After Apocalypse

After Apocalypse
Pesta Yang Ditunggu


__ADS_3

Perkataan Tuan Lenka membuat Alexander tertegun.


“Kamu benar-benar membuatku dalam masalah, Temanku. Bukankah itu agak berlebihan?” ucapnya sambil mengangkat bahu.


Melihat Alexander yang pura-pura tak berdaya, Tuan Lenka tertawa terbahak-bahak. Dia menghampiri pria itu lalu menepuk bahunya. Setelah itu, pria paruh baya tersebut memimpin Alexander sambil berkata, “Seperti yang kamu sarankan. Aku merubah satu rumah khusus untuk digunakan sebagai tempat pesta dan lelang.”


“Oh?”


Alexander sedikit terkejut. Dia tidak menyangka kalau Tuan Lenka benar-benar akan mengikuti sarannya sampai seperti itu.


Keduanya kemudian berjalan menuju sebuah rumah besar di samping markas utama Cursed Lambs. Selain markas utama, beberapa bangunan di sekitarnya memang milik Cursed Lambs. Lebih tepatnya, disewa Cursed Lambs dari Blood Cross.


Rumah yang dituju Alexander adalah bangunan dua lantai yang bisa dibilang ... ukurannya sangat luas. Beberapa hal di sekitar dibersihkan. Di halaman depan, tampak beberapa meja dan kursi. Bisa digunakan untuk duduk santai sambil berbicang anggota Cursed Lambs atau para tamu.


Ketika masuk ke dalam rumah, Alexander langsung terkejut melihat beberapa ruangan yang dindingnya dihancurkan. Membuat sebuah ruangan besar yang mirip aula luas dimana banyak kursi tertata rapi, bahkan ada panggung. Tempat ini jelas akan digunakan untuk lelang barang.


“Selain satu bangunan untuk lelang, ada tiga bangunan lain untuk pesta. Seperti yang kamu katakan, satu bangunan untuk menjamu para pemimpin kelompok. Satu bangunan untuk orang-orang yang datang dengan tamu tersebut. Sedangkan bangunan terakhir digunakan untuk para penjaga sehingga bisa beristirahat. Membuat mereka bisa beralih shift jaga untuk terus memastikan keamanan,” ucap Tuan Lenka dengan ekspresi bangga di wajahnya.


“...” Alexander terkejut, tetapi tidak terlihat karena topeng yang menutupi wajahnya.


“Bagaimana menurutmu? Apakah ini sudah memuaskan?” tanya Tuan Lenka.


“Memuaskan. Tentu saja memuaskan.” Alexander menggelengkan kepalanya. “Aku bahkan tidak mengira kamu bisa membuatnya menjadi sebaik ini.”


“Hahahaha! Kalau begitu aku bisa lega. Omong-omong ... aku menginvestasikan banyak dana Cursed Lambs untuk ini,” ucap Tuan Lenka santai.


Meski terdengar santai, Alexander jelas mengerti apa yang dimaksud oleh pria paruh baya tersebut. Dia pun membalas, “Tenang saja Temanku. Aku bisa meyakinkanmu kalau semua usahamu tidak akan sia-sia. Bahkan membuatmu mendapatkan banyak keuntungan.”

__ADS_1


Jawaban Alexander jelas membuat Tuan Lenka tampak senang. Namun pria paruh baya tersebut segera menggelengkan kepalanya sembari berkata, “Aku tidak masalah jika keuntungannya sedikit, bahkan jika imbang (tidak untung atau rugi). Hanya saja, kamu harus mengingat alasanku melakukan ini kan, V?”


“Tentu saja aku tidak akan melupakannya. Yakinlah ...” Alexander menatap tepat ke mata Tuan Lenka. “Para ‘bangsawan’ itu pasti akan terkejut. Tidak menyangka kamu bisa melakukan hal seperti itu.”


“Hahahaha!”


Tuan Lenka tertawa terbahak-bahak. Dia menepuk punggung Alexander dengan keras. Meski tidak mengatakan apapun, ekspresinya telah menggambarkan perasaannya. Walau tidak mengenal Alexander terlalu lama, pria paruh baya itu jelas merasa senang dan cukup puas bertemu ‘teman’ yang benar-benar mengerti dirinya.


Puas tertawa, Tuan Lenka menatap Alexander dan berkata dengan seringai di wajahnya.


“Kalau begitu aku akan memegang kata-kata baikmu, Temanku.”


