After Apocalypse

After Apocalypse
Keberuntungan Pemula?


__ADS_3

Sekitar dua jam kemudian.


Aurora menatap ke arah Alexander dengan ekspresi penasaran. Meski belum sepenuhnya sembuh, tetapi lukanya telah membaik. Selain itu, stamina juga telah kembali. Meski begitu, dia tidak ingin bertindak ceroboh dan berakhir tragis.


“Siapa kamu sebenarnya? Seseorang dengan keterampilan sepertimu seharusnya bukan orang tanpa nama. Entah itu kemampuan bertarung, pengetahuan tentang tanaman dan binatang, bahkan keterampilan membuat kerajinan,” ucap Aurora tanpa menyembunyikan rasa penasarannya.


“Sudah kubilang, namaku Alexander.”


“Tidak. Bukan itu maksudku.” Aurora menggelengkan kepalanya.


“Aku hanya pejalan kaki biasa. Sama sekali bukan orang spesial.” Alexander mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu ada masalah apa denganmu. Namun, aku pikir sebaiknya kamu tidak terlalu meremehkan orang biasa karena banyak ahli yang bersembunyi di antara mereka.”


“Aku-“


“Tidak peduli dari mana kamu berasal, sekarang kamu hanyalah orang biasa yang mencoba membuktikan diri. Jadi buanglah tempramen ‘wanita kaya’ atau semacamnya ketika berada di depanku. Itu benar-benar membuat mataku sakit.” Alexander menyela dengan suara datar.


Jangan lihat betapa elegan dan dingin gaya yang Aurora miliki. Meski banyak orang menganggap sikap semacam itu menarik, di mata Alexander, sikap semacam itu terlihat seperti perempuan kaya dan manja yang sama sekali tidak bisa diandalkan. Benar-benar bukan tipe kesukaannya.


“Hmph!” Aurora mendengus dingin, tidak menyetujui atau menyangkal ucapan Alexander.


Setelah itu, wanita tersebut memperhatikan Alexander dengan saksama. Berbeda dengan ekspresi ramah ketika mereka bertemu pertama kali, pemuda itu memiliki ekspresi datar di wajahnya. Meski tampak kosong, entah bagaimana, dia langsung berpikir kalau itulah ‘wajah asli’ Alexander.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Aurora.


“Bekerja.” Alexander berkata datar tanpa menoleh. “Lukamu sudah membaik, jadi kamu juga harus ikut membantu.”


“Apa yang ingin kamu lakukan?”


“Ambil daging burung pipit dan buah-buahan. Selain itu, ambil juga beberapa tanaman berharga yang ada di sekitar. Tentu saja, kita mengambil secukupnya.


Meski ada banyak bagian tubuh burung pipit raksasa, kita akan mengambil tujuh yang terakhir aku bunuh. Untuk berry merah dan hitam, ambil satu tas besar dan tas kecil. Sedangkan ramuan, ambil beberapa yang paling berguna dan tidak memakan tempat.”


Mendengar penjelasan Alexander, Aurora mengerutkan kening. Dia tidak bisa tidak bertanya, “Bagaimana dengan sisa tubuh burung pipit raksasa lainnya?”


“Biarkan menjadi pupuk atau dimakan monster lain,” jawab Alexander.


“Bukankah itu sia-sia?” tanya Aurora ragu.

__ADS_1


“Seharusnya kamu pintar, tetapi juga bodoh dalam beberapa titik. Jika harus membawa semuanya, bagaimana kita bisa membawanya hanya dengan dua orang? Selain itu, apakah itu tidak akan membuat orang-orang curiga?


Kita akan mengambil secukupnya. Kita hanya perlu mengamankan barang-barang paling berharga. Sedangkan untuk makanan, kita bisa mengambilnya sedikit demi sedikit dalam jangka waktu panjang. Ini bisa menjadi penghasilan tetap untuk sementara waktu.”


Alexander menggelengkan kepalanya. Pemuda itu terlihat agak lelah karena harus menjelaskan semuanya kepada Aurora. Namun dia tetap memberitahu wanita tersebut karena itu sangat penting dan mempengaruhi perkembangan mereka ke depannya.


Jadi, Alexander kembali menjelaskan.


“Tujuh burung pipit raksasa, masing-masing 3,5 burung. Tiga untuk ditukar dengan poin kontribusi dan setengah untuk dikonsumsi dalam waktu satu minggu. Begitu juga dengan berry hitam dan merah, tas besar ditukar dengan poin dan tas kecil untuk dikonsumsi.


Sedangkan untuk ramuan berharga, kita tidak boleh menjualnya.”


“Karena jika jenis langka dan mahal akan menarik orang-orang lain, para veteran itu?” ucap Aurora dengan ekspresi serius.


“Bukan hanya veteran.” Alexander menggelengkan kepalanya. “Kita bisa saja diawasi dan ditargetkan oleh pengurus Shelter 13, bahkan pihak Blood Cross.”


