After Apocalypse

After Apocalypse
Mencoba Peruntungan


__ADS_3

Alexander mengambil berkas yang diletakkan oleh Gery.


Sebenarnya, tidak banyak orang yang bisa dianggap berpendidikan di seluruh dunia. Hanya beberapa orang yang mau belajar membaca dan menulis. Lagipula, keterampilan semacam itu tidak berguna dalam bertarung dan berburu, jadi banyak orang memilih meninggalkannya.


Pada akhirnya, kebiasaan membaca dan menulis pun ditinggalkan.


Mungkin beberapa keluarga menengah ke atas masih memilih untuk mempelajari keterampilan itu karena dianggap berharga. Namun, untuk para hunter bebas dan orang-orang biasa, kebanyakan dari mereka memilih meninggalkan hal semacam itu dan lebih fokus mencari cara untuk mendapatkan makanan.


Alexander tentu memiliki kemampuan dasar itu. Aurora juga memilikinya. Gery sendiri memiliki cukup pengetahuan, setidaknya masih bisa membaca dan menulis sesuatu yang tidak rumit. Untuk empat wanita lain, mereka sama sekali tidak mengenyam pendidikan semacam itu sejak kecil. Namun, mereka mulai diajari sejak mengikuti Alexander.


“Ini ... informasi tentang beberapa orang dari keluarga besar?” tanya Alexander. “Kenapa tidak langsung membicarakannya? Jarang sekali kamu membuat ringkasan seperti ini.”


“Ah! Sebenarnya aku menganggapnya sebagai latihan. Aku pasti akan menghadapi berbagai kondisi, mungkin tidak bisa menemuimu untuk melapor. Aku merasa ini bisa menjadi sarana komunikasi lain,” ucap Gery.


“Kamu ada benarnya,” balas Alexander.


Pria itu sebenarnya juga memikirkan sarana komunikasi dengan surat. Itu sangat mudah karena tidak harus bertemu, bisa dikirim orang lain. Selain itu, bisa dianggap cukup aman karena sebagian orang tidak bisa membaca. Tentu saja, tetap harus ada tindakan pencegahan sehingga bisa memastikan kalau surat tidak jatuh ke tangan orang lain lalu dibaca.


Masalahnya, tidak banyak orang memiliki keterampilan seperti itu, jadi Alexander memilih untuk menundanya. Itu juga alasan dia mengajari para bawahannya. Jadi membuat lebih banyak jenis sarana komunikasi.


Hanya saja, Alexander tidak menyangka kalau Gery benar-benar memikirkan sarana seperti itu. Tampaknya dia masih meremehkan keinginan orang lain untuk berkembang. Ternyata tidak semua orang puas dengan kehidupan sekarang, dan ingin kehidupan yang menjadi lebih baik lagi.


“Apakah kamu juga berpikir seperti itu, Bos?” tanya Gery dengan ekspresi heran.


“Jika tidak?” Alexander memiringkan kepalanya. “Hanya saja ide semacam itu agak sulit direalisasikan. Lagipula, tidak banyak orang bisa membaca dan menulis. Namun, ini bisa dijadikan sebagai sarana khusus.”


“Aku mengerti Bos.” Gery mengangguk dengan ekspresi serius di wajahnya.


“Kalau begitu biarkan aku membacanya terlebih dahulu. Aku akan memberi beberapa saran jika tampaknya ada yang bisa diperbaiki.”


Setelah mengatakan itu, Alexander mulai membaca dokumen yang Gery berikan kepadanya. Pria itu membaca lembar pertama yang berisi informasi anak dari salah satu keluarga terkenal di Shelter 1. Setelah membaca lembar itu secara terperinci, dia mulai berkomentar.


“Sepertinya kamu menyebutkan banyak hal yang tidak perlu. Informasi terperinci memang bagus, tetapi lebih baik fokus ke titik dimana paling penting. Setidaknya, menurutku begitu,” ucap Alexander.

__ADS_1


“Aku mengerti Bos.” Gery mengangguk engan ekspresi serius di wajahnya.


“Selain itu, bukankah kamu mencari terlalu banyak informasi? Maksudku, ini memang bisa digunakan untuk mengatur beberapa strategi. Namun, bukan itu yang aku perlukan sekarang.


Damian tidak bisa membantuku mendapatkan beberapa baranga yang aku inginkan, jadi kenapa kamu berpikir kalau keluarga tingkat menengah bisa melakukannya?


