After Apocalypse

After Apocalypse
Melissa dan Faust


__ADS_3

Di gang yang begitu gelap, Melissa terus berlari. Setelah berlari begitu lama, dia merasa agak bingung, bahkan berpikir kalau dirinya telah tersesat. Wanita itu mencoba untuk berpikir keras, tetapi merasa otaknya berubah menjadi lumpur.


Melissa tidak lagi bisa berpikir jernih. Merasakan tubuhnya memanas dan beberapa tempat menjadi tidak nyaman, dia sadar kalau dirinya sama sekali tidak diracuni. Lebih tepatnya, itu adalah jenis racun berbeda.


Wanita itu merasa kalau tubuhnya sangat tidak nyaman. Dia merasa sangat tertekan, bahkan menyesal karena tahu hal buruk pasti akan dilaluinya. Namun, sekarang dirinya benar-benar tidak lagi bisa menahan diri.


Melissa bersandar pada dinding, napasnya mulai naik-turun tak menentu. Dia berharap tidak ditemukan oleh orang lain. Namun wanita itu benar-benar merasa pasrah ketika melihat siluet yang berjalan dari sisi lain.


Sosok itu berjalan mendekatinya. Ketika dia berpikir kalau itu adalah Octavius atau anak buahnya, wajah familiar muncul di depannya. Wajah salah satu pria yang dia benci karena telah menolong orang yang menyakiti keluarganya.


‘Faust Vermillion!’


Melihat pria itu, Melissa merasa sangat tertekan, bahkan menyesal. Dalam rencananya, dia ingin menyelesaikan misi lalu kembali ke Shelter 11. Sambil memimpin keluarga, wanita itu berniat memperkuat dirinya sendiri dan Claude. Baru setelah mereka kuat dan mendapatkan pengakuan dari sang ibu, mereka akan menikah dan menjadi keluarga.


Melihat pria ‘jahat’ itu, Melissa merasa hancur. Wanita itu langsung berpikir kalau masa depannya telah rusak. Bahkan setelah melarikan diri dari Octavius, dia akan diseret dan bangun di ranjang pria lain yang dibencinya.


Melissa hanya bisa melihat pria itu, Faust Vermillion mengulurkan tangan untuk menangkapnya. Hanya saja, saat itu ...


Kesadarannya benar-benar menghilang dan digantikan kegelapan.


***


‘DINGIN!’


Itu adalah kalimat pertama yang muncul dalam benak Melissa ketika mendapatkan kembali kesadarannya. Ketika membuka matanya, wanita itu benar-benar tertegun.


Dalam bayangannya, dia akan bangun di atas ranjang berantakan dengan pria yang dibenci berbaring di sampingnya. Namun, apa yang wanita itu lihat sekarang benar-benar berbeda.


‘Air?’


Melissa melihat kalau hampir seluruh tubuhnya terendam air. Dia berada di tempat sempit yang berisi banyak air. Lebih tepatnya, sebuah tong besar untuk menampung air.


“Sudah bangun?”


Pertanyaan itu membuat Melissa tersadar dari lamunannya. Saat itu, dia melihat sosok Faust yang berdiri tidak jauh dari tong air. Pria itu sibuk menyeka wajahnya dengan kain, tampaknya sibuk membersihkan sesuatu yang dia anggap kotor.

__ADS_1


Melissa langsung melihat ke bawah. Menyadari kalau dia memakai semua pakaiannya, wanita itu menjadi semakin bingung. Beberapa kenangan singkat dan agak kabur tiba-tiba muncul dalam kepalanya.


Seorang pria datang menggendong dan berusaha menolongnya, tetapi dia malah melingkarkan tangannya ke leher orang itu. Jika hanya demikian, masih tidak masalah. Namun, wanita itu benar-benar menggosokkan tubuhnya ke pria tersebut, bahkan sambil menjilat dan memasang ekspresi memalukan di wajahnya.


Hanya saja ...


‘Apa-apaan dengan ekspresi itu? Kenapa kamu bertingkah seperti dijilat binatang liar yang kotor? Itu berlebihan!’


Melissa mengeluh dalam hati. Meski berterima kasih karena Faust menolongnya dan tidak melakukan hal buruk padanya, tetapi respon pria itu benar-benar sedikit mengguncang rasa percaya dirinya. Membuatnya merasa agak tertekan.


“Wajahmu masih merah, efeknya jelas tidak sepenuhnya hilang. Namun matamu lebih jernih, berarti kamu telah mendapatkan kembali kesadaranmu. Kalau begitu keluar dari sana. Jika tidak, bahkan hunter level 2 sepertimu bisa terkena demam. Lagipula imun tubuhmu sekarang sudah menurun,” ucap Faust dengan ekspresi datar di wajahnya.


“...”


Melissa hanya diam. Dia tidak keluar dari tong berisi air. Bukan karena tidak mau, tetapi tubuhnya masih terasa agak lemah. Namun wanita itu juga enggan meminta bantuan dari pria yang dibencinya.


