After Apocalypse

After Apocalypse
Assassin Alami


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Alexander, ketiga lelaki tua itu saling memandang. Ekspresi mereka langsung berubah menjadi serius.


“Aku akan menjual senjata!” seru mereka serempak.


Mendengar ucapan rekan-rekannya, mereka langsung tidak senang. Bagi mereka, perdagangan senjata tentu saja adalah bisnis paling menjanjikan karena membuat mereka untung besar. Belum lagi, banyak hunter sering yang berburu sering kehilangan senjata mereka sehingga harus membeli yang baru. Tentu saja, senjata yang dimaksud adalah senjata tingkat rendah sampai menengah.


Sebelum mereka berdebat, Alexander mengangkat tangannya lalu berkata, “Aku akan menjual anggur dan pakaian. Tenang saja, pakaian yang aku maksud adalah pakaian yang digunakan sehari-hari.”


“Hey! Bukankah kita sudah memiliki kesepakatan agar kamu menjual anggur melalui aku, V?” tanya Tuan Lenka.


“Tentu saja aku akan memasok Scarlet Dusk untukmu. Namun apa yang aku jual di sini bukan hanya Scarlet Dusk. Barang itu memang dijual, tetapi bisnis utamanya adalah beberapa jenis fermentasi buah dan berry. Mirip anggur, tetapi lebih murah dan tidak memiliki efek baik selain rasanya yang enak. Mungkin hanya sedikit menyegarkan tubuh?” ucap Alexander santai.


“Cih! Aku hampir lupa. Kamu bisa membuat anggur berkualitas premium, jadi pasti juga bisa membuat anggur (wine) atau berbagai minuman dengan kualitas lebih rendah,” ucap Tuan Lenka dengan ekspresi menyesal, tampaknya sadar kalau bisnis baik telah dirampok.


Seperti yang diketahui semua orang, selain perlengkapan seperti senjata dan armor, apa yang paling disukai para hunter adalah dua hal ... anggur dan wanita. Setelah kembali dari perburuan dimana mereka bisa mati kapan saja, melepas stress dengan anggur dan bermain dengan wanita adalah hal yang sering mereka lakukan.


“Bisakah kita membuka ‘rumah kesenangan’ di sini?” ucap Tuan Wilson dengan seringai buruk.


“Tolong jangan membuat masalah, Tuan Wilson. Kita harus membuka bisnis serius. Jika kamu membuka tempat semacam itu di sini, bukankah tidak ada tempat untuk melakukannya?” balas Alexander dengan ekspresi tak berdaya.


“Aku hanya bercanda. Setelah tokomu buka, jual kepadaku anggur berkualitas rendah. Aku yakin rasanya tidak seburuk yang terjual di pasaran, ini cukup menguntungkan jika dijual di tempatku. Tentu saja, harga teman!” kata Tuan Wilson.


“Senang berbisnis denganmu,” ucap Alexander.


Pada saat itu, Sir Gareth yang awalnya diam memilih untuk angkat bicara.


“Aku akan menjual armor. Aku tidak mengambil bisnis senjata, jadi jangan berdebat denganku,” ucapnya.


Mendengar ucapan Sir Gareth, Tuan Lenka dan Tuan Wilson saling memandang. Mereka berdua langsung berdebat dengan sengit. Pada akhirnya, keduanya membuat taruhan sederhana yaitu lempar koin dan menebak gambar. Namun, Tuan Lenka hanya bisa mengeluh karena keberuntungannya kurang baik, dan bisnis itu dimenangkan Tuan Wilson.


“Jadi, tinggal hidangan utamanya ya?” ucap Alexander dengan senyum misterius di wajahnya.


Dua kata ‘hidangan utama’ membuat mata ketiga lelaki tua itu menyempit. Apa yang dimaksud dengan hidangan utama adalah bisnis menjual potion, sebuah bisnis yang paling menguntungkan. Lebih menguntungkan daripada menjual senjata.


Jangan kira karena Blood Cross bisa memasok sendiri dan ada Vermillion Shop terkenal di antara hunter bebas. Meski tidak menjualnya ke anggota Blood Cross, bisnis potion masih sangat menguntungkan karena Vermillion Shop sama sekali tidak bisa memenuhi pasar karena barang mereka terbatas. Jadi, meski kualitas potion lebih rendah, selama harganya cocok, tidak masalah untuk menjualnya.