Lebih baik fokus pada keluarga besar dan beberapa kelompok gelap terbaik. Setidaknya mereka memiliki robabilitas lebih tinggi untuk memenuhi kebutuhanku.”


“Dimengerti!” balas Gery.


Setelah itu, Gery kembali mengambil dokumen dari Alexander. Setelah beberapa saat, dia meletakkan tujuh lembar yang dianggap memenuhi syarat bosnya.


“Satu dari setiap keluarga besar? Orang yang bisa dimanfaatkan?” gumam Alexander.


Pria itu tampaknya tertarik. Hanya saja, dia menghela napas panjang setelah membaca tiga lembar dokumen. Sambil menggelengkan kepalanya, Alexander mengeluh.


“Ini cukup merepotkan. Hubungan antara empat keluarga tampaknya tidak baik. Karena aku sudah berhubungan dengan Keluarga Ervens melalui Damian, sulit menghubungi keluarga lain dengan identitas Faust. Sedangkan menggunakan identitas V ... itu jelas bunuh diri.


Sepertinya pilihan terbaik memang menghubungi salah satu dari kelompok gelap yang baik menggunakan identitas V. Membantu mereka dalam menyelesaikan sesuatu agar mendapatkan imbalan sesuai.”


“Maksudmu?” Alexander memiringkan kepalanya.


“Tolong baca laporan tentang keluarga terakhir Bos,” ucap Gert dengan senyum misterius di wajahnya.


Alexander membaca lembar keempat. Ketika selesai membaca keseluruhan laporan secara mendetail, ekspresi heran tampak di wajahnya. Pria itu kemudian menatap ke arah Gery, lalu berkata.


“Aku mengerti apa yang kamu maksud. Hanya saja, melakukan ini tampaknya agak jahat, tapi ...”


Senyum muncul di wajah Alexander.


“Sepertinya tidak buruk juga.”


***

__ADS_1


Sementara itu, di tempat tinggal sementara Melissa.


“Apakah informasi tentang orang itu sudah dikumpulkan?”


Melissa mondar-mandir di ruangannya. Sekarang wanita itu merasa sangat tertekan. Bukan hanya belum mendapatkan balasan dari pihak Keluarga Rosewald, tetapi sekarang dia juga kehilangan jejak V, orang yang telah membunuh rekan-rekannya dan membuat pamannya vegetatif.


“Lapor Nona, jejak V sama sekali tidak bisa ditemukan. Saya juga telah mencari informasi tentang Faust, dan ditemukan kalau identitasnya sangat bersih,” ucap salah satu prajurit berdiri dengan ekspresi hormat di dekat pintu.


“Orang itu? Bersih?” ucap Melissa dengan tangan mengepal erat.


Kalimat yang diucapkan Faust kepadanya masih terngiang dalam kepala. Bahkan jika itu kebenarannya, tetapi hal tersebut masih membuatnya merasa sangat marah dan tidak puas.


“Bagaimana dengan Keluarga Rosewald? Apakah tidak ada gerakan sama sekali? Apakah orang-orang itu benar-benar menutup diri dari dunia luar?” tanya Melissa dengan ekspresi curiga.


“Memang. Selain beberapa tetua keluarga besar, tidak ada orang lain yang masuk ke kastil. Tampaknya anggota Keluarga Rosewald juga tidak keluar dari kediaman mereka. Namun ...” Prajurit itu tampak ragu.


“Apakah ada yang salah?” tanya Melissa sambil mengangkat alisnya.


“Menurut rumor yang beredar dari ksatria di kastil, tampaknya ada salah satu anggota keluarga yang sesekali keluar. Hanya saja, mereka tidak ingin mengungkapkannya, bahkan tidak berani menyebutkan namanya meski dibayar,” ucap ksatria itu.


“Cari.”


Ekspresi Melissa tampak serius ketika melihat ke arah para prajurit itu.


“Kita tidak bisa mengandalkan Keluarga Rubruzen. Cari identitas orang itu dan kita akan menangani masalah ini sendiri!”


Melihat ekspresi muram di wajah Melissa, para prajurit langsung memberi hormat secara serempak.


“Baik, Nona Melissa!”


Melihat beberapa orang yang melapor bubar, Melissa duduk di kursinya sambil menggigit ibu jarinya. Wanita itu tampaknya memiliki tempramen yang semakin buruk. Bukan hanya karena kelelahan fisik, tetapi juga tekanan yang diarahkan kepadanya dari segala sisi. Jadi ...


Sekarang dia hanya bisa mencoba peruntungan!

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2