After Apocalypse

After Apocalypse
Meninggalkan Shelter 13


__ADS_3

“Apa? Apakah kamu sudah gila?”


Mendengar ucapan Alexander membuat Clayton merasa temannya itu sudah gila. Meski Shelter 13 kacau, hal semacam ini beberapa kali terjadi. Misalnya gelombang binatang buas yang terjadi setiap musim dingin. Hanya saja berbeda dengan skalanya dimana tahun kemarin lebih kecil dibandingkan tahun sebelumnya.


“Tidak Clay, aku serius.” Alexander berkata dengan tenang.


“Kenapa?” tanya Clayton dengan ekspresi bingung.


“Karena aku tidak bisa melupakannya.”


“Maksudmu?” tanya Clayton dengan mata terbelalak.


“Seperti yang kamu pikirkan, Clay. Aku masih memikirkan Aurora. Meski tidak tahu sekarang dia berada di mana, seharusnya masih ada di shelter di bawah Blood Cross. Jadi ... aku ingin pergi mencarinya,” ucap Alexander dengan penuh tekad.


“Gila! Kamu sudah gila!” teriak Clayton.


Saat itu, semua orang menatap ke arah mereka. Sadar kalau dirinya berteriak terlalu keras, Clayton meminta maaf kepada orang-orang lalu melanjutkan.


“Jarak antara tiga shelter besar itu jauh dan berbahaya. Selain itu, ada juga kemungkinan Aurora datang ke markas utama. Belum lagi, bagaimana jika dia pergi ke shelter tingkat menengah?


Percaya padaku Al, sulit untuk menemukannya! Lupakan! Lupakan saja dia.”


Mendengar itu, Alexander tersenyum masam. Dia mendongak dengan mata terpejam. Pemuda itu menghela napas panjang lalu bergumam, “Itu juga yang aku inginkan, tetapi tidak bisa kulakukan.”


Melihat ekspresi Alexander, Clayton merasa kalau pemuda itu benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan. Dia memijat pelipisnya dengan ekspresi tertekan. Beberapa saat kemudian, dia akhirnya berkata.


“Kapan kamu akan pergi?”


“Paling lama dalam 3 hari,” jawab Alexander.


Mendengar jawaban Alexander, Clayton mengangguk ringan. Setelah menghela napas panjang, dia kembali berkata.


“Minum! Aku akan menemanimu minum karena tidak tahu apakah kita bisa bertemu lagi. Aku hanya berharap kamu menemukan apa yang kamu cari!”


Alexander melihat Clayton cukup emosional. Meski hubungan mereka tidak sedekat itu, tampaknya hubungan pertemanan mereka berdua lebih baik daripada hubungan Clayton dengan orang-orang lain di pub.


Merasa sedikit syukur di hatinya, Alexander mengangguk ringan.


“Terima kasih.”


---


Keesokan harinya.


“Apakah semuanya berjalan dengan lancar, Tuan?”


Ketika melihat Alexander sudah beristirahat beberapa waktu setelah kembali ke rumah, Daisy akhirnya mengajukan pertanyaan yang membuatnya merasa penasaran.


“Sudah dilakukan.” Alexander mengangguk ringan. “Dengan begini, kita memiliki alibi dan alasan kenapa harus meninggalkan kota. Clayton dan Tavon sudah dihubungi. Orang-orang itu tidak akan menyangkutpautkan aku dengan para pedagang gelap atau buronan tertentu.”


“Itu sangat bagus, Tuan!” ucap Aster penuh semangat.


Melihat sepupunya yang begitu bersemangat dan patuh pada Alexander, Daisy menggeleng ringan. Meski dia juga setia kepada pemuda itu, terkadang dia merasa agak bertentangan karena sepertinya mereka telah memanfaatkan Aurora, teman dekat Alexander sendiri.

__ADS_1


“Kapan kita akan berangkat, Tuan?” tanya Daisy.


“Sore ini.” Alexander membalas santai.


“Apakah kita harus terburu-buru?” tanya Aster dengan ekspresi bingung.


“Tidak terlalu buru-buru. Namun kita tidak memiliki hal yang perlu dilakukan di sini. Semua persiapan sudah selesai, jadi lebih baik kita segera pergi. Aku tidak berniat terseret masalah di tempat ini,” ucap Alexander.


