After Apocalypse

After Apocalypse
Menginginkannya


__ADS_3

“Apa yang akan kamu lakukan?”


Aurora bertanya dengan ekspresi curiga di wajahnya. Sebagai tanggapan, pemuda itu mengangkat sudut bibirnya sambil membalas ramah.


“Tentu saja kita akan berbaik hati membantu seseorang membalaskan dendamnya.”


Setelah mengatakan itu, Alexander langsung mengeluarkan tali yang sangat panjang dari ranselnya. Namun, alih-alih melemparnya ke orang-orang yang sedang berjuang melawan para cacing bermutasi, dia malah mengikatnya ke pangkal tombak yang sudah dirancang khusus.


Alexander mengambil ancang-ancang lalu melemparkan tombak tersebut sekuat tenaga.


SWOOSH!


Tombak langsung melesat dengan sangat cepat melewati kolam dengan lebar sekitar dua puluh lima meter.


Pada saat melihat tombak melesat terbang melewati kolam, gagak bermata satu itu langsung melebarkan sayapnya lalu terbang ke atas. Namun, apa yang membuatnya terkejut adalah arah tombak yang tidak ditunjukkan ke arahnya. Sebaliknya, tombak itu menembus dan menancap pada pohon besar yang kokoh tempat sebelumnya dia bertengger.


Pada saat itu juga, Alexander yang berada di seberang memegang erat sisi lain tali. Pemuda itu kemudian mengikatnya pada batu yang cukup besar dan tinggi.


Ketika semua orang bingung, Alexander melepaskan ransel lalu melemparnya ke arah Aurora. Setelah itu, dia melompat ke atas tali, mengeluarkan salah satu pedang lalu berlari di atas tali menuju ke sisi lain seolah sedang melakukan pertunjukan akrobat.


‘Orang ini!’ seru Aurora dalam hati.


Melihat Alexander yang tampak begitu bersemangat, Aurora bingung harus mengatakan apa. Yang pasti dia sekali lagi dikejutkan oleh tindakan yang dilakukan oleh pemuda itu.


Berlari di atas tali seolah sedang berada di daratan? Semua orang merasa kalau hal semacam itu tidak bisa dilakukan tanpa miracle root yang dianggap memecahkan batasan manusia.


Tentu saja, hal semacam itu sebenarnya masih bisa dilakukan selama mau berlatih keras untuk melakukannya. Lagipula, apa yang disebut pertunjukan akrobat atau semacamnya tidak bisa muncul begitu saja hanya dengan bakat. Namun juga membutuhkan latihan yang rutin dan keras.


“ROWAN!”


Mendengar teriakan Alexander, Rowan yang nyaris kehilangan kesadarannya tampak terkejut. Sambil menangkis dan menghabisi beberapa monster di sekitarnya, pria paruh baya itu melihat sosok pemuda yang berlari di atas tali beberapa meter lebih tinggi dari tempat mereka berada.


“Aku akan menunggumu di seberang!” ucap Alexander sambil terus berlari.


Melihat Alexander yang melewati tempat itu dengan mudahnya, Rowan merasa rasa lelahnya sirna. Pria paruh baya itu langsung bergegas ke sisi lain yang hanya berjarak kurang dari enam meter.


Pada saat sampai di seberang dan merangkak naik, Rowan baru merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Melihat bagian bawah tubuhnya yang penuh dengan luka akibat duri dari tanaman rambat dan gigitan cacing, pria paruh baya itu agak pusing. Adrenalin yang muncul akibat marah sebelumnya juga mulai menghilang, membuatnya sadar kalau dia telah keracunan.


“Rowan! Tangkap!”


Belum sempat beristirahat, teriakan Alexander terdengar di telinganya. Pria paruh baya itu mendongak ke atas untuk melihat pemuda yang berdiri di atas cabang pohon lalu menjatuhkan sesuatu.


Rowan langsung menangkapnya. Ketika melihat apa yang terjatuh dalam pelukannya, tubuh pria paruh baya itu bergetar hebat. Dia melihat mayat Mari yang benar-benar hampir hancur dan tidak bisa dikenali.