“Kalian semua sudah mendapatkan panen yang baik, jadi toko potion untukku!” ucap Tuan Lenka.


Alexander menggelengkan kepalanya. Sebenarnya pria itu juga tertarik dengan bisnis potion, tetapi dia tidak ingin melakkannya karena bisa merusak hubungannya dengan mereka. Di sisi lain, Alexander sudah memiliki bisnis itu. Meski tidak sebesar itu dan bisa mencaplok pasar, tetapi setidaknya memberinya banyak keuntungan.


Itu juga alasan kenapa Alexander memilih untuk mengambil bisnis ‘biasa’ yang lebih sederhana. Meski bukan barang mahal seperti potion atau senjata, tetapi anggur juga barang konsumsi yang laris. Itu berarti, keuntungannya sudah pasti. Jika bukan karena dia memiliki keterampilan menyeduh anggur yang diakui, ketiga lelaki tua itu akan berdebat dengannya. Namun karena kemampuannya, mereka akhirnya menyerahkan bisnis ini.


“Ini adalah ini, dan itu adalah itu, Len. Kamu tidak bisa mencaplok bisnis paling menguntungkan sendiri. Aku sudah mengalah tadi, jadi sekarang aku akan berdebat denganmu,” ucap Sir Gareth.


“Ksatria Tua menyebalkan! Berhenti berkomplot melawanku!” Tuan Lenka meraung tidak puas.

__ADS_1


Alexander mengangkat tangannya. Melihat itu, ketiga lelaki tua tersebut langsung diam dan menunggunya berbicara.


“Jika tidak ada yang rela melihat orang lain memonopoli bisnis tersebut, bagaimana kalau membaginya? Biarkan Tuan Lenka dan Sir Gareth menjual potion. Biarkan mereka bersaing dengan adil, entah dengan harga atau kualitas potion.” Alexander menyarankan.


Tuan Lenka dan Sir Gareth saling memandang, lalu melihat ke arah Tuan Wilson. Sementara itu, Tuan Wilson sendiri langsung memprotes, “Bagaimana denganku, V? Bukankah itu tidak adil untukku?”


“Tolong jangan berbicara seperti itu, Tuan Wilson. Di antara kita berempat, pemenang sebenarnya adalah anda. Anda memonopoli bisnis senjata di sini, yang pasti akan populer dan laku keras. Selain itu, anda memiliki ‘happy house’ paling besar di kota ini. Menggunakan anggur yang aku pasok, keuntungannya pasti akan meningkat pesat,” ucap Alexander sambil menggelengkan kepalanya.


“Tapi itu masalah lain,” tegas Tuan Wilson.


“Dua toko, jadikan tempat penjualan senjata. Aku akan membantumu memikirkan cara berjualan lebih efisien,” ucap Alexander.


“Sepakat!” balas Tuan Wilson dengan seringai di wajahnya.


‘Si Botak ini!’


Tuan Lenka dan Sir Gareth langsung mengeluh dalam hati. Mereka sama sekali tidak menyangka kalau Tuan Wilson begitu licin. Melakukan bisnis gelap selama bertahun-tahun jelas tidak sia-sia. Lagipula, orang itu masih bisa menipu mereka dengan kepicikannya.


Sejak awal orang itu tidak mengincar bisnis potion, tetapi mengincar cara untuk memperlancar bisnisnya!


Setelah itu, kesepakatan pun dibuat.


Di sisi kiri, Alexander akan menjual anggur dan pakaian. Sir Gareth akan menjual armor dan berbagai potion.


Di sisi kanan, Tuan Wilson akan menjual senjata. Tuan Lenka akan menjual potion, dan toko lain belum dipikirkan. Mungkin akan dia sewakan, atau membuat bisnis biasa saja asalnya memberinya keuntungan.


Merasakan tatapannya, Sir Gareth tersenyum sambil membuat isyarat agar dia diam.


Alexander mengangkat bahu. Sama sekali tidak berniat membeberkan rencananya. Hanya saja, dia tidak bisa tidak memuji dalam hati.


‘Benar saja, jahe tua masih lebih pedas.’


***


Malam harinya.


Di hutan cukup jauh dari Shelter 1, tampak dua sosok yang terbang di udara. Salah satunya adalah sosok berjubah hitam dengan sayap hitam di punggungnya. Sementara satunya lagi adalah sosok berjubah putih dengan sepasang sayap putih di punggungnya.


