
“A ... Alexander?”
Claude menatap orang yang sebelumnya dia anggap sebagai perampok dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau Alexander tiba-tiba muncul di tempat ini setelah mereka tidak bertemu sekitar dua tahun.
Dua tahun bisa cepat, tetapi juga bisa dianggap waktu yang lama. Khususnya bagi para hunter yang sering berhadapan dengan monster dan bertarung di tepi hidup dan mari seperti mereka.
“ALEXANDER!”
Claude berlari ke arah Alexander dengan ekspresi penuh semangat. Pria itu bahkan sedikit terharu dan merasa ingin menangis. Dia langsung bergegas ke arah sahabatnya lalu hendak memeluknya. Namun, apa yang menjadi tanggapan adalah sebuah tendangan tepat di perutnya. Langsung menghempaskan Claude dan membuatnya berguling di jalanan beberapa kali.
“Setelah lama tidak bertemu, mungkinkah kamu menjadi bengkok? Kalau begitu jangan dekat-dekat denganku.”
Mendengar suara dingin dengan sedikit bumbu sarkasme yang begitu familiar, Claude yang sedang memegangi perutnya tiba-tiba tersenyum. Dia menatap ke arah Alexander dengan mata berbinar.
“Itu benar-benar kamu! Kemana saja kamu selama ini Alexander?”
Claude bangkit lalu menepuk debu di pakaiannya. Pria itu kemudian mengambil pedang yang terjatuh lalu menyarungkannya kembali.
Mengabaikan Claude, Alexander menatap ke arah Kid, Jimmy, dan Ronn. Para pengikut setia Claude sejak berada di Shelter 101. Masing-masing dari mereka tampaknya sudah mengonsumsi 6 ramuan evolusi level 1. Tidak kuat, tetapi memang lumayan.
Sementara itu, Claude sudah tertinggal sangat jauh dibandingkan dengan dirinya. Pria itu masih berada di level 1 dan baru mengonsumsi 4 ramuan evolusi. Dia jelas menghabiskan hampir satu tahun untuk membantu bawahannya lalu datang ke Shelter 11 musim semi tahun lalu.
Mengumpulkan 4 ramuan evolusi dalam satu tahun dan beberapa bulan sebenarnya sudah cepat. Belum lagi Claude tidak memiliki kemampuan untuk membuat ramuan atau semacamnya. Meski ramuan dan pil racun Alexander menghabiskan jauh lebih banyak biaya, tetapi seharusnya orang normal masih sulit mengumpulkan 4 ramuan evolusi level 2 dalam waktu satu tahun lebih sedikit.
‘Apakah orang ini masih begitu beruntung setelah meninggalkan kandangnya? Tidak memiliki banyak keterampilan tetapi bisa berjalan aman selama ini dan mengumpulkan beberapa potion? Ini ... ini agak keterlaluan.’
Alexander merasa jika tidak bekerja berlebihan dan bekerja sendiri, menurut rencananya ... dia hanya bisa mendapatkan 1 ramuan evolusi level 2 empat bulan sekali. Pemuda itu bekerja lebih keras, mengambil resiko melakukan perdagangan, dan semacamnya sehingga berhasil seperti ini.
Setelah mengingat kalau dirinya sendiri sudah di level 2 dan bisa mengumpulkan ramuan evolusi level 3 sekitar empat bulan sekali (meski agak beresiko), Alexander menghela napas lega.
“Apakah kamu terkejut Al? Aku sudah mengumpulkan empat ramuan evolusi level 2. Aku sendiri tidak langsung pergi mengikutimu, tetapi pergi dari Shelter 101 ke tempat ini satu tahun yang lalu tepat di musim semi. Bukankah itu luar biasa?” ucap Claude.
Melihat Claude yang mengangkat kepalanya dengan ekspresi bangga, sudut bibir Alexander berkedut. Meski layak dipuji, tetapi pria itu memang menghabiskan terlalu banyak waktu untuk ketiga bawahannya. Bukan hanya tinggal di shelter tingkat menengah sekitar sembilan bulan, tetapi juga memberikan hasil pencariannya kepada ketiga orang itu.
Hanya saja, Alexander merasa agak bingung. Biasanya, orang-orang semacam itu akan melakukan pengkhianatan. Namun hal semacam itu atau ciri-cirinya tidak tampak di ketiga bawahan Claude.
Alexander bahkan melihat tiga orang itu memasang posisi bertarung mengelilingi Claude, tampaknya melindungi pria itu dari berbagai ancaman. Jadi, bukan hanya tidak memiliki pemikiran untuk memberontak, tampaknya ketiga orang itu memperlakukan Claude sebagai kakak ... bahkan seperti ayah mereka sendiri!
__ADS_1
‘Mungkinkah selama ini aku terlalu paranoid? Tidak. Aku perlu membuat tindakan pencegahan bahkan jika itu membuat Daisy dan Aster tidak senang. Namun ... sepertinya mereka berdua sekarang sudah sangat setia padaku?’ pikir Alexander.
Claude sama sekali tidak tahu kalau sahabatnya memiliki banyak sekali hal di pikirannya ketika mereka berdua baru saja bertemu. Menurutnya, sekarang Alexander tertegun karena tidak menyangka dia sudah mengonsumsi banyak ramuan dalam waktu sesingkat itu. Hal tersebut membuatnya sedikit bangga.
