After Apocalypse

After Apocalypse
Tangis Kesedihan dan Kebencian


__ADS_3

“Tolong jangan bercanda!”


Pria paruh baya itu berkata dengan ekspresi serius di wajahnya. Tampaknya merasa agak marah karena Alexander mengatakan lelucon semacam itu di saat yang genting.


“Aku sama sekali tidak bercanda. Aku hanya memastikan. Apakah itu salah?” ucap Alexander dengan wajah polos.


“Itu ... itu sama sekali tidak salah.” Pria paruh baya itu menghela napas panjang.


Setelah beberapa saat diam. Tiba-tiba dia mengingat berita tentang Alexander sebelumnya. Meski tidak mau bergabung dengan Blood Cross, tampaknya pemuda itu mau menolong sesama. Jadi, dia langsung berkata dengan nada serius.


“Kamu harus membantu kami, Nak Alexander!”


Mendengar ucapan penuh semangat pria paruh baya itu, Alexander langsung tertegun di tempatnya.


“Maaf?” ucap pemuda itu dengan ekspresi bingung.


“Ya! Kamu pernah bilang tidak akan ragu jika ada misi dimana Shelter 13 membutuhkan. Sekarang ada misi darurat. Aku bisa bersaksi untukmu. Setelah kembali, kamu pasti akan mendapatkan pembayaran yang sesuai!” ucap pria paruh baya itu dengan ekspresi penuh harap.


Bukan hanya dia, tetapi orang-orang juga menjadi lebih bersemangat. Semua orang jelas mengetahui cerita-cerita soal Alexander. Dari seluruh anggota, mereka tahu seberapa ‘beruntung’ pemuda itu. Meski memiliki keterampilan, tetapi yang lebih terkenal bukanlah ilmu pedangnya, tetapi keberuntungannya.


Bisa mengikuti Aurora yang memiliki bakat. Ketika melakukan perburuan, sesekali dia membawa kembali tanaman atau buah yang cukup berharga.


“Tapi ...”


Alexander merasa ragu. Dia jelas berniat untuk mencari miracle root. Namun, pemuda itu juga ingat apa yang pernah dikatakannya. Jadi, sekarang dia merasa kalau ucapannya telah menjadi bumerang.


Jelas sekarang bukan waktunya untuk melakukan berbagai misi acak untuk meningkatkan popularitasnya. Dia ingin mencari miracle root karena waktunya sangat berharga. Semakin cepat mendapatkannya, semakin baik juga hasilnya!


Jadi ... sekarang Alexander merasa terjebak di jalan buntu. Melirik ke arah Aurora, dia bisa melihat kalau wanita itu pura-pura tidak tahu. Sama sekali tidak berniat membantunya keluar dari masalah ini.


Pada akhirnya, Alexander berkata dengan senyum masam di wajahnya.


“Baiklah. Aku akan mengikuti kalian. Namun aku tidak bisa menjadim kalau aku bisa membantu.”


“Tidak masalah!” balas pria paruh baya itu penuh dengan semangat.


Melihat ekspresi dimana pria paruh baya itu bertindak seolah takut dirinya akan menarik kembali kata-katanya membuat Alexander merasa agak lucu.


Tentu saja dia tahu seberapa tertekannya para penjaga selama bulan-bulan terakhir. Bukan hanya mengalami kemunduran karena gelombang binatang buas, tetapi juga karena serangan beberapa orang misterius yang mengakibatkan meninggalnya beberapa petinggi Shelter 13.


Pada akhirnya, Alexander dan Aurora pun mengikuti kelompok tersebut. Namun keduanya juga saling memandang. Ketika melakukan kontak mata, mereka diam-diam saling menyetujui kalau mereka berdua harus waspada. Meski mereka adalah prajurit dan memiliki reputasi baik di Shelter 13, tetapi alam liar adalah tempat yang jauh berbeda.


Jika tidak siap untuk memangsa, kemungkinan besar hasilnya adalah dimangsa.


Setelah perkenalan singkat sebelum mereka berdua menjadi bagian kelompok (sementara), orang-orang itu memperkenalkan diri. Pemimpin mereka, pria paruh baya itu bernama Rowan. Selain dia, Alexander fokus pada dua hunter level 2 lainnya, Liam dan Tavon.


Dikarenakan mereka bertemu di sore hari, kelompok tersebut tidak melanjutkan perjalanan terlalu jauh. Sama seperti yang dilakukan Alexander, Rowan yang berpengalaman juga memimpin pasukan dengan cara menghindari beberapa hal yang perlu dihindari tanpa harus melakukan pertarungan yang sia-sia.