“Oh! Baguslah kamu keluar!” Faust melambai pada sosok Jane yang keluar dari pintu belakang. “Tolong keluarkan wanita itu dari tong, Jane. Seret dia masuk ke toko, biarkan Nene membantunya berganti pakaian. Juga ... jangan lupa buang air di tong itu.”


Setelah mengatakan itu, Faust langsung masuk ke dalam toko tanpa menoleh ke belakang. Benar-benar meninggalkan Melissa yang terpana di tempanya. Bahkan sampai membuat wanita itu bertanya-tanya dalam hatinya.


***


Sekitar satu jam kemudian, di ruang tamu khusus Vermillion Shop.


Melissa menghela napas panjang. Sebelumnya dia bekerja lembur untuk mengatur pasukan baru dari aliansi Grey Triangle. Pria itu kemudian pergi ke toko, berencana menyamar menjadi Faust sebelum kembali ke rumah dan beristirahat. Namun, dia tidak menyangka kalau bertemu dengan Melissa dalam perjalanan kembali.


Melihat kondisi wanita itu dimana melakukan hal-hal yang bisa dibilang ... agak panas. Alexander tahu kalau Melissa sedang ‘diracuni’ oleh seseorang. Dia merasa agak lega ketika melihat wanita itu tidak bertemu dengan orang lain sebelumnya. Jika tidak, penampilannya pasti lebih berantakan.


Jujur saja, ketika melihat wanita seperti itu, Alexander juga cukup tergoda. Namun dia hanya bisa menghela napas panjang dan mengubur pemikiran bodoh itu dalam-dalam. Alasannya sederhana. Pertama, Alexander merasa kasihan pada Claude jika hal semacam itu terjadi pada Melissa. Kedua, dia merasa kalau hal-hal akan menjadi semakin merepotkan jika dia sampai bermalam dengan wanita itu.


Jadi ... anggap saja sedang memungut binatang liar terlantar.


Tok! Tok1 Tok!


Pintu diketuk, dan Alexander langsung berkata, “Masuk.”

__ADS_1


Setelah itu, pintu terbuka. Melissa dan Aurora memasuki ruangan. Sedangkan empat wanita lain tampaknya sibuk melakukan hal-hal lain. Alexander langsung meminta keduanya duduk. Setelah itu, barulah dia kembali mengajukan pertanyaan.


“Apa yang terjadi padamu?” tanya Alexander.


“Itu ...”


Melissa akhirnya bercerita dengan jujur. Bukan hanya telah menolongnya, Faust dan orang-orangnya juga membantunya dengan beberapa ramuan khusus. Jenis minuman hangat yang walau tidak menghilangkan semua efek negatif, tetapi membuat tubuhnya lebih nyaman dan otaknya lebih jernih.


Setelah mendengar cerita Melissa, Aurora langsung mendengus dingin sementara Alexander memasang ekspresi datar. Pria itu kemudian merangkul wanita yang duduk di sampingnya, membuatnya bersandar di dadanya agar sedikit lebih tenang.


Melihat bagaimana Faust begitu dekat dengan ‘istrinya’, Melissa akhirnya sadar kenapa orang itu bisa menahan diri ketika menghadapinya.


‘Mungkinkah ... meski dia bukan pria baik, tetapi tipe suami yang baik dan menyayangi istrinya?’


Jika Alexander mengetahui apa yang dipikirkan Melissa, pria itu pasti bertepuk tangan dan memujinya. Bahkan berterima kasih karena membuat akting mereka terlihat semakin baik seolah-olah keluarga yang sebenarnya.


“Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apakah kami perlu mengantarmu kembali ke rumahmu?” tanya Alexander.


Pertanyaan tersebut membuat Melissa tampak ragu. Dia merasa kembali bukanlah pilihan yang bijak karena Octavius mungkin mencoba melakukan hal-hal buruk karena rencana sebelumnya gagal. Saat itu, wanita tersebut tiba-tiba mengingat apa yang Claude katakan.


“Tolong izinkan aku tinggal di sini malam ini!” ucap Melissa.


“Kenapa? Itu merepotkan bagi kami. Kami tidak bisa mengizinkan orang asing-“


“Tolong! Hanya malam ini. Besok aku akan kembali ketika Nona Annie datang! Setelah masalah ini beres, aku akan membayar kalian lebih!” sela Melissa dengan ekspresi gugup.


Ekspresi Alexander berubah ketika mendengar nama orang yang begitu familiar. Memiliki senyum sangat ramah di wajah tampannya, pria itu pun kembali berbicara.


“Annie Rosewald? Apakah kamu mengenal orang itu? Bisakah kamu menceritakan semuanya? Lagipula ...”


Mata Alexander menyempit, melengkung seperti bulan sabit.


“Aku benar-benar penasaran dengan sosok wanita ‘baik’ dan luar biasa itu.”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2