After Apocalypse

After Apocalypse
Kejanggalan


__ADS_3

Beberapa hari berlalu begitu saja.


Di atas sebuah batu besar tertutup salju, Alexander duduk bersila. Lebih tepatnya, melayang di udara sambil bersila. Pria itu memejamkan matanya, lapisan energi nyaris tak terlihat menyelimuti tubuhnya.


Ya ... Alexander sedang melatih kekuatan telekinesisnya.


Berbeda dengan rencana, pria itu sembuh lebih awal. Dikarenakan fisiknya sudah sangat baik, dia memilih untuk meminum ramuan evolusi level 3 terakhir yang disiapkan sebelum pertempuran sebelumnya. Hasilnya, pria itu menerobos level 3 dengan lancar.


Sekarang Alexander dari level 2 ke level 3, dan masuk ke dalam jajaran hunter kuat. Belum lagi, waktu yang dia gunakan sangat singkat. Hanya saja, kecepatan itu tidak pantas dipuji. Lagipula, pria itu mengorbankan sebuah keluarga besar demi tujuannya.


Mencuri, merampok, korupsi, dan hal-hal keji seperti itu sangat menguntungkan diri sendiri dan sangat merugikan orang lain. Hal semacam itu sama sekali tidak patut dipuji apalagi ditiru.


Alexander tidak peduli bagaimana orang-orang memandangnya.


Di dunia dimana kebaikan hampir sirna seperti malam kelam dimana langit tertutup awan gelap dan bintang-bintang tak lagi bisa bersinar, mamalia rendahan seperti mereka hanya bisa melakukan kanibalisme untuk terus bertahan hidup. Perilaku yang benar-benar menjijikkan.


Alih-alih saling membantu untuk mencapai hal yang lebih baik demi kepentingan umat manusia, mereka malah saling menjatuhkan dan membunuh untuk keuntungan diri sendiri. Tidak tahu kapan itu dimulai, tetapi perilaku seperti itu bertahan sampai sekarang.


Bisa dibilang, mereka, manusia tidak sebaik kodok tebu. Kodok tebu, ketika masih kecebong, mereka dipaksa tumbuh lebih cepat untuk menghindari predator. Kecebong-kecebong kecil itu memakan telur-telur katak, adik-adik mereka sendiri agar bisa tumbuh lebih cepat. Perilaku kanibal yang keji.


Jika dipikir-pikir, itu memang keji tetapi tidak seburuk manusia. Kecebong memakan telur, yang berarti membunuh adik-adik mereka sebelum menetas dan hidup di dunia. Sedangkan manusia membunuh manusia lain, menjatuhkan dengan fitnah, melakukan korupsi demi kepentingan sendiri dan membunuh banyak rakyat miskin yang kekurangan makanan serta perlu dibantu.


Membunuh yang belum terlahir dan yang sudah terlahir tentu berbeda. Jadi ...


Ternyata banyak manusia tidak sebaik kecebong kecil yang dianggap hama invasif. Bisa dibilang, mereka sendiri adalah hama karena dianggap sebagai spesies yang merusak dunia demi kepentingan mereka sendiri. Bahkan itu sudah dijelaskan dalam sejarah dan kitab-kitab yang dipercayai umat manusia.


Bisa jadi, dunia yang keji ini lebih layak bagi mereka. Lagipula, manusia bisa menunjukkan sisi mereka yang sebenarnya di sini, dimana mereka benar-benar hanya hama kecil yang bisa diinjak sampai mati oleh makhluk-makhluk bermutasi.


Tik! Tik! Tik!


Salju mulai berjatuhan. Sebelum mengenai Alexander, salju-salju terhenti seolah terhalang sesuatu yang melapisinya. Membuat benda-benda itu jatuh ke samping di sekitar pria tersebut.


Setelah beberapa saat bermeditasi, Alexander membuka matanya lalu mengembuskan napas keruh.

__ADS_1


Pria itu berdiri tegak, menginjakkan kakinya ke atas tanah bersalju lalu menatap ke langit. Melihat kepingan salju berjatuhan, ekspresinya menjadi sedikit lebih lembut.


“Apakah kamu masih marah?”


Saat itu, suara wanita terdengar. Ketika menoleh, Alexander melihat Aurora yang berjalan ke arahnya.


“Tidak,” jawab Alexander datar.


“Jika tidak bisa, maka kamu tidak perlu melakukannya. Aku hanya mengatakan pendapatku, tidak lebih dari itu.”Aurora berkata sambil menatap mata pria di depannya.


