After Apocalypse

After Apocalypse
Mengasah Senjata


__ADS_3

Malam di hari berikutnya.


Di bawah tirai cahaya bintang dan rembulan, Alexander berjalan di lingkaran lima. Setelah beberapa hari tidak kembali, pemuda itu memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Alexander langsung membuka pintu menggunakan kunci cadangan. Baru saja masuk ke rumah, pintu kamar langsung terbuka. Tampak tiga wanita yang keluar sambil membawa pedang di tangan mereka.


Melihat orang yang menerobos masuk ke rumah adalah Alexander, mereka bertiga tampak lega.


“Tampaknya sekarang kalian benar-benar waspada,” ucap Alexander dengan senyum ramah di wajahnya.


“Anda sudah kembali Tuan!”


Aster buru-buru menghampiri Alexander dan berdiri di depan pemuda itu dengan ekspresi bersemangat.


Sebagai tanggapan, Alexander mengelus kepala wanita itu dengan lembut, membuatnya menyipitkan mata dengan ekspresi bahagia di wajahnya. Daisy juga segera menghampirinya, tetapi tidak terlalu terburu-buru. Wanita itu membungkuk sedikit ke arahnya lalu berbicara dengan lembut.


“Anda sudah bekerja sangat keras Tuan,” ucap Daisy.


Wanita itu kemudian menerima jubah Alexander lalu menggantungnya. Dia sekali lagi mengangguk lalu pergi ke dapur. Tak lama kemudian kembali sambil membawa secangkir air.


“Berhenti membuat masalah Aster, biarkan Tuan beristirahat terlebih dahulu.”


Mendengar ucapan sepupunya, Aster yang awalnya bersemangat langsung mengangguk patuh. Dia menggandeng Alexander dan memintanya duduk di kursi, kemudian Daisy memberi air kepada pemuda itu.


Setelah meminum secangkir air putih, Alexander menatap mereka lalu berkata, “Maaf mengganggu istirahat kalian.”


“Tidak. Anda sama sekali tidak mengganggu, Tuan. Benar kan Kak Daisy?” ucap Aster.


“Ya.” Daisy mengangguk. “Anda sama sekali tidak mengganggu.”


Setelah suasana menjadi sedikit lebih tenang, Aurora yang selama ini diam akhirnya angkat bicara.


“Kemana kamu pergi selama ini Alexander? Aku bertanya kepada Daisy dan Aster, tetapi mereka sama sekali tidak mengetahuinya. Kamu hanya meninggalkan pesan dan menghilang begitu saja.


Jika bukan karena cukup mengenalmu, aku pasti berpikir kamu sudah melarikan diri untuk menghindari masalah. Namun aku yakin kamu pasti memilih untuk tinggal. Lagipula, kamu tidak akan melepaskan kesempatan begitu besar.


Kamu adalah jenis orang yang tidak takut menghadapi masalah asalkan keuntungan sebanding dengan resikonya.”


Ucapan dingin Aurora membuat sudut bibir Alexander terangkat. Pemuda itu kemudian berkata, “Terima kasih atas pujianmu, tetapi aku tidak sebaik yang kamu pikirkan.”

__ADS_1


“...”


Aurora hanya diam. Wanita itu berjalan mendekat lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Alexander. Kemudian dia menatap ke arah pemuda itu sambil menunggu penjelasan.


“Aku tidak bisa bilang kemana aku pergi. Yang jelas, aku sedang melakukan pengintaian. Dalam beberapa hari terakhir, aku menemukan beberapa berita yang mungkin membuatmu tertarik,” ucap Alexander.


Aurora mengerutkan kening ketika mendengar perkataan Alexander. Melihat senyum main-main di wajah dingin pemuda itu, dia tidak bisa tidak mengerutkan kening. Setelah menarik napas dalam-dalam, wanita itu pun berkata, “Berhenti main-main dan katakan padaku berita apa yang telah kamu dapatkan.”


“Apakah itu cara seseorang meminta tolong?” Alexander memiringkan kepalanya.


Aurora ingin marah karena merasa terhina. Dia ingin mengutuk, tetapi hanya bisa menggigit bibirnya dengan ekspresi kesal. Pada akhirnya, wanita itu pun berkata, “Aku mohon.”


“Bisa kamu ulangi? Aku benar-benar tidak mendnegarnya,” balas Alexander datar.


“ALEXANDER!” ucap Aurora sambil menggertakkan gigi dan memelototi pemuda di depannya.


Melihat ekspresi suram Aurora, Alexander mengangkat bahu dengan ekspresi datar di wajahnya.


“Kalian berdua juga duduk.” Alexander meminta Daisy dan Aster duduk. “Ini adalah hal penting yang harus kalian ingat.”


