
Empat hari berlalu begitu saja.
Di hutan puluhan kilometer dari Shelter 1, tampak sebuah kelompok dengan jumlah sedang berbaris dengan rapi. Jumlahnya tidak mencapai seratus orang, tetapi masih sekitar lima puluh orang. Hanya saja, tidak banyak dari mereka yang merupakan hunter level 2 atau di atasnya.
Bisa dibilang, kelompok itu membawa lebih banyak orang untuk memastikan keselamatan mereka.
Kelompok itu mulai merobohkan tenda dan mengemas barang-barang mereka semua. Jelas, mereka telah bermalam di tempat tersebut pada malam berikutnya dan berencana melanjutkan perjalanan.
“Apakah masih jauh?” tanya Melissa, yang memimpin kelompok ini.
“Jika kita bergerak lebih cepat, seharusnya kita bisa sampai di tujuan sebelum malam hari.”
Tidak jauh dari Melissa, seorang pria paruh baya kurus dengan rambut disisir ke belakang berkata dengan tenang. Pria tersebut memakai pakaian berbeda dengan prajurit lain dalam barisan. Juga ... dia adalah satu-satunya hunter level 3 dalam kelompok ini.
Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah utusan yang dikirim oleh Aunt Ma untuk melindungi putrinya. Meski wanita itu mengirim putrinya untuk menyelesaikan tugas sekaligus memberi ujian, tetapi dia jelas masih peduli dengan nyawa keturunannya. Lagipula, beberapa anak-anaknya meninggal dalam gelombang binatang buas sebelumnya.
Melissa jelas bibit baik yang dipilih oleh Aunt Ma. Ketika wanita tua itu mengambil alih kepemimpinan Shelter 11, dia memberi putrinya sebuah ujian. Bukan hanya karena Melissa ingin mendapatkan ramuan penawar untuk pamannya, tetapi karena Aunt Ma juga ingin memberikan tanggung jawab lebih besar pada Melissa.
Tanggung jawab untuk membantu mengurus keluarga dan Shelter 11 yang akan berada di bawah pemerintahan mereka!
Pria paruh baya itu melirik ke arah Melissa dengan ekspresi dingin. Mengamati ekspresi tenang dan mata tegas wanita itu, dia diam-diam mulai menyetujui pilihan Aunt Ma.
‘Tampaknya gadis kecil ini memang lebih baik daripada kelihatannya. Mungkin bukan calon yang sempurna, tetapi jelas memiliki kualitas yang baik. Khususnya dalam beradaptasi dengan berbagai situasi.’
Tidak tahu kalau penjaga yang dikirim oleh ibunya juga diminta untuk menilai, Melissa membuat keputusan tegas.
“Claude!”
“Ya Nona!” jawab Claude dengan hormat.
“Sampaikan kepada semua orang, kita akan berangkat dalam setengah jam. Tambah kecepatan barisan. Kita harus mencapai tujuan sebelum malam tiba. Selain itu ...
Jangan biarkan mereka mengacaukan barisan, berisik, dan menarik perhatian binatang buas yang berbahaya.”
Mendengar ucapan Melissa, Claude memberi hormat.
__ADS_1
“Dimengerti.”
***
Sementara itu, di depan Shelter 1004.
Di tempat yang tidak begitu mencolok, Aurora dan empat rekannya mendirikan tenda. Walau sudah terlewat empat hari, mereka sama sekali tidak pergi dari sana. Kelima orang itu masih mematuhi perintah Alexander untuk menunggu di luar.
Suara keras yang diiringi dengan getaran kuat terjadi hampir satu hari satu malam setelah Alexander memasuki Shelter 1004. Pada awalnya, mereka berpikir kalau pria itu telah menyelesaikan pertarungannya. Namun, benar-benar tidak ada kabar setelah beberapa jam.
Kelima orang itu merasa khawatir, tetapi Aurora menyuruh mereka menunggu. Dalam perjanjian, mereka akan menunggu selama tiga hari. Jika benar-benar tidak ada pergerakan lain, maka mereka bebas memilih pergi ke mana.
“Benar-benar tidak ada gerakan setelah tiga hari,” ucap Aurora dengan ekspresi suram di wajahnya.
“...”
Keempat wanita lainnya saling memandang. Mereka tidak mengatakan apa-apa, tetapi jejak kekecewaan dan kesepian tampak di mata mereka semua.
