
Satu minggu kemudian.
Di salah satu rumah paling indah di Distrik 4, tampak Melissa yang mondar-mandir dengan ekspresi khawatir di wajahnya. Wanita itu menggigit ibu jarinya, tampak gelisan dan cukup tertekan.
“Kenapa? Kenapa semuanya malah menjadi seperti ini?” gumam Melissa.
Wanita itu merasa tertekan karena semua tidak berjalan sesuai dengan rencana.
Pada awalnya, Melissa sama sekali tidak berniat untuk ikut campur dengan urusan Shelter 1. Namun, rencananya menjadi berantakan. Menurut rencananya, wanita itu harus melaporkan masalah yang terjadi di Shelter 11. Setelah itu, dia akan menerima surat resmi tentang apa yang harus dilakukan berikutnya. Akhirnya, langsung kembali ke Shelter 11 dan mengambil kursi kepala keluarga. Menggantikan ibunya yang sibuk mengurus Shelter 11 setelah diangkat.
Hanya saja, semua melenceng menjauh dari rencananya. Surat yang harusnya dia kirim tidak bisa dikirim secara langsung karena pusat Shelter 1 sekarang menjadi tempat tertutup karena alasan yang tidak diketahui. Awalnya wanita itu menduga tidak akan tertunda lama, tetapi malah tertunda sangat lama.
Melissa sendiri ingin protes. Namun, niat semacam itu dia urungkan karena bukan hanya dirinya, tetapi ada beberapa perwakilan dari shelter tingkat menengah yang juga datang untuk melapor. Tampaknya mereka juga kehilangan ketua, beberapa bahkan hampir dimusnahkan secara merata.
Tidak bisa maju atau mundur, Melissa hanya bisa menggigit bibirnya, bertahan di tempatnya dengan ekspesi tertekan. Bahkan harus menanggung berbagai tanggung jawab yang awalnya tidak harus dilakukan, misalnya membantu melawan gelombang binatang buas tempat perlindungan ini.
Tanpa sepengetahuan Melissa, Claude bersandar pada dinding di luar ruangan kecil itu. Dia menatap langit-langit dengan ekspresi dingin di wajahnya.
‘Jika terus seperti ini, maka penundaan akan memakan waktu terlalu lama. Apa yang harus aku lakukan sekarang?’
Memikirkan berbagai cara yang tidak masuk akal, Claude menggelengkan kepalanya. Pada akhirnya, pria itu bergumam pelan dengan suara yang hanya bisa didengarnya.
“Berdiam diri di sini bukanlah solusi. Aku harus keluar dan mencoba mendapatkan informasi yang berguna. Setidaknya, itu lebih baik daripada diam dan menerima semuanya begitu saja.”
Selesai membuat keputusan, Claude pergi ke ruangannya sendiri lalu berganti pakaian menjadi pakaian hunter yang dulu sering dia kenakan. Kemudian, barulah pria itu meninggalkan rumah, pergi ke Distrik 3 untuk mencari informasi.
Sesampainya di sana, Claude pun mulai berjalan-jalan di sekitar. Usai berkeliling beberapa saat, dia tiba-tiba mendapatkan informasi yang cukup menarik, bahkan jika tidak terlalu berguna.
Tidak jauh darinya, Claude melihat sebuah toko. Ukurannya tergolong kecil, hanya satu lantai. Namun, tempat itu berada di tempat yang terbilang cukup strategis karena masih berada di area pusat Distrik 3. Di depan toko, terlihat nama ‘Vermillion Shop’ yang tertulis dengan sangat indah.
Di toko tersebut, Claude melihat banyak orang yang datang dan pergi, khususnya para petualang pemula dan hunter tingkat rendah. Hal tersebut membuatnya tidak bisa tidak heran.
‘Toko yang dianggap ajaib karena sangat ramai dan menjadi populer hanya setelah satu minggu pembukaan, kah?’
Claude menggelengkan kepalanya.
“Sekarang bukan saatnya memikirkan hal semacam ini.”
Claude pun pergi. Ketika berjalan menjauh, dia bertemu dengan tiga sosok berjubah hitam yang berpapasan dengannya. Hanya saja, pria itu tidak sadar kalau mereka bertiga sempat melihat dan memperhatikannya sejenak.
__ADS_1
***
Sementara itu, di dalam Vermillion Shop.
Selain tiga ruangan kecil di bagian belakang bangunan, tampak satu ruangan luas tepat di bagian depan bangunan tersebut. Tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk menaruh beberapa rak, dan pembatas.
Sebagai jaminan keamanan, Alexander sengaja membuat bagian depan pembatas kosong, dan di bagian belakang berisi rak dengan pajangan berbagai peralatan dan barisan botol potion. Pembeli hanya bisa menonton dari luar pembatas, antre untuk mengecek item atau membeli yang mereka suka.
Di bagian depan pembatas, ada beberapa kursi kayu panjang. Tempat orang bisa duduk ketika sedang mengantre setelah mengambil nomor.
“Anu! Bagi yang baru datang, silahkan ambil nomor terlebih dahulu. Tanpa nomor antrean, anda tidak akan dipanggil dan dilayani, jadi tolong jangan membuat kegaduhan. Silahkan mengambil nomor antrean lalu duduk,” ucap Nene yang sedang mengarahkan di bagian depan toko.
Meski toko itu kecil dan belum lama buka, tempat itu sangat ramai. Bisa dibilang, berbagai ramuan yang dijual di hari yang sama habis terjual. Tentu saja, itu karena Alexander tidak menjual dalam jumlah berlebihan. Tidak ingin terlalu mencolok dan dicurigai oleh orang-orang di atas.