Sebelumnya, keduanya sempat berdebat. Aurora merasa kalau Alexander sama seperti dirinya, tampaknya memiliki tujuan untuk balas dendam. Jadi dia memberi nasihat, biarkan pria itu membalas dendam, tetapi tidak perlu membunuh dan diharapkan untuk mencoba memaafkan setelah membalas semuanya. Karena wanita itu merasa, semua itu sia-sia.


Tidak ada rasa puas, tidak ada rasa marah, dan hanya menyisakan kekosongan. Seolah sesuatu yang seharusnya bisa diperbaiki dibuang begitu saja.


Tentu saja, sebagai tanggapan, Alexander sangat marah karena itu adalah pengejarannya selama bertahun-tahun lamanya. Belum lagi, dia menggunakan teknik jahat hanya demi meningkatkan kekuatannya dan memecahkan batasan yang tidak bisa dilakukan orang-orang pada level yang sama.


“Tidak. Aku juga menyadari ada yang salah pada diriku. Setelah bertahun-tahun, setelah aku semakin dewasa, aku menyadari kalau tanganku telah berlumur terlalu banyak darah. Munafik jika mengatakan aku melakukannya secara tidak sengaja.


Aku melakukan itu secara sengaja dan secara sadar. Aku bukanlah orang yang baik, dan aku tidak keberatan dianggap sebagai penjahat keji. Namun, kamu tahu? Aku bertemu dengan banyak orang.


Hanya saja, aku juga melihat beberapa orang yang sebenarnya baik. Orang yang melindungi rekan-rekannya dan orang yang disayanginya, bahkan ada orang yang melakukan banyak hal baik layaknya seorang pahlawan.


Ah ... melihat mereka yang bermandikan cahaya benar-benar membuatku iri dan kesal.


Jadi, aku mulai mempertanyakan tujuanku. Apakah itu benar atau salah, aku tidak begitu peduli. Memang, aku masih ingin membunuh orang itu. Namun, yang lebih penting ...”


Jejak kesepian dan keengganan muncul di wajah Alexander sebelum dia melanjutkan.


“Aku hanya ingin mendengar kebenarannya.”


Aurora tertegun di tempatnya ketika melihat sosok Alexander. Berbeda dengan sosok yang selalu melangkah maju, menantang semuanya dengan penuh percaya diri, bahkan melakukan hal-hal ekstrem demi mencapai tujuannya. Berbeda dengan sosok yang tampak kuat tanpa celah itu, sekarang dia merasa kalau pria itu tampak agak lemah dan tidak berdaya.


Terlihat lebih manusiawi dibandingkan biasanya.

__ADS_1


Aurora tanpa sadar maju, melingkarkan lengannya pada leher Alexander, berjinjit lalu mengecup lembut bibir pria itu. Dia kemudian bersandar pada tubuh pria itu sambil berbisik lirih.


“Tidak peduli apa yang ingin kamu lakukan, aku akan mendukungmu. Aku sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Jadi, setidaknya kamu harus tahu ...”


“Kamu tidak lagi sendirian.”


Mendengar itu, Alexander yang membatu di tempatnya tiba-tiba tersadar. Dia akhirnya memeluk pinggang wanita itu. Memiliki ekspresi lembut di wajahnya, pria itu membalas.


“Terima kasih.”


***


Beberapa hari kemudian.


Alexander berjalan perlahan dengan ekspresi datar di wajahnya seperti biasa. Hanya saja, tatapannya tidak lagi sedingin sebelumnya. Tidak jauh di belakangnya, tampak Aurora yang mengikutinya.


Di belakang mereka berdua, tampak Aster yang berbicara dengan Jane. Menjelaskan beberapa hal tentang teknik pedang dasar, membuat wanita berkulit cokelat itu sesekali mengangguk.


Ada juga Nene yang tampak penasaran dan bertanya pada Daisy. Dia menanyakan beberapa tanaman yang tumbuh di sekitar, dan Daisy menjawabnya dengan sabar.


Sebuah gambaran agak hangat di tempat yang sepi dan dingin tersebut.


“Kita akan segera sampai di tujuan,” ucap Aurora.


Melihat pemandangan sungai yang tampak familiar, wanita itu menghela napas lega. Sebelumnya dia pernah datang ke tempat itu. Walau tidak lama, tetapi wanita itu memiliki beberapa kesan.


Hanya saja, beberapa saat setelah Aurora mengatakan itu, pemandangan yang tidak menyenangkan muncul di bidang pandangan mereka.


Tampak cukup banyak mayat di sekitar sungai kecil yang membeku.


Alexander dan anggota kelompoknya mendekat dengan hati-hati. Setelah mendekat dan melewati jalan setapak ...


Pemandangan yang lebih mengerikan tampak di depan mata mereka.

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2