
Tanpa terasa waktu kembali berlalu begitu saja.
Sekarang sudah hari terakhir di bulan sembilan, dan musim dingin hampir tiba. Bukan hanya dedaunan telah berguguran, tetapi suhu juga telah menjadi semakin dingin. Benar-benar lebih dingin dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Di bulan ini, Alexander melakukan semuanya seperti biasa. Berburu dengan Aurora selama tiga hari, dan berada di rumah selama empat hari. Ketika di rumah, selain melatih ilmu pedang, dia juga melatih kemampuan telekinesisnya. Tentu saja, dengan cara sembunyi-sembunyi karena kemampuan semacam itu tidak ingin dia tunjukkan kepada publik.
Di halaman belakang rumah yang agak luas dan tertutup pagar, Alexander sibuk berlatih.
Swoosh! Swoosh!
Pedang berayun dengan sangat cepat. Bukan hanya tebasan lurus, tetapi banyak gerakan melengkung dan menusuk. Gerakannya sangat cepat, tetapi juga terlihat begitu indah dan elegan. Seolah bukan sedang berlatih pedang, tetapi sedang menari di bawah sinar rembulan dan bintang.
Jika Aurora melihatnya, wanita itu pasti sangat terkejut karena ...
Ilmu pedang yang Alexander gunakan benar-benar berbeda dari ‘teknik dasar’ yang dikuasai secara mendalam dan ditunjukkan selama ini!
“Huh!”
Alexander yang baru saja menyelesaikan gerakan akhir langsung menghela napas panjang. Pemuda itu kemudian menyeka keringat. Meski latihannya tidak sederhana dan mengalami kemajuan, tetapi dia masih belum puas.
‘Menggunakan telekinesis untuk mengendalikan beberapa belati masih bisa dilakukan. Sedangkan menggunakan telekinesis untuk mengendalikan angin dan mempertajam bilah masih sulit dilakukan. Meski akan membuat keterampilan pedang semakin kuat dan ganas, tetapi sulit dilakukan.
Seingatku, perlu sampai level 3 untuk mengendalikan energi di sekitar pedang dengan baik. Namun sepertinya aku bisa melakukannya setelah menembus level 2. Sedangkan teknik untuk menghempaskan energi pedang ...
Siapa sih yang begitu gila untuk membuat ilmu pedang semacam ini? Alih-alih mengendalikan benda-benda seperti pengguna telekinesis biasa, malah menggunakan angin? Angin memiliki berat? Ya! Tapi siapa yang berpikir untuk mengendalikannya dan membuatnya menjadi bilah!’
Alexander mengeluh dalam hati. Meski begitu, dia juga merasa kagum terhadap leluhurnya yang memikirkan ide yang agak gila semacam itu.
Duduk di halaman belakang sembari menikmati sinar rembulan dan embusan angin malam, pemuda itu bergumam pelan, “Mengendalikan angin adalah kewajiban. Namun untuk menyempurnakan ‘Phoenix Dance’, miracle root jenis ‘itu’ benar-benar harus diperlukan.”
Semakin memikirkannya, Alexander menjadi semakin tertekan. Pada awalnya, dia hanya ingin menjalani hidup dengan santai sampai akhirnya mati dengan tenang. Namun takdir sama sekali tidak mengizinkannya.
Merasakan beban berat di pundaknya, Alexander mengeluh dalam hatinya.
__ADS_1
‘Penerus terakhir aliran pedang ‘Phoenix Dance’ ... judul berat ini benar-benar bukan sesuatu yang ingin aku sandang.’
Jika ‘Phoenix Dance’ hanyalah ilmu pedang biasa, tidak masalah mencari murid dan menyebarkannya. Hanya saja, teknik tersebut hanya bisa dilakukan oleh klannya. Memerlukan kemampuan telekinesis dan berbagai latihan khusus yang hanya dimiliki oleh darah klannya.
Alexander menggelengkan kepalanya. Pemuda itu bangkit lalu pergi ke dalam rumah. Sesampainya di kamar, dia melihat ke arah botol berisi ramuan ungu tua, hampir hitam dengan ekspresi rumit di wajahnya.
“Siapa sangka, aku benar-benar berhasil mendapatkan ramuan ke 4 sebelum musim dingin tiba.”
Setelah mengatakan itu, Alexander menghela napas panjang dengan ekspresi lelah di wajahnya.
---
Keesokan paginya.
Alexander berlatih di halaman belakang. Pemuda itu mengayunkan pedangnya dengan ekspresi serius di wajahnya. Setelah meminum ramuan evolusi, dia ingin segera mengendalikan kekuatannya dengan baik.