__ADS_1


Usai beberapa jam berjalan, Rowan memutuskan agar mereka mendirikan tenda. Memilih untuk beristirahat karena hari sudah gelap. Dengan pencahayaan yang kurang, lebih baik menghindari beberapa kemungkinan bahaya.


Pada akhirnya, mentari pun tenggelam, dan sang malam menampakkan dirinya.


Saat itu juga, semua orang langsung menjadi waspada. Bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak terduga!


Melihat apa yang dilakukan oleh Rowan dan para bawahannya, Alexander tidak bisa tidak menggeleng ringan.


‘Tampaknya para petinggi mementingkan misi ini. Jika tidak, mereka tidak akan membawa lumut bercahaya sebagai alat penerangan. Lagipula, itu sulit dikembangkan dan berperan penting untuk menjernihkan racun dalam air.’


Setelah memikirkan baik-baik, Alexander akhirnya memutuskan untuk menyelidiki mereka lebih dalam sebelum memutuskan bagaimana harus menanganinya.


“Sepertinya kalian kurang beristirahat beberapa hari ini?” tanya Alexander ramah.


Mendengar ucapan Alexander, Rowan mengangguk dengan ekspresi sedih. Sementara itu, para bawahannya memasang ekspresi pahit di wajah mereka.


“Sebenarnya kami tidak tidur sejak berangkat dari Shelter 13. Kami hanya beristirahat sejenak untuk mengisi tenaga lalu melanjutkan pencarian. Seperti yang kalian ketahui ... waktu sangat berharga,” jawab Rowan.


Jawaban dari pria paruh baya itu membuat beberapa orang tidak puas. Mereka jelas membutuhkan istirahat agar bisa fokus, tetapi ketua kelompok menyuruh mereka tidak berhenti mencari.


Alexander mengamati wajah mereka. Setelah memperhatikan baik-baik, ekspresi lelah jelas tampak di wajah mereka. Kantung mata hitam, mata agak merah, penampilan mengantuk dan lelah ... apa yang awalnya dia kira akting ternyata adalah situasi yang benar.


Melihat itu membuat Alexander merasa sedikit lega. Kondisi pihak lain jelas kurang diuntungkan jika sampai pertempuran antara mereka terjadi. Meski begitu, pemuda itu masih mewaspadai mereka.


“Lalu, apakah kita akan melanjutkan pencarian atau istirahat malam ini?” tanya Alexander.


“Itu ...” Rowan tampak ingin melanjutkan, tetapi tidak mengatakannya ketika melihat orang-orang menatapnya dengan tidak puas. “Kita akan beristirahat malam ini. Besok fajar kita langsung melanjutkan perjalanan.”


Alexander mencari tempat istirahat bersama dengan Aurora. Berbeda dengan regu yang dibentuk oleh pasukan penjaga, keduanya tidak mendirikan tenda. Sebaliknya, mereka mencoba mencari tempat yang relatif aman untuk beristirahat.


Sedangkan alasan kenapa mereka memilih bersama, tentu karena keduanya mewaspadai regu yang dipimpin oleh Rowan.


“Tadi malam aku terjaga dan hampir tidak tidur dua hari, jadi aku istirahat duluan. Bangunkan aku setelah empat jam.”


Alexander bersandar pada bebatuan besar, menutup seluruh tubuhnya dengan jubah, lalu memejamkan mata sambil memeluk pedangnya.


Melihat Alexander yang memanfaatkan waktu untuk istirahat tanpa ragu membuat Aurora terpana. Wanita itu sampai bingung harus mengatakan apa. Pada akhirnya, dia hanya mendengus dingin dan mulai berjaga.


 


Fajar di hari berikutnya.


Baru saja menjari sedikit menunjukkan wajahnya, Rowan langsung membangunkan orang-orang dan meminta mereka semua berkemas. Meski banyak yang merasa puas, tetapi mereka tetap menurut.


Pada saar yang sama, Alexander membangunkan Aurora. Karena wanita itu berjaga lebih awal, jadi dia berjaga di paruh kedua malam.


Ketika membuka matanya, Aurora melihat Alexander menyiapkan segelas air dan beberapa makanan sederhana. Sembari menggigit potongan daging asap, pemuda itu bergumam, “Segera bersiap. Makan dan kembalikan fokusmu. Jangan sampai kelaparan dan mengantuk ketika kita melakukan misi pencarian.”

