
“Juru bicara? Apa maksudmu?”
Mendengar ucapan Alexander, Gery tampak bingung. Jika dipikir-pikir, kemungkinan besar adalah tugas orang yang menjadi tangan kanan. Entah itu berbicara atau melakukan berbagai hal untuk pemuda tersebut.
Ketika memikirkan Samuel yang hanya magang hunter, Gery mengerutkan kening. Pria muda itu mungkin terlihat tampan dan cukup mencolok. Namun, di dalam kepala Gery ... Samuel masih hanya orang tidak dikenal. Sedangkan kekuatannya tidak perlu dibicarakan lagi.
Terlalu lemah untuk diperhitungkan.
Gery tidak tahu seberapa kuat V. Namun, dari hasil pengamatan dan informasi yang tersebar tentang gaya bertarungnya ... kemungkinan besar V adalah hunter level 2.
‘Untuk apa hunter level 2 yang memiliki keahlian membuat ramuan mencari magang hunter yang tidak terkenal? Mungkinkah Samuel memiliki sebuah rahasia? Harta rahasia atau hal-hal semacamnya?’
Otak Gery berpikir sangat cepat. Namun, pada akhirnya dia masih tidak bisa menemukan kepala dan ekor masalah tersebut. Rasanya terlalu acak dan membingungkan, jadi dia berharap bisa mendapatkan jawaban langsung dari mulut Alexander.
“Bukan apa-apa, Gery. Itu tidak lebih dari bisnis yang aku lakukan denganmu,” jawab Alexander santai.
“Tetap saja itu membuatku penasaran! Mungkinkah ada rahasia penting di dalamnya?” bisik Gery dengan ekspresi orang suka bergosip.
“Ini tidak begitu penting. Jika kamu ingin tahu, kamu bisa duduk sambil mendengarkan pembicaraan kami berdua. Omong-omong ... orang itu sudah datang.”
Mendengar ucapan Alexander, Gery menoleh. Sosok Samuel berjalan ke area agak dalam bar dengan ekspresi bingung di wajahnya. Meski begitu, tampaknya lukanya sudah membaik setelah tiga hari istirahat.
“Karena orang itu sudah datang, kita akan membicarakannya lain kali,” ucap Gery.
“Tidak ingin tinggal untuk mendengar percakapan kami?” tanya Alexander ramah.
“Jangan menghinaku, V. Aku mungkin seorang pecandu alkohol dan wanita, tetapi aku cukup profesional dalam bisnis. Aku masih memiliki etika bisnis,” ucap Gery dengan nada serius.
Gery, Grey Jackal itu bangkit dari kursinya. Dia melihat Samuel yang mendekat lalu menatapnya dari atas ke bawah dengan serius. Ketika tidak menemukan apa-apa, pria itu hanya bisa menghela napas lalu pergi menemui para wanita cantik untuk melupakan rasa penasarannya.
“Duduklah.”
Alexander mempersilahkan Samuel duduk. Dia sendiri tidak berdiri untuk menyapa, hanya menatap pria muda itu dengan tenang. Sama sekali tidak terburu-buru.
“Apakah kita akan membicarakan bisnis di sini? Di tempat ramai seperti ini?” tanya Samuel ragu.
“Ya. Memangnya kamu pikir kenapa bar menyiapkan tempat duduk di lokasi sudut sepi di antara semua keramaian ini?
Tentu saja karena bisa digunakan untuk membicarakan hal-hal lebih rahasia. Jadi tempat yang sepi dan tidak mencolok masih bisa menghasilkan uang bagi mereka.”
Mendengar ucapan Alexander, Samuel mengangguk. Apakah itu benar atau salah, pria itu tidak peduli. Apa yang dipedulikannya adalah alasan kenapa Alexander ingin mengundangnya melakukan bisnis.
Melihat Samuel hanya diam dan menunggu, Alexander pun membuka pembicaraan.
__ADS_1
“Aku dengar kamu berasal dari shelter tingkat rendah? Yang mana?”
“Apakah itu ada hubungannya dengan bisnis ini?” Samuel mengerutkan kening.
“Tidak sepenuhnya benar, tetapi bisa mempengaruinya.”
“Aku berasal dari Shelter 1008,” jawab Samuel.
“Meski yang kamu gunakan ketika bertarung adalah gerakan dasar menggunakan pedang, tetapi itu tidak dilakukan secara acak. Tampaknya kamu mendapatkan pelatihan. Dari siapa? Apakah itu keluarga? Teman? Penatua di shelter?”
Alis Samuel semakin berkerut. Daripada ‘wawancara kerja’, dia merasa sedang diinterogasi. Belum lagi, tampaknya sosok misterius di depannya menggali begitu dalam. Mengamatinya dengan cermat sampai-sampai sulit untuk berbohong.
“Aku rasa ini tidak ada hubungannya dengan bisnis kita, V.” Samuel menolak untuk menjawab.
Alexander mengangguk ringan. Namun masih melanjutkan pertanyaannya.
“Apakah kamu memiliki keluarga? Ayah? Ibu? Kakak? Adik? Atau mungkin orang-orang di shelter 1008 yang kamu sayangi?”
“...”
Mendengar pertanyaan itu, Samuel merasa agak marah. Hanya saja dia tidak berani bertindak kasar di depan sosok misterius yang kuat itu.
Alexander mengangguk ringan. Meski tidak mendapatkan jawaban secara langsung, tetapi ekspresi Samuel sudah menjawab sebagian pertanyaannya.
Mendengar ucapan Alexander, mata Samuel terbelalak dan pupilnya menyusut.
“Kamu ... bagaimana kamu-“
Samuel bangkit dan hendak meraih Alexander, tetapi pergelangan pria itu langsung ditangkap dan dicengkeram dengan erat.
