After Apocalypse

After Apocalypse
Perangkap Monster


__ADS_3

“Kenapa kamu menghentikanku, Al?”


Aurora bertanya dengan tidak puas. Pada saat ingin marah, dia melihat ekspresi dingin di wajah pemuda itu. Saat itu juga, wanita tersebut langsung berpikir kalau ada yang salah.


“Apakah ada yang salah?” tanya Aurora.


“Apakah kamu pikir itu normal?” Alexander tidak menjawab, tetapi bertanya balik.


“Maksudmu ...”


Aurora tampak ragu. Pada saat itu, dia mengingat ekspresi Rowan yang dipenuhi kebahagiaan. Namun, wanita itu juga mengingat apa yang dikatakan oleh para bawahan Rowan. Jadi, saat ini dia menjadi semakin ragu.


“Mungkinkah mereka berakting?” tanya Aurora dengan nada terkejut yang tidak bisa disembunyikan.


Alexander menatap Aurora sejenak. Setelah beberapa detik, dia menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang.


“Tidak tahu.”


“Apa maksudmu?” tanya Aurora dengan bingung.


“Seperti yang aku bilang, aku sama sekali tidak tahu.” Alexander menggelengkan kepalanya. “Meski begitu, kita harus berhati-hati. Bahkan jika mereka tidak berakting, pasti ada yang salah dengan situasi ini.”


Melihat Alexander yang berhati-hati, nyaris pengecut membuat Aurora mengangguk. Meski tidak terlihat kuat dan bahkan agak memalukan karena bertindak begitu pemalu, tetapi dia tahu hanya orang-orang yang memiliki ‘otak’ yang bisa bertahan lebih lama di dunia ini.


“Haruskah kita menunggu mereka keluar?” tanya Aurora ragu.


“Tidak. Kita akan tetap masuk, tetapi kita juga harus berhati-hati. Meski tidak 100%, aku merasa kalau Rowan tidak sedang menipu.”


Mendengar ucapan Alexander, Aurora mengangguk dengan ekspresi serius. Setelah itu, mereka pun memasuki gua bersama.


Baru beberapa meter memasuki gua, keduanya mendengarkan suara samar. Namun alih-alih suara tangis haru, mereka malah mendengarkan suara pertempuran. Jadi ekspresi Aurora dan Alexander langsung berubah total.


Aurora ingin bergegas memeriksa, tetapi Alexander menghentikannya sambil menggelengkan kepalanya.


Sesuai dengan rencana awal, mereka bergerak maju dengan perlahan tapi pasti. Menghindari berbagai jebakan yang mungkin dipasang sambil mengawasi lingkungan dengan ekspresi serius di wajah mereka.


Gua itu sendiri agak besar dan miring ke bawah. Semakin dalam, Alexander merasa kalau gua itu menjadi semakin luas.


Pada saat itu juga, Alexander melihat tempat yang lebih terang di kejauhan. Pemuda itu melihat ke bawah, ke arah sepatunya sambil mengerutkan kening.


‘Ini ...’


Alexander dan Aurora saling memandang. Mereka berdua mengangguk dan bergegas menuju ke sumber cahaya. Sesampainya di sana, keduanya tertegun di tempat mereka.


Di depan mereka, tampak sebuah cekungan besar. Bentuknya seperti danau berukuran sedang. Tempatnya terbilang luas, dan langit-langitnya penuh dengan banyak lubang berukuran kurang dari satu meter. Tampaknya dari sanalah sumber cahaya itu berasal.


Hanya saja, apa yang di depan Alexander bukan hanya cekungan besar yang kosong, tetapi memiliki isi.

__ADS_1


Air dan membentuk danau? Tidak juga.


Apa yang tampak di depan mata Alexander adalah kerumunan tanaman rambat penuh duri. Warnanya hijau tua hampir hitam. Tidak ada daun, tetapi penuh dengan duri.


Melihat itu membuat Alexander tahu alasan kenapa tanah sekitar cukup gembur tampaknya karena keberadaan tanaman itu. Masalahnya, tidak hanya ada tanaman rambat yang membentuk seperti kolam raksasa. Namun, ada makhluk lain yang ada di sana.


