
Tanpa terasa, waktu kembali berlalu begitu saja. Musim dingin pergi, musim semi dan tahun baru pun datang.
Pada pergantian tahun, gelombang binatang buas kembali terjadi. Itu cukup dahsyat, tetapi karena persiapan matang semua orang, masa-masa sulit itu berhasil dilewati.
Tanggal 7, bulan 1, tahun 401 Kalender Bulan Hitam.
Setelah situasi mereda, semuanya kembali pada jalur masing-masing. Di Shelter 1, banyak orang telah melakukan aktivitas harian mereka seperti biasa. Entah petugas yang melakukan patroli, para pedagang yang menjajakan dagangan mereka, atau para hunter bebas yang mulai kembali pergi ke luar shelter ... semua kembali normal seperti biasa.
Pada malam harinya, ada sesuatu yang tidak biasa terjadi di Distrik 3. Lebih tepatnya, di toko salah Keluarga Ervens, salah satu keluarga besar di Shelter 1.
Di ruang khusus dimana biasanya mereka menerima tamu, tampak tiga orang.
Dua orang duduk berseberangan, sedangkan yang terakhir berdiri.
Di satu sisi, tampak seorang pria muda berusia awal dua puluhan. Dia memiliki rambut hitam bergelombang dan kulit sedikit pucat. Parasnya terlihat tampan, jenis tuan muda dingin yang tampak cukup mempesona.
Di belakangnya, tampak seorang pria paruh baya kurus. Dia memakai pakaian seperti hunter bebas, dua pedang melengkung menggantung di kedua sisi pinggangnya. Namun, pria itu memiliki perilaku lebih disiplin, bahkan cukup mirip dengan ksatria.
Sedangkan di sisi lain, tampak sosok misterius dengan pakaian serba hitam. Entah itu pakaian, senjata, jubah, bahkan topengnya berwarna hitam. Namun, di topeng yang tampak sederhana itu hanya ada satu lubang untuk melihat ... dan iris berwarna merah gelap mengawasi kedua orang itu dari balik topeng.
“Jadi ... Tuan V, kan? Saya cukup terkesan dengan keberanian anda. Bukan hanya menerobos masuk ke tempat Keluarga Ervens, tetapi anda juga meminta saya untuk melakukan sesuatu yang sangat tidak pantas.” Mata pria itu menyempit. “Apakah anda tidak takut ditangkap dan dipenjarakan?”
Mendengar ucapan pria itu, V tiba-tiba mencubit dagunya. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan suara datar, tetapi tidak bisa dibedakan apakah laki-laki atau perempuan.
“Anda tidak akan melakukan itu, Tuan Damian. Selain itu, bahkan jika melakukannya, dengan kekuatan kalian ... menghentikanku adalah hal yang mustahil.”
Suaranya sangat datar, tetapi bagaimana cara V berbicara seolah mengungkapkan fakta membuat pria bernama Damian merasa tidak nyaman. Dia sama sekali tidak bisa merasakan apa-apa. Jelas, sosok berjubah itu berada di depannya, tetapi dia tidak bisa merasakan hawa keberadaannya.
‘Setidaknya level 3? Atau mungkin level 2 dengan kemampuan khusus?’
__ADS_1
Beberapa pemikiran muncul dalam kepala Damian. Setelah menghela napas panjang, dia menatap ke arah Alexander (V) lalu bertanya dengan nada serius.
“Kenapa anda memilih saya?”
Alexander yang sedang mencubit dagu tidak langsung menjawab. Setelah menggantung rasa penasaran Damian beberapa saat, dia kembali bicara dengan tenang.
“Keluarga lain tidak cocok untuk melakukan pekerjaan ini. Keluarga Ervens adalah keluarga yang menangani urusan sipil. Dengan kemampuan keluarga, memalsukan identitas dan memasukkan data baru tidak masalah bukan? Lagipula, itu bukan identitas keluarga besar atau terkenal.
Saya bisa saja memilih orang lain, tetapi itu kurang efisien. Dari ketiga putra patriak Keluarga Ervens, anda adalah yang paling cocok.
Adik anda baru dewasa dan tidak memiliki kemampuan melakukannya. Sedangkan kakak anda memiliki kekuatan lebih, tetapi saya tidak ingin berurusan dengan orang seperti itu. Hanya anda, Damian Ervens, putra kedua dari patriak yang cocok untuk dipilih.”