“...”
Meski tidak mengatakan apa-apa, tatapan Alexander membuat Samuel mendapatkan kembali kewarasannya.
Pada saat melihat mata merah di balik topeng yang menatapnya seperti iblis yang mengamatinya dari bayang-bayang, punggung Samuel basah oleh keringat dingin. Merasakan cengkeraman di pergelangan tangannya menjadi lebih lemah, dia kembali ke tempat duduknya.
“Jika kamu tahu asalku, seharusnya kamu tidak perlu membicarakannya dan langsung pergi ke intinya,” ucap Samuel dengan ekspresi tertekan.
Alexander tidak mengenal Samuel sebelumnya. Dia juga tidak mengetahui informasi pribadinya. Namun, dari percakapan tadi dia mengetahui beberapa hal penting.
Samuel berasal dari Shelter 1008 yang merupakan shelter tingkat rendah dimana kemiskinan dan kelaparan lebih parah dibandingkan shelter tingkat menengah. Di tempat semacam itu, makan dan minum sangat sulit. Hidup sangat berat dan selalu berada di tepi keputusasaan.
Samuel seharusnya dilatih oleh penatua yang entah itu adalah kakeknya atau kakek temannya, dan orang itu sudah meninggal. Selain itu, tidak mungkin dia mendapatkan banyak ramuan di tempat seperti itu (shelter tingkar rendah) sendirian. Jadi, seharusnya orang itu memiliki beberapa teman berharga yang membantunya dan dianggap seperti saudara.
__ADS_1
Perkataan Alexander dan respon kuat Samuel membuat pemuda itu semakin yakin kalau tebakannya benar.
Alexander tahu kalau ada cukup banyak kasus seperti itu. Orang-orang baik saling membantu, mencoba menaruh harapan mereka pada yang paling berbakat. Mengirim orang itu pergi sebagai harapan terakhir agar bisa membawa kembali kemakmuran bagi mereka. Sama seperti pahlawan yang tumbuh dari nol, lalu kembali untuk menyelamatkan kampung halamannya.
Alexander mendengar cukup banyak kasus seperti itu dari mulut mendiang kakeknya. Hanya saja, apakah akhir dari para ‘pahlawan’ itu baik? Jawabannya adalah kebanyakan terbagi menjadi tiga ending.
Pertama, orang itu ternyata egois dan akhirnya memutuskan hubungannya. Tumbuh sendiri dengan menjadi penjahat. Terus mencoba memanfaatkan orang dan akhirnya menemukan orang yang salah, lalu terbunuh.
Kedua, orang itu gagal karena mati dalam perjuangannya. Pada akhirnya orang-orang yang menunggunya juga berakhir tragis.
Terakhir mungkin paling indah untuk ‘pahlawan’ itu. Ya ... dia berhasil menjadi hunter, tetapi waktunya terlalu lama sehingga orang-orang gagal diselamatkan. Namun, setidaknya dia masih bisa tumbuh dan hidup dengan baik.
Akhir bahagia ... Alexander hanya mendengar itu dari dongeng, tetapi hampir tidak pernah mendengar kasus seperti itu dalam sejarah nyata.
“Seperti yang aku bilang. Jika terlalu lama, maka kamu akan terlambat. Jadi aku akan membuat penawaran menarik.” Alexander menatap mata Samuel. “Bekerjalah padaku, dan aku akan membantumu menjadi hunter.”
Mendengar ucapan Alexander, pupil Samuel kembali menyusut. Setelah beberapa saat, dia kembali tenang. Beberapa saat kemudian, barulah dia membalas.
“Aku tidak ingin terikat.” Samuel menggelengkan kepalanya. “Daripada mengikutimu, bukankah lebih baik bergabung dengan Blood Cross?”
“Tentu saja itu sangat berbeda.
Jika mengikuti Blood Cross, kamu akan menjadi lebih aman tetapi tumbuh sedikit lambat. Kamu bisa menjadi hunter dengan poin kontribusi, tetapi jumlahnya agak minim. Selain itu, tugasmu cukup ketat, jadi kamu tidak bisa pulang ke ‘kampung halaman’ bahkan jika menginginkannya.”
Samuel terus mengangguk ketika mendengarkan ucapan Alexander. Apa yang pemuda itu katakan memang tepat. Kebanyakan orang biasa yang bergabung dengan guild besar memang berakhir seperti itu.
Memang, akhirnya cukup baik, tetapi masih bukan yang Samuel inginkan.
“Lalu, apa berbedaannya jika bekerja padamu?” tanya Samuel.
“Aku juga akan menggunakan poin kontribusi. Bedanya, misi yang aku berikan kepadamu sangat acak. Selain itu, hadiahnya hanya bisa ditukar dengan berbagai jenis ramuan.
Mungkin terdengar kurang menarik. Namun, ada cukup banyak bonus jika kamu bekerja padaku. Pekerjaan ini tidak permanen. Kamu bisa langsung pergi setelah menjadi hunter level 1 dan tidak perlu terus terikat padaku.
Semakin rajin dan baik kamu menyelesaikan tugas, semakin cepat kamu menjadi hunter level 1.
Tidak perlu menunggu tiga atau empat tahun. Paling lama hampir dua tahun, paling cepat kamu bisa naik kurang dari satu tahun.”
Mendengar ucapan Alexander, Samuel merasa sedang dibujuk oleh iblis. Meski tidak tertutup oleh topeng, dia merasa kalau sosok di depannya sedang tersenyum ke arahnya.
Saat itu juga, bisikan lain terdengar di telinganya.
“Jadi ... apakah kamu tertarik bekerja di bawahku, Samuel?”
__ADS_1
>> Bersambung.