
Hampir satu bulan berlalu begitu saja.
Dalam kamar tidur utama di kediaman Boris, Alexander menjejalkan kain ke mulut dan menggigitnya dengan keras. otot-otot tubuhnya terus menggeliat dan muncul retakan di beberapa tempat.
Keringat mengalir deras ketika pemuda itu menahan rasa sakit yang teramat kuat, darah juga tumpah karena luka-luka yang muncul di tubuhnya. Bau amis dari darah menyebar di seluruh ruangan.
Setelah menanggung penderitaan ekstrem begitu lama, ekspresi Alexander tiba-tiba mengendur. Dia langsung jatuh berbaring ke ranjang tanpa mempedulikan tubuhnya yang kotor.
‘Sembilan ... sudah sembilan kali. Hanya tinggal satu kali lagi!’
Alexander menatap langit-langit dengan tatapan penuh obsesi. Senyum ganas tidak bisa disembunyikan di wajah tampan yang sekarang tampak agak terdistorsi.
‘Aku akan mencarinya. Setelah ini ... aku pasti akan menemukannya dan membayar semua hutang lengkap dengan bunganya!’
Uhuk! Uhuk!
Alexander tiba-tiba batuk. Dia bangkit lalu memuntahkan beberapa teguk darah hitam ke lantai. Walau aromanya menyengat dan rasa sakit di tubuhnya masih ada, senyuman di wajahnya sama sekali tidak pudar.
BRUK!
Alexander jatuh berlutut. Dia merasa tubuhnya agak berat dan lemah, rasa pusing langsung menyerang kepalanya. Namun pemuda itu sama sekali tidak panik. Dia menarik napas salam-salam, menenangkan diri karena tahu apa yang sedang terjadi.
Malam harinya.
Di meja makan, tampak banyak sekali hidangan yang menumpuk. Kebanyakan dari mereka adalah daging monster, tetapi ada juga beberapa sayur dan buah-buahan.
Walau pil darah mengandung banyak sekali sumber energi untuk memperkuat tubuh, Alexander harus makan banyak makanan setelah meminum ramuan evolusi karena perlu energi ekstra untuk mencerna tumpukan energi dari pil yang membantu ramuan evolusi. Jadi, biasanya Alexander melakukan penebusan (makan sangat banyak) setelah minum ramuan evolusi.
Meskipun Alexander makan sangat lahap seolah-olah tidak ada yang terjadi, Jane dan Nene merasa sangat khawatir. Kedua wanita itu beberapa kali membersihkan kamar Alexander yang penuh dengan darah. Mereka takut kalau tuan mereka sebenarnya sakit parah, sekarat, dan bisa tumbang kapan saja. Walau begitu, Jane dan Nene tidak berani bertanya karena status mereka.
Tok! Tok! Tok!
Pada saat baru menyelesaikan setengah makanannya, Alexander mendengar suara pintu rumah diketuk. Dia melirik ke arah Nene lalu berkata, “Lihat siapa yang datang.”
“Ya!” Nene mengangguk patuh.
Saat wanita itu pergi membuka pintu, dia terkejut melihat Moris yang menunggu di luar. Dari ekspresi serius di wajah pria tersebut, Nene tahu kalau ada alasan penting kenapa Moris menemui Alexander.
“Tuan sedang makan, Tuan Moris. Tolong ikuti saya,” ucap Nene sopan.
“Ya.”
__ADS_1
Moris mengangguk ringan, sama sekali tidak begitu peduli dengan Nene. Tampaknya pria itu sama sekali tidak menganggap ‘properti pribadi’ seperti wanita itu di matanya. Bukan hanya ada sedikit rasa dingin, tetapi dia juga agak jijik.
Ketika sampai di ruang makan, Moris mengangguk pada Boris (Alexander). Melihat adiknya yang suka makan begitu boros dan dikelilingi banyak wanita, dia diam-diam menghela napas lega. Pria itu awalnya berpikir Boris menggunakan kekayaan yang dia dapat dengan cara kotor untuk mengumpulkan kekuatan di belakangnya. Namun, sepertinya semua hilang karena Boris terlalu boros.
“Kak Moris ... ada apa kamu mencariku? Silahkan duduk. Ah! Kamu bisa makan apapun yang kamu inginkan.” Boris berkata dengan nada santai.
Moris tidak begitu mempedulikan sikap Boris. Dia malah merasa agak senang karena beberapa bulan ini hubungan kakak-adik itu semakin dekat. Pria itu bahkan mulai menganggap Boris sebagai tangan kirinya sendiri. Salah satu orang yang paling dipercaya.
“Ada masalah penting yang ingin aku bicarakan denganmu. Kamu bisa makan, tapi ...” Moris melirik sekeliling dengan dingin.
Alexander mengangkat tangannya lalu memberi perintah.
“Kalian semua pergi dulu. Jangan lupa tutup pintu dan awasi sekitar. Jangan sampai ada orang yang menguping pembicaraan kami.”
