After Apocalypse

After Apocalypse
Misi Darurat


__ADS_3

“Apakah sekarang kalian menyesal?”


Melihat ekspresi ketakutan di wajah kedua wanita itu, Alexander sedikit mengangguk. Dia menganggapnya wajar. Keduanya baru saja diracuni, jadi akan menjadi lebih aneh jika mereka berdua tidak takut.


Daisy menggigit bagian bawah bibirnya. Meski merasa takut, dia memaksakan diri untuk tenang. Setelah menghela napas panjang, wanita itu duduk di lantai dan memandangi Alexander dengan ekspresi tegas di wajahnya.


“Apakah dengan begini anda mempercayai kami berdua, Tuan?” tanya Daisy.


Aster jelas lebih ketakutan, tetapi dia juga duduk dan menatap Alexander sambil menunggu jawaban.


Pada awalnya Alexander sedikit terkejut karena mereka berdua berusaha begitu keras untuk beradaptasi dengan segala kondisi. Ketika mengingat posisi mereka yang sangat terpojok dimana hanya mati kelaparan atau mati di tangan orang-orang yang mulai gila itu, dia akhirnya mengangguk.


‘Memang, setiap orang belajar lebih cepat ketika berhadapan dengan kematian.’


Alexander menghela napas panjang. Dia kemudian mengelus kepala kedua wanita itu dengan lembut. Pemuda itu sebenarnya tidak memiliki praktik yang bagus tentang hal semacam itu. Hanya saja, bergaul dengan Claude dan Clayton selama beberapa tahun membuatnya cukup mengerti, bahkan pemahamannya cukup dalam tentang hal-hal semacam itu.


“Kalian berdua melakukan pekerjaan bagus. Meski tidak sepenuhnya percaya, tetapi aku sudah cukup mempercayai kalian sekarang. Mulai besok, aku akan memberi kalian tugas.


Apakah kalian bisa menulis dan membaca?”


Mendengar pertanyaan itu, Daisy dan Aster menunduk malu. Sebagai pengungsi biasa, bisa dibilang mereka kurang berbudaya.


“S-Saya bisa membaca beberapa kata, Tuan. T-Tapi saya tidak bisa menulis,” ucap Daisy jujur.


“Saya tidak bisa keduanya, Tuan.” Aster menunduk malu.


Mendengar jawaban mereka, Alexander mengangguk ringan. Pemuda itu membantu keduanya berdiri lalu meminta mereka duduk di ranjang. Setelah itu dia mulai menjelaskan perlahan.


“Kalau begitu, mulai besok aku akan mengajari kalian membaca dan menulis. Selain itu, aku juga akan mengajari kalian cara menangani beberapa bahan. Meski tidak bisa menimbang dan mendata, tetapi kalian tetap harus bisa menangani berbagai macam bahan. Aku juga akan mengajari kalian beberapa trik pertahanan diri.


Jadi, mulai besok kalian akan memiliki banyak tugas. Selain bersih-bersih rumah, kalian harus belajar membaca, menulis, menangani bahan, dan berolahraga.


Aku juga memberi kalian beberapa larangan. Pertama, jangan menyentuh benda-benda dengan acak. Kedua, jangan masuk ruang penyimpanan makanan. Terakhir, dilarang keluar rumah kecuali dengan persetujuanku.


Apakah kalian mengerti?”


Meski terdengar cukup berat dan melelahkan, tetapi kehidupan itu pasti lebih baik daripada yang mereka alami sebelumnya. Daisy dan Aster saling memandang. Pandangan mereka mulai berkabut dan air mata mulai mengalir di wajah mereka.

__ADS_1


Melihat penampilan itu, Alexander mengerutkan kening.


“Apakah kalian menyesal sekarang? Jika kalian menyesal, itu sudah-“


“Tidak, Tuan! Kami sama sekali tidak menyesal. Kami merasa bahagia. Benar-benar bahagia,” ucap Daisy tulus sementara Aster terus mengangguk di sampingnya.


Kedua wanita itu merasa sangat senang dan bahagia karena merasa tidak menemukan tuan yang salah. Pekerjaan yang diminta Alexander mungkin terdengar berat, tetapi itu adalah sebuah berkah bagi mereka berdua. Entah itu menulis, membaca, menangangi bahan, dan bertarung adalah sebuah keterampilan. Bisa mendapatkan hal semacam itu saja sudah membuat mereka sangat senang.


Setidaknya, itu membuat mereka merasa lebih baik karena sedikit berbudaya dan tidak lagi merasa buruk karena dianggap hanya bisa mengandalkan tubuh dan wajah untuk terus hidup.


Melihat Daisy dan Aster yang tampak mengantuk dan kelelahan karena kacaunya Distrik 5 belakangan ini dan tegangnya situasi malam ini, Alexander langsung memberi perintah.


“Kalau begitu kalian tidur terlebih dahulu. Mulai besok kalian akan bekerja, jadi jangan sampai terlalu kelelahan dan mengacaukan pekerjaan kalian.”


