After Apocalypse

After Apocalypse
Gejolak Arus Bawah


__ADS_3

“Apa maksudmu?”


Alexander mengerutkan keningnya. Pemuda itu memiliki beberapa dugaan. Hanya saja dia masih belum yakin, jadi langsung bertanya untuk memastikannya.


“Kita tidak bisa membicarakannya di sini. Seperti biasa, datanglah ke tempatku malam ini,” ucap Clayton sambil menyesap jus buahnya.


Mendengar ucapan Clayton, Alexander dan Aurora saling memandang lalu mengangguk. Wanita itu bangkit, kemudian pergi meninggalkan pub tanpa mengucapkan sepatah kata. Sementara itu, Alexander kembali berbicara dengan Clayton.


“Kalau begitu kita pergi sekarang.”


“Baik!” ucap Clayton yang menaruh gelasnya.


Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan pub sambil membawa tiga botol jus fermentasi. Keduanya langsung pergi ke Distrik 4, tempat Clayton tinggal.


Berbeda dengan Alexander yang memilih tempat yang relatif luas, Clayton menyewa tempat kecil yang lebih hemat. Hanya ada satu kamar, di mana semua benda bercampur dan tampak berantakan.


“Seperti biasa, kamu bisa duduk dimana saja.” Clayton duduk di ranjang kayu sambil menatap Alexander.


Melihat kekacauan di sekitar, Alexander menghela napas panjang. Karena bukan pertama kali, dia sama sekali tidak terkejut ketika melihat tempat berantakan tersebut. Pemuda itu menyingkirkan beberapa pakaian kotor dan benda-benda di sekitar, mengambil kursi lalu duduk di atasnya.


“Jelaskan, lalu kamu bisa minum sepuasmu.” Alexander berkata dengan ekspresi serius.


“Kamu tidak ingin minum denganku?” tanya Clayton sambil menyeringai.


“Jika bukan untuk mencari informasi terbaru setelah pergi beberapa hari, lebih baik tidur di rumah untuk mengistirahatkan diri.” Alexander memasang senyum masam sambil menggeleng ringan.


“Seperti yang diharapkan dari anak teladan yang selalu pergi berburu setiap minggu. Banyak yang bilang separuh hidupmu dihabiskan di luar shelter. Benar-benar tidak tahu cara bersenang-senang.” Clayton mendecak, merasa agak masam (iri).


“Hey, itu juga alasan aku bisa mendapatkan dua botol ramuan dalam lima bulan kan? Mungkin saja aku bisa mendapatkannya lagi di musim semi tahun depan.” Alexander mengangkat bahu.


“Jika lebih awal, kamu pasti bisa mendapatkan lebih banyak. Tahun ini bisa mendapatkan 2 sudah baik, aku bahkan belum mendapatkan 1. Selain itu, jika tidak ada musim dingin, kamu pasti mendapatkan lebih banyak.


Tahun depan 4 botol, tahun kemudian 4 botol. Kamu benar-benar bisa naik ke level 2 dalam waktu dua setengah tahun. Tentu saja jika kamu bisa melewati beberapa hambatan, seperti menghindari kematian dan tidak berpisah dengan Aurora.


Omong-omong, kenapa kamu tidak nikahi saja dia? Bukankah makan nasi lunak itu enak?”


“...”


Mendengar ucapan Clayton, Alexander terdiam. Makan nasi lunak, itu berarti kurang bekerja keras dan mengandalkan nafkah dari istri. Bukannya tidak mungkin, tetapi hal semacam itu agak memalukan karena dianggap melalaikan tugas kepala keluarga.

__ADS_1


“Katakan saja beritanya secara langsung,” ucap Alexander dengan ekspresi tak berdaya.


“Baik, baik ... aku hanya bercanda.”


Clayton terkekeh. Pria itu kemudian minum dua gelas sebelum melanjutkan.


“Di tahun ini, monster jenis serangga berkembang agak pesat. Meski sebagian tidak kuat, tetapi mereka invasif dan mengakibatkan cukup banyak makanan di alam liar berkurang. Banyak monster yang kekurangan makanan dan kewalahan.


Di musim dingin tahun ini, sebagian besar monster akan berhibernasi. Jenis serangga yang membenci dingin juga akan bersembunyi. Pada saat itu, sisa monster yang jumlahnya masih banyak akan mengacau karena kekurangan makanan.”


Mendengar itu, mata Alexander menyempit.


“Maksudmu ... kemungkinan besar gelombang binatang buas akan terjadi?” tanya pemuda itu.


“Ada kemungkinan terjadi, tapi tidak besar. Meski begitu, situasi di luar (alam liar) pasti kacau. Lebih baik tidak pergi ke sana.” Clayton berkata dengan nada serius. Mengingatkan Alexander karena menganggap pemuda itu sebagai temannya.


“Mulai menimbun makanan, ya?” gumam Alexander.


“Betul.” Clayton mengangguk. “Lebih baik menimbun lebih banyak makanan dan jangan keluar dari rumah jika tidak perlu.”


“Kalau begitu shelter ini pasti akan menjadi ramai, persis seperti yang kamu bilang sebelumnya.”