“Baik!” balas keduanya bersamaan.


Dengan begitu, mereka bertiga menggunakan siang ini untuk beristirahat secukupnya. Baru ketika menjelang sore, mereka berkemas lalu berangkat.


Alexander mengajak keduanya untuk melapor, memberi alasan kenapa pindah dan memberi konfirmasi kalau sisa poin kontribusi akan hangus jika mereka pergi. Setelah mengisi formulir dan berbicara beberapa patah kata, pemuda itu membawa kedua pelayannya pergi dari kantor.


Mereka bertiga langsung pergi menuju ke gerbang utama. Ketiganya menunjukkan dokumen terkait sebelum benar-benar pergi dari Shelter 13. Secara resmi meninggalkan tempat itu dan tidak menjadi penduduknya.


Prosesnya berjalan lancar. Sama sekali tidak ada yang namanya tarik-ulur atau semacamnya. Mereka semua memberi kebebasan untuk memilih tinggal atau tidak. Lagipula Shelter 13 juga tidak kekurangan orang yang masuk dan keluar. Banyak yang datang ke tempat itu setiap tahunnya.


Itu berarti ... apa yang dilakukan Alexander sebenarnya biasa saja dan tidak mencolok.


Alasan kenapa Alexander repot-repot berbicara dengan Clayton dan Tavon adalah memberinya alasan khusus sehingga tidak dicurigai. Terbebas dari tempat ini tanpa sedikitpun ikatan yang tersisa. Sama sekali tidak mungkin dicurigai!


Setelah melakukan beberapa jam perjalanan, Alexander akhirnya meminta Daisy dan Aster berhenti.


Sekarang mereka berada di perbatasan wilayah aman dan berbahaya. Meski jalur utama dari satu shelter ke shelter lain cukup aman, tetapi mereka masih perlu berhati-hati.


Belum lagi, berbeda dengan Alexander yang merupakan Hunter level 2, Daisy dan Aster yang belum mendapatkan miracle root mereka sudah agak kelelahan. Lebih baik beristirahat semalam untuk menghindari sesuatu yang tidak perlu.


“Sayang sekali tidak ada ghoul di sekitar Shelter 13. Perlu pergi ke tempat lain untuk mencarinya,” gumam Aster sambil mendirikan tenda dengan sepupunya.


Bukankah tuan sudah berkata kalau kita akan mendapatkannya setelah sampai di shelter berikutnya? Bersabarlah. Dibandingkan dengan orang-orang yang bahkan tidak bisa menjadi magang hunter, kita sangat beruntung karena bisa menjadi hunter setelah mengikuti tuan kurang dari satu setengah tahun.”


Mendengar ucapan Daisy, Aster terus mengangguk seperti ayam mematuk nasi. Dia tahu kalau dirinya agak terlalu bersemangat. Bukannya tidak bersyukur, wanita itu hanya tidak bisa mengendalikan kegembiraannya. Jadi dia memilih untuk mendengarkan ucapan Daisy.


“Hey! Dulu aku tidak berani memimpikan hal semacam ini,” ucap Aster dengan senyum di wajahnya.


“Menjadi hunter? Bisa makan satu kali sehari dan melewati musim dingin dengan tenang adalah impianku saat itu,” balas Daisy.


“Ya!” Aster mengangguk. “Mengingat bagaimana sulitnya mendapatkan sepotong makanan saat itu membuatku merasa sangat bersyukur mengikuti Tuan.”


Setelah membicarakan itu, mereka berdua melirik ke arah Alexander yang duduk bersila di atas batu sambil memejamkan mata. Tampaknya sedang bermeditasi.


Meditasi yang dilakukan Alexander bukan untuk menyerap energi qi, sihir, atau semacamnya. Dia melakukan hal semacam itu untuk menenangkan pikiran dan tubuhnya.


Berlatih keras, bertarung ganas, memakan pil dan meminum ramuan evolusia yang berbahaya, bahkan meminum ramuan hitam untuk menyerap miracle root. Hal semacam itu membuat pikirannya kacau.


Jika tidak mengimbanginya dengan metode menenangkan diri untuk meredam emosi dan tubuhnya, Alexander mungkin sudah gila. Bahkan menjadi monster humanoid yang kehilangan kewarasannya.