Claude menggosok pangkal hidungnya dengan jari, tampak cukup puas.
“Apakah kamu tidak menyangka itu, Sobat?! Jangan pikir kamu bisa meninggalkanku begitu jauh bahkan jika berangkat beberapa bulan lebih awal!”
Sudut bibir Alexander kembali berkedut ketika memiliki ekspresi bangga di wajahnya. Melihat pria yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, dia merasa kalau leher orang itu akan patah karena mendongak terlalu tinggi dan menyombongkan diri.
Saat itu juga, Alexander tidak lagi menyembunyikan kekuatannya. Masih tertahan, tetapi setidaknya menunjukkan kalau dirinya sudah menembus level 2.
Jadi ...
Claude benar-benar langsung tertegun di tempatnya.
---
Sekitar satu jam kemudian.
“Jangan sombong Al! Satu tahun, tidak ... satu setengah tahun lagi aku pasti akan menyusulmu!”
“Saat itu aku sudah setengah jalan ke level 3,” balas Alexander datar.
‘Lebih tepatnya pasti sudah menembus level 3,’ tambah Alexander dalam hati.
“UGH!”
Claude menggebrak meja dengan ekspresi tertekan. Dia memelototi Alexander. Merasa ingin mengatakan sesuatu tetapi akhirnya memang tidak bisa menyangkal ucapan temannya tersebut. Pada akhirnya, pria itu hanya bisa menuangkan anggur ke dalam cangkir lalu meminumnya dengan ekspresi tertekan.
Saat itu juga, Alexander yang melihat si ‘lucky guy’ tertekan menjadi agak puas. Walau tidak bisa mengeluarkan keluhan dimana dia bekerja begitu keras dan melakukan banyak hal beresiko, tetapi dia masih bisa melampiaskannya dengan cara seperti itu.
“Hey Claude, kenapa kamu tidak memperkenalkan temanmu pada kami?”
Beberapa orang datang menghampiri Alexander, Claude, dan tiga orang lainnya.
Sekarang mereka tidak minum di Golden Wheat Bar, tetapi bar yang ukurannya agak sedang. Tempat ini lebih damai dan pengunjungnya lebih ramah. Namun, kebanyakan dari mereka dalah magang dan hunter level 1. Hanya sedikit hunter level 2, apalagi hunter level 3.
__ADS_1
Benar-benar jauh berbeda dibandingkan Golden Wheat Bar!
“Eh? Kamu kan ... jika tidak salah, Alexander?”
Orang itu berkata dengan nada agak ragu. Alexander menatap beberapa orang yang datang, tetapi agak bingung karena tidak mengenal mereka.
“Benar.” Alexander mengangguk ringan. “Kalian?”
“Kamu mungkin tidak mengenal kami, tetapi banyak orang khususnya yang berada di zona perburuan aman mengenalmu. Kamu baru datang kurang-lebih satu bulan, tetapi kekuatanmu dan dua wanita itu mencolok.
Kalian berburu di zona kuning, jadi seperti cahaya dalam kegelapan. Benar-benar bersinar sangat terang sehingga banyak orang mengenalimu!”
Mendengar penjelasan itu, Alexander mengangguk. Dia memang sengaja keluar dengan Daisy dan Aster agar orang-orang tahu kalau mereka masih berburu untuk mencari makan dan hidup lebih nyaman. Tidak hanya bersembunyi tetapi tiba-tiba mendapatkan pasokan makanan karena itu akan menjadi lebih mencurigakan.
“Omong-omong ... apakah rumor itu benar?” tanya salah satu orang.
“Rumor apa?” balas Alexander datar.
“Kamu datang dengan kedua wanita itu karena ingin hidup damai dengan kedua wanita itu, membangun keluarga dan semacamnya?”
“Tentu saja salah.” Alexander menggeleng ringan. “Alasan kami pindah dari Shelter 13 karena situasi di sana agak kacau. Kami membutuhkan ketenangan dan waktu untuk membiasakan diri dengan lingkungan sebelum memutuskan langkah berikutnya.”
“Apakah mereka kembar?” tanya Pria A.
“Aku dengar mereka kakak beradik, masih ada jarak usia. Aku benar kan?” tambah Pria B.
“...”
Mendengar berbagai pertanyaan, Alexander memilih untuk bungkam. Di sini, dia terkenal cukup dingin sama seperti di Shelter 101. Namun, pemuda itu tidak memusuhi siapapun dan memilih untuk berbicara atau menjawab jika ditanya. Tampaknya tenang dan tidak ingin banyak bicara.
Saat itu, Alexander menoleh ke arah temannya untuk melihat pemandangan luar biasa.
Claude menatapnya dengan ekspresi tercengang. Cangkir di tangannya jatuh ke lantai, bahkan pria itu lupa menutup mulutnya yang ternganga. Mendengarkan bagaimana pemuda yang dulunya berhati baja, mengayunkan pedang di pagi dan sore hari walau panas, hujan badai, bahkan salju membuat Claude benar-benar meragukan indera pendengarannya.
Rasanya ...
Dia benar-benar sangat terkejut seolah-olah sedang melihat hantu!
__ADS_1
>> Bersambung.