After Apocalypse

After Apocalypse
Hari-hari Meresahkan


__ADS_3

Setelah memperhatikan wanita itu baik-baik, Alexander membuka mulutnya.


“Nama?”


Mendengar pertanyaan Alexander, ekspresi wanita itu berubah menjadi lebih cerah.


“Daisy. Nama saya Daisy, Tuan!” ucap wanita itu.


“Baik, Daisy. Jika dibutuhkan, aku akan mencarimu.”


Mendengar ucapan Alexander, Daisy terus mengangguk seperti ayam mematuk nasi. Melihat betapa muda, tampan, dan kuatnya pemuda tersebut, dia merasa kalau masa depannya akan menjadi cerah jika bisa mengikutinya.


Tentu saja, meski mengetahui pemikiran Daisy, Alexander tidak begitu peduli. Lagipula, dia sama sekali tidak tertarik untuk melakukan hal semacam itu dengannya.


Terlebih lagi, di dunia yang kacau ini, walaupun kurus dan kotor, memang sangat banyak wanita cantik. Lagipula, berbeda dengan laki-laki yang harus menjual otot dan bekerja keras, kebanyakan wanita tidak memiliki fisik baik sejak muda. Jadi, kebanyakan dari mereka menjual kecantikannya untuk bertahan. Jadi, hal semacam itu memang tidak jarang.


Walau tidak berniat untuk menghabiskan malam dengannya, tetapi Alexander memiliki ide sendiri.


“Kamu bisa kembali,” ucap pemuda itu.


“Baik!” jawab Daisy.


Setelah itu, Alexander melihat ke arah beberapa orang yang tersisa. Kebanyakan dari mereka masih tergeletak di tanah. Bahkan ada yang berpura-pura mati.


Tidak ingin sesuatu yang merepotkan, Alexander berkata pada bawahannya.


“Ambil orang itu dan kirim ke penjaga karena telah memulai provokasi yang bisa menyebabkan kekacauan.”


“Baik!” jawab mereka serempak.


Alexander mengalihkan pandangannya pada 12 orang yang masih berada di tanah, tampaknya tidak berani melawan. Masih memasang senyum di wajahnya, pemuda itu berkata.


“Kali ini aku akan membiarkan kalian. Lain kali, kalian tidak akan dibawa pergi tapi tetapi dieksekusi di tempat. Enyah!”


Mendengar itu, orang-orang langsung lari terbirit-birit. Bahkan jika mereka pikir akan mati di musim dingin ini, mereka masih merasa ketakutan ketika berhadapan dengan kematian yang sebenarnya.


Melihat pemandangan semacam itu, Alexander menggelengkan kepalanya. Memikirkan orang yang dibawa dua bawahannya, dia berpikir dengan tenang.


‘Bahkan jika itu hanya ikan aneka ragam (bukan orang penting atau hunter), seharusnya masih ada poin yang lumayan.’


Tidak tahu seberapa banyak poin yang akan didapatkan, Alexander hanya menggeleng ringan. Melihat ke arah satu anak buahnya yang tersisa, dia berkata.

__ADS_1


“Kalau begitu kita melanjutkan patroli!”


“YA!” jawabnya tegas.


Dengan demikian, kedua orang itu melanjutkan patroli tanpa menunggu dua rekan lainnya.


---


Tanpa terasa, dua bulan berlalu begitu saja.


Shelter 13 benar-benar ditutupi oleh warna putih. Lapisan salju tebal dapat dilihat di mana-mana. Suasana menjadi lebih sunyi karena tidak ada orang yang keluar dari rumah mereka.


Orang-orang dari Blood Cross memilih untuk tinggal di rumah untuk menjaga kehangatan. Sementara itu, para pengungsi juga tinggal di rumah karena takut dibekukan sampai mati jika keluar. Hanya saja, tidak semua pengungsi tinggal di rumah.


Berbeda dengan orang-orang yang menimbun makanan, para pengungsi yang kekurangan makanan terpaksa keluar untuk mencari makan. Walau dingin bisa membekukan mereka sampai mati, tetapi mereka juga sadar tetap mati jika tidak makan sama sekali.


Pada saat ini, bencana kelaparan mulai melanda. Bukan hanya di Shelter 13, tetapi juga seluruh dunia. Setiap musim dingin, banyak orang akan mati kelaparan. Itu juga salah satu alasan kenapa jumlah umat manusia tidak bertambah banyak bahkan setelah ratusan tahun.


Bukan hanya mati saat melawan monster untuk memperkuat diri, tetapi musim dingin dan cuaca ekstrem lain memakan banyak korban.


Di pagi yang begitu dingin, Alexander berjalan di atas tanah bersalju dengan Aurora di sampingnya.


Mereka telah menyelesaikan jadwal berjaga dan berencana kembali ke rumah. Dibandingkan dengan siang yang tidak terlalu dingin, suhu menjadi lebih ekstrem di malam hari tepat mereka mulai menjalankan tugas patroli.


Melihat Aurora yang begitu tertekan, Alexander menghela napas panjang. Bukan hanya wanita itu, bahkan dirinya juga merasa agak tidak berdaya.


Dalam dua bulan ini, bisa dibilang banyak yang terjadi. Hanya saja, kejadian itu sama sekali tidak bisa dianggap sebagai kejadian besar.


Di bulan pertama musim dingin, para hunter berhasil menekan kekacauan di Distrik 5. Banyak orang-orang yang takut dan memilih untuk patuh. Namun, semuanya berubah di bulan kedua.


