
Tiga hari kemudian.
Hari ini Vermillion Shop kembali menerima tamu yang sangat spesial. Kedua tamu tersebut sudah pernah datang mengunjungi toko tersebut. Mereka berdua adalah Annie Rosewald dan pelayannya ... Mei.
“Selamat siang, Tuan Faust. Apakah kedatangan saya mengganggu anda?” tanya Annie dengan senyum ramah di wajahnya.
Melihat dua orang di depan pintu, sudut bibir Alexander berkedut. Dia menarik napas dalam-dalam, bahkan langsung mengeluh dalam hati.
‘Bukankah itu sudah jelas? Kenapa kamu masih bertanya? Tidak! Kenapa kamu masih datang ke sini?’
Walau menggerutu dalam hati, Alexander masih memasang senyum ramah di wajahnya. Dia kemudian menjawab dengan sopan, “Tentu saja tidak. Silahkan masuk, kita bisa berbicara di dalam.”
“Kalau begitu saya menerima tawaran anda, Tuan Faust.”
Setelah itu, mereka pun pergi ke ruang tamu.
Nene langsung menyajikan teh dan beberapa suguhan untuk tamu, kemudian keluar dari ruangan tersebut karena tidak ingin ikut campur dengan pembicaraan mereka. Lebih tepatnya takut mengganggu dan malah membuat celah bagi tuannya.
“Silahkan diminum,” ucap Alexander dengan enteng.
Annie mengangguk dengan senyum sopan di wajahnya. Dia kemudian minum teh yang telah disajikan. Caranya minum terlihat begitu alami, bahkan tidak terlihat curiga apakah Alexander memberi racun atau tidak dalam minuman tersebut.
“Senang bisa mengunjungi anda, Tuan Faust. Namun, sepertinya anda tidak berniat mengunjungi saya. Apakah anda melupakan janji anda untuk membantu saya?” tanya Annie tanpa merubah senyum di wajahnya.
“...”
Alexander diam sejenak. Pada saat itu, dia merasa agak kesal. Selain itu, sekarang dia juga mengerti bagaimana rasanya berhadapan dengan orang penipu menyebalkan yang selalu bersembunyi di balik topengnya. Ya ... mungkin perasaan yang dirasakan oleh banyak lawan sebelumnya.
“Bukannya saya tidak ingin berkunjung. Hanya saja, saya mendapatkan berita kalau kastel ditutup dan tidak menerima tamu, itulah kenapa saya memilih untuk tidak pergi menemui anda. Bukan karena tidak mau, tetapi karena tidak bisa,” balas Alexander.
__ADS_1
“Tapi anda tidak pernah mencoba berkunjung kan?” Senyum di wajah Annie semakin cerah.
“Itu ...” Alexander mengerutkan kening.
“Jadi benar. Anda sama sekali tidak datang mengunjungi kastel,” sela Annie.
“...” Alexander terdiam.
“Anda benar-benar membuat saya kecewa, Tuan Faust,” ucap Annie dengan ekspresi sedih di wajahnya.
Setelah mengatakan itu, Annie menatap Alexander. Melihat pria yang masih memasang senyum lembut seperti biasa, dia mengangguk ringan. Berhenti berpura-pura sedih, wanita itu memasang senyum ramah seperti sebelumnya.
“Kita berdua mirip, Tuan Faust. Karena memiliki kemiripan, saya harap kita berdua bisa akur,” ucap Annie.
“Mirip?” Alexander memiringkan kepalanya. Memasang ekspresi bingung di wajahnya.
“Lihat? Kita benar-benar sangat mirip. Selalu memakai topeng yang berbeda di depan orang-orang yang berbeda. Bahkan kita lupa siapa jati diri kita yang sebenarnya. Bukankah kita sangat mirip?” ucap Annie lembut, sama sekali tidak cocok dengan kata-kata yang dia ucapkan.
“Jadi begitu.” Annie mengangguk ringan.
“Nona Annie ...” panggil Alexander sambil menatap tepat ke mata wanita itu. “Apa yang anda butuhkan dari saya?”