Ada alasan lain kenapa toko itu ramai. Dari segi harga, potion, salep, dan beberapa bahan habis pakai lain memiliki harga lebih murah dan kualitas lebih baik daripada toko lain.
Ada juga orang yang sempat mencoba membeli peralatan. Meski prosesnya rumit, tetapi peralatan yang dijual memiliki harga standar, tetapi kualitas sangat baik. Cocok bagi para pemulia, bahkan beberapa veteran tetapi masih berada di level rendah.
“Tolong ambilkan aku 2 ramuan pemulihan (tingkat rendah),” ucap pelanggan A.
“Tolong ambilkan 1 ramuan pemulihan dan 1 ramuan penawar racun,” ucap pelanggan B.
“Aku pesan 1 ramuan pemulihan dan 1 botol salep penangkal racun (kecil),” ucap pelanggan C.
Satu per satu pelanggan mulai membeli. Jumlahnya pembelian per orang tidak banyak, tetapi seperti pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Jumlah pembeli banyak, jadi meski mereka hanya membeli sedikit, total yang terjual memang banyak.
Di belakang meja kasir, Jane melayani para pembeli dengan sabar. Tentu saja, dengan ekspresi datar seperti biasa.
Sementara itu, Alexander sibuk di ruang belakang. Sedangkan Aurora, Aster, dan Daisy pergi keluar. Bukan hanya untuk berlatih, tetapi juga menunjukkan kalau mereka memang hunter bebas. Alibi agar tidak dicurigai orang-orang.
“Maaf, untuk penjualan potion hari ini ditutup karena sudah habis,” ucap Jane dengan ekspresi tenang di wajahnya.
Mendengar ucapan Jane, banyak orang menghela napas panjang. Awalnya, sebagian dari mereka protes. Namun setelah mengetahui kalau ramuan itu dibuat oleh bos sendiri dan jumlah harian yang bisa dijual terbatas, mereka memilih untuk melepaskannya. Lagipula, jika sampai si bos merajuk dan tidak ingin membuat potion, mereka sendiri yang akan kerepotan.
“Sebelum semua tamu pergi, saya ingin menyampaikan kalau mulai besok stok potion yang dijual dikurangi separuhnya. Bos tidak menyangka kalau tokonya akan menjadi seramai sekarang. Kata beliau, demi menjaga kualitas, dia kewalahan dalam membuat banyak potion. Bahkan hampir tidak beristirahat setiap harinya.
Jadi mohon maaf atas ketidaknyamanannya, terima kasih sudah mendukung kami.”
Ucapan Jane kali ini membuat banyak orang terkejut. Jumlah sebelumnya terbilang sedikit, dikurangi separuh berarti menjadi lebih sedikit. Namun, setelah memikirkannya dengan baik, tampaknya itu masuk akal. Bahkan dengan bantuan beberapa pelayan, sulit untuk puluhan botol ramuan setiap harinya.
__ADS_1
Ya ... setidaknya itulah orang-orang itu pikirkan.
Pada saat semua orang pergi dan toko hendak ditutup, seorang pria masuk dengan membawa karung besar. Dia langsung meletakkan karung tersebut di depan meja kasir. Dari penampilannya saja, dia sama sekali tidak terlihat seperti orang baik.
“Panggil bosmu sekarang!” teriak pria itu.
Jane melirik ke arah karung dan melihat cukup banyak bahan ramuan. Dia langsung berkata, “Mohon maaf, Pak. Kami telah memiliki pemasok sendiri. Kami tidak menerima pembelian bahan-bahan pembuatan ramuan atau peralatan.”
“Panggil saja bosmu!” teriak pria itu sekali lagi.
“Apakah ada yang bisa saya bantu?”
Alexander, atau lebih dikenal sebagai Faust muncul dari ruang belakang. Melihat pria yang tampak garang itu, dia masih memiliki senyum ramah di wajahnya.
“Aku memiliki bahan di sini, buatkan potion dengan bahan-bahan ini! Aku akan mengambilnya besok!” teriak pria itu.
“Maaf, kami tidak memiliki layanan membuatkan potion secara pribadi,” kata Alexander dengan senyum ramah di wajahnya.
“Ini adalah perintah! Aku adalah utusan dari kelompok Mad Ox! Jika kamu tidak ingin mendapatkan masalah ...” Ekspresi pria itu tampak suram. “Lakukan saja dengan patuh!”
“Silahkan pergi,” ucap Alexander tanpa merubah ekspresinya.
“Kamu-“
“Silahkan angkat kaki dari tempat ini,” sela Alexander.
Pada saat pria itu hendak marah dan menyerang, tiga orang berjubah masuk ke dalam toko. Tentu saja mereka adalah Aurora dan kedua wanita lainnya. Melihat ke arah pria itu, Aurora langsung menyipitkan matanya.
Orang yang mengaku sebagai utusan dari Mad Ox hanyalah hunter puncak level 1. Dia langsung mengambil karung berisi bahan pembuatan ramuan lalu berjalan keluar. Pada saat berada di pintu, dia menoleh dan menunjuk ke arah Alexander.
“Mad Ox tidak akan melepaskanmu begitu saja! Ingat itu!”
Setelah berteriak, pria itu pun pergi.
Aurora melirik ke arah pria itu pergi lalu mengalihkan pandangannya pada Alexander.
“Apakah ada yang salah?”
Alexander masih berdiri di tempatnya dengan senyum ramah di wajahnya. Hanya saja, matanya tampak begitu tak acuh ketika berkata.
__ADS_1
“Bukan apa-apa. Hanya sampah biasa.”
>> Bersambung.