After Apocalypse

After Apocalypse
Membuat Kegemparan


__ADS_3

“EH?”


Claude tertegun di tempatnya. Dia menatap ke arah Alexander dengan mata terbelalak. Tampaknya tidak menyangka kalau sahabatnya akan menanyakan pertanyaan seperti itu.


“Jangan bilang alasan kamu menemuiku karena ini?” tanya Claude dengan ekspresi tidak percaya.


“Apakah berita itu salah?” balas Alexander agak ragu.


“Benar dari mana! Apakah otakmu dilubangi karena terlalu banyak bermain dengan wanita Sobat?! Kamu bahkan percaya dengan cerita semacam itu?” Claude menatap Alexander dengan ekspresi heran.


“Aku mendapatkan informasi dari orang yang terpercaya, bisakah itu salah?” gumam Alexander.


“Aku adalah orang yang melaluinya, bisakah aku lebih salah?! Aku yang mengalaminya sendiri Al!” ucap Claude tidak puas.


“Kalau begitu jelaskan, kenapa berita semacam itu bisa menyebar?” ucap Alexander sembari menatap tepat ke mata sahabatnya.


“I-Itu ...” Claude tampak ragu.


“Kamu terpesona dengan orang yang disebut dengan Aunt Ma itu?” Alexander mengerutkan kening.


“KEPALAMU KEBANJIRAN FANTASI!” teriak Claude sambil menunjuk wajah Alexander. Dia menengok ke kiri dan kanan, setelah itu memelototi sahabatnya lalu berbisik dengan suara sangat pelan. “Apakah kamu pikir wanita berusia 50 tahun dengan tubuh seperti gorila punggung perak itu menawan?”


Mendengar itu, Alexander yang awalnya tak acuh langsung tertegun di tempatnya. Membayangkan sosok yang bisa dibilang gabungan dari tubuh bulat dan keempat anggota badan kekar, dia benar-benar kehilangan kata-katanya.


“Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Kamu tidak akan berkencan dengan wanita semacam itu kan? Maksudku, aku tidak ingin mengomentari kehidupan cintamu, tapi ... bukankah seleramu terlalu berat?” bisik Alexander sambil memasang ekspresi meragukan kehidupan.


“Tentu saja tidak! Aunt Ma jelas tidak memikirkan hal tentang cinta karena usianya sudah seperti itu. Hanya saja, aku ... aku memiliki sedikit hubungan dengan putri tertua wanita itu. Namanya adalah Melissa,” ucap Claude dengan suara lirih dan malu-malu.


“Apakah kamu yakin tidak ada yang salah?” tanya Alexander. “Maksudku ... putri dari wanita seperti itu-“


“Aunt Ma dulunya adalah wanita yang sangat cantik. Jika tidak, bagaimana bisa dia menarik perhatian para lelaki. Tentu saja, dibandingkan 21 adiknya, Melissa adalah yang terbaik!” sela Claude dengan ekspresi bangga.


“!!!”


Mata Alexander terbelalak. Daripada fokus dengan kecantikan Melissa, pemuda itu lebih fokus pada jumlah anak Aunt Ma. Termasuk Melissa, jumlahnya berarti ada 22 orang.


Menurut informasi yang Alexander dapatkan, Aunt Ma menikah di usia pertengahan dua puluh tahun. Jika dianggap menikah di usia 25 dan melahirkan anak setahun sekali, berarti wanita itu masih melahirkan sampai usia 47 tahun. Tentu saja, jika anak kembar tidak dihitung.


Masalahnya ... melahirkan setiap tahun sampai jumlah seperti itu?


‘Bukankah itu terlalu berlebihan? Bisa sangat keterlaluan? Aku rasa binatang ternak yang coba dikembangkan Blood Cross tidak serajin itu kan?’


Alexander merasa kalau logikanya telah ditumbangkan. Dia sama sekali tidak mempercayainya, tetapi fakta itu ada di depan matanya. Belum lagi, tampaknya temannya sendiri berhubungan cukup baik dengan putri tertua wanita itu.


“Uh ... jika boleh tahu, berapa usia Melissa?” tanya Alexander.

__ADS_1


“Usianya 27 tahun. Memang lebih tua, tetapi dia sangat cantik dan baik. Memangnya ada apa?” tanya Claude.


“Bagaimana dengan adik paling muda?” tanya Alexander.


“Ah! Gadis itu sangat imut, kalau tidak salah 8 tahun?” ucap Claude secara tidak sadar.


“...”


Alexander kehilangan kata-kata. Dia berusaha membayangkan berbagai kemungkinan, tetapi otaknya terasa sulit untuk memproses hal-hal semacam itu. Pemuda itu bahkan merasa mengendalikan angin dengan kekuatan telekinesis lalu menghempaskannya lebih masuk akal daripada terus melahirkan anak setiap tahun ... lebih dari dua puluh kali.


“Manusia memang penuh dengan keajaiban,” gumam Alexander dengan ekspresi rumit.


Setelah banyak berpikir, hanya kalimat itu yang bisa diucapkan oleh pemuda tersebut.


Alexander buru-buru menuangkan banyak anggur lalu meminumnya. Merasa tenggorokan yang awalnya kering kembali basah karena anggur dan ketegangannya agak dikurangi, pemuda itu merasa agak lega.


Pemuda itu kemudian menatap Claude yang mulai menjelaskan betapa menakjubkannya Melissa yang telah meluluhkan hati orang itu. Memaksakan senyum di wajahnya, dia pun berkomentar.


“Ya ... itu ... memang cukup luar biasa.”


Saat itu juga, Alexander merasa tertekan dan menyesal karena datang menemui Claude. Belum lagi, ekspresi iba di wajah ketiga bawahan pria itu menggambarkan satu hal ...


