After Apocalypse

After Apocalypse
BERISIK


__ADS_3

Tanpa terasa, satu minggu telah berlalu sejak pertemuan empat pemimpin.


Pada awalnya, pertemuan itu hanya dianggap sebagai pertemuan tiga ketua. Namun, kemampuan Alexander telah memenangkan pengakuan dari ketiga ketua.


Selain itu, orang-orang yang menjadi penjaga juga sangat menghormati Alexander. Bukan hanya karena memberi mereka perawatan baik seperti pekerjaan tetap, pakaian rapi, dan identitas. Namun karena pria itu juga mengajari mereka cukup banyak hal. Misalnya membuat tugas latihan harian, satu jam setelah bekerja, sebelum pulang untuk beristirahat.


Walau latihan tambahan satu jam sepertinya tidak banyak, tetapi hal tersebut menstabilkan fondasi mereka yang awalnya cukup goyah. Dengan level yang sudah cukup baik ditambah penguasaan lebih mendalam, kekuatan mereka meningkat. Setidaknya bisa mengalahkan rekan-rekan di level yang sama.


Bisa dibilang, orang-orang itu semakin mirip dengan ksatria yang sebenarnya.


Banyak orang yang menghargai Alexander, para bawahan juga menghormatinya. Namun, di antara seluruh pasukan penjaga, orang-orang dari Thorns Dragon adalah yang paling monghormatinya. Bahkan bersikap agak fanatik, membuatnya sesekali merasa agak tidak nyaman.


Hanya saja, dalam satu minggu ini, beberapa hal buruk terjadi dan membuat Grey Triangle Alliance merasa tidak nyaman.


Tepat dua hari setelah pertemuan empat pemimpin, para anggota keluarga yang berada di bawah panji Blood Cross mulai melakukan provokasi pada para hunter bebas. Awalnya orang-orang itu ingin membalas, dan menunggu tanggapan dari Grey Triangle Alliance. Namun, aliansi memilih untuk diam. Bahkan menarik bawahan mereka agar tidak melakukan tindakan yang mencolok.


Hanya saja, orang-orang dari berbagai keluarga berpikir kalau para hunter bebas adalah pengecut, jadi membuat lebih banyak masalah.


Melihat situasi semacam itu, banyak orang yang sebelumnya menghadiri pesta mulai mencari Tuan Lenka, Tuan Wilson, dan Sir Gareth agar membantu mereka menegakkan keadilan. Namun tanggapan yang ketiganya berikan benar-benar membuat banyak kelompok hunter bebas merasa kecewa karena aliansi benar-benar tidak ingin membuat masalah dengan para bangsawan itu.


Di lantai ketiga Grey Triangle Pavilion, dua orang berdiri di tempat terbuka sambil melihat pemandangan Shelter 1.


“Apakah kamu tetap yakin untuk berada di posisi netral setelah semua ini, Nak?”


Mendengar pertanyaan itu, Alexander menoleh ke arah Sir Gareth yang berdiri di sampingnya. Awalnya dia tidak tahu kenapa lelaki tua itu mencarinya. Pria itu berpikir kalau Sir Gareth akan menyalahkan dirinya, atau bahkan mengutuknya karena membuat keputusan semacam itu. Namun berbeda dari bayangannya, pria itu benar-benar memilih untuk mempercayai keputusannya. Hanya bertanya-tanya apakah dia telah yakin dengan keputusannya.


Alexander ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi. Tangannya terkepal erat, lalu perlahan-lahan kepalan mengendur. Baru kemudian pria itu berbicara dengan tenang.


“Aku bukanlah penyelamat yang bisa menolong semua orang, Sir Gareth. Bisa menolong Grey Triangle Alliance dan orang-orang yang berada di dalamnya sudah menjadi batasanku. Aku tidak bisa menolong semua bebas. Terlebih lagi, aku bukan orang baik.


Kamu tahu kan, aku adalah pembunuh kejam. Bahkan jika kamu berhasil menelusuri berita. Aku masih seorang pria kejam yang menjadi buronan karena membunuh banyak orang di Shelter 11. Aku ...


Bukan seorang pahlawan dalam dongeng yang bisa menyelamatkan dan membuat semua orang hidup bahagia.”


Mendengar ucapan Alexander, Sir Gareth tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Setelah beberapa saat, lelaki tua itu pun berkata, “Setidaknya jangan tunjukkan jejak penyesalan di matamu jika kamu memang sejahat itu.”