Orang-orang mulai menjadi resah, kelaparan ada di mana-mana, dan berita tentang gelombang binatang buas terus menyebar. Pada akhirnya, para hunter dipaksa untuk bertindak. Sebagian besar dari mereka memilih untuk menekan, bahkan mulai membunuh orang.


Dalam bulan itu saja, Alexander telah membunuh belasan orang di tangannya.


Meski begitu, situasi yang lebih besar tidak terjadi. Sosok kuat dan misterius itu tidak muncul. Bahkan gelombang binatang buas juga tidak terjadi.


Bukannya senang, situasi semacam itu membuat orang semakin resah dan merasa tidak aman. Hal tersebut juga membuat para hunter yang bertugas menjadi tentara bayaran merasakan banyak tekanan.


“Memang, dua bulan ini cukup berat.” Alexander mengangguk penuh pengertian.


Mendengar ucapan Alexander, Aurora langsung mendecak dengan ekspresi tidak puas di balik topengnya. Wanita itu melirik pemuda tersebut dengan dingin lalu berkata, “Kamu tidak pantas mengatakannya.”

__ADS_1


“Hm?” Alexander mengangkat alisnya.


“Jangan berpura-pura bodoh. Dibandingkan orang-orang yang sekarat karena kelaparan atau para hunter yang tertekan, bukankah hidupmu sangat indah? Setiap hari tidak sabar menunggu jam pulang agar segera dapat menunggangi kelima pelayanmu yang cantik itu,” ucap Aurora ingin.


Mendengar ucapan Aurora, sudut bibir Alexander berkedut. Memijat pelipisnya dengan ekspresi berat, dia berkata, “Aku harus bilang berapa kali sebelum kamu mengerti? Aku melakukan itu bukan karena rakus akan tubuh dan paras mereka. Aku memiliki rencana lain.”


“Ya, ya ... tuan yang penuh dengan rencana,” gumam Aurora.


“Semakin hari kamu semakin mudah marah dan tidak stabil. Mungkinkah kamu cemburu?” tanya Alexander.


“...”


Aurora hanya melihat Alexander dengan mata dingin di balik topengnya. Tanpa mengucap sepatah kata, dia langsung pergi karena mereka sudah sampai di gerbang Distrik 4. Langsung berpisah tanpa mengatakan apa-apa.


Melihat reaksi itu, pikiran Alexander mulai jernih seperti air. Dapat disimpulkan kalau wanita itu tertarik pada dirinya, dan marah karena dia menjempul beberapa wanita cantik.


Sebenarnya fenomena ini sering terjadi dan tahun ini menjadi semakin semarak karena hunter ditugaskan ke Distrik 5.


Banyak dari mereka bertemu dengan ‘wanita lemah’ yang memerlukan uluran tangan. Tentu saja, kebanyakan dari mereka malah menggunakan jasa mereka. Menukar sumber makanan dengan imbalan lain. Namun, dibandingkan di hari biasa, harganya benar-benar jauh lebih murah.


Bahkan banyak hunter yang membawa satu atau dua wanita kembali ke rumah untuk ‘menjaga’ mereka dengan baik. Lagipula, lingkungan Distrik 5 semakin tidak bersahabat.


Dalam dua bulan ini, nama Alexander menjadi lebih populer di Distrik 5, khususnya Area F. Banyak wanita mendatanginya dan berlutut untuk mendapatkan belas kasihan darinya. Yang mengejutkan, ternyata pemuda itu menerima beberapa dari mereka. Hanya saja, anggota Regu F mengeluh karena Alexander terlalu pilih-pilih dan mengambil yang bagus.


Selain Mr Barton yang sudah tua dan berkeluarga, mungkin hanya Aurora yang kurang tertarik. Bahkan sebagai wanita, dia membenci perilaku seperti itu. Namun, wanita tersebut tidak bisa menghentikannya karena memang tidak memiliki kemampuan untuk merubah segalanya.


Tidak seperti orang-orang yang ingin menjalani malam hangat, Alexander mau membantu 5 wanita itu karena dia berencana untuk membuka pub kecil setelah mengumpulkan cukup banyak poin untuk menyewa tempat dan memulai bisnis.


Tentu saja, bukan hanya untuk mendapatkan keuntungan, Alexander ingin menggunakan bisnis itu sebagai sarana mengumpulkan informasi.


Meski begitu, banyak orang memiliki pemikiran lain tentangnya karena biasanya ada alasan khusus jika laki-laki mau menolong wanita tak berdaya dan tanpa latar belakang.


Alexander tidak cukup bodoh untuk berkata kalau dirinya ingin memanfaatkan mereka sebagai sarana mencari informasi. Jika sampai ada yang tahu tujuannya, mereka pasti akan menargetkannya. Jadi pemuda itu membiarkan mereka salah paham.


Walau reputasinya agak turun, Alexander menganggapnya normal karena kebanyakan hunter laki-laki juga seperti itu.


Pada akhirnya, pemuda itu hanya bisa menghela napas panjang tanpa mengejar Aurora. Bahkan jika memiliki sedikit kesan baik tentang wanita itu, dia tidak berpikir untuk bersamanya. Hubungan mereka hanyalah kerja sama sementara, jadi tidak perlu membuat semuanya semakin rumit.


Melihat sinar mentari redup yang menyinari dunia yang dingin ini, Alexander bergumam dengan ekspresi lelah.


“Semoga hari-hari meresahkan ini segera berakhir. Akumulasi tekanan seperti ini ...”

__ADS_1


“Benar-benar membuat fisik dan pikiran kurang sehat.”


>> Bersambung.


__ADS_2