After Apocalypse

After Apocalypse
Undangan Pesta


__ADS_3

Malam harinya.


Setelah melewati malam yang panjang, Alexander tampak lesu. Pembicaraannya dengan Annie membuat dia merasa tidak nyaman. Pria itu hampir tidak memiliki rasa takut, tetapi masih membenci dengan hal-hal merepotkan.


Dalam kediaman Alexander, enam orang berkumpul dalam ruang santai. Daisy dan Nene tampak sibuk menyiapkan bahan untuk membuat ramuan. Sementara itu, Aster dan Jane sedang menggosok dan membersihkan kayu khusus yang telah dipotong. Disiapkan untuk gagang belati dan pedang.


Alexander tampak sibuk mengukir beberapa detail serta menambah ornamen. Aurora sendiri tampaknya sibuk merangkai senjata dengan petunjuk pria yang duduk tidak jauh di sampingnya.


“Apakah kamu merasa tidak nyaman Al? Apakah karena wanita itu?” Aurora menatap pria itu dengan ekspresi khawatir.


Aurora biasanya melihat Alexander membuat banyak orang pusing dan kerepotan. Jadi, ketika melihat pria itu tampak lelah dan pusing, dia merasa kalau ‘lawan’ mereka bukan hanya kuat, tetapi benar-benar tidak sederhana.


“Bagaimana menurutmu?” Alexander bertanya balik.


“Maaf?” Aurora tampak bingung.


“Seharusnya kamu bisa merasakannya. Walau sedikit berbeda, tetapi kalian agak mirip. Mungkinkah semua anggota Keluarga Rosewald seperti itu?” ucap Alexander santai.


“Eh???” Nene tampak terkejut.


Bukan hanya Nene, tetapi Jane juga sangat terkejut. Daisy dan Aster sebenarnya tidak mengetahui detailnya, tetapi mereka masih bisa menahan diri. Tidak terlalu terkejut karena setelah mengikuti Alexander dalam waktu cukup lama, mereka mulai terbiasa dengan hal-hal mengejutkan seperti itu.


“Kamu salah Al. Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan Keluarga Rosewald. Aku berasal dari Keluarga Grasswald, yang sekarang sudah hancur.” Aurora berkata dengan dengan ekspresi datar.


Alexander menatap Aurora. Menyadari tidak ada perubahan di wajah wanita itu, dia menghela napas panjang.


“Maaf membuatmu mengingat kenangan yang tidak menyenangkan seperti itu,” ucap Alexander tulus.


“Sama sekali bukan masalah Al.” Aurora menggelengkan kepalanya. “Aku sama sekali tidak menganggap mereka sebagai keluarga. Aku pernah memiliki orang tua dan seorang adik perempuan. Mereka adalah keluargaku, sedangkan orang-orang dari Keluarga Grasswald ... mereka tidak ada hubungannya denganku.”


Alexander tidak mengatakan apa-apa. Dia mengulurkan tangannya, lalu mengelus kepala Aurora dengan senyum lembut di wajahnya.


Melihat bagaimana Alexander memperlakukannya seperti anak kecil, Aurora merasa sangat malu. Belum lagi sekarang ada lima orang lain dalam ruangan yang mengamati mereka. Meski memiliki sedikit rona merah di wajahnya, Aurora menampik tangan Alexander lalu mengeluh.


“Jangan perlakukan aku seperti gadis kecil!” ucapnya.


“Maaf, maaf ...”

__ADS_1


Alexander mengangkat kedua tangannya dengan gesture menyerah, tetapi membuat sudut bibir empat orang lainnya terangkat. Hal tersebut membuat Aurora menjadi semakin malu. Pada saat itu, suara Aster tiba-tiba terdengar.


“Tidak perlu malu, Saudari Aurora. Tidak ada orang luar di sini.”


Mendengar ucapan Aster, suasana tiba-tiba menjadi hening. Yang lain tahu kalau bukan itu masalahnya. Namun tidak ada yang membalas ucapan wanita itu.


Setelah jeda singkat, Daisy tiba-tiba menegur sepupunya tersebut.


“Jangan menyela jika kamu tidak mengerti Aster,” ucap wanita itu.


“Errr ... Apakah aku salah?” Aster menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi bingung.


“Kamu sama sekali tidak salah, Aster.”


Mendengar jawaban itu, semua orang menatap ke arah yang sama. Pembicaranya adalah Alexander, yang balik menatap mereka dengan senyum lembut di wajahnya. Tidak seperti senyum palsu seperti biasanya, jejak ketulusan tampak di matanya.


“Memang tidak ada orang luar di sini. Bahkan ... aku menganggap orang dalam ruangan ini sebagai keluarga baruku.”


Alexander berkata dengan jujur. Sejak musim dingin ketika dia menyuruh semua orang pergi setelah jangka waktu tetapi mereka malah memilih menghadapi resiko untuk menemukannya, pria itu merasakan ketulusan dari kelima wanita itu. Bukan hanya menganggapnya sebagai pohon untuk berteduh, tetapi sosok yang mereka ikuti dengan setulus hati.