Ketika mendapatkan jawaban jujur dari Alexander, Damian sama sekali tidak marah. Sebaliknya, dia tersenyum sambil mencemooh diri sendiri.
“Sudah kuduga. Anda memilih saya karena saya adalah kandidat patriak keluarga berikutnya yang tidak populer. Bahkan dianggap lebih tidak menjanjikan dibandingkan adik saya yang konyol. Namun, ada yang ingin saya tanyakan?” ucap Damian.
“Katakan,” balas Alexander.
“Karena saya juga ingin melihat cahaya,” jawab Alexander secara langsung dan tegas.
“Maksud anda-“
“Untuk tinggal di tempat yang nyaman, jalan-jalan dengan bebas di depan semua orang, atau membuka bisnis sendiri, saya memerlukan identitas itu. Ya ... sesederhana itu.” Alexander menopang dagu. “Saya bisa saja mengatur keluarga lain untuk melakukannya. Hanya saja, mereka hanya bisa membuat identitas ‘palsu’ karena tidak ada di arsip data sipil. Namun Keluarga Ervens berbeda. Dengan bantuan anda, saya bisa mendapatkan identitas ‘asli’ yang saya inginkan.”
“Sampai memerlukan identitas asli ...” Ekspresi Damian menjadi semakin serius. “Apa yang sebenarnya anda incar?”
“Sungguh, tidak ada yang spesial.” Alexander mengangkat bahu.
“Anda memerlukan identitas asli, itu berarti anda ingin terlibat lebih dalam dengan urusan Shelter 1. Kenyataan itu tidak lagi bisa disangkal!” Menyadari kalau dirinya terlalu emosional, Damian segera menenangkan diri. “Sudahlah, itu tidak ada hubungannya dengan saya. Benar, kan?”
__ADS_1
“Senang berbicara dengan orang cerdas seperti anda. Tenang saja, saya tidak akan mencoba melakukan sesuatu yang merugikan anda atau Keluarga Ervens. Mungkinkan harga yang saya kurang tinggi?” ucap Alexander sebelum melirik ke meja di depan mereka berdua.
Di atas meja, tampak beberapa ramuan berjajar rapi. Walau bukan ramuan yang sangat langka, tetapi ramuan ini masih cukup berharga. Setidaknya dianggap sangat menguntungkan karena bisa mendapatkan semua itu hanya dengan menulis beberapa dokumen dan meletakkannya ke dalam arsip.
Meski begitu, Alexander sedikit kagum pada Damian yang berhati-hati. Walau terlihat tugas sepele dan biasa, tetapi efek berantai yang ditimbulkan memang tidak diketahui. Jadi kehati-hatian itu masih sangat bagus.
“Harga itu jelas sudah tulus. Namun, apakah anda benar-benar bisa dipercaya?” tanya Damian dengan mata menyempit.
Mendengar ucapan Damian, Alexander langsung mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu.
Alexander langsung membuka tudungnya, menampilkan rambut berwarna perak agak berantakan yang terlihat unik dan mudah dikenali. Dia kemudian melepas topeng hitam dan menaruhnya di atas meja. Menunjukkan wajah pria tampan berkulit pucat. Penutup mata hitam menutupi mata kanannya, dan senyum tak acuh (agak sinis) menggantung di bibirnya.
Penampilan pria tampan, tetapi seperti b-jingan yang suka memainkan hati perempuan membuat Damian terkejut. Bukan karena ketampanannya, tetapi usia Alexander yang sangat muda. Setidaknya sama, bahkan lebih muda dibandingkan dirinya.
Merasakan mata sayu seperti rubi menatapnya, Damian langsung menegakkan punggungnya.
“Baiklah. Karena anda sangat mempercayai saya, jadi saya akan menerima pekerjaan ini. Saya mencoba untuk mempercayai anda dan berpegang pada janji anda. Jadi, tolong jangan lupakan janji itu,” ucap Demian.
“Dimengerti,” balas Alexander ala kadarnya.
“Pertanyaan terakhir,” Damian menatap tepat ke mata Alexander. “Siapa anda sebenarnya?”
Mendengar pertanyaan itu, Alexander berdiri. Dia membungkukkan tubuhnya, memiliki pose bangsawan yang sedang memperkenalkan diri.
“Perkenalkan, nama saya Faust Vermillion.”
Alexander mengangkat sedikit wajahnya, lalu tersenyum ringan.
“Seorang pedagang biasa.”
__ADS_1
>> Bersambung.