“...”


Alexander terkejut. Dia menoleh ke arah Sir Gareth, dan lelaki tua itu menatapnya dengan senyum lembut. Tampak seperti seorang penatua yang melihat juniornya.


“Mungkin kamu telah menemukan banyak informasi tentang kami bertiga. Hanya saja, mungkin ada beberapa detail kecil, masa lalu kami yang tidak kamu temukan.


Misalnya, Len dulunya adalah bocah miskin dan termasuk dalam kategori pengungsi yang bisa dikorbankan kapan saja. Omong-omong, dia jauh lebih muda dibandingkan denganku atau Wilson.


Untuk Wilson, kamu pasti tahu kalau dia adalah pedagang gelap yang keberadaannya mengancam para keluarga bangsawan. Sebenarnya dulunya dia adalah orang paling baik dibandingkan aku yang munafik atau Len yang mata duitan. Hanya saja, istri dan putrinya terbunuh oleh keluarga bangsawan. Itu sebabnya dia sangat membenci mereka ... bahkan ingin menghancurkan mereka.


Sedangkan aku sendiri hanyalah lelaki tua yang gagal. Dulu aku adalah ksatria dari Keluarga Chivelm, orang biasa yang diundang oleh melayani keluarga itu. Aku menyukai putri dari keluarga itu, dan tampaknya dia juga menyukaiku. Hanya saja, aku sadar diri.

__ADS_1


Meski begitu, ada sesuatu yang aku sesali. Jika saja dulu aku melarikan diri dengannya, aku pasti tidak akan seperti ini. Andai saja aku menyadari pergi sendiri adalah keegoisan yang menyakitinya, membuatnya menerima nasib sebagai menantu keluarga besar dan akhirnya bunuh diri ... aku pasti memilih untuk mengaku padanya lalu melarikan diri dengannya.”


Mendengar cerita dari Sir Gareth yang menceritakan masa lalu ketiga ketua, Alexander terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka kalau mereka memiliki kisah seperti itu. Hanya saja, Alexander juga bingung karena ...


“Apakah itu ada hubungannya denganku?” tanya Alexander.


“Tidak.” Sir Gareth menggelengkan kepalanya. “Anggap saja hanya lelaki tua yang sedang bercerita.”


“...” Alexander bingung harus mengatakan apa.


“Hey, V? Menurutmu, apakah Len, Wilson, dan aku adalah orang yang sangat dihormati hunter bebas?” tanya Sir Gareth.


“Bukankah memang begitu?” ucap Alexander.


“Memang.” Sir Gareth terkekeh. “Namun mereka semua tidak tahu apa yang kita alami sehingga bisa sampai di sini. Sama seperti dirimu. Masa lalu yang pahit bisa membuat orang lebih kuat dan berjuang lebih keras. Namun, masa lalu adalah masa lalu.”


“Maksud anda?” Alexander tampak bingung.


“Daripada bingung ketika memilikirkan masa lalu yang membuatmu ragu akan identitasmu sendiri, lebih baik kamu memikirkan masa sekarang dan masa depan. Bukan apa yang telah kamu lakukan dan sesali ...”


Sir Gareth melihat tepat ke mata Alexander. Namun, bagi pria itu, tampaknya lelaki tua tersebut langsung melihat ke dalam jiwanya.


“Tetapi apa yang ingin dan coba kamu lakukan sekarang untuk membangun masa depan yang kamu inginkan.”


***


Alexander duduk dalam ruangannya di lantai tiga Grey Triangle Pavilion. Dia terus mengingat apa yang Sir Gareth katakan sebelumnya. Melihat langit penuh bintang, dia pun menghela napas panjang.


“Dasar lelaki tua suka ikut campur. Bukankah ucapanmu membuatku semakin bimbang?” gumamnya.


Tok! Tok! Tok!


Saat itu, pintu kamarnya diketuk. Mendengar ketukan pintu, Alexander mengerutkan kening. Lagipula, selain para ketua, tidak ada yang diizinkan naik kecuali ada situasi bahaya. Pria itu kemudian mengenakan topeng dan membuka pintu. Ketika melihat Cale yang tampak terburu-buru, dia menjadi agak bingung.


“Apakah ada yang salah, Cale?” tanya Alexander.


“Crimson Hornet telah diserang, Komandan! Banyak ksatria yang datang, apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Cale cemas.