Ocehan Claude tampaknya tidak akan segera berhenti, dan mereka harus mempersiapkan mental untuk terus mendengarnya.


 


“Ugh! Kepalaku berdengung ...”


Alexander keluar dari bar dengan ekspresi tertekan di wajahnya. Pemuda itu merasa kepalanya sedikit pusing. Bukan karena terlalu banyak minum, tetapi karena terlalu banyak mendengar omong kosong dimana otaknya dijejali terlalu banyak informasi tidak penting.


Baru saja keluar dari tempat minum dengan Claude dan tiga orang lainnya, mereka tiba-tiba tertegun ketika melihat cukup banyak penjaga yang mengepung depan bar dan mengarahkan tombak kepada mereka berlima.


Saat itu juga, Alexander yang berpikir identitas V bocor langsung menarik keluar pedangnya. Meski sedikit pusing, tetapi dia langsung mengambil posisi siap bertarung kapan saja.


Claude tiba-tiba menepuk punggung Alexander sambil berkata dengan nada penuh keluhan.


“Sarungkan kembali pedangmu. Apakah kamu masih mabuk? Benar-benar ingin bertarung dengan para penjaga?”


Setelah mengatakan itu, Claude berjalan menuju ke pemimpin pasukan tersebut sambil bertanya ramah.


“Apakah ada yang salah Kapten? Tidak biasanya kamu mendatangiku. Bahkan fajar belum mekar seutuhnya.”


Melihat Claude yang akrab dengan kapten penjaga, Alexander menyarungkan kembali pedangnya lalu memijat pelipisnya dengan ekspresi lelah dan tertekan. Tentu saja, sebagian besar hanya kepura-puraan. Pemuda itu bahkan sudah mempersiapkan diri untuk melarikan diri dan terus memikirkan rute terbaik.


“Aku tidak peduli dengan itu Nak. Awalnya aku curiga kalau kamu pelakunya, tetapi tampaknya kamu memiliki alibi kuat.” Pria paruh baya itu berkata dengan dingin.

__ADS_1


“Alibi? Pelaku? Memangnya ada sesuatu yang salah?” tanya Claude dengan ekspresi serius.


“Dua dari tiga orang yang sebelumnya berurusan denganmu telah meninggal dunia,” ucap pria paruh baya itu.


“Dua dari tiga ...” gumam Claude sebelum matanya terbelalak. Dia menatap ke arah pria paruh baya itu dengan ekspresi tidak percaya. “Maksudmu ...”


“Ya! Kedua korban adalah adik Nona Melissa yang pernah berseteru denganmu. Satu orang lainnya berkata kalau kemungkinan besar kamulah pelakunya. Lagipula, mereka bertiga sempat membuat masalah denganmu, jadi dugaan balas dendam sangat mungkin.


Jadi, bisakah kamu jelaskan apa yang kamu lakukan tadi malam?”


Pada saat pria paruh baya tersebut menyelesaikan ucapannya, semua ujung tombak langsung mengarah pada Claude. Mengelilingi pria itu dan siap menundukkannya jika melakukan perlawanan.


Saat itu Alexander mengangkat tangan kanannya sambil berkata, “Saya menghabiskan waktu untuk minum bersama dengan Claude semalam penuh. Banyak pelanggar bar bisa bersaksi untuknya.”


“Oh? Apakah ini hari yang begitu baik sehingga kalian minum sepuasnya?” tanya pria itu dengan mata menyipit.


“Bukan hari yang baik, tetapi juga bukan hari yang buruk. Sebenarnya, aku adalah teman lama Claude yang berasal dari Shelter 101. Kami sudah tidak bertemu hampir dua tahun, jadi berkumpul untuk minum bersama.


Bukankah itu sesuatu yang wajar, Pak?”


“Kenapa hari ini?” tanya pria itu.


“Karena kami baru bertemu tadi malam. Omong-omong, saya juga belum lama pindah ke Shelter 11 jadi tidak tahu kalau Claude ada di sini. Lagipula, saya meninggalkan Shelter 101 terlebih dahulu,” ucap Alexander santai.


“Lalu ... kemana kamu pergi sebelum datang ke sini?”


“Shelter 13. Karena agak kacau akhir-akhir ini, jadi saya memutuskan untuk pindah. Anda bisa mengeceknya karena tertulis dengan jelas dalam dokumen pendaftaran,” balas Alexander ramah.


Pria paruh baya itu menatap ke arah Claude. Awalnya dia berpikir kalau pria itu sudah cukup berbakat, tetapi tidak menyangka kalau temannya lebih berbakat darinya. Ternyata sudah mencapai level 2 di usia yang sama dengan Claude.


(Pria itu tidak tahu usia Alexander jauh lebih muda.)


“Bagaimana dengan keadaan Melissa? Apakah dia baik-baik saja?”


Saat itu, Claude tiba-tiba menyela dan merusak suasana tegang.


Pada saat melihat Claude yang mengabaikan hal lain dan terlalu fokus pada orang yang membuatnya jatuh cinta, Alexander dan kapten merasa agak tidak berdaya.


“Aku tidak tahu, tetapi kondisi fisiknya seharusnya normal karena dia tidak menerima serangan.”


“Melissa pasti sedang tertekan sekarang. Dia pasti sedih karena kehilangan kedua adiknya. Hibur dia! Aku harus segera mendatangi dan mengiburnya!” ucap Claude yang mengabaikan perkataan kapten.


Melihat ekspresi gelap di wajah kapten, sudut bibir Alexander kembali berkedut. Dia sama sekali tidak menyangka, bukan hanya tidak semakin cerdas, setelah hampir dua tahun tidak bertemu ...


Ternyata sahabatnya semakin tidak bisa diandalkan!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2