
Sekitar jam tujuh pagi di hari yang sama.
“Sepertinya kamu mulai terbiasa menjalani kehidupan nyaman.”
Mendengar ucapan Aurora, Alexander mengangkat bahu dengan ekspresi datar di wajahnya. Jika dibilang menikmati, dia memang menikmatinya. Namun, pemuda itu sama sekali tidak lalai dan selalu fokus pada prioritasnya.
“Bagaimana jika kamu juga melakukannya? Ambil satu atau dua untuk dibawa pulang?” ucap Alexander santai.
“Aku bukan orang sepertimu. Selain itu, tempat tinggalku terlalu sempit jika dibandingkan milikmu.” Aurora menggelengkan kepalanya.
“Sewa saja tempat lain.”
“Cih! Memangnya semua orang seboros dirimu.” Aurora melihat sekitar ruangan dia tinggal lalu melanjutkan. “Bukan hanya mengambil keuntungan dari teman, kamu mendapatkan penghasilan tambahan dari jual beli barang di pasar gelap. Bahkan akhir-akhir ini kamu mendapatkan banyak keuntungan.”
“Siapa yang mengambil keuntungan dari teman?” Alexander mengangkat alisnya, tampak tidak puas.
“Kamu masih memintaku biaya jasa, bukankah itu mengambil keuntungan?”
“Hey, harga yang aku minta hanya 75% dari biaya jasa pembuatan ramuan atau peralatan di pasar. Kamu sudah untung 25%, bagaimana bisa aku mengambil keuntungan?” Alexander menggeleng ringan.
“Kalau begitu biarkan aku membayar hanya 25% harga pasar. Itu yang disebut membantu teman,” ucap Aurora tanpa rasa malu sedikitpun.
Walaupun dia termasuk dalam kategori cepat mengumpulkan kekayaan, tetapi tidak bisa dibandingkan dengan Alexander.
Sejak datang ke Shelter 13, Aurora berpikir kecepatannya sudah luar biasa seolah sedang mengendarai angin. Namun, entah bagaimana ada b-jingan yang tiba-tiba muncul dan menyusulnya. Bahkan, ada tanda-tanda kalau orang itu akan melewatinya.
Benar-benar tidak tertahankan! Membuatnya kesal sampai berguling-guling di atas ranjang di malam hari, tidak tidur nyenyak karena memikirkannya!
Selain itu, Aurora juga sudah menyelidiki Alexander. Walau banyak orang rumor dimana pemuda itu berurusan dengan dua wanita yang dibawanya, dia datang sendiri untuk menemui mereka. Setelah mendengar cerita mereka berdua, Aurora merasa terkejut dan malu.
Alexander memang ‘memanjakan’ mereka. Namun, arti memanjakan berbeda dari apa yang dia pikirkan. Ternyata pemuda itu mengajari mereka berdua berbagai kemampuan. Alexander juga memberi mereka makan yang cukup, membuat mereka menjalani kehidupan terbaik.
Bahkan Daisy dan Aster berkata kalau keputusan menjadi milik Alexander adalah hal paling membahagiakan di kehidupan mereka. Mereka merasa itu adalah waktu dimana mereka paling beruntung.
Sebelum mengikuti Alexander, mereka hidup dalam ketakutan dan kelaparan. Bahkan setelah menemukan pasangan, mereka masih takut dan kelaparan.
Sejak mengetahui faktanya, Aurora tidak lagi marah pada Alexander. Bahkan merasa lebih menghormatinya.
Awalnya dia merasa harus meluruskan berita salah yang menyebar, tetapi akhirnya menyerah melakukannya karena merasa kalau Alexander membiarkan berita itu menyebar karena suatu alasan tersendiri.
Lagipula, Aurora mengenal Alexander sebagai pribadi yang kuat tetapi berpura-pura lemah, kaya tetapi pelit, dan cerdas tetapi cenderung licik. Jadi lebih baik membiarkan orang itu melakukan apa yang dia mau.
“Kamu benar-benar menggertak orang miskin!” ucap Alexander dengan nada tidak puas.
Alexander berpikir ada suatu hal besar karena Aurora ingin bertemu dengannya. Namun, pada akhirnya dia merasa sedang dirampok.
__ADS_1
“Miskin? Kamu benar-benar berani berkata kalau dirimu miskin?” ucap Aurora sambil melirik Alexander dengan dingin.
“Errr ... sebenarnya tidak seburuk itu, tetapi aku punya tiga perut untuk diberi makan!”
Melihat betapa tidak tahu malunya Alexander, Aurora merasa ingin menamparnya dengan keras.
Harga makanan untuk mereka bertiga makan sebulan jelas hanya seharga beberapa potion stamina tingkat rendah. Selain itu, Alexander juga pandai berburu dan mengumpulkan makanan. Jelas tidak perlu mengeluarkan uang untuk makan.
“Lalu berapa banyak diskon yang kamu bisa berikan?” tanya Aurora dengan sabar.
“Ugh ...” Alexander mengelus dagu. “Kamu bisa membayar 60% harga pasar.”
“Terlalu buruk! Aku akan membayar 30%, lalu akan memberimu bisnis yang menjanjikan.”
“Bisnis macam apa?” tanya Alexander dengan nada curiga.
