
“Terima kasih sudah menyetujui permintaanku, Al!”
Aurora tampak gembira. Wanita itu langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher Alexander. Namun, segera melepaskannya karena tindakannya agak terlalu intim.
Aurora kemudian segera melepaskan diri dari pelukan Alexander. Dia kemudian berdiri di depan pemuda itu dengan senyum tulus di wajahnya.
“Untuk apa terlalu senang? Bahkan jika aku membantu, bukan berarti tingkat keberhasilan mencapai 100%.” Alexander berkata dengan nada datar.
“Jangan membuat komentar pesimis seperti itu,” balas Aurora tidak puas.
“Lebih baik kita berhati-hati dan bersikap realistis. Selain itu, kenapa kamu memilihku? Dengan harga yang sama, kamu bisa menyewa kelompok besar kan?” tanya Alexander.
“Tentu saja ada alasannya.
Pertama, mereka belum tentu bisa dipercaya.
Kedua, mereka bisa saja berkhianat di akhir dan berbalik menyerang dengan kejam.
Ketiga, mereka adalah organisasi besar dan tidak cocok untuk misi seperti ini. Jika mereka melakukan serangan pada keluarga besar seperti itu, Blood Cross tidak akan tinggal diam.
Terakhir, dalam segi kerahasiaan, kamu lebih baik daripada mereka.”
Mendengar itu, Alexander mengangguk ringan. Dia menopang dagu lalu berkata dengan nada datar.
“Itu berarti, sebenarnya aku tidak memiliki banyak keunggulan dibandingkan mereka. Namun mereka memiliki banyak celah, jadi kamu memilih metode yang lebih aman.”
“Itu ... Maksudku ...” Aurora agak gugup.
“Tidak apa-apa. Begitulah kenyataannya. Aku memang belum sebanding dengan kelompok besar semacam itu. Itu adalah pilihan realistis, jadi kamu tidak perlu merasa gugup atau bersalah.” Alexander tampak tak acuh.
Aurora menghela napas panjang. Pada awalnya, dia berpikir Alexander akan marah karena ucapannya. Hal tersebut membuatnya khawatir. Lagipula, pemuda itu sulit diajak bicara apalagi berkompromi ketika sedang marah.
“Apakah kamu tidak marah?” tanya Aurora ragu.
“Tidak. Kenapa aku harus marah?” Alexander memiringkan kepalanya.
“Baiklah.” Aurora tersenyum. “Karena sudah tidak ada yang dibicarakan, maka aku akan kembali. Ini sudah sangat larut, kurang beberapa jam sebelum fajar.”
“Tunggu.”
“Apakah ada yang lain?” tanya Aurora dengan ekspresi bingung.
“Tinggal di sini malam ini,” ucap Alexander datar.
Aurora terkejut. Wanita itu terdiam di tempatnya beberapa saat. Baru kemudian dia mengangguk dengan rona merah di pipinya.
---
Keesokan paginya, di salah satu kediaman indah lingkaran satu yang aman.
Melissa yang mengenakan gaun sederhana tetapi bersih dan rapi berjalan dengan tenang menuju ke meja makan. Di sana terdapat beberapa roti, daging asap, buah, dan jus.
__ADS_1
Wanita itu duduk di kursinya lalu mulai menyantap makanannya dalam diam. Berbeda dengan ekspresi polos dan ceria yang biasanya dia tampilkan, sekarang ekspresinya tampak begitu tak acuh.
Sama seperti sebagian besar hunter di dunia ini, Melissa juga memiliki sikap dingin dan keegoisan tersendiri.
‘Orang-orang itu semakin merajalela. Benar-benar menyebalkan.’
Melissa mengerutkan kening saat memikirkan beberapa saudara-saudarinya. Dia sendiri tidak begitu membenci mereka, tetapi juga tidak terlalu menyukai mereka. Namun, sikap mereka yang memusuhinya secara terang-terangan membuatnya merasa tidak senang.
‘Apakah mendekati hunter bebas itu pilihan yang salah? Mungkinkah orang-orang itu (hunter bebas) meremehkanku karena aku perempuan?’