Mengabaikan penampilannya yang mengerikan dan bau busuk dari mayat itu, Rowan menutup mata Mari lalu memeluknya tanpa mengucapkan sepatah kata. Pria paruh baya itu menunduk. Tanpa terasa, air mata mengalir cukup deras membasahi wajah tuanya.


Mengabaikan Rowan yang sedang bersedih, Alexander berdiri sambil menatap ke arah gagak bermata satu yang terbang di langit. Atau lebih tepatnya ... melayang dengan tenang di udara.

__ADS_1


Mengamati makhluk itu dengan jarak cukup dekat, mata Alexander menyempit.


‘Semoga saja dugaanku benar. Jika dugaanku tepat, rencana itu seharusnya bisa dilakukan.’


Alexander mengaluarkan dua pisau tipis dari balik jubah menggunakan tangan kirinya. Pemuda itu melirik ke arah gagak bermata satu, lalu ke arah Rowan.


‘Aku tidak membawa busur dan anak panah karena bisa menggunakan telekinesis. Hanya saja, kemampuan itu hanya boleh ditunjukkan pada waktu terdesak. Melihat situasi saat ini ...


Sepertinya lain kali aku harus mempersiapkan peralatan tempur jarak jauh.’


Sambil memikirkan beberapa rencana ke depannya, Alexander langsung melompat dari satu cabang ke cabang lain, dari yang paling rendah ke yang paling tinggi.


Setelah sampai di sana, dia langsung melompat tinggi lalu melemparkan salah satu pisau ke arah gagak bermata satu.


Swoosh!


Melihat pisau yang dilemparkan ke arahnya, makhluk itu langsung menghindarinya. Namun, baru saja menghindari satu pisau, pisau lain terlempar ke arahnya. Seketika, dia kembali menghindari serangan tersebut.


Sementara Aurora yang berada di kejauhan tampak bingung, Alexander yang ‘buang-buang senjata’ mengangguk dengan ekspresi serius. Matanya semakin menyempit ketika dia bergumam.


“Seharusnya dugaanku benar. Jika begitu ... ide yang kupikirkan masih cukup layak.”


Setelah bergumam dengan suara yang hanya bisa dia dengar, Alexander melompat turun. Pemuda itu berdiri tidak jauh dari Rowan. Dia kemudian melirik ke arah pria paruh baya yang sedang menangisi ‘putrinya’ tersebut.


“Yang pergi tidak akan kembali, Rowan. Walaupun kamu menangisinya sampai mati, dia tidak akan kembali. Yang tersisa ... apakah kamu ingin menelan semua ini dalam diam? Atau memilih membalaskan dendamnya?”


Meski mengatakan itu, Rowan sendiri juga merasa tidak berdaya. Pria itu hidup cukup lama dan mengetahui kalau monster terbang adalah jenis yang merepotkan, sulit untuk dihadapi.


“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Rowan. Namun, kamu tidak perlu cemas. Itu sama sekali tidak sesulit yang kamu pikirkan,” ucap Alexander ramah.


“Maksudmu?” tanya Rowan dengan ekspresi curiga di wajahnya.


“Bukankah itu jelas?” balas Alexander sembari melihat gagak bermata satu yang terbang di ketinggian rendah.


“...”


Melihat Rowan yang tampaknya tidak mengerti, Alexander mulai menjelaskan.


“Kamu pikir, kenapa gagak bermata satu itu tinggal di tempat yang suntyi dan suram seperti ini alih-alih pergi ke luar dan merasakan udara segar di dunia yang begitu luas?


Ada dua kemungkinan. Yang pertama adalah karena kemampuan terbangnya kurang, dan yang terakhir adalah cahaya. Tampaknya makhluk itu merasa kurang nyaman ketika berada di tempat yang terang.


Sebelumnya aku juga sempat menguji. Selain tidak menyukai cahaya, makhluk itu tampaknya enggan terbang terlalu tinggi.”


“Maksudmu ...” gumam Rowan dengan ekspresi terkejut.


Pria paruh baya itu menatap ke arah Alexander dengan ekspresi curiga. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu pemuda seperti itu.

