
Sore harinya.
Setelah tidur hampir seharian, Alexander membuka matanya. Melihat langit-langit rumahnya, pemuda itu tampak sangat bosan. Meski enggan, dia masih menyingkirkan selimut lalu bangkit dari ranjangnya.
‘Aku bodoh karena mau menerima tugas untuk berjaga di malam hari. Dalam jangka waktu lama, ini terlalu menyiksa.’
Meski memiliki kebiasaan untuk selalu waspada bahkan dalam tidurnya, Alexander tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.
Biasanya Alexander akan tidur di malam hari meski hanya satu atau dua jam. Menurutnya, tidur di malam hari berbeda dengan di siang hari. Jika tidur malam, dua atau tiga jam bisa mengembalikan tenaga dan fokusnya. Sedangkan tidur di siang hari terasa kurang meski sudah tidur cukup lama.
“Mungkinkah itu karena manusia adalah makhluk diurnal?” gumam Alexander.
Melupakan pertanyaan yang tidak begitu penting itu, pemuda tersebut mulai bersiap. Nyalakan api kecil, hangatkan air, lalu bagi air menjadi tiga bagian. Satu untuk menyeduh teh herbal, satu untuk membuat bubur, dan sedikit sisa dicampur air biasa untuk menyeka tubuhnya.
Selesai memasak bubur dengan sedikit daging dan sayur, Alexander makan. Dia kemudian menyeka tubuhnya dengan air hangat dan berganti pakaian serta melengkapi semua peralatannya.
Setelah itu, barulah Alexander menikmati teh sore. Begitulah keseharian santai pemuda tersebut selama dua bulan terakhir.
Melihat mentari sore mewarnai langit dan salju dengan warna jingga berkilauan, Alexander segera menghabiskan tehnya lalu berangkat. Namun, dia sama sekali tidak menyangka kalau ada sesuatu yang tidak biasa menantinya.
Baru saja berganti shift jaga, Alexander terpana di tempatnya.
Pada saat itu, banyak orang dari tiga tim, yaitu sebelas orang lain menatapnya. Sepuluh menatapnya dengan senyum pengertian, sedangkan sisanya menatapnya dengan penuh kebencian. Jika tatapan bisa membunuh orang, mungkin Alexander sudah mati beberapa kali sekarang.
Di depan Alexander, tampak lima wanita bersujud dan memohon dengan dahi menempel tanah bersalju. Tubuh lemah mereka menggigil, tetapi sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan tempat tersebut.
“Tuan Alexander, tolong bawa kami!” teriak Daisy dengan penuh permohonan.
Mendengar permintaan itu, Alexander mengerutkan keningnya. Memang ada beberapa wanita yang biasanya meminta dengan cara seperti itu. Namun biasanya tidak dilakukan di depan umum karena takut ditolak dan dipermalukan.
Meski banyak laki-laki yang suka bersenang-senang, tetapi di era yang kacau ini, banyak dari mereka juga tidak ingin menanggung beban. Bisa dibilang, mereka membuat kesepakatan dengan harga tertentu lalu melupakannya di hari berikutnya. Lagipula, membawa kembali berarti ada satu mulut lagi untuk diberi makan.
Di era dimana makanan sulit didapat, khususnya di musim dingin ini ... jarang sekali yang mau melakukannya.
Setelah menghela napas panjang, Alexander memasang ekspresi serius di wajahnya. Pemuda itu kemudian berkata, “Bangkit lalu pergi dari sini, maka aku akan berpura-pura tidak ada yang terjadi.”
Melihat kelima wanita itu tidak bergerak dari tempatnya, ekspresi Alexander menjadi semakin berat. Sembari menghunus pedangnya, pemuda itu kembali berbicara.
__ADS_1
“Aku memperlakukan kalian dengan baik tanpa meminta bayaran karena merasa kalian pantas dikasihani. Namun, jika kalian pikir aku begitu mudah dimanfaatkan, kalian salah.
Aku akan memperingatkan kalian sekali lagi. Bangkit lalu pergi, maka aku akan melupakan masalah ini. Atau kalian bisa memilih mati hari ini.”
Merasakan niat membunuh dari Alexander dan suaranya yang dipenuhi keseriusan, tubuh kelima wanita itu gemetar hebat. Pada akhirnya, tiga dari lima wanita itu bangkit. Mereka membungkuk beberapa kali sambil meminta maaf lalu segera melarikan diri.
Pada saat melihat pemandangan semacam itu, beberapa orang menggelengkan kepalanya dan beberapa dari mereka tampaknya melihat ketiga wanita yang melarikan diri penuh dengan minat.
Alexander melihat ke arah dua orang yang masih berlutut lalu menghela napas panjang.
“Daisy, Aster ... tampaknya kalian tidak merubah keputusan kalian.”
Mendengar ucapan Alexander, kedua wanita itu mengangkat wajah mereka.
“Jika anda tidak bisa membawa kami, maka kami tidak keberatan mati di bawah pedang anda, Tuan.” Daisy berkata dengan tegas.
“Dibandingkan mati dengan cara begitu tidak hormat, kami lebih memilih mati di tangan anda Tuan!” tambah Aster.
Mungkin karena mereka sepupu, Daisy dan Aster memiliki penampilan yang hampir mirip. Hanya saja, usia Daisy 22 tahun dan Aster baru 18 tahun yang lebih muda dibandingkan dirinya.