__ADS_1


“Aku akan melakukannya bahkan jika kamu tidak mengingatkan,” balas Aurora setelah meminum seteguk air.


“Siapkan pil penawar racun dan potion penambah stamina. Taruh di pinggang atau saku depan, pastikan mudah diambil. Aku merasa kalau misi ini tidak akan mudah,” gumam Alexander dengan mata menyempit.


Setelah menunggu beberapa saat, Alexander dan Aurora mengikuti regu yang dipimpin oleh Rowan. Tampaknya mereka langsung berangkat setelah mengemas tenda dan peralatan lainnya. Bahkan membuat orang-orang itu makan sambil berjalan, sama sekali tidak biasa dilakukan.


‘Terburu-buru? Meski ini memang misi penting, tetapi waktu harus dibagi dengan baik. Kenapa Rowan begitu terburu-buru?’


Alexander berpikir dengan penuh keraguan.


Sambil terus mengikuti barisan, Alexander mulai menanyakan beberapa pertanyaan kepada anggota dengan bisikan pelan yang hanya bisa mereka dengar. Setelah beberapa jam berjalan, pemuda akhirnya tahu alasan kenapa Rowan begitu memperhatikan Nona Mari.


Ternyata Nona Mari adalah putri dari saudara perempuan Rowan. Pada awalnya, pria itu sendiri memiliki keluarga, tetapi istri dan anak-anaknya tidak selamat dari musim dingin beberapa tahun silam ketika dia masih muda dan lemah. Mulai dari sana, Rowan tidak berani lagi membuat keluarga.


Bisa dibilang, pria itu menghabiskan waktunya untuk fokus pada karir. Jika lelah dan kesepian, dia akan menggunakan kekayaannya untuk menyewa jasa.


Saudari perempuan Rowan adalah istri dari salah satu petinggi, tetapi meninggal karena penyakit di usia Mari yang masih 4 tahun. Hubungannya dengan saudara ipar tidak panas atau dingin, cukup baik ... tetapi sebatas itu.


Jadi, bagi Rowan, sekarang Mari adalah satu-satunya anggota keluarga yang dia miliki. Bahkan pria itu anggap sebagai putrinya sendiri.


Mendengar itu hanya bisa membuat Alexander menghela napas panjang. Kehilangan keluarga, kekasih, dan orang-orang yang disayang adalah hal biasa di dunia kacau ini. Meski begitu, manusia masih memiliki hati dan perasaan. Jadi cukup wajar jika merasa sedih karena kehilangan.


Selain itu, banyak pertarungan di antara manusia dimana mereka saling membunuh karena alasan dendam. Hal semacam itu bisa dilihat dimana-mana, tetapi Alexander tidak begitu peduli. Orang lain memiliki urusan mereka, dan dia memiliki urusannya sendiri.


Ya ... hanya sebatas dan sesederhana itu.


Setelah melakukan perjalanan cukup lama, seluruh kelompok akhirnya tiba di area tepi lembah. Tampak tebing tinggi yang menjulang di depan mereka. Namun, apa yang membuat mereka memilih untuk datang adalah keberadaan gua yang cukup besar tetapi tidak begitu mencolok.


Saat itu, suara wanita yang sedih terdengar dari dalam gua.


“Hiks! Bagaimana ini? Mereka mati ... mereka semua mati!”


“Aku takut Jeff, aku benar-benar takut!”


“Bagaimana jika kita tidak bisa kembali? Bagaimana jika kita terjebak dan mati di tempat ini?”


“Jeff ... lukamu! Kamu ... tolong jangan bergerak! JANGAN MATI, JEFF!”


“TOLONG! TOLONG JANGAN MATI ... TOLONG JANGAN TINGGALKAN AKU SENDIRI!”


Mendengar itu, mata Rowan langsung merah. Dia langsung berlari ke arah gua dengan sekuat tenaga.


“TUNGGU DI SANA, MARI! PAMAN AKAN MENYELAMATKAN KALIAN!”


Melihat bagaimana Rowan berlari dengan begitu terburu-buru, para pengikutnya juga langsung berlari ke sana dengan penuh semangat.


Pada saat Aurora yang merasa kasihan juga hendak berlari masuk, Alexander tiba-tiba mencengkeram erat tangannya.

__ADS_1


Saat ini, ekspresi pemuda itu benar-benar terlihat sangat dingin.


>> Bersambung.


__ADS_2