Jadi ... hati yang tertutup lapisan es tebal itu sedikit mencair. Walau tak sepenuhnya, tetapi setidaknya berkurang, dan membuatnya merasakan sedikit kehangatan. Seperti secercah cahaya di dunia yang gelap dan suram.


Sementara itu, ekspresi orang-orang itu juga berubah ketika mendengar kata keluarga. Bahkan Nene langsung menyeka sudut matanya. Aurora memejamkan mata dengan senyum di wajahnya.


“Omong-omong ... apakah kamu berencana bekerja sama dengan wanita itu? Atau mungkin mencoba melawannya?” Aurora langsung mengalihkan pembicaraan.


Ketika mendengar pertanyaan Aurora, ekspresi Alexander berubah menjadi lebih serius. Dia langsung menyampaikan pemikirkannya kepada anggota kelompoknya.


“Aku masih ragu harus memilih berdiri di sisi mana.”


“Kenapa?” tanya Aurora yang melihat Alexander bimbang.


“Aku belum melihat dua orang lainnya. Jadi informasi tentang calon penguasa baru belum diketahui. Hanya ada beberapa data dan informasi, tetapi aku belum bertemu dengan mereka berdua secara langsung. Sementara itu, Annie benar-benar mengejutkanku. Dia jelas tidak dianggap sebagai kandidat penguasa baru. Namun ... wanita itu sama sekali tidak mudah dihadapi.” Ekspresi Alexander semakin serius.


“Maksudmu ...” Mata Aurora menyempit.


“Annie benar-benar berbeda dari sosok yang disebut-sebut oleh orang-orang. Tampaknya wanita itu berhasil membodohi semua orang di Shelter 1 ... bahkan keluarganya sendiri.” Alexander menghela napas, tampak sedikit lelah.

__ADS_1


Saat itu Aster mengangkat tangannya, lalu bertanya, “Lalu kenapa kamu tahu dia berbohong, Tuan?”


“Selain kalian, apakah kalian tahu siapa yang mengetahui identitas V?” Alexander bertanya balik.


“Maksudmu ... wanita itu telah menebak identitasmu, Al?” tanya Aurora dengan ekspresi heran.


“Dia tidak tahu identitas asliku. Namun wanita itu tahu kalau Faust adalah V. Sebaliknya, aku tahu kalau identitas putri cantik yang lemah itu sama sekali tidak benar. Wanita itu jelas bersembunyi sangat dalam, menghimpun kekuatannya (pasukan) sendiri tanpa ada yang menyadarinya,” balas Alexander.


“...”


Semua orang dalam ruangan langsung terdiam. Dari ucapan Alexander, mereka langsung mengerti apa yang dimaksud oleh pria tersebut. Ada alasan kenapa Alexander dan Annie bisa menebak lalu membuat celah dari penyamaran lawannya. Itu karena ...


Keduanya adalah jenis yang sama!


***


Tiga hari berikutnya.


Hari ini Cursed Lambs kembali menerima tamu spesial. Tuan Lenka keluar dari markas, menatap ke arah pria berjubah dan bertopeng hitam dengan senyum ramah di wajahnya. Dia merentangkan kedua tangannya lalu berkata dengan nada ceria.


“Lama sekali tidak bertemu denganmu, Temanku. Jika kamu tidak muncul, mungkin aku akan meminta orang-orang untuk menggeledah Shelter 1 untuk menemukanmu. Aku hampir berpikir kalau kamu melarikan diri, dan tidak bertanggung jawab atas ide yang kamu sebutkan sebelumnya,” ucap pria paruh baya tersebut.


“Kamu terlalu banya berpikir, Temanku. Perlu banyak waktu untuk mengumpulkan bahan membuat anggur yang harum. Belum lagi, aku sedang mengumpulkan bahan unik dan baik untuk membuat senjata. Juga harus pergi mencari tempat untuk menempa senjata tersebut,” balas Alexander ramah.


“Hahaha! Aku hanya bercanda,” ucap Tuan Lenka.


Alexander mengangkat bahu sebagai tanggapan. Walau dia tidak sepenuhnya percaya, tetapi dia tidak bermaksud untuk menanggapinya.


Saat itu Alexander melihat Tuan Lenka mengeluarkan sebuah amplop. Kemudian suara Tuan Lenka terdengar di telinganya.


“Sebelum masuk, kamu harus menerima ini terlebih dahulu,” ucap pria paruh baya tersebut.


“Ini???” Alexander tampak bingung.


“Tentu saja sebuah surat undangan. Kamu adalah rekanku, jadi aku ingin kamu menghadiri pesta ini. Selain itu ...”


Tuan Lenka tersenyum misterius, lalu melanjutkan.

__ADS_1


“Aku sangat ingin melihat bagaimana reaksi orang-orang ketika ‘Tuan V’ yang terkenal muncul di pesta ini.”


>> Bersambung.


__ADS_2