***


Tanggal 15, bulan 5, tahun 401 Kalender Bulan Hitam.


Tanpa terasa, waktu kembali berlalu begitu saja. Dalam waktu ini, Alexander dan kelompoknya mengalami banyak perkembangan. Lebih tepatnya ... lima wanita lainnya karena mereka telah meminum sebotol ramuan lainnya. Sementara Alexander sendiri masih sama, belum menemukan bahan ramuan evolusi level 4.


Petang menjelang malam.


Di dalam kamarnya, Alexander bersiap. Kali ini dia akan menggunakan identitas V. Hanya saja, pria itu tidak berpaikaian seperti biasa karena dia akan menghadiri pesta.


Alexander mengenakan pakaian layaknya bangsawan kuno dengan atasan berwarna merah darah dihiasi garis dan ornamen berwarna emas. Dia mengenakan celana dan sepatu bot kulit berwarna hitam. Pria itu juga mengenakan sarung tangan hitam. Sedangkan untuk topeng, dia tidak mamakai topeng hitamnya, tetapi topeng perak dengan satu lubang di mata kiri.


Untuk sentuhan akhir, tampak pedang indah yang menggantung di sisi kiri dan kanan pinggang Alexander.


Hanya saja, dia tetap menggunakan jubah hitam untuk menutupi semuanya. Membuatnya lebih mudah berkamuflase, datang dan pergi dengan nyaman. Tentu saja, dia akan melepas jubahnya di pesta tersebut agar terlihat lebih formal.

__ADS_1


Setelah mempersiapkan semuanya, Alexander pun berangkat. Pergi ke pesta yang diadakan Cursed Lambs untuk para hunter bebas kelas atas di Shelter 1. Untuk menunjukkan kepada bangsawan kalau mereka (hunter bebas) tidak serendah yang orang-orang itu bayangkan.


Sekitar pukul setengah delapan malam, sosok V akhirnya tiba di depan markas Cursed Lambs.


Di sana, Alexander melepas jubahnya lalu membawanya di tangan kirinya. Banyak orang tampak terkejut ketika melihat kedatangannya. Penampilannya yang tidak biasa tetapi membawa kesan elegan membuatnya semakin menonjol. Pria itu dengan santai mengeluarkan surat undangan dan menyerahkannya kepada penjaga pintu.


“Biarkan saya memeriksanya sejenak, Pak!” ucap penjaga tersebut dengan hormat.


Setelah beberapa saat memeriksa, penjaga tersebut melihat nama V memang tertera jelas dalam daftar tamu. Meski terkejut, pria itu langsung menenangkan diri. Dia sama sekali tidak menyangka kalau orang di depannya adalah V yang sangat dihargai oleh pemimpinnya.


“Maaf membuat anda menunggu. Nama anda memang ada, dan mengikuti pengaturan Ketua ... tolong ikuti saya Pak. Saya akan mengantar anda menemui ketua,” ucap si penjaga.


“Baik,” balas Alexander ringan.


Alexander kemudian mengikuti sosok penjaga tersebut. Memasuki bangunan tersebut, dia langsung disambut dengan pemandangan mengagumkan. Berbeda dengan rumah bangsawan atau semacamnya, tempat itu tampak agak biasa. Namun sama sekali tidak berantakan.


Cukup banyak orang yang datang, membuat Alexander mulai berpikir kalau idenya ternyata cukup baik. Melebihi perkiraannya sendiri.


Dibandingkan dengan pakaian formal Alexander, pakaian orang-orang itu tidak kalah baik. Jika dari bentuk, pakaian pria itu sebenarnya tampak lebih biasa karena ...


Kebanyakan tamu yang datang memakai pakaian tempur terbaik mereka. Jadi daripada pesta untuk makan dan minum, suasananya malah lebih mirip dengan perkumpulan para mercenary. Banyak dari mereka memakai armor, ada yang menutupi tubuh dengan jubah seperti assassin. Bahkan ada yang memakai full-plate armor!


Melihat penampilan tersebut, Alexander tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.


‘Aku benar-benar hampir lupa kalau mereka tidak mendapatkan pendidikan etiket atau semacamnya. Setidaknya mereka hadir dengan penampilan terbaik mereka kan? Seharusnya ...’


Sudut bibir Alexander berkedut.

__ADS_1


‘Ini tidak seburuk itu ... kan?’


>> Bersambung.


__ADS_2