Di bawah tanaman rambat yang berkumpul sampai ketinggian sekitar satu meter, terdapat tanah gembur. Lebih tepatnya, sampai cukup berlumpur karena kelembabannya.


Dari sana, tampak makhluk aneh. Penampilannya seperti cacing panjang, tetapi memiliki banyak gigi di bagian kepala mirip dengan lintah. Tubuhnya berwarna coklat gelap dan dilapisi dengan lendir. Benar-benar tidak nyaman untuk dilihat.


Jumlah makhluk itu sangat banyak. Masing-masing dari mereka memiliki ukuran paling kecil setebal paha orang dewasa. Namun, banyak juga yang ukurannya lebih besar daripada tubuh pria dewasa.


‘Ini ... tempat apa ini?’


Alexander tampak penuh keraguan karena dia sama sekali tidak mengenal makhluk semacam itu.


Melihat banyak tumpukan tulang yang tersangkut di tanaman rambat, kepala Alexander agak mati rasa. Pada saat itu, dia melihat sebuah pohon di sisi lain gua tersebut. Warnanya hitam, tanpa daun. Sepertinya pohon mati.


Masalahnya, bukan pohon itu yang membuat Alexander tertarik, tetapi sosok yang tersangkut di dahan pohon tersebut.


Wanita ... lebih tepatnya wanita muda, dan seharusnya cantik. Alasan kenapa seharusnya, tentu karena wanita itu sudah tidak lagi hidup.


Tubuhnya dicabik-cabik, armornya berantakan, bagian perutnya tampaknya disobek dan organ dalamnya tampaknya dikeluarkan. Melihat ekspresi ketakutan di wajah rusak wanita itu, Alexander memiliki dugaan.


‘Dimakan hidup-hidup?’


Saat itu juga, Alexander fokus pada satu makhluk yang bertengger di atas dahan pohon mati. Dari penampilannya, itu mirip dengan gagak. Seekor gagak seukuran dengan tinggi lebih dari satu meter dengan bulu hitam legam.


Lebih tepatnya, hanya satu mata merah tepat di tengah kepalanya.


“JANGAN MATI, JEFF! JANGAN MATI!”


“TIDAK! MAAFKAN AKU! TOLONG ... TOLONG!”


Makhluk itu membuka paruhnya, lalu suara perempuan yang benar-benar terdengar seperti sara Mari keluar dari makhluk itu. Saat itu juga, gagak itu memiringkan kepalanya, menatap Alexander dengan satu mata merah.


Merasa telah ditipu dan diejek oleh makhluk itu, apalagi ditambah bagaimana dia menggunakan suara wanita itu sebagai ‘ejekan’, sudut bibir Alexander berkedut hebat.


Saat itu juga, pemuda tersebut menatap gagak bermata satu dengan seringai kejam di wajahnya.


“Yo! Tampaknya kamu benar-benar bisa bermain ... Burung K-parat!”


Sementara Alexander tampak marah, Aurora sendiri terlihat ngeri. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ada monster yang bisa ‘berbicara’ selayaknya manusia. Wanita itu juga sangat terkejut dengan reaksi pemuda di sampingnya. Aurora jarang, atau bahkan tidak pernah melihat Alexander begitu marah.


Alexander sendiri tidak peduli dengan nasib orang lain yang berakhir di perut monster. Namun, dia merasa tidak senang ketika para monster itu menginjak-injak dan menghina ras manusia. Walau dianggap sebagai ‘ras paling lemah’, tetapi pemuda itu masih memiliki kebanggaan yang ditanamkan oleh keluarga.


Dahulu kala, manusia berada di atas ... puncak dari rantai makanan.

__ADS_1


Dalam banyak cerita, Alexander telah mendengar dan membaca kalau apa yang terjadi kepada umat manusia adalah karena kesombongan mereka. Memburu makhluk lain seenaknya, merusak lingkungan, dan melakukan berbagai hal jahat lain. Pada akhirnya, manusia mendapatkan ‘hukuman’ yang pantas mereka dapatkan.