Setelah mengatakan itu, Alexander termenung sejenak. Pemuda itu diam-diam memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.


Bentrok antara kubu resmi Blood Cross dan Hunter bebas bisa terjadi.’


Memikirkan kekacauan yang mungkin terjadi, Alexander memiliki dua pilihan. Pertama, segera pergi dari tempat ini agar tidak terlibat kekacauan. Terakhir, bertahan melewati kekacauan ini dengan segala cara.


Setelah memikirkan matang-matang, Alexander akhirnya memutuskan.


‘Aku akan tetap tinggal di sini.’


Bukannya dia senang dengan kekacauan, tetapi pergi sekarang agak merepotkan. Selain itu, persediaan di shelter tingkat menengah sama sekali tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Meski tinggal di Shelter 13 beresiko, Alexander tetap melakukannya karena lebih mudah mengumpulkan bahan di sini!


‘Mungkin ... aku juga bisa memanfaatkan kekacauan ini.’


Memikirkan itu, ekspresi Alexander menjadi semakin serius.


---

__ADS_1


Sekembalinya Alexander dari rumah Clayton.


Pemuda itu menutup pintu rumah dan menguncinya. Setelah menyalakan lentera, menggantung jubah, dan meletakkan peralatan, dia langsung pergi ke kamar tempat menyimpan bahan-bahan.


Alexander menggeser lemari kecil yang berada di sudut. Setelah itu, dia membungkuk dan mengetuk bagian lantai dengan gagang pisau. Bersamaan dengan suara ‘klik’, lantai kayu sedikit terangkat.


Setelah potongan lantai kayu diangkat, tampak sebuah tangga kecil menuju ke bawah. Pemuda tersebut menuruni tangga, tidak lupa kembali menutup kembali jalan keluarnya. Dia meraba-raba sejenak, lalu membuka wadah berisi cukup banyak lumut bercahaya.


Alexander memasukkan lumut bercahaya ke lima wadah seperti lentera lalu menggantungnya di setiap sudut dan tengah ruangan. Saat itu juga, penampakan ruangan itu pun terungkap.


Ruangan itu seukuran kamar tempat menyimpan barang, tidak terlalu besar atau kecil. Di sana, terdapat rak kayu di tiga sisi dinding. Sementara di sisi lain terdapat meja panjang, kursi, dan berbagai alat untuk membuat ramuan.


Tentu saja, ruang bawah tanah itu tidak dibeli oleh Alexander bersama dengan rumah yang disewa. Sebaliknya, pemuda itu menghabiskan musim gugur untuk membuatnya. Karena dalam rencananya, dia akan tinggal di sini selama beberapa tahun. Banyak hal yang harus disembunyikan dengan aman.


Di dalam ruangan tersebut, terdapat banyak barang yang termasuk berharga. Entah itu untuk membuat ramuan khusus, atau bahan membuat senjata.


Pertama-tama, Alexander mengambil buku di laci lalu membuat catatan harian. Setelah itu, pemuda tersebut mengambil sebuah toples porselen. Ketika dibuka, terdapat cukup banyak pil bulat berwarna hitam keunguan.


Tanpa sedikitpun keraguan, Alexander mengambil dua pil lalu menelannya.


Beberapa saat kemudian, pemuda tersebut mengepalkan kedua tangannya sambil menggertakkan gigi. Tubuhnya dipenuhi dengan keringat, matanya agak merah, dan beberapa otot di tubuhnya menjadi kehitaman.


Sekitar satu jam kemudian, Alexander bersandar di kursinya dengan wajah lelah. Pemuda itu meneguk segelas air lalu bergumam.


“Benar-benar menyebalkan. Ini lebih menyakitkan daripada yang dirumorkan.”


Untuk mendapatkan kemampuan khusus, Alexander tidak hanya perlu meminum ramuan evolusi level 2 yang spesial. Namun dia juga harus menelan pil hitam setidaknya satu setiap harinya. Setidaknya harus menelan total 50 pil sebelum meminum ramuan evolusi berikutnya.


Sedangkan pil apa yang Alexander minum ... itu adalah racun. Ya, racun khusus yang harus dikonsumsi setelah meminum ramuan evolusi spesial. Bisa dibilang, pemuda itu meracuni dirinya sendiri.


Ramuan evolusi khusus akan menyerap racun, menyebarkannya ke seluruh penjuru tubuh, lalu menetralkannya. Menempa tubuh seperti menempa baja panas untuk dijadikan senjata.


Minimal 50 pil setelah minum ramuan evolusi, itu berarti Alexander minimal harus meminum 500 pil racun. Namun, pemuda itu melakukan hal yang berbeda. Bahkan terbilang ekstrem.


“Hampir tidak bisa, tetapi masih dalam jangkauan. Tidak apa ... asalkan mendapatkan kekuatan, jangankan 100, bahkan aku rela menelan seribu racun per ramuan!”


Mengepalkan tangannya, Alexander bergumam dengan ekspresi penuh kebencian di wajahnya.


Bukan 50 atau 60 pil racun. Ya, demi kekuatan ...

__ADS_1


Pemuda itu benar-benar mengonsumsi 100 pil racun setiap kali meminum satu ramuan evolusi!


>> Bersambung.


__ADS_2