
Sore harinya.
Di depan gerbang Shelter 1, tampak rombongan orang yang berbaris rapi. Berbeda dengan para pengungsi atau pemburu yang datang dari tempat lain, mereka mengenakan pakaian yang mirip. Jelas dari kelompok yang sama. Lebih tepatnya ...
Mereka semua adalah prajurit yang bergabung secara resmi dengan Blood Cross.
“Kita benar-benar sampai di tujuan sebelum matahari terbenam.”
Melissa yang memimpin barisan menghela napas panjang ketika mereka semua akhirnya tiba di Shelter 1. Walau tampil cukup tegas dan agak dingin, tetapi dia masih gugup karena menyadari bahwa dirinya kurang pengalaman dalam memimpin pasukan.
Sebelumnya, Melissa menggunakan teknik mendekati semua bawahan untuk mendapatkan kepercayaan mereka. Teknik itu memang sukses, tetapi bisa dibilang kurang berguna, bahkan tidak efisien.
Dalam pertempuran besar sebelumnya, Melissa kehilangan banyak rekannya. Dia merasa sangat terpukul, tetapi akhirnya masih bisa kembali bangkit. Namun wanita itu sendiri juga mendapatkan banyak pelajaran. Bukan hanya untuk lebih menghargai orang lain, tetapi juga menerima fakta yang kejam.
Sebaik-baiknya mencoba mengandalkan orang yang kuat, itu tidak lebih baik daripada mengandalkan diri sendiri.
‘Aku beruntung memiliki Paman Jacob dan Claude yang melindungiku. Jika tidak, mungkin sekarang tubuhku sudah terkubur di tanah bersalju itu.’
‘Tidak ... mungkin tubuhku sudah dimakan oleh binatang buas.’
Melissa menghela napas panjang. Menatap gerbang besar di depannya, wanita itu mengepalkan kedua tangannya sambil bergumam.
“Aku harus menjadi lebih kuat. Setidaknya cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri.”
Menyadari kalau dirinya terlalu serius dan agak tertekan, Melissa segera menggelengkan kepalanya. Dia kemudian melirik ke arah penjaga yang dikirim oleh ibunya lalu bertanya, “Apakah masih lama?”
“Kita datang sedikit lebih lambat. Dikarenakan jumlah, laporan kita sedikit tertunda. Namun Nona bisa tenang, seharusnya sudah dilaporkan ke pihak yang bertanggung jawab dan masalah akan segera dibereskan,” jawab pria paruh baya itu.
“Dimengerti.”
__ADS_1
Melissa mengangguk dengan ekspresi serius.
Mereka tidak menunggu terlalu lama. Sekitar setengah jam kemudian, tampak beberapa orang keluar melewati gerbang kota yang terbuka lebar.
Pemimpinnya adalah pria yang berusia sekitar 30 tahun. Dia memakai pakaian indah, bertubuh jangkung, sedikit kurus dengan kulit berwarna gandum. Rambut coklat bergelombang pria itu cukup panjang diikat ke belakang, tampak sedikit warna hitam di bawah kelopak matanya.
Pada saat melihat sosok Melissa, mata pria itu berbinar. Dia segera menghampirinya sambil menyapa dengan sopan.
“Maaf. Saya benar-benar minta maaf karena membuat para utusan dari Shelter 11 menunggu begitu lama.”
Pria itu kemudian membungkuk sopan di depan Melissa sambil memperkenalkan diri.
“Perkenalkan, nama saya Octavius Rubruzen, putra kedua dari Keluarga Rubruzen. Saya bertugas untuk menyediakan tempat dan persediaan sehari-hari kalian selama tinggal di sini,” ucap Octavius.
Melissa juga langsung membungkuk dan memperkenalkan diri dengan sopan.
“Nama saya Melissa Fiennes, utusan dari Shelter 11 yang bertugas untuk melapor dan mengirimkan beberapa hal langsung ke pemimpin besar. Mohon bantuannya,” ucap Melissa.
“Ya.” Ekspresi Melissa meredup. “Tidak ada orang yang menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.”
“Ah! Maafkan saya karena telah membuang waktu kalian. Silahkan ikuti saya, saya akan mengantar kalian ke tempat tinggal sementara.”