Meski begitu, Alexander tidak begitu peduli. Entah di era ini atau era sebelumnya, dia yakin tidak hanya ada orang jahat, gila, serakah, dan suka mengambil keuntungan pribadi. Namun ada juga orang-orang baik.


Bahkan di era yang begitu kacau dan busuk ini, Alexander masih bertemu dengan beberapa orang seperti itu.


Apakah seluruh umat manusia pantas dimusnahkan karena sebagian besar orang semacam itu? Jelas tidak. Hanya para penjahat semacam itu yang pantas dikorbankan, dibakar atau ditenggelamkan. Namun, akhirnya semua umat manusia menerima dampaknya.


Jadi, alih-alih berbicara alasan heroik ‘untuk menyelamatkan umat manusia’ atau alasan jahat ‘untuk diri sendiri’ ... Alexander punya alasan sendiri.


‘Karena aku terlahir sebagai manusia.’


Begitulah yang dipikirkan oleh Alexander. Sama seperti seekor monyet yang terlahir sebagai monyet dan tidak bisa merubah takdirnya, dia merasa dirinya terlahir sebagai manusia dan akan berdiri di sisi manusia.


Ya ... sesederhana itu.


Setelah menjadi sedikit lebih tenang, Alexander menatap ke arah para prajurit yang bertarung dengan monster cacing berpenampilan menjijikkan. Tampaknya mereka terlalu terburu-buru sehingga jatuh ke dalam jebakan.


Tanah di sekitar cukup gembur dan licin. Jika terburu-buru dan kurang hati-hati, jatuh ke ‘danau’ itu memang akan menjadi jawabannya.


‘Tanaman yang berguna untuk menciptakan medan cocok untuk jebakan, monster bekerja untuk memburu makhluk yang terjebak, dan monster penarik perhatian untuk menjebak makhluk lain.’


Memikirkan itu, ekspresi Alexander menjadi semakin serius.


Tanaman itu jelas menggunakan sisa bangkai atau kotoran sebagai nutrisi agar berkembang. Cacing-cacing itu menggunakan tanaman rambat sebagai tempat bersarang. Burung itu menarik perhatian, lalu mengambil jatahnya. Meski hubungannya dengan para cacing tidak begitu penting, tetapi burung itu juga memiliki hubungan saling menguntungkan dengan tanaman rambat.


“Yang membuat strategi, yang menyediakan tempat, dan para pekerja yang melakukan tugas mereka ... benar-benar menarik.”


Alexander bergumam pelan dengan suara yang hanya bisa dia dengar. Pemuda itu merasa kalau burung di sisi lain tidak begitu kuat. Kekuatannya mungkin lebih buruk daripada laba-laba hitam yang pernah dia dan Aurora lawan. Meski begitu, ada suatu hal yang bisa pemuda itu pastikan.


Makhluk itu ...


Jelas bukan monster bermutasi biasa! Dia adalah jenis spesial yang sangat sulit ditemukan!


Bahkan jika tidak sekuat makhluk-makhluk lain, tetapi Alexander yakin kalau gagak hitam itu tidak sesederhana kelihatannya.


“Tolong kami!”


Mendengar itu, Alexander dan Aurora melihat ke arah sumber suara. Di sana, tampak beberapa orang yang sedang diserang oleh para cacing bermutasi.


Dari tiga belas orang, lima dari mereka telah meninggal. Menyisakan delapan orang yang bertarung mati-matian.


Dari delapan orang tersebut, Alexander fokus pada sosok Rowan. Berbeda dengan tujuh orang lain yang sibuk bertarung dengan cacing sambil mencoba mundur, pria paruh baya itu menggunakan miracle root sembari terus menerus maju ke depan.


Kedua tangan Rowan yang menjadi lebih tebal dan dilapisi bulu serta memiliki kuku tajam terus merobek tanaman merambat dan monster cacing yang muncul di depannya.


Melihat mata merah dan ekspresi penuh kebencian di wajah Rowan, Alexander menatap ke arah Aurora lalu berkata.

__ADS_1


“Kamu akan membantuku dari belakang nanti.”


>> Bersambung.


__ADS_2