
Tidak menyenangkan.
Itu adalah dua kata yang menggambarkan situasi Distrik 5. Entah kepadatan orangnya, bangunan bobrok, jalanan sempit, kebersihan kurang, atau betapa kumuhnya tempat itu. Jika orang biasanya tinggal di tempat lebih nyaman, mereka tidak akan betah berada di sana.
Melihat tiga bawahannya, Alexander menggelengkan sedikit mengangguk. Jelas, tidak seperti beberapa hunter yang beruntung lahir di keluarga baik, mereka mulai dari bawah sendirian seperti dirinya.
“Tidak apa-apa. Kalian tidak perlu cemas. Seharusnya tidak akan ada yang mencoba membuat kekacauan di tempat seperti ini. Selain itu, kalian tidak perlu heran. Aku hanya sedikit lebih beruntung daripada kalian.
Omong-omong, selama kalian tekun, berhati-hati, dan tidak menyerah ... seharusnya bukan masalah untuk menjadi hunter.”
Sembari membawa lenteran dengan tangan kirinya, Alexander berkata dengan senyum lembut di wajahnya. Mendengar ucapannya, ketiga orang itu mengangguk penuh semangat. Meski mereka adalah yang paling lemah di regu, tetapi mereka merasa cukup beruntung.
Dibandingkan bergabung dengan tim Aurora atau Seamus yang dingin dan kurang ramah, ketua tim seperti Alexander lebih cocok untuk mereka.
‘Sungguh, yang memiliki ide ini cukup keterlaluan. Menggunakan hunter sebagai tentara bayaran tidak masalah, tetapi membuat mereka berjaga 24 jam itu terlalu berlebihan. Untung saja tidak hujan salju, jika hujan ...
Itu akan menyebalkan dan merepotkan.’
Alexander menghela napas panjang dan mengeluh dalam hatinya. Sembari terus berkeliling, suara wanita tiba-tiba terdengar dari kejauhan.
“TIDAK! JANGAN LAKUKAN ITU!”
“KUMOHON ... TIDAK!”
Mendengar jeritan itu, Alexander memandang tiga bawahannya lalu mengangguk ringan.
“Kita akan memeriksanya.”
Setelah mengatakan itu, Alexander memimpin dua bawahannya pergi ke sumber suara.
Hanya dalam beberapa napas, mereka sampai di lokasi. Di sana, pemandangan yang terlihat tidak menyenangkan terlihat di mata mereka berempat.
Di rumah begitu sempit, ada empat atau lima orang yang menjatuhkan seorang wanita. Mereka memegangi tangan dan kakinya. Untuk apa yang akan mereka lakukan, penampilan buas mereka sudah menjadi penjelasannya.
Bukan hanya lima orang itu, tetapi masih ada delapan orang di luar gubuk kecil itu.
Pada saat melihat sinar lentera, mereka semua menghentikan gerakan mereka. Melihat Alexander dan tiga bawahannya, mereka langsung berteriak.
“Siapa kalian?! Apa yang kalian lakukan di sini?”
“Ya! Jangan membuat masalah, Nak! Pergilah!”
“...”
Mendengar teriakan orang-orang itu, Alexander tampak santai. Dengan senyum ramah di wajahnya, pemuda itu memberi perintah.
“Jatuhkan mereka.”
Pada saat mendengar perintah Alexander, tiga magang hunter yang geram langsung maju.
Seperti dugaan, pihak musuh sama sekali tidak bisa melawan. Bisa dibayangkan, magang hunter yang telah minum ramuan evolusi memiliki fisik lebih kuat. Selain itu, mereka juga makan lebih banyak. Pihak lain adalah orang-orang yang bahkan kekurangan makanan, tanpa fisik yang kuat dan tanpa tenaga, bagaimana mereka bisa melawan?
BRUAK!
__ADS_1
Pada saat itu, salah satu bawahan Alexander yang baru mengonsumsi 3 ramuan tiba-tiba terdorong mundur.
