
‘Apakah aku mendengar berita yang salah? Atau aku pergi ke dunia yang berbeda lalu bertemu dengan Alexander yang berbeda?’
Melihat ke arah Alexander yang penampilannya sama sekali tidak berubah, Claude merasa bingung. Pada saat mendengar kata-kata ‘Alexander dan wanita’, dia merasa kalau ada yang salah. Pria itu benar-benar tidak percaya kalau Alexander memiliki hubungan dengan wanita.
Dalam otak Claude, sahabatnya adalah jenis pria baja lurus yang sama sekali tidak tertarik dengan perempuan. Orang itu tidak memiliki pemikiran bengkok, tetapi juga tidak memikirkan hal-hal romantis.
Alexander? Berhubungan dengan perempuan?
Tidak pernah membayangkannya!
Setelah bertukar beberapa sapaan, orang-orang itupun pergi. Mereka tidak bermaksud tinggal lebih lama karena tidak begitu mengenal Alexander.
Orang-orang itu memilih menyapa karena berharap bisa mengenal pemuda itu, yang akhirnya akan bermanfaat bagi mereka. Jadi tidak memilih tinggal karena takut mempengaruhi suasana hatinya. Bukan hanya tidak bisa menjadi teman, mereka bisa saja ditargetkan.
Sementara itu, bukan hanya Claude, tetapi tiga orang lainnya juga terkejut. Meski tidak separah Claude, mereka juga terkejut karena tidak menyangka kalau Alexander telah berkembang dan menjadi begitu dewasa setelah hampir dua tahun tidak bertemu.
“Kamu tinggal di Shelter 11 sekitar dua bulan?” tanya Claude.
“Ya.” Alexander mengangguk ringan.
“Lalu kenapa kamu tidak langsung mencariku? Aku bisa menjadi pembimbingmu Bung!” ucap Claude tidak puas.
“Memangnya aku tahu kamu datang ke Shelter 11? Aku tidak tahu,” balas Alexander sambil mengangkat bahu dengan wajah datar.
“Ugh!” Claude tertegun sejenak. Setelah beberapa saat, dia langsung berkata dengan ekspresi tidak puas. “Kamu benar-benar keterlaluan Bung!”
“Apanya?” Alexander memiringkan kepala.
“Kamu pergi dari Shelter 101 tanpa berpamitan denganku. Selain itu, aku tidak tahu kemana kamu pergi. Aku bertanya kepada banyak orang, dan menurut dugaan mereka kamu akan pergi ke Shelter 11 yang memiliki lebih banyak orang cocok untuk berkembang.
Siapa sangka kamu malah memilih Shelter 13 yang lebih berbahaya. Satu tahun yang lalu, aku mencari informasi tentangmu di Shelter 11 dan tidak bisa menemukannya. Aku pikir tidak akan pernah bertemu denganmu lagi Sobat!”
Mendengar itu, Alexander sedikit mengangkat sudut bibirnya. Pemuda itu menuang anggur ke cangkir lalu menyesapnya dengan santai. Setelah Claude mulai menjadi lebih tenang, barulah dia bertanya.
“Jadi apa yang terjadi pada kalian setelah aku pergi?” tanya Alexander.
“Aku berusaha keras mengumpulkan poin untuk menukar ramuan evolusi. Pada akhir tahun, aku berhasil mengumpulkan ramuan evolusi level 1 dan membaginya untuk Ronn, Kid, dan Jimmy. Masing-masing dari mereka mendapatkan 4 ramuan evolusi.
__ADS_1
Memang tidak banyak, tetapi kamu harus tahu betapa sulitnya mendapatkan poin di shelter tingkat menengah. Namun, aku juga dalam dilema karena sulit membawa mereka keluar tanpa minum beberapa ramuan evolusi terlebih dahulu. Jadi aku pergi di musim semi tahun berikutnya.
Setelah datang ke Shelter 11, aku baru tahu kalau persaingan di tempat ini lebih sengit dan ada lebih banyak orang kuat. Dalam waktu satu tahun, aku mati-matian untuk mendapatkan poin untuk ditukar dengan ramuan evolusi level 2.
Sedangkan untuk Ronn, Jimmy, dan Kid mulai mandiri. Mereka bilang tidak ingin merepotkanku, jadi mereka bekerja keras sendiri dan mengumpulkan enam ramuan ... dibagi menjadi dua untuk masing-masing orang.
Bisa dibilang, tidak banyak berubah. Hanya mengubah tempat untuk mengumpulkan poin.
Bagaimana denganmu? Bukankah kamu bersenang-senang di Shelter 13? Bagaimana kamu bisa meningkat begitu cepat?”
Claude menatap ke arah Alexander. Walau berangkat delapan atau sembilan bulan lebih cepat daripada dirinya, tetapi orang itu sudah menembus level 2. Dia sendiri tidak yakin bisa menembus level 2 dalam delapan atau sembilan bulan ke depan. Jadi, pria itu lebih penasaran dengan petualangan yang Alexander lalui.
“Sebenarnya tidak begitu spesial. Aku juga mengubah tempat berburu dan mengumpulkan poin. Bedanya, aku menemukan rekan yang cukup baik dan bisa diandalkan. Dengan kerjasama, kami berdua bisa mengumpulkan berbagai bahan dengan lebih cepat.” Alexander berkata santai sambil mengingat Aurora.
“Apakah kedua wanita itu?” tanya Claude dengan ekspresi penasaran.
