After Apocalypse

After Apocalypse
Sangat Disayangkan


__ADS_3

SWOOSH!


Sosok Alexander melesat ke depan dengan ekspresi dingin di wajahnya. Tidak lagi memegang pedang besar menggunakan kedua tangan, pemuda itu hanya menggunakan tangan kanannya. Alasan kenapa dia menggunakan dua tangan jelas untuk berpura-pura ketika menjadi Boris, tetapi hal tersebut tidak lagi dibutuhkan.


KLANG!


Suara dentingan logam yang begitu keras terdengar ketika Claude menahan serangan Alexander. Pria itu memegang erat gagang pedang dengan kedua tangannya, tetapi masih terdorong mundur perlahan. Kedua kakinya mulai tenggelam dalam tumpukan salju, tetapi dia masih menggertakkan gigi untuk menahan serangan lawannya.


“Sekarang!” teriak Claude.


Setelah teriakan Claude terdengar, Melissa langsung bergegas ke arah Alexander dengan kecepatan penuh. Saat itu juga, matanya tampak berubah warna dan gerakannya menjadi lebih gesit.


Swoosh!


Alexander melompat mundur, tetapi sudut pakaiannya masih terkena tebasan. Namun, baru saja mendarat, suara Melissa terdengar.


“Cormac!” teriak wanita itu.


Mendengar teriakan itu, hunter level 2 itu langsung menebas ke arah Alexander. Karena jaraknya yang dekat, membuat pemuda itu tidak bisa menghindarinya.


Melihat tidak ada kemungkinan menghindari serangan, Alexander malah mencondongkan tubuhnya ke depan. Dia menerima tebasan tepat di bahu kirinya. Namun, sebagai gantinya, pemuda itu juga langsung menebas ke arah Cormac dengan kekuatan penuh.


Slash!


“ARGH!” Cormac berteriak kesakitan.


Alexander mundur beberapa meter sambil menatap tiga lawannya dengan senyum main-main. Pemuda itu mengabaikan lukanya sendiri dan melihat pemandangan menarik di depannya. Namun, pemandangan itu membuat mata Melissa dan Claude merah karena marah.


Tidak jauh, beberapa meter di depan Alexander, Cormac jatuh berlutut sambil memegangi bahu kirinya tepat dimana lawannya memotongnya dengan rapi. Di depannya tampak tangan kiri tergeletak di atas salju, tetapi pria itu mengabaikannya karena fokus pada rasa sakit karena lengannya terpotong.


“Cormac, kan?” ucap Alexander santai. “Keahlian racunmu memang cukup baik, tetapi sangat disayangkan ... hal-hal seperti itu tidak berguna untuk melawanku.”


“...”


Cormac sama sekali tidak menjawab. Dia terus menunduk sambil menahan sakit.


“Satu orang yang belum mendapatkan miracle root level 2. Satu orang yang memilih miracle root jenis racun. Terakhir ...” Alexander menatap ke arah Melissa. “Apakah itu tipe ledakan kecepatan dan hawk-eye? Mata itu memang bisa membuatmu melihat banyak hal lebih baik, sangat cocok dengan tambahan kecepatan. Namun ...”


“DIAM!” teriak Melissa.


Alexander terkekeh. Dia mengabaikan peringatan Melissa dan terus berkata, “Seharusnya kamu tidak tertarik dengan kemampuan semacam itu. Berarti, kamu berharap bisa mendapatkan sayap dari makhluk level 2 tetapi harus dikecewakan?”


“AKU BILANG DIAM!”


Melissa langsung bergegas ke arah Alexander dengan kecepatan luar biasa. Dia menghindari tebasan pemuda itu beberapa kali. Pada saat melihat Alexander lengah, wanita itu langsung menikam. Namun, saat itu juga dia sadar telah melakukan kesalahan ketika melihat senyum di wajah lawannya.


“Kena kau!”

__ADS_1


Tangan kanan Alexander yang memegang pedang berayun dengan cepat. Namun, sebelum mengenai Melissa, tubuh wanita itu langsung didorong ke samping oleh Claude yang muncul secara tiba-tiba.


“Ugh!”


Claude memeluk Melissa dan berguling-guling di tanah bersalju beberapa kali. Karena mendorong wanita itu, dia harus mendapatkan luka tepat di punggungnya.


“Claude!” seru Melissa dengan ekspresi khawatir di wajahnya.


Alexander menatap ke arah Claude yang berbaring di atas salju tanpa perubahan ekspresi. Walau lukanya cukup berat, nyawa pria itu sama sekali tidak dalam bahaya. Menggelengkan kepalanya, dia berbalik pergi sambil bergumam pelan.


“Sungguh mengecewakan.”


Saat itu juga, bayangan hitam jatuh dari atas beberapa meter di belakang Alexander.


BLARRR!!


Ledakan keras tercipta. Asap mengepul ke segala arah.


Alexander menoleh ke belakang. Ketika asap mulai menghilang, dia melihat sosok pria tinggi dan kekar bersimbah darah berdiri beberapa meter di belakangnya.


“Menggertak yang lembut dan takut pada yang keras, kalimat itu sangat pantas untukmu.”


