After Apocalypse

After Apocalypse
Kualitas Di Atas Kuantitas


__ADS_3

BLARRR!!!


Ledakan keras tercipta. Salju berhamburan ke mana-mana, beberapa pepohonan dihancurkan, dan asap tebal tampak di beberapa titik pertempuran.


Ledakan itu sempat membuat banyak orang terkejut, tetapi segera membiasakan diri. Lagipula, mereka semua tahu kalau pertempuran antar hunter level 3 yang menjadi semakin serius sangat mengerikan. Bukan hanya saling membunuh tanpa merusak, tetapi efek pertempuran juga bisa menghancurkan area di sekitar mereka.


Menghancurkan bangunan, menumbangkan pohon, dan berbagai hal lainnya bisa terjadi ketika hunter kuat bertarung. Oleh sebab itu, para hunter lain memilih untuk menjauhi tempat mereka bertarung.


Sementara itu, di tempat Alexander berada.


“Karena sudah sejauh ini, pasti semuanya akan menjadi lebih merepotkan.” Alexander menggelengkan kepalanya. “Bagaimana kalau kita mengambil jalan tengah? Kita bisa mundur dan tidak perlu saling bertarung lagi.”


Mendengar ucapan Alexander, ekspresi Melissa dan rekan-rekannya menjadi jelek. Wanita itu menggertakkan gigi sambil menunjuk ke arah Alexander dengan pedang di tangannya.


“Jangan main-main! Apakah kamu pikir kami bodoh? Kamu telah membunuh banyak orang secara kejam, dan sekarang kamu ingin pergi begitu saja? Jangan mimpi!”


“Bagaimana jika aku berkata ini adalah pilihan yang baik dan aman untukmu, Nona Cantik?” tanya Alexander datar.


“Tidak mungkin!” seru Melissa.


“Kalau begitu sudah diputuskan ...” Alexander mencengkeram erat pedangnya. Ekspresi pemuda itu berangsur-angsur menjadi lebih dingin. “Mati!”


BLARRR!!!


Tepat ketika Alexander bergegas maju, ledakan lain terdengar. Tanpa disangka, cukup banyak hunter bebas level 2 yang mampu meloloskan diri dari pertempuran dan bergegas menyerang beberapa tim penjaga. Jelas, mereka berencana untuk merampas harta!


Melihat beberapa orang teralihkan, Alexander langsung melesat maju. Mengincar mereka tanpa sedikitpun keraguan.


“Hati-hati!” teriak Melissa, langsung menyadarkan orang-orang.


Hanya saja, teriakan wanita itu sedikit terlambat. Alexander langsung bergegas ke salah satu hunter dan mengayunkan pedangnya dengan kuat. Meski berusaha menangkis, hunter level 1 tersebut tidak siap. Ditambah dengan kekuatan yang jauh berbeda, pedang di tangannya langsung dihancurkan dan luka mengerikan muncul di bagian depan tubuhnya.


Crash!


Tubuh pria itu terpental beberapa meter, berguling-guling di salju tanpa bisa bangkit. Tidak diketahui apakah masih hidup atau sudah mati.


“KAMU!” teriak Melissa dengan mata merah ketika melihat salah satu bawahannya tumbang.


Alexander mengabaikan kemarahan wanita itu. Sebaliknya, dia mengawasi sekeliling dengan ekspresi serius.


‘Lima orang hunter level 2, belasan orang hunter level 1. Apakah orang lain tidak berinisiatif untuk menyerangku karena perkataanku sebelumnya?’

__ADS_1


Apa yang Alexander hitung adalah orang yang ingin bertarung dengannya. Mereka semua adalah Melissa dan para bawahannya. Namun, orang-orang di sekitar tampaknya agak menjauhinya.


Kebanyakan dari orang-orang di sekitar adalah hunter level 1, dan beberapa hunter level 2. Awalnya mereka berniat untuk menyerang Alexander tetapi mengurungkan niatnya karena sekarang mengetahui kalau pemuda itu sama sekali tidak mudah dipusingkan.


Itu sama sekali bukan hal yang aneh karena kebanyakan hunter sekarang seperti itu.


Suka menggertak yang lembut (lemah), tetapi takut pada yang keras (kuat).


SWOOSH!


Pada saat itu, dua bayangan hitam bergegas ke arah Alexander. Hanya saja, tidak semuanya menyerang pemuda itu. Satu bayangan tampaknya ingin menyerang, tetapi langsung dihentikan oleh bayangan lainnya.


DING!


Suara pedang yang berbenturan terdengar. Saat melirik ke belakang, Alexander melihat Aurora yang menangkis serangan salah satu hunter level 2. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat ketika pemuda itu berkata, “Aku pikir kamu tidak ingin ikut campur dalam pertempuran ini.”


“Kamu terlalu banyak menunda waktu. Jika hunter tingkat atas Blood Cross memenangkan pertempuran, kita tidak akan bisa melarikan diri,” balas Aurora dingin.