“Bukan.” Alexander menggelengkan kepalanya. “Orang itu sudah pergi. Berpisah setelah kami berdua menembus level 2 dan mendapatkan miracle root.”
“Bagaimana dengan kedua wanita itu? Kembar? Kakak beradik?” tanya Claude.
“Daisy dan Aster adalah sepupu, bukan kembar atau kakak beradik. Meski begitu, penampilan mereka memang cukup mirip.
Kedua wanita itu sebenarnya adalah pengungsi biasa. Mereka tidak memiliki harapan hidup untuk melewati musim dingin yang keras. Kebetulan saat itu aku bertugas untuk mengawasi distrik kumuh untuk mencegah kekacauan dan bertemu dengan mereka.
Daisy dan Aster memohon kepadaku untuk mengambil mereka sebagai properti pribadi (budak). Kebetulan saat itu aku juga membutuhkan tenaga kerja untuk merawat rumah dan mengurus berbagai bahan selagi aku sibuk. Akhirnya aku menyetujui permintaan mereka.”
Setelah mendapatkan penjelasan dari Alexander, Claude tertegun sejenak. Awalnya dia berpikir kalau akan ada kisah romantis atau semacamnya. Namun, pria itu akhirnya dikecewakan dengan cerita yang begitu realistis dan banyak terjadi di semua shelter.
Claude menatap ke arah Alexander lalu bertanya, “Apakah mereka cantik? Kamu tidak menerima orang di Shelter 101, bahkan tidak mau menghabiskan beberapa makanan untuk bersenang-senang.”
“Cantik, tetapi bukan itu yang utama.” Alexander mengangkat bahu. “Pada saat itu (di Shelter 13) aku memiliki kemampuan untuk menghidupi mereka, dan memang sedang membutuhkan seseorang untuk menjadi pengikutku. Sesederhana itu.”
Claude mengangguk ringan. Dia tahu kalau Alexander berbeda dengan dirinya. Pemuda itu sulit mempercayai orang lain. Daripada menugaskan para adik (bawahan) untuk membantu, Alexander lebih suka membesarkan budak yang lebih terpercaya karena orang-orang semacam itu telah kehilangan kebebasan mereka.
“Kamu tidak memperlakukan mereka dengan buruk kan?” tanya Claude dengan mata menyempit.
Mendengar pertanyaan itu, Alexander tersenyum. Pemuda itu kemudian berkata, “Jika aku tidak salah ingat, Daisy dan Aster tampak seperti tongkat (kurus kering) ketika pertama kali menemukan mereka. Sekarang mereka tampak cantik dan membuat banyak laki-laki terpesona karena kecantikan mereka. Mungkinkah aku memperlakukan mereka dengan buruk?”
__ADS_1
“Kamu ada benarnya.” Claude mengangguk ringan. “Kenapa tidak mengajak mereka keluar?”
“Kamu bodoh atau aku yang bodoh?” ucap Alexander santai. “Untuk apa aku membawa mereka keluar malam-malam? Selain itu, mereka tidak mengenalmu.”
“Itu ...” Claude tertegun.
“Omong-omong, bagaimana denganmu? Kamu adalah ‘pria romantis’ ketika berada di Shelter 101. Apakah hal semacam itu terjadi di sini? Mungkinkah itu alasan kenapa kamu begitu lambat?” ucap Alexander dengan senyum agak sinis.
‘Aku? Lambat?’
Claude tertegun di tempatnya. Jelas kecepatannya dalam mengumpulkan ramuan termasuk dalam kategori terbaik. Sudah sangat cepat sehingga banyak orang kagum terhadapnya. Namun, di mulut sahabatnya sendiri ... ternyata dia lambat?
“Kamu yang terlalu cepat, K-parat!” seru Claude dengan ekspresi tidak puas. “Jika aku sibuk dengan wanita, bagaimana bisa aku secepat ini?”
“Kamu ada benarnya. Namun itu tidak ada kaitannya dengan pertanyaanku. Apakah kamu memiliki orang yang kamu suka atau semacamnya? Aku benar-benar penasaran,” ucap Alexander sambil bersandar pada dinding kayu dengan ekspresi malas.
“O-Omong kosong apa yang kamu katakan!” seru Claude.
“Oh? Ternyata ada wanita yang membuat pria romantis ini canggung dan gugup?” ejek Alexander.
“Cukup Al. Aku tidak sedang ingin membicarakan hal-hal semacam ini, bisakah kita membicarakan hal lain? Jika tidak, kembali saja lalu tidur!” ucap Claude dengan nada tidak puas.
“Kebetulan aku juga tidak ingin membahas hal semacam ini. Ada hal lain yang ingin aku bicarakan, dan aku tidak tahu apakah kamu mau menjawabnya atau tidak.”
Alexander berhenti bersandar. Dia duduk cukup tegak dan ekspresinya menjadi lebih serius.
Alasan kenapa Alexander menemui Claude bukan hanya karena dia ingin menemuinya atau berbicara tentang masa lalu. Sebaliknya, pemuda itu menemukan berita buruk sehingga ingin memastikan kebenarannya. Lagipula, itu masih ada hubungannya dengan sahabatnya.
“Apakah ada yang salah?” tanya Claude dengan ekspresi ragu.
“Claude. Apakah rumor itu benar? Apakah kamu ...”
Mata Alexander menyempit.
“Benar-benar sedang diincar oleh Aunt Ma?”
>> Bersambung.
__ADS_1