After Apocalypse

After Apocalypse
Transaksi Pertama


__ADS_3

Samuel hanya diam. Pria itu menunduk tanpa mengucap sepatah kata.


Setelah termenung beberapa waktu, akhirnya dia mengangkat wajahnya. Samuel menatap ke arah Alexander dengan ekspresi serius di wajahnya. Di matanya, tampak tekad yang tidak tergoyahkan.


“Jika aku mengikutimu dan melakukan apa semua perintahmu, apakah kamu bisa menolong orang-orang di Shelter 1008?”


Mendengar itu, Alexander langsung menggelengkan kepalanya. Dia kemudian menjelaskan dengan santai tetapi langsung ke intinya.


“Itu tergantung pada dirimu sendiri. Aku rasa, menyelamatkan semua orang adalah sesuatu yang mustahil. Namun, jika kamu terburu-buru dan bisa mencapai sesuatu dalam waktu singkat, seharusnya bukan hal yang mustahil untuk menyelamatkan teman-temanmu.


Setidaknya ... biarkan mereka hidup lebih lama lalu cobalah untuk memperbaiki hidup mereka.”


Jawaban awal Alexander membuat Samuel semakin ragu. Namun, penjelasan pemuda itu juga membuatnya menyadari kalau itulah kebenarannya. Tidak mungkin dia bisa menyelamatkan semua orang karena waktunya terlalu singkat. Bahkan dengan kerja keras dan keberuntungan, sulit untuk mendapatkan hal besar di lingkungan yang gersang ini.


Bahan level 3 sudah cukup langka, bahan level 4 sangat langkat. Jadi, bahkan jika mendapatkan bahan level 4, itu masih tidak berguna. Satu bahan saja sulit untuk ditukar dengan seluruh ramuan evolusi level 1 yang dia butuhkan untuk menembus batasan hunter level 1 (lima botol ramuan yang sudah jadi).


Saat Samuel merasa bingung, suara Alexander kembali terdengar di telinganya.


“Kamu mungkin meragukanku karena aku sendiri hanya hunter level 2. Bukan sosok kuat seperti para hunter level 3 yang jumlahnya jarang, apalagi hunter level 4. Namun, aku sendiri memiliki keyakinan ...


Menaikkan beberapa orang ke level 1 bukan menjadi masalah. Ini masih dalam lingkup yang bisa aku tanggung.”


Samuel benar-benar merasa sangat ragu. Apa yang dikatakan Alexander memang benar. Bahkan jika apa yang diucapkan sosok misterius di depannya memang terdengar manis, tetapi tidak bisa dibuktikan secara langsung. Bahkan nama V sendiri masih belum cukup terkenal di Shelter 11.


‘Apakah dia ingin menipuku? Jika ingin menipu, apa yang dia inginkan dariku?’


Samuel berpikir dengan penuh keraguan. Dia sendiri bukan sosok hebat, tidak memiliki latar belakang luar biasa, dan hanya magang hunter yang tidak terkenal dari shelter tingkat rendah. Jadi pria itu semakin bingung. Merasa kalau tidak ada alasan kenapa Alexander ingin mengundangnya.


Setelah beberapa saat ragu, Alexander pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


“Jika boleh tahu, sebenarnya apa yang membuat anda tertarik padaku?”


Mendengar bagaimana Samuel memanggilnya dengan lebih hormal, Alexander mengangkat sudut bibirnya. Pemuda itu merasa cukup yakin kalau pria tersebut tertarik dengan undangannya.


“Sebenarnya sederhana. Karena aku pikir kamu punya potensi dan kita sesama pendatang baru,” balas Alexander dengan nada datar.


“Apakah hanya itu?” tanya Samuel dengan ekspresi ragu.


“Jika tidak?” Alexander memiringkan kepalanya. “Aku tidak memiliki waktu untuk dibuang sia-sia. Selain itu, aku juga tidak memiliki hobi kasar untuk mempermainkan orang yang mencoba mengejar mimpi mereka.”


“Maksudmu ...” Samuel mengerutkan kening.


“Aku merasa kamu berguna, jadi aku mempekerjakan kamu. Sebaliknya, kamu juga membutuhkan pekerjaan untuk menghasilkan dana. Kita saling membutuhkan, sesederhana itu.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Alexander, keraguan Samuel semakin menipis. Saat itu, dia mulai memperhatikan sosok misterius di depannya.


Jubah hitam legam, topeng hitam dengan satu lubang untuk mata, dan suara yang tidak bisa dibedakan apakah laki-laki atau perempuan.


Walau berada tepat di depannya, Samuel merasa tidak bisa mengerti sosok itu. Hanya saja, mata merah yang tampak begitu dingin dan tak acuh itu membuatnya merasakan tekanan. Merasa kalau sosok di depannya memang memiliki kepercayaan diri untuk mewujudkan apa yang dia katakan.


Menarik napas dalam-dalam, Samuel akhirnya berkata.


“Kalau begitu ... tolong jaga saya mulai sekarang, Master V!”


---


Tiga hari kemudian.


Di malam yang begitu sunyi, tiga orang berjalan melewati lorong gelap. Dua di antara mereka mengenakan jubah hitam bertudung. Satu memiliki topeng hitam, dan satu topeng putih.


Mereka adalah Alexander, Aster, dan Samuel.


Berbeda dengan Alexander dan Aster yang memakai jubah serta topeng, Samuel memakai peralatan yang biasanya dia pakai. Tidak mengenakan jubah atau topeng, tetapi membawa kotak besar di belakang punggungnya.