Setelah menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan, Alexander membuka matanya.


“Ada tamu tidak diundang.”


Beberapa saat setelah Alexander mengatakan itu, sepuluh orang bergegas ke arah mereka dengan membentuk jaring. Tampaknya sengaja mengepung mereka bertiga.

__ADS_1


Pada awalnya, Alexander curiga kalau yang mengepung mereka adalah para penjaga yang membentuk tim khusus untuk menangkapnya. Namun setelah melihat beberapa preman acak, 3 hunter level 1 dan 7 magang hunter membuat pemuda itu menggelengkan kepalanya.


“Tampaknya kita tidak ketinggalan berita, Bos!”


“Hahaha! Siapa sangka kita bisa mencegat White Flash yang terkenal,” ucap pria yang tampaknya adalah bos dari kelompok kecil itu.


Di mata orang-orang itu, Alexander hanyalah rookie puncak level 1 yang kehilangan ketajamannya. Sedangkan dua wanita cantik itu hanyalah hiasan. Target mereka juga jelas, bunuh Alexander lalu ambil kekayaan serta kedua wanita cantik yang terkenal itu.


“Sepertinya kamu tidak berpikir hal semacam ini, White Flash!” teriak pria paruh baya itu sambil menjilat bibir.


“...” Alexander memiringkan kepalanya.


“Sebelum mati, aku akan memeberimu peringatan sehingga tahu kalau dunia ini lebih berbahaya daripada yang kamu pikirkan! Jangan ceroboh di kehidupanmu berikutnya!”


Mendengar banyak omong kosong dari orang-orang itu, Alexander menghela napas panjang.


“Dunia memang lebih berbahaya daripada yang kamu pikirkan dan kamu tidak boleh ceroboh,” ucap pemuda itu.


Setelah itu, Alexander menarik keluar pedangnya. Dia kemudian melirik ke arah Daisy dan Aster yang mencabut pedang mereka. Melihat keduanya tampak gugup, pemuda itu memberi perintah.


“Masing-masing dari kalian mengurus tiga magang hunter. Sedangkan sisanya ...” Alexander menoleh lalu menyempitkan matanya. “Biarkan aku mengurusnya.”


Bersama dengan perintah Alexander, pertempuran pun dimulai.


Kurang dari setengah jam, semua orang di pihak lawan terbunuh dengan mudah.


Setelah pertempuran, Daisy dan Aster terus muntah dengan tubuh gemetar. Meski sering melihat orang mati kedinginan atau kelaparan, mereka jarang melihat adegan begitu berdarah. Apalagi, ini adalah pertama kali mereka membunuh dengan kedua tangan mereka sendiri.


Setelah keduanya memuntahkan isi perut mereka, Alexander membawa mereka pergi dari sana.


Usai meletakkan barang bawaannya, Alexander melihat kedua wanita yang duduk dengan wajah pucat.


“Apakah kalian takut?” tanya pemuda itu.


“...”


Mereka berdua tidak langsung menjawab. Keduanya jelas tidak berani mengecewakan Alexander, tetapi juga tidak bisa berbohong kepadanya kalau mereka memang ketakukan.


“Tidak apa-apa. Itu adalah hal yang wajar.” Alexander berkata dengan santai. “Kalian akan lebih sering bertarung dan membunuh di masa depan. Entah itu melawan monster atau manusia. Jadi, cepat atau lambat kalian akan terbiasa.”


“...” Keduanya mengangguk dalam diam.


Alexander menghampiri keduanya, duduk di antara mereka lalu mengelus kepala mereka dengan lembut.


Daisy dan Aster bersandar di dada Alexander. Merasakan kehangatan dari pemuda itu, mereka menjadi sedikit lebih tenang. Beberapa saat kemudian, Aster yang kelelahan dan ketakutan akhirnya tertidur.


Sementara itu, Daisy masih terjaga. Dia melirik ke arah Alexander yang mengelus kepala mereka. Setelah beberapa saat ragu, wanita itu akhirnya bertanya.


“Kemana kita akan pergi, Tuan?”


Mendengar pertanyaan itu, Alexander menoleh ke arah Daisy dengan senyum lembut di wajahnya.


“Shelter 11.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2