
Tik! Tik! Tik!
Sisa darah di bilah meluncur ke ujung, lalu mulai menetes ke tumpukan salju putih. Seorang pria berjubah hitam dan mengenakan topeng berdiri diam di tempatnya sambil membawa pedang, tetapi membuat suasana di sekitar tampak lebih dingin dibandingkan sebelumnya.
“P-Pembunuh!”
Tidak tahu siapa yang mulai berteriak, tetapi orang-orang berteriak dengan keras lalu mulai berlari kembali ke rumah masing-masing. Mereka membanting pintu sampai tertutup lalu bersembunyi, berharap kalau pembunuh itu tidak mengejar mereka.
“...”
Melihat pemandangan seperti itu, Alexander diam saja. Dia hanya berdiri di tempatnya sambil menunggu. Lagipula, pemuda tersebut juga tidak berniat untuk mengejar dan membunuh mereka. Bukan hanya buang-buang waktu dan tenaga, tetapi hal semacam itu juga tidak memberinya keuntungan.
Jadi Alexander memilih untuk melupakannya.
“Al ... ini-“
Belum sempat Aurora melanjutkan ucapannya, Alexander mengangkat tangan kirinya dan memberi isyarat agar mereka diam.
Pemuda itu kemudian terus berjalan. Dia berkeliling di sekitar area pusat Shelter 1005 lalu berhenti di depan rumah cukup besar tetapi hampir tertutup salju. Bahkan hampir menutupi sebagian besar pintunya.
Melihat rumah yang cukup besar tetapi sangat sepi itu, Alexander membuka pintu dengan paksa. Pemuda itu kemudian melihat ruang gelap di dalam rumah dimana banyak sekali perabot berantakan, tampaknya sudah dijarah beberapa sumber dayanya.
Alexander melihat debu yang memenuhi rumah lalu mengangguk ringan.
“Masuk. Tempat ini kosong. Kita bisa tinggal di sini untuk sementara waktu.”
Mendengar ucapan Alexander, kelima orang itu saling memandang. Meski tindakan menempati rumah secara paksa seperti itu tidak baik, tetapi mereka tidak menolaknya. Lagipula tempat itu tidak dihuni dan mereka merasa lebih baik tinggal dalam rumah daripada tidur di alam liar.
Setelah masuk, Alexander langsung meminta beberapa orang untuk membersihkan dan mengumpulkan perabot yang berantakan. Kebanyakan perabot terbuat dari kayu dan batu. Jadi dikumpulkan di sudut berbeda.
Pemuda itu mengeluarkan kapak kecil lalu mulai memotong perabot kayu yang rusak menjadi bagian-bagian kecil. Dia mengumpulkannya dengan rapi, lalu membawa sebagian ke depan perapian sederhana.
Alexander menata sebagian kayu di perapian, lalu mengeluarkan tiga benda. Salah satunya kantong berisi bubuk gelap, dan dua lainnya adalah batu yang dibentuk menjadi dua stik sepanjang jari telunjuk.
Pemuda itu dengan terampil menyebar sedikit bubuk, lalu menggunakan kedua batu api untuk membuat percikan.
Ding!
Percikan api tercipta, langsung terlempar ke bubuk yang mudah terbakar. Beberapa saat kemudian, kayu-kayu di perapian mulai terbakar. Akhirnya, cahaya dan kehangatan muncul di ruangan tersebut.
“Kalian bisa beristirahat.”
Alexander menghela napas. Dia kemudian pergi ke tempat yang agak bersih, meletakkan ransel lalu duduk bersandar dengan ekspresi lega di balik topengnya.
Pemuda itu melepas topengnya kemudian mengeluarkan dendeng kering serta sebotol kecil anggur. Dia sama sekali tidak merasa bersalah setelah membunuh orang, bahkan bisa makan dan minum dengan tenang. Entah karena dia memang tidak peduli, atau mungkin terbiasa sampai akhirnya mati rasa.
__ADS_1
“Apa yang kita lakukan selanjutnya?” tanya Aurora memecahkan keheningan.
“Untuk sekarang, kita tinggal di sini selama dua hari.” Alexander berkata dengan nada datar.
“Begitu lama?” tanya Aurora.
Empat orang tampak bingung. Menurut mereka, dua hari sama sekali tidak lama. Namun Alexander cukup mengerti apa yang Aurora maksud.
“Kita kekurangan bahan makanan dan air. Di sini masih ada beberapa peralatan rumah tangga. Kita bisa merebus air secukupnya untuk digunakan dalam perjalanan menuju pemberhentian berikutnya,” ucap Alexander.
“Baik,” balas Aurora.
Alexander membuat air menggunakan salju yang menumpuk. Salju yang berada di bagian paling atas genting cukup bersih dan bisa digunakan. Jika di awal musim dingin, itu mungkin tercampur debu dan kotoran, tetapi di akhir musim dingin seperti ini lebih aman.
Meski begitu, mereka tetap harus merebusnya sampai mendidih. Tidak hanya itu, sebagai pencegahan, air rebusan itu akan didiamkan satu malam. Di pagi berikutnya, buang air bagian paling atas dan dasar, gunakan bagian tengah saja.