Malam ini mereka berencana melakukan transaksi dengan kelompok tertentu. Dengan jumlah seperti itu, tidak banyak kelompok yang mampu mencerna semuanya. Jadi ... bisa dibilang malam ini mereka telah melakukan transaksi besar.


Sementara Samuel membawa barang bawaan, Alexander dan Aster mengawasi sekitar dengan ekspresi serius di wajah mereka.


“Tidak ada masalah.” Alexander menggeleng ringan.


Sejauh ini, semuanya berjalan sangat lancar. Mereka sama sekali tidak bertemu dengan kelompok lain atau orang-orang yang terlihat mencurigakan. Justru karena begitu lancar, pemuda itu menjadi semakin curiga.


Apakah ada masalah atau tidak. Mereka tidak bisa benar-benar mengetahuinya tanpa langsung melihat dengan kepala mereka. Jadi, memilih waspada adalah pilihan terbaik mereka untuk saat ini.


Setelah berjalan cukup lama, mereka akhirnya tiba di lokasi. Lokasi tempat mereka bertemu adalah lingkaran 6 dimana biasanya perdagangan gelap dilakukan. Lebih spesifiknya, sebuah rumah kecil yang tidak terlihat mencolok dan membaur baik dengan lingkungan.


Pada awalnya Alexander berpikir mereka tiba di tempat yang salah. Namun, semua keraguan langsung tersapu ketika dia melihat sosok Gery yang menunggu di dekat pintu.


Pria itu langsung tersenyum ketika melihat Alexander datang. Memiliki senyum ramah di wajahnya, dia berkata, “Aku kira kamu tidak bisa datang dan tidak percaya padaku.”


“Tentu saja aku akan datang, Grey Jackal. Hanya saja, aku memang belum sepenuhnya mempercayaimu. Dimana pelanggan itu?” balas Alexander datar.


“Tentu saja ada di dalam. Mau masuk sekarang?”


“Biarkan orang itu keluar.”


Alexander mengamati sekitar. Setelah memastikan kalau tidak ada orang mencurigakan, dia fokus pada bangunan di depannya. Tidak diketahui ada berapa banyak orang di dalam, jadi lebih baik menunggu di luar.

__ADS_1


“Itu ...” Gery tampak ragu. “Sebenarnya ada sedikit masalah dengan identitasnya. Lebih baik kamu masuk. Tenang saja, semua aman dan terkendali.”


“Aku adalah jenis orang yang tidak ingin mempercayakan nyawaku kepada orang lain. Tolong mengerti,” balas Alexander.


“Ini-“


Pada saat Gery tampak ragu, suara wanita yang terdengar ringan dan elegan muncul dari dalam rumah.


“Tidak apa-apa. Aku akan keluar dan menemuinya secara pribadi.”


Setelah beberapa saat, akhirnya pintu terbuka dan sosok wanita cantik keluar dari rumah tersebut.


Sosok yang keluar adalah seorang gadis pendek dengan paras yang begitu menawan. Dia mengenakan pakaian rapi dan bersih. Rambut pirang panjang bergelombang. Ditambah dengan kulit putih dan mata seindah safir, dia tampak begitu mempesona. Seperti putri cantik dari negeri dongeng.


Sementara semua orang tertegun ketika melihat kecantikannya, Alexander tertegun karena alasan yang berbeda.


‘Setidaknya level 3 ... tinggi ini, rambut pirang ini, aroma yang samar tetapi familiar ini ...’


Tanpa sadar, keringat dingin membasahi punggung Alexander. Jika bukan karena memakai topeng, semua orang pasti bisa melihat ekspresinya yang serius dan sangat waspada.


Gadis itu tampaknya sudah terbiasa dengan reaksi orang-orang. Dia membungkuk dengan sopan sambil sedikit mengangkat pakaiannya seperti seorang bangsawan.


“Perkenalkan, namaku Yona. Senang bertemu dengan kalian,” ucap Yona dengan nada lembut.


“Sungguh cantik seperti peri.”


Saat itu gumaman Samuel terdengar. Suara pria itu membuat Alexander tersadar dari lamunannya. Menenangkan diri dan mencoba bertindak senatural mungkin, dia mengangguk ringan sambil memperkenalkan diri.


“Kamu bisa memanggilku V, Nona Yona.”


“Oh?”


Mendengar suara Alexander yang tidak bisa dibedakan apakah laki-laki atau perempuan, Yona langsung tahu kalau itu kemungkinan besar adalah efek dari miracle root unik yang tidak dia ketahui.


Yona berjalan beberapa langkah dan berhenti kurang dari dua meter di depan Alexander. Tinggi gadis itu tidak lebih dari bahu Alexander. Namun, tampaknya usianya tidak semuda kelihatannya. Lagipula, tidak mungkin seorang gadis kecil bisa menjadi hunter level 3 yang keberadaannya masih langka di Shelter 11.


Yona melihat mata merah di balik topeng hitam. Pada awalnya, dia penasaran apakah mata merah itu mirip dengan mata seorang kenalan. Namun, saat memperhatikannya baik-baik, wanita itu sadar kalau entah warna dan bentuk irisnya cukup berbeda.


Mengangkat sudut bibirnya, Yona akhirnya berkata.


“Aku harap kita bisa bekerja sama dalam jangka panjang, Tuan V.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2