Alexander melihat ke dalam ruangan. Ternyata satu dari lima orang itu adalah magang hunter yang setidaknya telah meminum 5 atau 6 ramuan.
“Berani-beraninya kalian membuat kekacauan di sini! Jika kalian berani mendekat, aku akan membunuh wanita ini!”
Pria itu mencekik wanita dengan tangan kiri dan mengarahkan pisau ke lehernya.
Melihat tindakan itu, ekspresi tiga bawahan Alexander menjadi jelek. Sementara itu, pemuda tersebut berjalan masu dengan santai.
“Bunuh saja,” ucap Alexander.
“K-Kamu!”
Melihat ancamannya tidak berguna, ekspresi orang itu menjadi lebih gugup. Melihat 12 orang lain telah dijatuhkan, dia merasakan perasaan campur aduk. Di satu sisi, merasa marah. Di sisi lain, dia juga merasa takut.
“Aku tahu kalian merasa putus asa karena takut tidak bisa melewati musim dingin ini dan mati kelaparan. Namun, aku tetap tidak bisa membiarkan kalian melanggar peraturan dan membuat kekacauan. Lagipula, sekarang ini juga tugasku.”
Alexander mengangkat bahu. Seperti yang dikatakan pemuda tersebut, orang-orang itu memang putus asa. Jadi sebelum mati, mereka memaksakan diri untuk melanggar peraturan. Bahkan mati, setidaknya telah melakukan sesuatu yang menyenangkan.
Biasanya, transaksi jasa dimana satu pihak membayar dan pihak lain memberi kesenangan diperbolehkan. Meski begitu, pemaksaan dilarang karena hal semacam itu akan membuat orang-orang memikirkan hal yang sama dan akhirnya berujung kekacauan.
Meski pikiran orang-orang itu bengkok, Alexander masih agak bersyukur. Karena dibandingkan ‘bersenang-senang’, ada pikiran yang lebih buruk.
Untuk bertahan hidup dan melewati masa sulit ...
Bunuh manusia lain dan memakannya!
Pada saat pria itu sedikit lengah, Alexander telah meraih pergelangan tangan kanannya lalu meremasnya dengan kuat. Bersamaan dengan suara ‘crack!’, pisau di tangan pria itu jatuh ke lantai.
“ARGH!”
Mendengar teriakan pria itu, Alexander mendorong wanita yang terlepas dari cengkeraman ke samping. Setelah itu dia menendang pria itu keluar dari gubuk.
Pada saat jatuh ke jalan, pria itu meraung marah.
“Ini sama sekali bukan salahku! Ini salah para petinggi terkutuk itu!”
Dia menunjuk ke arah Alexander dengan panik.
“Kamu seharusnya tahu! Mereka menyimpan banyak makanan dan membiarkan orang kecil mati! Mereka menyembunyikan berita dengan sengaja!
Jika mereka tidak melakukannya, aku tidak akan repot-repot memikirkan hal semacam ini. Aku jelas tidak ditakdirkan mati di sini! Aku akan menjadi hunter resmi, hidup nyaman dan keluar dari tempat busuk ini!”
Mendengar raungan penuh kesedihan dan kemarahan itu, Alexander memiringkan kepalanya.
“Memangnya apa hubungannya denganku?” tanya pemuda itu polos.
“KAMU-“
Belum sempat pria itu melarikan diri, Alexander kembali memukulnya sampai jatuh ke tanah. Pukulan itu tidak menggunakan seluruh kekuatannya, tetapi sudah meretakkan beberapa tulang rusuk pria itu.
“ARGH!” teriak pria itu.
__ADS_1
Alexander langsung menginjak kaki kiri pria itu, dipatahkan seperti tangan kanannya. Pemuda itu kemudian meraih kerah pria tersebut dan mengangkatnya.
“Siapa yang peduli dengan masa depanmu. Aku bahkan tidak mengenalmu,” ucap Alexander sambil memukul wajah pria itu.