“Apakah kamu yakin ingin melakukan ini, Yona?” tanya Alexander.


Bukannya Alexander meremehkan Yona. Hanya saja, mereka berdua adalah hunter level 3. Meski Yona lebih unggul karena sudah mengonsumsi lebih banyak potion, tetapi Alexander memiliki miracle roots yang sangat kuat dan memiliki kemampuan telekinesis bawaan.


“Hanya karena kamu naik lebih cepat dan hampir menyusul, bukan berarti kamu bisa bersikap sombong V. Naik dari level 3 ke level 4 lebih sulit daripada yang kamu kira. Selain itu, pengalaman kita juga berbeda,” ucap Yona dengan nada tidak puas.


“Kamu benar.” Alexander mengangguk.

__ADS_1


Pria itu tahu betapa sulitnya mencari bahan untuk membuat ramuan evolusi level 4. Padahal dia bisa membuatnya sendiri, tetapi masih kesulitan mencari bahan. Belum lagi orang lain yang kesulitan membuatnya. Mencari potion jadi juga beberapa kali lebih sulit dibandingkan yang dialaminya.


Sedangkan untuk masalah pengalaman tempur, Alexander sendiri tidak yakin. Mungkin seperti yang dikatakan Yona, mungkin juga tidak.


Alexander mencabut pedangnya. Dia sudah mengetahui kemampuan Yona karena sedikit mirip dengannya. Melihat kecepatan terbangnya, itu dipengaruhi miracle root ke-3 yaitu kemampuan terbang ditambah miracle root ke-1 yang merupakan ledakan kecepatan. Miracle root ke-3 juga bisa menggunakan serangan lewat suara. Jadi masalahnya adalah miracle root ke-2 wanita itu.


‘Untuk miracle root ke-1, aku lebih unggul karena bukan hanya ledakan kekuatan, tetapi juga penambahan kekuatan telekinesis. Untuk miracle root ke-3 miliknya, sedikit lebih rendah daripada milikku karena miracle root ke-2 milikku masih bisa menghilang selama ada tempat gelap.


Miracle root ke-3 milikku dan ke-2 miliknya ... tidak perlu dibandingkan karena aku yakin tidak banyak makhluk sebanding dengan Abyssal Basilisk. Jadi, dalam pertempuran ini aku tidak akan menggunakan kekuatan telekinesis dan Abyssal Basilisk.


Secara teori, dengan begitu kami akan imbang. Pemenang atau pecundang tergantung pada keterampilan.’


Mata Alexander menyempit. Tangannya mencengkeram pedang dengan erat.


“Hey! Jangan tatap aku dengan cara seperti itu! Apakah kamu meremehkanku?”


Yona mendengus tidak puas. Wanita itu sama sekali tidak menyangka akan diremehkan oleh seorang ‘junior’ yang dulu bisa dia pukuli dengan mudah.


“Sepertinya aku harus lebih serius.”


Melihat Alexander sudah bersiap bertarung, mata Yona menyempit. Dia langsung mencabut pedangnya, dan berkata, “Aku mulai.”


SWOOSH!


Sosok Yona langsung melesat dan muncul di depan Alexander dengan cepat sambil menebas.


KLANG!


Alexander menangkis serangan Yona. Namun, dia merasa kalau wanita itu sedang tersenyum ke arahnya.


“Apakah kamu pikir aku hanya secepat ini? Hanya memiliki satu ledakan kecepatan?”


SWOOSH!


Sosok Yona tiba-tiba muncul di belakangnya dalam sekejap. Pupil Alexander menyipit, bulu kuduknya langsung berdiri. Secara refleks, energi telekinesis yang sangat kuat muncul di sekitar tubuhnya seperti perisai pelindung.


Ketika Yona menebas, gerakan tebasan melambat karena halangan udara. Saat itu, Alexander berbalik lalu menangkis tebasan Yona.


KLANG!


Mendengar dentingan logam, mata Alexander menyempit. Pria itu benar-benar ceroboh. Jika tidak memiliki kemampuan telekinesis, dia benar-benar sudah ditebas oleh wanita itu.


Melihat sosok Yona yang menghilang, lalu muncul di kejauhan, Alexander tidak bisa tidak berpikir.


‘Sungguh ... apakah ini yang disebut assassin alami?’

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2