Pada saat itu, Alexander menghentikan gerakannya. Mengalihkan pandangannya ke atas, pemuda itu melihat awan gelap yang menutupi langit. Benar-benar menutupi sinar mentari pagi dan menghalanginya menghangatkan dunia ini.
Titik demi titik putih mulai berjatuhan dari langit. Melihat salju yang turun perlahan, Alexander menghela napas panjang. Uap dari mulutnya memperlihatkan bagaimana dinginnya hari ini.
Apa yang Alexander dengar adalah suara violin, sesuatu yang benar-benar jarang dimainkan apalagi dengan begitu keras. Seolah-olah menggema di langit Shelter 13.
Suara violin yang indah menggema, jelas menarik perhatian banyak orang termasuk Alexander. Hanya saja, pemuda itu sama sekali tidak tertarik dengan keindahannya. Sebaliknya, dia merasa kalau ada sesuatu yang aneh.
Alexander langsung pergi ke rumah. Dia berganti pakaian, membawa perlengkapan lengkap, memakai jubah dan topeng lalu pergi menuju ke lokasi.
Sesampainya di sumber suara itu berasal, Alexander terhenti karena banyaknya orang yang sedang menonton. Banyak sekali Hunter yang sedang menonton dari yang masih magang sampai ada beberapa lelaki tua di level 2.
Di atas atap bangunan tertinggi Distrik 3, tampak sosok berjubah putih dengan bagian berbulu sedang memainkan violin. Tubuhnya tidak tinggi, bahkan terlihat agak pendek. Dia juga mengenakan topeng putih dengan simbol ‘IV’ di bagian dahinya. Dari rambut pirang panjang bergelombang yang ditiup angin dan tangan kecil yang memegang violin, tampaknya dia adalah perempuan.
Melihat wanita itu, kebanyakan terpana dengan indahnya musik yang dia bawakan. Hanya saja, Alexander dan beberapa veteran tua di level 2 memiliki ekspresi serius di wajahnya.
Jangan lihat dari betapa mungilnya gadis itu. Namun mereka jelas bisa merasakan kesenjangan yang jauh.
__ADS_1
‘Kekuatan ini ... setidaknya level 3!’
Memikirkan itu, Alexander tiba-tiba sedikit gemetar. Seperti yang diketahui, level 3 sudah bisa menjadi pemimpin shelter menengah. Di shelter tingkat tinggi, jumlahnya sangat jarang dan bisa dianggap sebagai petinggi. Mungkin tidak sebanyak jari di kedua tangan!
(Jika ingin mendengar, kalian bisa cari Mazurka in A Minor, Op. 67 No. 4 – Chopin versi violin.)
‘Kenapa? Kenapa orang semacam itu muncul di tempat seperti ini?’
Melihat sosok misterius yang memainkan violin di bawah langit kelabu dan salju yang berjatuhan, Alexander mengepalkan tangannya begitu erat.
Pada saat wanita itu menyelesaikan performanya, dia sedikit membungkuk kepada semua orang. Seketika, tepuk tangan meriah langsung menyambutnya.
Wanita tersebut kemudian mengemas kembali violin ke dalam sebuah tas khusus yang dibuat dari kulit monster tertentu. Berdiri santai di atas atap sembari membawa tas hitam di tangan kirinya, dia akhirnya berkata.
“Suadara-saudariku, tidak peduli apakah kalian mempercayainya atau tidak, aku datang untuk menyampaikan berita.”
Suara wanita yang terdengar lembut dan magnetis menggema. Pada saat semua orang memandang ke arahnya, dia pun mulai melanjutkan.
“Bagian luar Shelter 13 mulai mengalami kekacauan. Di musim dingin ini, makanan akan semakin sulit didapatkan. Akan banyak saudara dan saudari kita yang mati karena keparan. Juga, para petinggi telah menyembunyikan berita penting.
Di musim dingin ini ...
Gelombang binatang buas akan terjadi dan akhirnya mempengaruhi Shelter 13 ini.”
Mendengar ucapannya, banyak orang tertegun di tempatnya. Beberapa saat kemudian, banyak orang yang mulai berlarian kembali menuju ke tempat tinggal mereka atau tempat penjaga berada. Jelas merasa marah, bingung, dan mempertanyakan kebenaran.
Saat itu juga, Alexander sedikit memahami apa tujuan wanita itu memanggil banyak Hunter ke tempat ini. Ya ...
Menciptakan kekacauan!
Hanya saja, Alexander masih tidak begitu mengerti.
‘Kenapa? Kenapa dia melakukan hal semacam ini?’
__ADS_1
Mengabaikan orang yang berlalu-lalang di sekitarnya, Alexander terus menatap wanita itu tanpa pindah dari tempatnya.
>> Bersambung.