Crimson Hornet adalah kelompok yang dipimpin seorang pria bernama Percy, sosok yang membeli senjata buatan Alexander. Dia adalah pria yang cerdas. Ketika ada masalah, orang itu langsung memimpin pasukannya menarik diri. Bahkan ketika melihat Alexander membangun Grey Triangle Pavilion, dia membangun markas tidak jauh dari lokasi.


Bisa dibilang ... serangan itu terjadi di dekat Grey Triangle Pavilion!


Ekspresi Alexander yang awalnya tampak tak acuh berangsur-angsur menjadi suram. Dia langsung berkata, “Kirim beberapa bawahanmu untuk memanggil dua tim keamanan lain. Sedangkan kamu segera minta Bolton menjaga Pavilion bersama separuh orang di shift ini. Sisanya termasuk kamu, ikuti aku!”


Beberapa saat kemudian, mereka semua sampai ke tempat kejadian.


Di sana, tampak banyak orang berkerumun. Selain itu, ada juga banyak ksatria yang mengeliling markas Crimson Hornet.

__ADS_1


Melihat Alexander datang dengan para penjaga, salah satu ksatria berkata, “Mohon maaf, tempat ini ditutup karena ada misi darurat.”


“ENYAH!” ucap Alexander dingin.


Melihat mata Alexander, tanpa sadar ksatria itu mundur. Beberapa ksatria lain juga mundur, dan mulai membuka jalan bagi Alexander serta orang-orang yang mengikutinya.


Sampai di tengah, Alexander langsung melihat pemandangan menjijikkan. Tampak beberapa orang bangsawan yang menunjuk dan mengutuk sekumpulan orang. Orang-orang itu memiliki pakaian hunter bebas, tampak terluka tetapi masih berdiri mengelilingi Percy, ketua kelompok mereka.


Percy sendiri berlutut sambil memeluk seorang gadis kecil. Tubuhnya tampak penuh dengan luka karena melindungi gadis tersebut.


Alexander langsung berjalan mendekat, mengabaikan orang-orang yang menatapnya dengan ekspresi terkejut. Sampai di dekat kelompok Crimson Hornet, dia melihat ke arah Percy yang setengah terjaga, tetapi hampir kehilangan kesadarannya.


“Tidak apa-apa. Beristirahatlah ... serahkan sisanya padaku.”


Mendengar ucapan Alexander, Percy memejamkan matanya lalu tubuhnya roboh sambil memeluk gadis kecil itu.


Alexander melirik ke arah para penjaga lalu berkata, “Kirim mereka ke pavilion dan rawat mereka.”


“Baik, Komandan!” teriak para penjaga serempak.


Pada saat itu, salah satu bangsawan maju lalu berteriak dengan marah.


“TUNGGU! APA YANG KALIAN LAKUKAN? BERANINYA KALIAN MENGGANGGU URUSAN KAMI!”


Bukannya marah ketika mendengar itu, Alexander bangkit dan menoleh ke arah orang-orang yang bertanggung jawab.


“Oh? Lalu apa yang dilakukan oleh Crimson Hornet sehingga kalian menangkapnya?”


“MEREKA MELAKUKAN PELANGGARAN HUKUM!” teriak pria itu.


“Hukum apa? Apakah mereka mencuri? Apakah mereka membunuh? Atau melakukan apa?”


“MEREKA-“


“Menampar wajah bangsawan sepertimu? Itu melanggar hukum? Kamu menginginkan senjata Percy dan mencoba merampoknya itu tidak melanggar hukum? Kamu mencoba menangkap istrinya juga tidak melanggar?”


Alexander menyela ucapan pria itu sambil berjalan ke arahnya dengan kepala tertunduk. Semakin dia mendekat, semakin kuat tekanan yang orang-orang rasakan.


“A-Apa yang coba kamu lakukan? Aku ... aku adalah penerus Keluarga Croctus! Jika kamu melakukan sesuatu, Blood Cross tidak akan melepaskanmu! Kamu-“


BANG!


Alexander langsung mengayunkan tinjunya yang dilapisi energi telekinesis sangat kuat. Ketika menghantam tubuh lawan, orang itu benar-benar langsung diledakkan. Daging dan darah langsung memercik ke segala arah, membuat semua orang terdiam dan merasa ketakutan.


Saat itu, Alexander mengangkat wajahnya. Mata merah dengan pupil vertikal menatap semua orang dengan dingin. Saat itu juga, satu kata muncul dari mulutnya.


“BERISIK.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2