Kedua wanita itu langsung mematuhi perintah Alexander. Mereka tahu kalau sekarang tuan mereka tidak lagi main-main. Itu berarti, apa yang akan dia ucapkan memang cukup serius.


Aku yakin berita ini akan segera menyebar lalu menghilang karena tidak ada kabar lanjutan. Meski begitu, aku harus meyakinkan kalian kalau berita ini nyata. Jadi kita semua harus melakukan persiapan matang.


Bukan hanya membeli pasokan makanan yang bisa saja menjadi langka, tetapi juga mengasah kemampuan kita sehingga bisa selamat ketika pertempuran besar terjadi.”


Mendengar penjelasan Alexander, Daisy dan Aster agak bingung.


“Anu, bolehkah saya bertanya Tuan?” tanya Aster.


“Katakan,” balas Alexander datar.


“Bukankah itu hanya misi dari pusat Tuan? Kenapa kekacauan bisa terjadi?” tanya Aster.


“Begini. Orang-orang yang ditugaskan oleh pemimpin tertinggi Guild Blood Cross ke perbatasan pasti ada hubungannya dengan perburuan atau pencarian bahan tertentu. Jika diiginkan oleh petinggi, itu berarti bahan yang diambil adalah bahan berharga.


Karena alasan yang tidak diketahui, bahan itu tidak langsung dibawa ke Shelter 1, tetapi dibawa ke Shelter 11 terlebih dahulu.


Tampaknya tidak ada masalah, tetapi bukan berarti memang tidak ada. Masalahnya, kalian berdua meremehkan keserakahan manusia.

__ADS_1


Jika bahan-bahan itu sangat berharga, pasti akan ada orang yang menginginkannya. Para anggota keluarga besar adalah anggota Blood Cross dan mengemban tugas khusus, berarti mereka akan ikut melindungi berbagai hal yang dikumpulkan itu. Namun, apakah semua orang di Shelter 11 akan diam? Tentu saja tidak.


Aku yakin kalau berbagai kelompok bebas yang tidak memiliki hubungan dengan Blood Cross akan memanfaatkan kesempatan ini. Mereka akan mencoba segala cara untuk mendapatkan barang-barang itu karena kemungkinan sangat berharga dan bisa membuat kekuatan mereka melonjak.


Setidaknya, itulah yang mereka yakini.”


Penjelasan Alexander membuat Daisy dan Aster terkejut.


Sementara itu, Aurora malah mengerutkan keningnya. Dia merasa jika yang dikatakan Alexander benar, pertempuran yang akan terjadi bukan hanya dalam skala satu atau dua kelompok menengah atau besar. Namun sebuah pertempuran sangat besar yang mempengaruhi masa depan Shelter 11 itu sendiri.


“Apakah itu berarti kita harus pergi meninggalkan Shelter 11 Al?” tanya Aurora.


“Kenapa?” tanya Alexander dengan ekspresi bingung.


“Apa yang akan datang benar-benar terlalu sulit untuk kita tanggung. Walau bukan pengungsi biasa, magang, atau hunter level 1 ... di level kita sekarang, masih sulit menanggung dampak pertarungan besar seperti itu.


Bisa jadi kita akan mati jika tetap tinggal di Shelter 11.”


“Kamu salah.” Alexander menggelengkan kepalanya.


“Apa maksudmu?” Aurora mengangkat kepalanya dengan ekspresi bingung sekaligus tidak puas.


“Bukankah ini adalah sebuah kesempatan?”


Melihat senyum di wajah Alexander, mata Aurora terbelalak. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh pemuda itu. Namun, wanita itu merasa kalau ide tersebut terlalu berbahaya.


“Kamu sudah gila, Alexander!” ucap Aurora dengan ekspresi tidak percaya.


“Aku sama sekali tidak gila.” Alexander menggelengkan kepalanya. “Idenya mungkin agak kasar, tetapi tidak bisa disangkal kalau itu adalah kesempatan, bukan?”


“Tapi-“


“Tidak ada kata ‘tapi’, Aurora. Jika kamu ingin membalas dendam dan mengakhiri kebencian itu, ini adalah momen yang sangat pas karena orang-orang itu akan meninggalkan Shelter 11.


Selama kita bisa bercampur dengan kelompok-kelompok yang melakukan penyergapan, bukan tidak mungkin untuk menghapus orang-orang itu dalam sekali gerakan. Namun, agar tidak ada kecelakaan yang terjadi, kita harus mempersiapkan diri.”


Ekspresi Alexander menjadi lebih berat dibandingkan sebelumnya.


“Kita akan mengasah senjata dengan baik. Pastikan benar-benar siap ketika waktunya tiba!”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2