Tidak berhenti di sana, pemuda itu terus memukul wajah lawannya sambil berkata.
“Jangan salahkan aku. Sama seperti dirimu yang ‘terpaksa’, aku juga dipaksa menjalankan tugas.
Kamu telah menjadi provokator dan hampir menyebabkan kekacauan, ini bisa berakibat buruk padaku.
Terlebih lagi, malam ini dingin. Ditugaskan di tempat berantakan seperti ini, suasana hatiku sedang tidak baik.
Kamu tidak menyalahkanku karena aku terpaksa kan? Bukankah begitu? Lagipula kita sama-sama terpaksa kan?”
Berbicara sambil terus memukul, Alexander mematahkan hidung pria itu. Bukan hanya itu, banyak gigi rontok dan darah mengalir. Tidak bisa melawan, pria itu hanya menatap ke arah Alexander yang tersenyum ramah kepadanya dengan mata penuh ketakutan.
Dari sinar lentera, pria itu melihat wajah tampan penuh dengan percikan darah. Melihat senyum ramah dimana pemuda itu terus berceloteh tanpa menghentikan pukulannya, satu pemikiran muncul dalam benaknya.
‘IBLIS! PRIA INI ADALAH IBLIS!’
BRUK!
Melihat pria yang kehilangan kesadarannya, Alexander menjatuhkannya ke tanah. Di bawah tatapan terkejut semua orang, dia mengambil sapu tangan lalu menyeka darah di wajah lalu tinjunya.
Setelah menyimpan kembali sapu tangannya, Alexander meregangkan otot-ototnya sambil berkata.
“Huh~ Suasana hatiku benar-benar menjadi lebih baik. Ini cukup melegakan!”
Mendengar ucapan Alexander, tiga bawahannya saling memandang dengan ekspresi terkejut dan ragu. Melihat apa yang pemuda itu lakukan, mereka tidak bisa tidak mulai mempertanyakan sesuatu dalam benak mereka.
‘Mengikuti kapten tim seperti ini ... apakah tidak apa-apa?’
Pada saat mereka memikirkan itu, wanita dalam gubuk tiba-tiba bersujud dan membenturkan kepalanya ke lantai dengan keras.
“Terima kasih atas bantuan kalian, Tuan-tuan!”
Mendengar itu, Alexander melambaikan tangan dengan santai. Dia berkata dengan nada ramah, sama sekali tidak terlihat seperti orang tanpa perasaan.
“Tenang saja, ini sudah tugas kami. Kita semua bukan orang suci, jadi aku tidak akan mencoba mengatakan kata-kata penghibur atau semacamnya. Kuharap kamu bisa melewati musim dingin ini dan hidup lebih baik.”
Bukannya Alexander tidak tahu. Dari gaya wanita itu, entah kecantikan atau penampilannya yang kasihan, jelas-jelas mencoba mencari simpati. Ditambah tidak mencoba menutupi tubuhnya meski sebagian pakaiannya sobek, wanita itu berusaha menggoda.
Banyak wanita yang berpikir bertemu pangeran mereka dan keluar dari neraka itu. Berhenti takut kelaparan, berhenti melakukan hal-hal kotor untuk sesuap makanan, dan berharap hidup lebih baik.
Hanya saja, itu adalah impian indah tetapi sulit menjadi kenyataan.
Mendengar ucapan Alexander, wanita itu mengangkat wajahnya dengan ekspresi tidak berdaya. Kulit putih agak kasar dan tubuh kurus memang tidak bisa menutupi kecantikannya. Rambut coklat bergelombang tergerai, dan sosoknya terlihat cukup menggoda.
Dari penampilannya, Alexander tahu bagaimana wanita itu bisa bertahan selama ini. Menghela napas panjang, dia mengeluh dalam hatinya.
‘Sering kali, manusia bahkan tidak lebih baik daripada binatang.’
>> Bersambung.
__ADS_1