“...” Aurora menghirup udara dingin.


“Mengungkapkan kekayaan tanpa kekuatan sama saja meminta kematian. Kita bisa membawa kembali beberapa benda normal yang bisa ditukar dengan poin kontribusi. Namun, syaratnya adalah benda itu tidak terlalu berharga.


Mendengar penjelasan Alexander, Aurora mengangguk. Dia kembali bertanya, “Bagaimana dengan sisa waktu? Apakah kita hanya berkumpul satu minggu sekali?”


“Dalam sekali perjalanan, perlu waktu dua sampai tiga hari. Jadi kita akan istirahat di Shelter 13 selama empat hari. Kamu bisa melakukan hal-hal yang kamu inginkan, tetapi harus datang ketika waktu berburu tiba,” ucap Alexander.


“Dimengerti.”


Melihat bagaimana Aurora cukup mudah diatur, Alexander mangangguk puas. Melihat ke tempat yang tidak terlalu luas tetapi begitu kaya ini, dia mengangkat sudut bibirnya.


“Kalau begitu waktunya untuk bekerja.”


---


Dua hari kemudian.


Dua orang berjalan berdampingan menuju gerbang Shelter 13. Tentu saja mereka berdua adalah Alexander dan Aurora. Hanya saja, wanita itu memiliki ekspresi skeptis di balik topengnya. Dia melirik ke arah pemuda di sampingnya lalu menggeleng ringan.


‘Pantas saja aku tertipu sebelumnya. Jika tidak mengetahuinya secara langsung, aku pikir dia adalah yang paling menderita.’

__ADS_1


Alexander berjalan tertatih. Seluruh pakaiannya tampak kotor, wajahnya kusam, jelas terlihat begitu tertekan. Bukan hanya karena lukanya, tetapi juga karena kejadian yang menimpanya. Atau setidaknya begitulah yang orang-orang pikirkan ketika melihatnya.


Sedangkan faktanya, Alexander hanya menggunakan tanah kotor sebagai make up. Dia bahkan melukai dirinya sendiri agar terlihat realistis. Tentu saja, hanya luka yang terlihat mengerikan padahal dangkal dan tidak berbahaya.


Mereka berdua kembali dengan muatan penuh. Hanya saja, ekspresi mereka sama sekali tidak tampak bahagia.


“Kalian berdua?” tanya salah satu penjaga.


Mendengar itu, Alexander dan Aurora mengeluarkan kartu identitas mereka. Pada saat identitas itu diperiksa, Alexander tiba-tiba jatuh berlutut.


Pemuda itu mencengkeram perutnya sambil menutup mulutnya. Dia menatap ke arah gerbang dengan ekspresi tertekan sambil bergumam, “Mati ... mereka bilang akan minum bersama ketika kembali, tetapi ... tetapi mereka malah mati!”


Melihat ekspresi ‘kesakitan’ di wajah Alexander, para menjaga saling memandang lalu menggeleng ringan. Mereka menghela napas panjang, tampaknya mengerti apa yang pemuda itu rasakan.


Kapten penjaga menghampiri Alexander lalu menepuk pundaknya.


“Sabar, Nak. Mungkin itu menyakitkan, tetapi itu juga membuatmu semakin kuat. Daripada cacat dan sekarat, mungkin mati bisa dianggap kebebasan bagi mereka.” Pria paruh baya itu tersenyum lembut, sedikit melankolis.


Alexander tidak mengatakan apa-apa. Dia semakin menunduk sambil menutupi wajahnya.


Melihat itu, kapten penjaga menatap ke arah Aurora sembari berkata, “Ajak rekanmu kembali. Dia mungkin membutuhkan beberapa waktu untuk pulih. Juga, jangan sampai lupa. Kamu bisa membawa banyak hal kembali karena bantuan rekan-rekanmu yang gugur. Kalian juga harus hidup untuk mereka.”


“...”


Aurora kehilangan kata-kata, tetapi akhirnya mengangguk dalam diam. Menurut para penjaga, mereka berdua adalah korban. Pemula yang berhasil selamat karena bantuan rekan-rekannya. Bisa dibilang, dua orang yang mendapatkan keberuntungan pemula.


Sedangkan Aurora sendiri tahu apa yang sebenarnya terjadi.


‘Menangis sedih karena kematian rekan satu timnya? Omong kosong apa!’


‘Pemuda itu adalah orang licik yang menghilang lalu datang belakangan untuk mendapatkan last hit!’


‘Aku bahkan heran bagaimana dia bisa begitu tidak tahu malu untuk berakting seperti itu?’


Sambil menepuk pundak Alexander dan menghibur teman yang ‘berduka’ tersebut, Aurora pergi melewati gerbang. Benar-benar kembali ke Shelter 13 dengan aman.


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2