Memikirkan fakta dimana cukup banyak hunter bebas yang mendukung dua saudaranya membuat Melissa semakin tidak puas. Meski sedang makan cukup banyak makanan yang tidak bisa dimakan orang lain, wanita itu merasa tidak berselera. Namun tetap menghabiskan makanannya karena tahu hal itu tidak boleh disia-siakan.
Setelah menyelesaikan sarapannya, wanita itu tiba-tiba memanggil dengan keras.
“Paman Jacob!”
Beberapa saat kemudian, seorang pria kekar berjalan memasuki ruangan. Tubuhnya hampir setinggi dua meter, tubuhnya seperti binaragawan, dan memakai topeng yang menutupi kepalanya seperti pegulat.
Berbeda dengan topeng aneh di wajahnya dan tubuhnya yang penuh otot, Jacob sendiri memakai pakaian yang formal dan rapi. Benar-benar terlihat kontras dengan bentuk tubuhnya.
“Apakah anda memanggil saya, Nona Melissa?” tanya Jacob.
“Semakin hari Rei dan Juan menjadi semakin menyebalkan. Mereka mulai bertingkah seolah mereka adalah kepala keluarga. Kedua bocah itu membuat mataku sakit. Apakah kamu memiliki ide untuk menangani mereka, Paman Jacob?” tanya Melissa dengan datar.
Wanita itu bersandar pada kursinya dengan sikap tak acuh. Melihat penampilannya dimana tidak perlu menutup-nutupi sifat aslinya jelas menunjukkan kalau dirinya mempercayai pria paruh baya itu. Bukan hanya sebagai pelayan, tetapi juga tangan kanannya.
“Menurut saya, ide anda sudah sangat bagus Nona. Hanya saja, masyarakat masih memiliki pemikiran kuno. Mereka masih bersikap patriaki, berpikir dimana laki-laki lebih baik daripada perempuan. Walau banyak perempuan yang telah menjadi hunter kuat seperti Nyonya Besar, tetapi itu masih minoritas.” Jacob berkata dengan nada lembut, tidak sesuai dengan penampilannya yang garang.
“Tidak. Tampaknya mereka tidak terlalu mempedulikan pria itu. Namun, jika boleh tahu, kenapa anda begitu peduli dengannya, Nona Melissa? Dia jelas bukan dari keluarga besar. Selain itu, meski bakatnya lumayan, sulit mencapai ketinggian baru jika menjadi hunter bebas seperti itu.” Jacob tampak bingung. Dia sama sekali tidak mengerti pemikiran Melissa.
Mendengar perkataan Jacob, suasana menjadi hening. Melissa menutup matanya. Wanita itu mengingat pria konyol yang tanpa sengaja menyelamatkannya. Meski tidak memiliki latar belakang baik dan sikapnya agak sembrono, tetapi dia tahu kalau orang itu memiliki hati yang baik.
Setelah menahan diri agar tidak tersenyum, Melissa pun berkata.
“Itu bukan urusanmu, Paman Jacob.”
---
Satu minggu kemudian.
Di sebuah gang gelap lingkaran lima, seorang pria memakai jubah hijau tua berjalan dengan goyah. Dia memakai topeng agak aneh dan selalu melihat ke kiri dan kanan dengan ekspresi waspada.
“Orang-orang terkutuk itu!” gumam pria tersebut dengan suara serak.
Dia terus berjalan, tampaknya ingin pergi ke tempat hiburan untuk merubah suasana hatinya yang gelap. Baru saja melewati gang gelap dan hampir sampai di tempat banyak rumah hiburan berada, pria itu tertegun.
Tidak jauh dari sana, tampak dua orang wanita yang sangat cantik. Tubuhnya sama sekali tidak kurus, bahkan tampak sangat sehat. Melihat kalung besi di leher mereka, mata pria itu berbinar.
Di tempat ini, banyak orang yang membuka rumah hiburan dengan budak sebagai pelayannya.