Mendengar ucapan kedua wanita itu, Alexander langsung memikirkan situasi Distrik 5 baru-baru ini. Karena bencana kelaparan yang semakin parah dan beberapa orang mati setiap harinya, mereka semakin sulit dikendalikan.
Berbeda dari yang Alexander pikirkan sebelumnya, ternyata Daisy dan Aster memiliki cerita sendiri. Kedua wanita itu berbeda dengan kebanyakan wanita yang menjual jasa. Alasan kenapa mereka bertahan sampai sekarang karena mereka memiliki pasangan.
Ya. Walau hidup keras, tetapi tidak jarang beberapa orang yang bukan hunter memiliki keluarga. Suami Daisy dan Aster salah satu dari beberapa pengecualian tersebut. Lebih tepatnya, mereka adalah magang hunter.
Hanya saja, suami ... atau lebih tepatnya mendiang suami mereka mengalami kecelakaan pada akhir musim gugur tahun ini.
Daisy sedikit tertekan karena mereka sudah bersama sekitar empat sampai lima tahun. Sedangkan Aster merasa sedih dan campur aduk karena suaminya meninggal kurang dari seminggu setelah mereka menikah.
Awalnya, mereka berniat untuk mencari pasangan lain tetapi terlalu sulit dilakukan. Jadi mereka hanya memiliki dua pilihan. Menjual jasa atau mengikuti seorang tuan.
Dikarenakan masih memikirkan rasa hormat, kedua wanita itu akhirnya memutuskan untuk mengikuti seorang tuan.
Dari kelihatannya saja, itu memiliki dua sisi. Mengikuti seorang tuan berarti menjual diri mereka sendiri. Jika beruntung, mereka akan dirawat dan diperlakukan dengan baik. Namun, jika mengikuti tuan yang salah, mereka akan diperlakukan lebih buruk daripada binatang, bahkan kehidupan mereka akan lebih buruk daripada para penjual jasa.
Tentu saja, Alexander mengerti hal semacam itu. Beberapa hunter di tim lain juga mengambil satu atau dua wanita. Namun, sebelumnya dia merasa hal semacam itu tidak perlu karena mereka hanya akan menambah beban.
__ADS_1
Swoosh!
Pedang Alexander berayun dengan cepat. Di depan ekspresi terkejut orang-orang, pedang itu terhenti ketika menyentuh leher Daisy. Sedikit goresan membuat darah mengalir, tetapi tidak lebih dari itu.
Melihat tatapan tegas dan penuh tekad di mata kedua wanita itu, Alexander akhirnya menyarungkan kembali pedangnya lalu menghela napas panjang.
“Kalian sendiri yang meminta datang ke jalan tanpa kembali ini, jadi jangan menyesalinya.”
Alexander mengingatkan mereka. Dia jelas bukan orang baik, jadi mengikutinya jelas tidak seindah impian para gadis yang dijemput pahlawannya. Namun, di telinga Daisy dan Aster, itu adalah suara paling hangat dan indah di musim dingin yang menyedihkan ini.
“Terima kasih! Terima kasih banyak, Tuan!” teriak keduanya serempak.
Kedua wanita itu bersujud dan membenturkan dahi mereka ke tanah tiga kali. Setelah itu, mereka berlutut di depan Alexander dan mencium tangan kanan pemuda itu.
Ini biasa disebut sebagai ritual penerimaan. Alexander tidak tahu siapa yang membuatnya, dan tidak peduli dengan hal itu. Sekarang, apa yang dia pikirkan adalah menenangkan Aurora yang tampaknya seperti gunung berapi yang akan meletus.
Benar-benar membuat pemuda itu merasa sakit kepala!
Pada saat itu, banyak orang yang memberi selamat kepada Alexander. Bahkan berbicara tentang biaya sewa jasa yang mungkin dia lakukan.
Memiliki ekspresi lelah di wajahnya, Alexander berkata, “Tolong berhenti bercanda dan membuat masalah. Aku benar-benar lelah dan tercekik karena banyaknya masalah hari ini.”
Mengabaikan Aurora yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, Alexander menghampiri Mr Barton.
“Bisakah aku meminta izin sebentar untuk mengurus masalah ini?” tanya pemuda itu dengan senyum masam di wajahnya.
“Hahaha! Tampaknya kamu benar-benar tidak sabar, Anak Muda! Pergi! Biarkan aku yang mengurusnya hari ini. Kamu telah membuat banyak pencapaian dua bulan ini, istirahat saja hari ini.”
Mendengar tanggapan Mr Barton, Alexander mengangguk penuh rasa terima kasih.
Setelah beberapa kata, pemuda itu pergi dengan Daisy dan Aster. Dia langsung membawa mereka menuju ke kantor perdataan Distrik 5. Di sana, mereka akan mengubah status mereka dari pengungsi menjadi status yang paling rendah ... budak.
Memiliki status tersebut, berarti Daisy dan Aster akan menjadi ‘properti’ milik Alexander. Selama berada di wilayah Blood Cross, status mereka tidak akan berubah kecuali sang tuan melepaskan mereka. Parahnya lagi, status mereka tidak berubah bahkan jika sang tuan mati.
Setelah mengurus semuanya dari pengakuan kedua wanita itu, mengurus data pemindahan status, dan membayar biaya ...
Daisy dan Aster akhirnya menjadi pengikut Alexander setelah ‘kalung besi’ dikenakan di leher mereka.
__ADS_1
>> Bersambung.