Melihat Alexander dan Aurora tidak takut padanya, Melissa merasa semakin marah. Karena perbuatan Alexander, dia kehilangan banyak pasukan. Dalam pertempuran ini, Aunt Ma jelas menguji kedua anaknya untuk menjadi pemimpin pasukan. Namun Melissa sama sekali tidak menyangka kalau dirinya bisa begitu tidak beruntung.


Ternyata ada pengkhianat dalam pasukan yang dia pimpin.


“Jangan menangis! Menangis tidak merubah apapun. Selain itu, semua ini bukanlah salahmu.”


Ketika hendak menangis, Melissa mendengar suara yang mengingatkannya. Dia buru-buru menyeka sudut matanya lalu melihat ke arah orang yang berbicara. Di sana, tampak Claude yang memegang pedangnya erat-erat dengan ekspresi serius di wajahnya.


“Aku tidak menangis!” ucap Melissa sebelum mendengus dingin.


Setelah lebih tenang, Melissa melihat ke arah rekan-rekannya. Wanita itu kemudian sadar kalau dia dan bawahannya bertindak sangat pasif. Kecuali melakukan beberapa serangan di awal, mereka mulai ketakutan dan menunggu Alexander menyerang. Tampaknya sangat takut membuat kesalahan dan terbunuh.


Hal tersebut memang wajar. Lagipula, musuh di depan mereka bukanlah rekan latihan. Orang itu tidak hanya akan berbelas kasih, tetapi benar-benar berniat untuk membunuh mereka.


“Semua orang, dengarkan aku! Musuh kita hanya dua orang, berhenti ketakutan! Kita memiliki jumlah lebih banyak, bahkan lebih banyak hunter level 2! Jangan takut! Kita bisa mengalahkan mereka!” teriak Aurora dengan lantang.


Mendengar teriakannya, orang-orang yang sebelumnya ketakutan tampaknya sadar. Seolah meminum obat kuat, orang-orang itu menjadi lebih bersemangat dan memiliki tekad bertarung yang lebih kuat dibandingkan sebelumnya.


Alexander tersenyum ketika melihat orang-orang itu mulai menunjukkan niat bertarung, mengeliling dia dan Aurora sehingga tidak bisa melarikan diri dengan mudah.


‘Sebenarnya aku bisa saja menggunakan sayap untuk membawa Aurora terbang menjauh dari pengepungan, tetapi ...’


Mata Alexander menyempit. Pemuda itu juga menunjukkan niat bertarung.

__ADS_1


“Aku ingin melihat seberapa kuat orang-orang yang ingin menghentikan dan membunuhku.”


Melissa merasakan perubahan dari Alexander. Tidak berani bersantai, dia langsung berkata, “Kalian berdua, bantu aku melawan Boris!”


Claude dan salah satu hunter level 2 di dekatnya mengangguk dengan ekspresi serius. Sementara itu, satu orang hunter level 2 yang tersisa mengambil inisiatif untuk membantu rekannya yang sedang bertarung melawan Melissa.


“Sisanya, buat pembatas! Serang mereka jika ingin melarikan diri!”


Setelah memberi perintah, Melissa menatap Alexander dengan dingin.


“Jangan salahkan aku karena bersikap tidak adil. Lagipula, kamu adalah pria yang meracuni keluargamu sendiri dengan kejam.”


“Majulah,” ucap Alexander datar.


“BUNUH DIA!”


Bersama dengan teriakan Melissa, dua orang lainnya langsung bergegas maju untuk menyerang Alexander.


DING!


Alexander menangkis serangan Claude. Saat itu, Melissa dan satu orang lain menyerang dari sisi kiri dan kanan. Bukannya langsung menghindari, pemuda itu menunggu mereka lebih dekat sebelum mendorong Claude dan melompat mundur.


Melihat target yang tiba-tiba menghilang, Melissa hampir menyerang rekannya sendiri. Namun, dia cukup beruntung karena mereka berdua berhenti pada saat yang tepat.


“Apakah kalian belum pernah berlatih? Atau bunga dalam rumah kaca benar-benar tidak tahan terpaan angin?” ucap Alexander. Pemuda itu kemudian melesat ke depan untuk menyerang keduanya. “Sungguh mengecewakan!”


KLANG!


Sosok Claude melompat tinggi. Menggunakan ledakan kecepatan, dia langsung menangkis serangan Alexander.


Alexander yang terkejut dengan gerakan Claude tidak bisa tidak tertawa.


“HAHAHAHA! Menarik! Sangat menarik! Hanya saja ...” Alexander mengayunkan pedangnya lebih kuat, membuat Claude terhempas mundur beberapa meter. “Kamu belum mendapatkan miracle root kedua dan tidak cukup untuk menahanku.”


Menarik napas dalam-dalam, Alexander menyeringai lalu melanjutkan.


“Baiklah. Waktu bermain selesai.”


“Biarkan aku menunjukkan apa arti kualitas di atas kuantitas!”


>> Bersambung

__ADS_1


__ADS_2