Suara suram terdengar. Saat itu, pupil Alexander menyusut. Dia memutar tubuhnya dan membuat gerakan menangkis dengan pedang besarnya.


Detik berikutnya, sosok Jacob yang tubuhnya berlumuran darah muncul tidak jauh dari Alexander sambil mengayunkan tinjunya.


BLARRR!!


“Apakah kamu ingin melarikan diri setelah menggertak yang lemah ... Boris Si Tukang Daging?”


Mendengar pertanyaan itu, Alexander menyeringai. Dia menatap ke arah Jacob. Walau ekspresinya masih sembrono, tetapi matanya tampak sangat fokus. Jelas memperhatikan lawannya dengan saksama.


“Aku hanya ingin pergi. Jika ingin menyalahkan, salahkan saja pada ‘bunga rumah kaca’ yang mencoba menghentikanku. Mencoba melakukan sesuatu di luar kemampuannya.”


Mendengar ucapan Alexander, Melissa menundukkan kepalanya. Dia merasa marah dan sedih, tetapi hanya bisa menatap Claude yang terbaring di depannya tanpa daya.


“Tidak peduli bagaimana, kamu telah melukai dua rekanku dan membunuh banyak orang. Bahkan temanmu juga membunuh salah satu rekanku. Jadi ...” Jacob menyipitkan mata, ekspresinya menjadi lebih suram. “Aku tidak bisa mengizinkan kalian pergi.”


Merasakan niat membunuh yang sangat kuat, Alexander menarik napas dalam-dalam. Meski agak gugup, tetapi pemuda itu masih berbicara dengan tenang.


“Segera pergi dari tempat ini, Cantik. Kita akan bertemu di tempat yang disepakati. Sedangkan sisa tugasnya ...”


Alexander mengeluarkan beberapa benda bulat sebesar bola pingpong.


“Kita akan melakukannya lain kali!”


Setelah mengatakan itu, Alexander langsung membanting bola-bola itu ke tanah bersalju.

__ADS_1


BOOM!!!


Asap tebal langsung muncul dan menghalangi pemandangan di sekitar. Bukan hanya efeknya sangat luas dan asapnya sangat tebal, tetapi asap itu memiliki efek lain ... racun.


Pada saat orang-orang yang mengetahui kalau asap itu beracun menjadi panik, tiga sosok bergegas dengan cepat.


SWOOSH! BANG!


Dua sosok bertabrakan dengan keras, sementara satu sosok lain langsung melarikan diri dari pengepungan.


Ketika asap perlahan memudar, banyak orang dari Blood Cross dan hunter bebas menatap ke arah yang sama. Mereka semua menatap ke arah Alexander dengan ekspresi penuh kebencian. Khususnya bagi hunter level 1 yang relatif lemah karena asap ini masih cukup mempengaruhi mereka.


Sementara itu, Alexander sendiri tidak memikirkan orang-orang itu. Dia malah fokus pada Jacob yang baru saja berkonfrontasi dengannya.


‘Seperti yang aku duga ...’


Sudut bibir Alexander terangkat. Melihat ekspresinya, banyak orang merasa tidak puas dan marah karena merasa kalau pemuda itu sedang mengejek mereka.


“Apa yang kamu tertawakan?” tanya Jacob dengan nada dingin.


“Aku merasa heran sekaligus kasihan kepadamu,” ucap Alexander enteng.


“Apa maksudmu?” Mata Jacob menyempit.


“Kamu telah membunuh dua hunter level 3 dan menyelamatkan nyawa banyak orang, tetapi sama sekali tidak ada yang berterima kasih kepadamu. Bahkan tidak ada yang menganggap jasamu.


Bukankah itu menyedihkan?”


Mendengar provokasi Alexander, Jacob berdiri tegak dan mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Dia menatap lawannya dengan ekspresi serius dan berkata lantang.


“Aku melakukan semua ini bukan untuk mendapatkan perhatian atau menerima terima kasih. Kamu tidak perlu melanjutkan trik-trik murah untuk mempengaruhi pikirkanku.”


“Begitu ...” Alexander mengelus dagu. “Namun, aku masih merasa kasihan kepadamu.”


“...” Jacob menatap Alexander dalam diam.


“Pada awalnya, aku berpikir kalau diriku cukup kuat karena bisa berkonfrontasi langsung dengan hunter level 3 sepertimu. Namun aku salah. Lihat tubuhmu yang dipenuhi dengan luka akibat pertarungan sebelumnya! Jika terus bertarung tanpa merawat luka, kamu bisa mati.”


Alexander bertepuk tangan dengan ekspresi terkejut, seolah tiba-tiba mendapatkan inspirasi.


“Sangat disayangkan jika hunter yang baik dan kuat sepertimu mati. Bagaimana kalau kita mengambil jalan tengah? Aku akan pergi dan tidak lagi ikut dalam pertempuran ini. Kamu bisa beristirahat untuk merawat lukamu.”


Mendengar usulan Alexander, Jacob tersenyum. Momentum ganas muncul dari pria itu. Dengan ekspresi tegas dan sikap heroik, dia pun berkata.


“DITOLAK!”


>> Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2