakan jubah dan topeng putih dengan tulisan ‘IV’ di dahinya. Saat itu juga, sosok tersebut berkata.
“Lama tidak bertemu, V. Sepertinya kamu hidup begitu nyaman akhir-akhir ini?”
>> Bersambung.
__ADS_1