Setelah mengatakan itu, Alexander menuangkan anggur ke gelas lalu meletakkannya di depan Moris. Dia kemudian kembali duduk di kursinya, makan, dan berkata pada Moris dengan nada ceroboh dan tidak sopan.
“Minumlah Kak. Jika ada masalah, katakan saja. Aku akan membantu jika bisa membantu. Lagipula, sekarang kita berada di perahu yang sama.”
Mendengar ucapan Boris, Moris mengangguk. Sejak mereka berdua membunuh Norris bersama, keduanya berada di perahu yang sama. Tidak bisa saling menyakiti karena memiliki pegangan berupa bukti pembunuhan yang bisa menyebabkan mereka ditangkap dan dieksekusi. Setidaknya ... itulah yang dipikirkan Moris.
“Aku sudah mendapatkan kabar dari pihak atas. Semua keluarga diminta bersiap. Meski belum tahu waktu pastinya, tetapi kita akan berangkat dalam beberapa hari. Maksimal satu minggu.
Mendengar penjelasan Moris, Alexander menghentikan gerakannya. Dia menatap ke arah pria itu dengan ekspresi heran.
“Kenapa kita tidak mengadakan pertemuan langsung? Kamu bisa mengatakannya di sana, Kak Moris. Tidak perlu berkeliling dari satu rumah ke rumah lainnya,” ucap Alexander.
“Tidak. Meski aku datang untuk memberitahukan berita ini kepadamu, tetapi ada alasan lain kenapa aku menyebutkannya secara pribadi.” Ekspresi Moris menjadi serius.
“Katakan,” ucap Alexander sebelum menggigit daging panggang.
“Kamu tahu, misi ini pasti sangat berbahaya. Tidak mengherankan jika satu atau dua orang mati. Jadi ...” Ekspresi Moris menjadi lebih dingin. “Aku ingin kamu membantuku menangani Kak-“
“Tidak!” Boris menyela sambil menunjuk ke arah Moris dengan garpunya. “Tidak bisa. Kamu benar-benar tidak bisa melakukan ini, Kak Moris.”
“Kenapa?” Moris mengerutkan kening.
“Kakak pertama dan kedua sudah mati, kenapa kamu masih mengincar kakak ketiga? Dia hanya seorang pengecut!” ucap Boris dengan ekspresi heran.
“Dia pengecut, tetapi licik. Orang itu jelas tidak melepaskan kesempatan untuk-“
“Kamu terlalu berlebihan Kak. Sungguh. Kamu terlalu berlebihan.”
__ADS_1
Boris berkata dengan ekspresi serius. Dia merentangkan kedua tangannya sambil menggelengkan kepalanya.
“Semua orang tahu kemampuanmu dan tidak akan merebut posisimu sebagai kepala keluarga. Dengarkan aku baik-baik Kak Moris. Jika kamu membunuh kakak ketiga, aku pasti merasa tidak aman karena hanya aku satu-satunya yang tersisa. Atau jangan-jangan ...
Kamu juga berniat membunuhku di akhir?”
Boris menatap Moris dengan ekspresi serius. Dari ekspresinya, pria itu tampaknya bisa berbalik melawan Moris dan bergabung dengan saudara ketiga jika ada kesalahan.
“Tidak.” Moris memijat pelipisnya dengan ekspresi tertekan. “Maaf. Aku benar-benar terlalu banyak berpikir. Aku ... aku hanya tidak ingin posisi yang telah aku perjuangkan begitu lama direnggut begitu saja.”
“Tenanglah Kak. Semua itu tidak akan terjadi. Aku yakin kamu bisa terus memimpin Keluarga Grasswald.”
Boris tersenyum ramah. Namun, ada sedikit jejak dingin dalam tatapannya ketika dia berpikir.
‘Setidaknya ... aku bisa berjanji kamu akan terus menjadi kepala keluarga sampai kamu mati.’
Moris menghela napas panjang. Setelah minum segelas anggur, dia bangkit lalu berkata.
“Kalau begitu datanglah ke pertemuan nanti. Kita akan membahas rencana yang akan kita gunakan dalam misi pengawalan.”
Boris menggigit daging panggang. Setelah mengunyah dan menelannya, dia melambai santai sambil berkata.
“Aku akan pergi setelah menyelesaikan makan malamku, Kak.”
Setelah beberapa patah kata, Moris pun pergi meninggalkan rumah Boris.
---
Pagi, tiga hari kemudian.
DONG! DONG! DONG!
Suara lonceng besar di pusat Shelter 11 menggema, memecahkan kesunyian di pagi hari.
Alexander yang sedang sarapan di rumah Boris tiba-tiba menoleh ke jendela. Lebih tepatnya, menuju ke arah sumber suara.
Meminum beberapa teguk air putih lalu meletakkan gelas ke aras meja, ekspresi pemuda itu berubah menjadi serius.
“Sudah dimulai ... ya?”
>> Bersambung.
__ADS_1