“Saya hanya datang untuk memastikan. Menurut pemikiran saya, ada tiga kategori makhluk yang ada di sekitar saya. Mungkin anda tanpa sadar juga melakukan hal yang sama dengan saya.
Pertama tentu saja teman, kedua adalah musuh, dan terakhir adalah yang tidak perlu diperhatikan (diabaikan). Pada awalnya, saya berpikir kalau anda tidak akan bersinggungan dengan saya, jadi masuk kategori nomor tiga. Hanya saja, anda terlalu cerah dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Anda pasti akan muncul dalam kehidupan saya.
Oleh sebab itu, saya benar-benar penasaran. Apakah itu teman? Atau jangan-jangan musuh?”
Senyum lembut di wajah Annie menghilang. Mata merah yang awalnya cerah tampak redup dan suram. Berbeda dengan sosok bidadari dalam pikiran semua orang. Di mata Alexander, sekarang wanita itu tampak seperti boneka pucat tanpa sedikitpun emosi.
__ADS_1
Sepasang mata merah menatap langsung ke mata Alexander. Saat itu juga, suara wanita yang dingin, datar, dan tidak mengandung perasaan terdengar.
“Sebenarnya berada di kategori mana ... V?”
Melihat perubahan total di wajah Annie, pupil Alexander menyusut. Saat itu dia langsung mengerti kalimat yang pernah dikatakan oleh kakeknya. Semakin terang cahaya, semakin pekat pula bayangannya.
Jika Annie Rosewald yang dikenal orang-orang sebelumnya mirip dengan bidadari suci, menebarkan cahaya dan kebaikan kemanapun dia pergi. Maka yang muncul di depan Alexander sekarang adalah ... iblis.
Alexander menarik napas dalam-dalam. Pria itu kemudian menatap tepat ke mata Annie lalu menjawab.
“Itu tergantung pada dirimu sendiri ... Annie Rosewald.”
***
Sementara itu, di tempat lain.
Claude berjalan keluar dari Distrik 4, pergi menuju ke arah Distrik 3. Berbeda dengan penampilan energik biasanya, ekspresi pria itu tampak sedikit suram. Tidak hanya itu, tetapi dia juga tampak lebih kurus dibandingkan sebelumnya.
“Octavius ... dia benar-benar bukan orang yang baik,” gumam Claude dengan wajah muram.
Dalam beberapa waktu ini, Claude telah melihat niat Octavius dengan jelas. Tentu saja, sebagai orang yang cerdas, Melissa juga mengetahuinya. Namun sekarang mereka berada di sarang harimau, jadi Melissa tidak melakukan penolakan secara langsung. Sebaliknya, dia melakukan penolakan halus dan mencoba menjauhkan diri dari orang itu.
Meski begitu, Claude tahu kalau Octavius sama sekali tidak menyerah. Orang itu tampaknya menjadi semakin gigih. Bahkan dia (Claude) tahu kalau pria itu pasti akan merencanakan sesuatu yang buruk, jadi ingin bersiap dan mencegah sesuatu terjadi.
Sekarang Claude memulai rutinitas harian sama seperti sebelumnya. Dia akan datang dan berkeliling di area Distrik 3. Alasannya masih sama, untuk menemukan sosok yang bisa membantunya ... Annie Rosewald.
Untuk berhadapan dengan Octavius dan Keluarga Rubruzen di belakangnya, Claude hanya bisa mencari cara menghubungi Keluarga Rosewald yang lebih unggul. Bukan hanya untuk mengurus hal-hal yang bersangkutan dengan Shelter 11, tetapi juga membantu Melissa keluar dari masalah.
Claude berjalan dengan ekspresi lesu. Pada saat itu, dia berpapasan dengan dua sosok berjubah. Walau penampilan seperti itu memang umum, tetapi dia sepertinya melihat sesuatu yang cukup berbeda dan perasaan aneh ketika melewati keduanya. Pria itu langsung berbalik dan berkata lantang.
__ADS_1
“Tolong tunggu sebentar!”
>> Bersambung.