Setelah mengatakan itu, Octavius segera memimpin orang-orang itu menuju ke distrik 4.
Sama seperti Shelter 13, Shelter 1 terdiri dari lima distrik. Distrik 1 adalah berada di tengah, tempat dimana para petinggi tinggal. Distrik 2 ada di timur, tempat para Hunter yang bergabung dengan Blood Cross tinggal. Distrik 3 ada di utara, tempat dimana hiburan dan perdagangan dilakukan. Distrik 4 ada di barat, tempat para ‘orang luar’ yang menyewa tinggal. Distrik 5 ada di selatan, tempat para pengungsi tinggal, biasa disebut distrik kumuh.
Distrik 1 adalah yang paling kecil tetapi paling indah. Distrik 2 dan Distrik 4 tidak terlalu luas tetapi ada cukup banyak rumah yang layak ditinggali. Lagipula, itu tempat para Hunter berada. Distrik 3 lebih luas karena banyak hal ada di sana. Entah itu toko senjata, ramuan, hiburan, bahkan beberapa hal gelap lain. Sedangkan Distrik 5 paling luas, tetapi juga sangat padat dimana para pengungsi berhimpit-himpitan. Hampir tidak bisa ditinggali.
Meski pengaturannya mirip dengan Shelter 13, tetapi wilayah Shelter 1 lebih luas.
__ADS_1
Ada alasan kenapa Octavius tidak membawa para tamu ke Distrik 2, tetapi malah ke Distrik 4. Bukan hanya karena wilayah Kekuasaan Keluarga Rubruzen, tetapi karena para tamu itu harus diawasi. Mereka tidak diizinkan masuk ke wilayah inti atau berhubungan dengan wilayah penting karena tidak tahu apakah ada mata-mata atau tidak di antara mereka semua.
Setelah mengantarkan mereka ke rumah paling besar dan paling indah dimana tamu-tamu besar biasanya singgah, Octavius berpamitan.
“Kalau begitu, kalian bisa beristirahat. Untuk makanan dan minuman, petugas akan mengantarkannya kepada kalian. Dikarenakan tidak ada lagi alasan saya tinggal lebih lama, maka saya permisi terlebih dahulu.”
Setelah pergi cukup jauh dari sana, beberapa orang yang mengikuti Octavius berkata.
“Sungguh wanita yang cantik. Tampakya wanita itu telah menarik perhatian anda, Tuan Octavius.”
“Ya. Latar belakangnya jelas tidak buruk, setidaknya cukup layak untuk anda.”
“Apakah anda tidak berencana mengajaknya makan malam untuk berkenalan?”
“...”
Mendengar ucapan orang-orang itu, Octavius menggelengkan kepalanya dengan ekspresi santai di wajahnya. Pria itu membalas dengan senyum penuh percaya diri.
“Kita tidak boleh terburu-buru ketika menghadapi seorang wanita. Meski cantik, kita tidak bisa langsung mendekatinya karena hal semacam itu hanya akan membuatnya jijik. Omong-omong, aku dengar Melissa adalah putri dari pemimpin Shelter 11 yang baru. Hanya saja, identitas orang itu agak berbahaya.
Aku harus mengawasinya terlebih dahulu. Setidaknya, pastikan kalau wanita itu berbeda dengan ibunya.”
Setelah mengatakan itu, Octavius mengelus dagu. Ekspresinya menjadi lebih serius ketika dia mulai melanjutkan.
“Awasi orang-orang dari Keluarga Nigruzen. Jangan biarkan mereka main-main di wilayah kekuasaan kita.”
Keluarga Nigruzen adalah salah satu keluarga besar, juga salah satu keluarga yang menguasai Distrik 4. Lebih tepatnya, memiliki separuh bagian yang harus dibagi di antara kedua keluarga. Jadi, hubungan kedua keluarga bisa dianggap tidak baik. Bahkan perselisihan cukup dalam.
Memiliki ekspresi suram di wajahnya, Octavius kembali berkata.
__ADS_1
“Jangan biarkan orang-orang kotor itu bermain dengan mangsaku.”
>> Bersambung.