Air tersebut sudah bisa dikonsumsi, tetapi Alexander berencana membuat rebusan beberapa buah dan herbal. Bukan hanya sebagai penangkal dingin, tetapi juga agar menurunkan titik beku. Jangan sampai air yang mereka bawa membeku dan tidak bisa diminum.
“Mohon maaf, Tuan. Selain air, persediaan makanan kita juga semakin tipis.” Daisy berkata dengan sopan.
“Memang.” Alexander mengangguk ringan. “Meski begitu, kita tidak bisa berburu sekarang. Setelah air dikumpulkan, kita akan melanjutkan perjalanan. Kita juga akan berburu makanan dalam perjalanan ke tempat berikutnya, jadi kalian bisa santai.”
Mendengar itu, kelima wanita itu mengangguk dengan ekspresi tegas di wajah mereka.
Aurora setuju dengan pengaturan Alexander, tetapi masih agak penasaran.
“Shelter 1004. Berbeda dengan Shelter 1005 dan tujuh shelter tingkat rendah lainnya, shelter itu berada di lokasi paling jauh dan dianggap sangat aman karena lokasinya. Memang cukup jauh dari sini, tetapi kita pasti bisa sampai di tujuan dengan selamat jika lewat jalur paling aman.
Kita akan tinggal di sana untuk sementara waktu karena beberapa alasan. Aku ingin melatih Jane dan Nene, biarkan mereka meletakkan dasar-dasar terlebih dahulu. Selain itu, kalian berlima juga harus melatih kerjasama.
Terakhir, setelah lukaku sembuh sepenuhnya ...”
Mata Alexander menyempit.
“Aku akan menerobos level 3.”
***
Sementara itu, dalam kediaman Melissa di Shelter 11.
“Apakah kamu melihat Claude? Aku tidak bisa menemukan dia di kamarnya.”
Ketika berjalan di lorong, Melissa bertanya kepada pelayan yang sedang membersihkan rumah. Wanita itu langsung berdiri tegak dan membalas dengan hormat.
“Lapor Nona, Tuan Claude sekarang sedang berlatih di halaman belakang.”
__ADS_1
Mendengar itu, Melissa mengangguk. Dia kemudian berjalan menuju ke halaman belakang dimana Claude sedang berlatih.
Di halaman belakang yang tertutup salju, Claude mencengkeram erat pedangnya. Pria itu membayangkan sosok tidak jauh di depannya. Seorang pria dengan wajah ganas dan memakai pedang besar seperti pisau daging.
Ya ... orang itu adalah ‘Boris si tukang daging’.
Swoosh!
Claude berguling di tanah, bangkit, menebas, berlari, dan membuat seraingkaian kombo yang sangat cepat. Ayunan pedang terus menebas udara, atau lebih tepatnya mencoba menyerang sosok imajiner yang sedang melawannya.
SWOOSH!
“Claude!”
Teriakan seorang wanita menyadarkan Claude. Sosok imajiner menghilang, dia kemudian menoleh ke arah sumber suara yaitu Melissa yang berjalan ke arahnya.
“Nona Melissa!” ucap pria itu dengan ekspresi hormat.
“Sudah berapa kali aku harus bilang? Seharusnya kamu tidak berlatih? Bukankah ini sedang hujan salju? Kenapa kamu tidak menjaga tubuhmu dengan baik?” ucap Melissa dengan ekspresi tidak puas.
“Saya tidak melanggar perintah anda, Nona Melissa.” Ekspresi Claude menjadi lebih serius. “Jika tidak berlatih, saya tidak akan bisa memenuhi harapan guru. Saya harus menjadi lebih kuat! Setidaknya cukup kuat untuk mengalahkan orang itu!”
Melihat ekspresi serius di wajah Claude, Melissa mengangguk. Dia melirik ke arah ruangan dimana Jacob masih terbaring tidak sadarkan diri. Menarik napas dalam-dalam, wanita itu berkata.
“Aku telah mendapatkan kabar kalau ibunda memiliki bahan langka yang bisa menyadarkan Paman Jacob. Namun, beliau tidak mau memberikannya secara langsung karena tidak adil untuk saudara-saudari yang lain. Ibunda ingin memberiku tugas dan kontribusi bisa ditukarkan bahan tersebut. Jadi ...
Maukah kamu menemaniku melakukan tugas itu, Claude?”
Claude langsung mengangguk dengan ekspresi tegas.
“YA!”
***
Sementara itu, dalam sebuah ruangan di kediaman Keluarga Rosewald, Shelter 1.
Seorang pria berlutut di depan Alvonso yang duduk sambil menopang dagu.
“Jadi, apa yang ingin kamu laporkan kepadaku?”
Mendengar pertanyaan itu, pria yang sedang berlutut di depan Alvonso sedikit menggigil. Memaksakan diri untuk tidak gugup, pria itu berkata dengan suara setenang yang dia bisa.
“Lapor Tuan, misi utama yang anda tugaskan ...”
“Telah gagal.”
__ADS_1
>> Bersambung.