“Sudah diputuskan. Karena tidak ada kabar setelah tiga hari, maka kita bebas memilih jalan masing-masing. Untuk ramuan ... kalian boleh membaginya,” kata Aurora datar.
“Aku juga tidak membutuhkan ramuan itu,” ucap Daisy.
“Aku akan mengambil ramuan pemulihan, sisanya bisa kalian berdua bagi,” tambah Aster dengan senyum ceria seperti biasa.
Jane dan Nene saling memandang. Jane sama sekali tidak merubah ekspresinya, tampaknya tidak terkesan dengan hal-hal seperti itu. Sementara itu, Nene terus menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan keinginan untuk mendapatkan ramuan-ramuan itu.
Jane paling mengenal Nene, jadi dia berkata, “Kami berdua juga tidak membutuhkannya. Sebagai wakil ketua, anda bisa mengambil semuanya, Nona Aurora.”
Aurora tampak terkejut. Ketika melihat tekad di mata mereka berempat, wanita itu menyadari sesuatu. Dia bergumam dengan nada tidak percaya.
“Kalian ...”
Aster menggaruk belakang kepalanya sambil membalas, “Tampaknya pemikiran kita semua sama, Wakil Ketua.”
“Saya adalah ‘barang’ milik Tuan Al, jadi saya akan berada di tempat dimana dia berada,” ucap Daisy dengan lembut.
__ADS_1
“Aku tidak memiliki alasan hidup. Tuan Alexander telah membantuku membalas dendam. Jika bukan karena beliau memintaku mengikutiku, tidak ada lagi alasan untuk hidup lagi. Namun, sebelum mati, setidaknya aku ingin mengetahui apa yang terjadi,” tambah Jane dengan ekspresi datar.
“Ya!”
Nene mengangguk dengan ekspresi serius, tetapi jelas tidak memiliki kemampuan apapun. Namun, setidaknya wanita itu masih memiliki tekad.
“Kalian benar-benar bodoh ...” ucap Aurora dengan ekspresi tidak berdaya, tetapi tampak jejak rasa terima kasih dalam tatapannya.
“Bagaimana kalau kita berangkat sekarang?!” tanya Aster yang mengangkat tangannya.
Mendengar ucapan Aster, keempat wanita lain mengangguk serempak.
Mereka semua langsung bangkit lalu mulai berkemas. Mereka berniat membawa semua barang ke tempat Alexander berada.
Sekitar setengah jam kemudian, kelima wanita itu sampai di depan tebing. Mereka kemudian mulai mendaki jalan sempit dengan bentuk zig-zag menuju ke atas. Kelima wanita itu tidak berjalan cepat atau lambat. Mereka hanya berjalan dengan santai seperti biasa, dan tanpa terasa ... akhirnya tiba di mulut gua.
Sesampainya di sana, kelima orang itu langsung mengerutkan kening ketika mengendus aroma terbakar. Ada juga aroma daging busuk, tetapi masih tertutupi oleh aroma terbakar dan belerang.
Mereka berlima saling mengangguk, lalu memasuki tempat itu.
Ketika masuk ke dalam Shelter 1004, mereka semua tertegun ketika melihat pemandangan berantakan dimana tampak kehancuran di mana-mana. Banyak hal dihancurkan dan di bakar, tetapi ada pemandangan yang lebih mencolok.
Di tengah kekacauan tersebut, tampak makhluk sebesar truk pickup yang terbaring tak bergerak. Lebih tepatnya ... bangkai Infernal Basilisk.
Di bagian bawah tubuh makhluk itu, luka besar tampak sangat mencolok. Belum lagi, sebagian tubuhnya hampir menghilang entah kemana.
Tidak jauh dari bangkai Infernal Basilisk, tampak sosok pria yang nyaris tidak mengenakan apa-apa. Penampilannya tampak kacau karena darah kering yang membasahi seluruh tubuhnya. Dia duduk bersila di perut kadal raksasa itu.
Merasakan langkah kaki yang menggema di gua, pria itu menoleh ke belakang. Dia langsung melihat lima wanita yang datang dengan sepasang mata aneh merah dan kuning dengan pupil vertikal seperti reptil.
Terlebih lagi ...
Dia masih menggigit sebongkah daging yang dipegang di tangan kirinya. Menelan daging itu tanpa merubah ekspresinya, pria tersebut pun berkata.
“Yo! Apakah aku membuat kalian menunggu lama?!”
__ADS_1
>> Bersambung.