__ADS_1


Biasanya, orang yang bertemu dengan monster akan langsung memilih dua pilihan. Satu berlari dengan panik dan kedua langsung melawannya. Namun, bukan itu yang Alexander lakukan.


Pemuda itu memilih untuk menganalisis berbagai kemungkinan. Bukan hanya tidak sembrono dan berakhir celaka, tetapi juga bisa melihat beberapa kelemahan lawan. Tentu saja, itulah yang dipikirkan Rowan.


Sedangkan bagi Alexander sendiri, selama makhluk itu masih level 2, maka dia akan cukup berani mencari informasi. Jika pihak lawan adalah makhluk level 3 atau di atasnya, dia tidak akan ragu untuk berbalik lalu melarikan diri tanpa mempedulikan Rowan dan bawahannya.


Mungkin hal semacam itu dianggap pengecut dan tidak memiliki rasa keadilan, tetapi Alexander tidak peduli. Menjadi pengecut membuatnya hidup lebih lama dan memiliki rasa keadilan untuk menolong bukan berarti memiliki kemampuan untuk melakukannya. Itu berarti, dia mencoba menghindari sesuatu yang sia-sia atau kemungkinannya terlalu kecil.


Alexander menyarungkan kembali pedangnya. Pemuda itu kemudian berjongkok lalu mulai memungut batu di sekitar. Berbeda di sisi yang mengarah keluar, tempat di seberang ‘danau’ itu penuh dengan bebatuan, hanya ada satu pohon besar.


“Apa yang akan kamu lakukan dengan batu-batu itu?” tanya Rowan curiga.


“Tentu saja menggunakannya sebagai senjata,” ucap Alexander datar. “Makhluk itu tidak bisa terbang tinggi, jadi aku akan memaksanya terbang lebih rendah. Sisanya ... seharusnya kamu mengerti apa yang harus dilakukan, bukan?”


Mendengar itu, Rowan mengangguk dengan ekspresi berat.


“Aku mengerti.”


Rowan bangkit setelah meletakkan mayat Mari ke samping. Pria paruh baya itu kemudian mengaktifkan miracle root miliknya. Tubuhnya seketika sedikit membengkak dan kedua lengannya menjadi seperti lengan beruang.


Saat itu juga, Alexander yang sudah bersiap mulai mengambil posisi layaknya pelempar bola baseball profesional.


SWOOSH!


Satu per satu batu sekukuran kepalan tangan bayi dilemparkan dengan kecepatan luar biasa. Jika dibandingkan, kekuatannya mungkin bisa meledakkan kepala manusia secara langsung.


Swoosh! Swoosh!


Menghindari lemparan batu Alexander, gagak bermata satu itu terbang semakin rendah. Sadar kalau dirinya akan terluka jika terbang terlalu tinggi dan kondisi di sekitar kurang menguntungkannya, makhluk itu langsung terbang ke arah danau kecil tempat tanaman rambat penuh dengan duri.


Ya ... seperti yang Alexander duga.


“Sekarang, Rowan!” teriak Alexander.


Saat itu juga, Rowan yang sedang menunggu langsung melesat ke tempat gagak bermata satu hendak pergi. Dia mencegat makhluk itu lalu menerkam seperti harimau kelaparan.


Meski terbilang luas, tetapi lingkungan dalam gua masih cukp terbatas. Tidak seperti langit luas dimana makhluk terbang bisa bebas, kemampuan mereka cukup dikekang di tempat seperti ini.


Gagak permata satu yang lengah melihat tinju yang tidak bisa dihindarinya. Pada akhirnya, makhluk itu membuka mulutnya dan mengeluarkan suara sangat keras ketika tinju Rowan mengenai tubuhnya.


BANG!


Tubuh gagak bermata satu terhempas kembali ke area dalam gua. Namun, saat itu juga Alexander dan Rowan yang ada di sana tertegun sebentar karena merasa otak mereka berdengung.


Mengetahui kalau gagak bermata satu yang tampak aneh tetapi lemah itu memiliki kemampuan untuk mengganggu indera pendengarnya, Alexander mengabaikan rasa pusing dan malah menyeringai.


“Kemampuan seperti itu ... benar-benar membuatku semakin menginginkannya!”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2