“B-Bagaimana dengan anda, Tuan?” tanya Daisy dengan ragu.


“Lakukan saja perintahku tanpa banyak bertanya.”


Setelah mengatakan itu, Alexander pergi ke ruang penyimpanan makanan. Daisy dan Aster berpikir dia tidur sambil menjaga makanan. Padahal, pemuda itu pergi ke ruang bawah tanah lalu berbaring di kursi panjang. Pakai selimut hangat lalu tidur!


Meski merasa agak kesal karena urusan Daisy dan Aster, dia masih cukup senang karena akhirnya bisa beristirahat malam setelah dua bulan melakukan patroli di malam hari.


Setelah beberapa waktu, Alexander yang berbaring sambil memeluk pedang akhirnya tenggelam dalam mimpinya.


---


Keesokan paginya.


Membuka matanya, Alexander merasa seluruh tubuhnya menjadi begitu nyaman. Meski hanya tidur beberapa jam, pemuda itu merasa sangat puas. Dia langsung bangkit dan melipat selimut.


Setelah keluar dari ruang bawah tanah dan pergi ke ruangan utama, Alexander melihat Daisy dan Aster yang masih tidur lelap sambil berpelukan. Tampaknya mereka merasa begitu aman dan nyaman ketika tinggal di tempat ini.


‘Sungguh dua wanita yang tidak berdaya. Begitu banyak celah dan mudah mati kapan saja.’


Melihat bagaimana Daisy dan Aster tidur begitu pulas, Alexander langsung bisa melihat belasan cara mereka mati karena begitu tidak berdaya.


Pemuda itu kemudian mengambil tepung yang dibuat dari ubi kering. Dia menyalakan kompor, memanaskan air lalu bersiap membuat bubur daging dan teh herbal.

__ADS_1


Pada saat bahan mulai dimasak dan aroma mulai menyebar, kedua wanita itu membuka mata mereka perlahan. Suara perut keroncongan langsung terdengar. Jelas, itu terjadi karena sudah sangat kelaparan akhir-akhir ini.


“Minum air hangat lalu tunggu,” ucap Alexander datar.


Alexander meletakkan segelas air hangat di atas meja. Ya, hanya air hangat tanpa apa-apa. Meski begitu, keduanya tampak sangat bersyukur. Kedua wanita itu membagi segelas air hangat lalu menunggu dengan patuh.


Setelah beberapa saat, Alexander memberi mereka semangkuk bubur. Meski campuran daging tidak sebanyak milik pemuda itu, Daisy dan Aster terlihat sangat senang. Memegang semangkuk bubur kental dan tidak begitu cair itu membuat mereka ingin menangis.


Mengabaikan dua wanita yang belum terbiasa itu, Alexander menyantap sarapannya dengan tenang.


Selesai sarapan, Alexander menyuruh mereka membersihkan peralatan makan dan merapikan ruangan utama. Sementara itu, dia sendiri mempersiapkan catatan kecil untuk mulai mengajar mereka membaca.


DING! DING! DING!


Belum sempat menyelesaikan tulisannya, Alexander mendengar suara lonceng dari luar. Suara itu begitu meriah, karena tidak hanya di Distrik 4, tetapi lonceng dari distrik lain juga dibunyikan. Itu berarti, hanya ada satu alasan ...


Misi darurat!


Memikirkan itu, Alexander langsung menghentikan tindakannya. Pemuda itu segera mengambil peralatannya lalu memakainya. Karena terburu-buru, dia hampir melupakan Daisy dan Aster.


Alexander menatap ke arah mereka berdua lalu memberi perintah.


“Untuk hari ini, kalian tidak perlu melakukan apa-apa. Istirahat saja! Namun aku akan mengingatkan kalian, jangan keluar dari rumah.”


Setelah mengatakan itu, Alexander langsung keluar dari rumah dan mengunci pintu. Pemuda tersebut langsung berlari menuju ke alun-alun dimana banyak hunter telah berkumpul.


Saat itu, Alexander melihat Aurora yang terlihat kelelahan sepulang menyelesaikan tugas. Wanita itu juga melihat kedatangannya. Hanya saja, alih-alih menyambut dengan ramah, dia berkata dengan nada penuh sarkasme.


“Melihat bagaimana kamu ‘diremajakan’, tampaknya kamu bersenang-senang sampai puas tadi malam, Tuan Pembohong.”


Mendengar itu, Alexander merasa Aurora menusuk tempat sakitnya. Ketika mengingat apa yang terjadi tadi malam, apa yang dia pikirkan bukanlah mendapatkan Daisy dan Aster. Sebaliknya, pemuda itu mengingat bagaimana dia kehilangan bahan senilai satu ramuan evolusi tingkat 2 yang sekarang cukup mahal baginya.


Ditambah keharusan untuk menyiapkan ramuan bagi Daisy dan Aster setiap bulannya, Alexander merasa kalau kekayaan yang dikumpulkannya menjadi semakin menipis.


Rasanya benar-benar menyakitkan!


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2