“Wanita cantik, kenapa kalian tampak kebingungan? Apakah terpisah dari tuan kalian?”
__ADS_1
“Ini ...” Wanita itu tampak gugup. “T-Tuan kami membuka tempat hiburan baru. Kami diminta keluar untuk mencari pelanggan, tetapi kami tidak tahu cara melakukannya.”
Melihat tampilan polos wanita tersebut, pria itu menjilat bibirnya. Melihat dua wanita yang hampir mirip tetapi usianya cukup berbeda, dia yakin kalau mereka berdua adalah dua saudara perempuan.
“Di mana tempat itu? Kamu bisa mengantarku ke sana. Mungkin aku bisa menjadi pelanggan tetap.”
“Benarkah, Pak?” tanya wanita yang lebih muda dengan mata berbinar.
“Tentu saja itu benar!”
Pria itu berjalan mendekat dan hendak meraih wanita tersebut, tetapi uluran tangannya dihindari.
“Maaf Pak, Tuan kami meminta kami untuk waspada. Di tempat seperti ini rawan penculikan, jadi kami tidak tahu apakah pihak lain adalah pelanggan atau tidak,” ucap wanita itu.
Wanita itu itu mengangguk, lalu bergumam pelan. “Apakah orang itu benar-benar mampu membayarnya, Saudari? Tuan berkata kalau tempat kita hanya diperuntukkan bagi orang-orang kaya dan kuat.”
Mendengar gumaman wanita tersebut, pria itu langsung marah.
“Siapa yang kalian pandang rendah?! Aku berasal dari keluarga petinggi Shelter 11, bagaimana mungkin bisa tidak memiliki uang!” teriak pria itu sambil mengeluarkan kantong besar lalu mengguncangnya.
Wanita itu langsung membungkuk dan berkata, “Maafkan kekasaran kami.”
“Hmph!” Pria itu mendengus dingin. “Bawa aku ke tempatmu bekerja. Aku ingin melihat siapa yang berani meragukan kekayaanku!”
“I-Itu ... Tolong ikuti kami, Pak!”
Kedua wanita cantik itu kemudian membimbing pria itu menuju ke gang yang lebih sempit. Masih berada di area hiburan, tetapi tempatnya ada di pinggiran yang sepi dan agak gelap.
“Bagaimana bisa kalian membawaku ke tempat ini? Apakah kalian mencoba menipuku?”
Menyadari ada yang salah, pria itu langsung berteriak dengan ekspresi tidak puas. Dia menatap ke arah kedua wanita itu. Merasa kalau mereka memang hanya wanita biasa, pria itu menjadi bingung. Namun, saat itu tiba-tiba dia merasa kedingingan.
Jleb!
Belum sempat merespon, sebuah belati panjang menembus leher dari kanan ke kiri. Menembus daging dan merusak tenggorokannya.
Pria itu langsung merespon dengan mencabut pedang dan mengayunkannya. Namun, dia sama sekali tidak bisa melihat siapa-siapa. Pria itu langsung mengeluarkan belati yang menancap lalu membuangnya ke samping.
Merasa kalau pandangannya mulai kabur, pria itu sadar kalau dia telah diracuni. Dia kemudian melihat sosok yang menyerangnya. Sosok pria berjubah hitam dan bertopeng hitam yang menunjukkan satu mata merah.
Sosok misterius itu duduk berdiri tidak lebih dari dua meter di depannya. Seperti hantu yang tiba-tiba muncul begitu saja, sama sekali tidak terdeteksi.
“Kamu ... siapa kamu? Siapa yang memerintahmu? Berapa harganya? Katakan padaku, dan aku akan membayarmu lebih!”
Pria itu hampir roboh dan tidak memiliki energi untuk melawan. Sebelum pandangannya menjadi gelap, dia mendengarkan suara yang tidak diketahui apakah itu laki-laki atau perempuan.
“Maafkan aku. Ini bukan masalah harga ... tetapi profesionalitas.”
Setelah mendengarkan kata-akat tersebut, kesadarannya benar-benar menghilang.
>> Bersambung.
__ADS_1