“Jangan kira hanya prestise (pamor) kamu yang tinggi, White Flash. Sebagai hunter perempuan, aku cukup populer di kalangan wanita yang ingin melepaskan diri dari nasib buruk mereka.
Aku mengenal beberapa wanita yang sesekali meminta saran kepadaku. Aku bisa memperkenalkan mereka kepadamu sebagai pelanggan. Beri mereka 80% harga pasar dan mereka akan menjadi pelangganmu.”
“Itu benar-benar buruk.” Alexander menggelengkan kepalanya. “Pertama, memberimu 30% harga pasar tidak mungkin. Paling parah, 50% harga pasar tanpa ada penawaran lain. Selain itu, menjualnya dengan harga murah ke orang lain akan membuat mereka curiga, jadi biaya menjadi 90% harga pasar.”
“Itu ...” Aurora agak bimbang.
“Ketika berbicara soal para magang hunter wanita, aku langsung memikirkan banyak hal. Sebagian besar dari mereka pasti memiliki masalah, seperti diganggu ketika membuat tim bahkan dipaksa membayar mahal ketika menyewa jasa membuat senjata atau ramuan.
Entah dimanfaatkan oleh rekan satu tim atau para pengrajin. Demi mengejar impian mereka dan keluar dari jurang yang gelap, kebanyakan dari mereka akan melakukannya.
Tentu saja, ada beberapa pengecualian. Hanya saja, kebanyakan memang begitu.”
Aurora tidak menjawab, tetapi dia jelas lebih mengerti situasi yang dihadapi para hunter wanita itu. Bisa dibilang, wanita itu memang jauh lebih beruntung dibandingkan mereka.
Melihat Aurora mulai tergerak, Alexander mulai menambahkan.
“Dengan munculnya dirimu yang ‘tanpa latar belakang’ bisa menjadi hunter, mereka menjadi semakin bersemangat untuk mengejar mimpi yang awalnya terlihat seperti fatamorgana.
Kamu telah membantu mereka dengan memberi tips agar mereka membuat tim kecil sendiri, menutup diri dengan jubah, dan berburu di lingkungan yang relatif sepi. Bahkan menghindari orang lain meski mereka sesama magang.
Itu membuat mereka lebih nyaman.
Bayangkan saja. Jika mereka memiliki tempat untuk membuat peralatan dan ramuan lebih murah dan aman tanpa takut dilecehkan. Mereka pasti bisa menabung sedikit demi sedikit, akhirnya memiliki kesempatan lebih tinggi untuk lepas dari penderitaan.
Pada saat itu juga, prestisemu akan naik lebih tinggi. Bahkan ...”
Alexander berbisik pelan.
__ADS_1
“Kamu bisa dianggap sebagai pahlawan bagi para wanita yang teraniaya itu.”
Bisikan Alexander seperti palu yang memecah lapisan terakhir keraguan Aurora. Memiliki ekspresi serius dan penuh tekad di wajahnya, wanita itu mengangguk sambil berkata.
“Benar! Dengan begitu, aku bisa membuktikan pada orang-orang itu bahwa perempuan bukan hanya bisa menjadi beban, memasak, dan memberi keturunan. Mereka juga memiliki kesempatan asal mau berjuang!”
Mendengar itu, Alexander tertawa ramah sambil mengulurkan tangannya.
“Kalau begitu mohon kerja samanya mulai sekarang.”
---
Malam harinya.
Alexander datang ke pub untuk minum bersama Clayton. Meski pria itu sering memintanya mentraktir minuman, tetapi dia tidak begitu peduli. Lagipula, pemuda itu juga mendapatkan cukup banyak manfaat dari informasi yang diberikan oleh Clayton.
Walau tidak melakukannya secara langsung, tetapi Clayton memang sesekali menyelamatkannya dari masalah yang tidak perlu.
“Kamu akhirnya datang, Sobat! Sudah beberapa hari kita tidak bertemu! Kamu sekarang menjadi lebih terkenal, Sobat!” ucap Clayton dengan seringai di wajahnya, tampaknya pamer kalau Alexander adalah teman dekatnya.
“Tiga hari memulihkan diri, lalu beberapa hari bersantai.”
Alexander mengangkat bahu. Dia meletakkan dua botol jus berry di atas meja lalu duduk di kursi berhadapan dengan Clayton.
“Kamu benar-benar menolak tawaran besar, Sobat. Itu luar biasa!” ucap Clayton.
Seperti yang dikatakan oleh Clayton, Alexander menolak tawaran dari Blood Cross. Tiga hari setelah pertempuran melawan gelombang binatang buas, situasi menjadi lebih stabil. Saat itu, ada beberapa perwakilan yang datang ke tempat tinggalnya untuk mengundangnya menjadi anggota Blood Cross.
Bukan hanya mengundang, tetapi memberinya penawaran yang sangat tinggi. Selama Alexander bergabung, dia akan mendapatkan penawaran satu level di atas levelnya.
Itu berarti, entah itu gaji bulanan atau pangkatnya akan setara dengan hunter level 2. Selama dia naik ke level 2, perawatannya setara level 3. Itu benar-benar sesuatu yang terlalu luar biasa dan membuat banyak orang cemburu.
Hanya saja, Alexander memilih untuk menolaknya. Ketika pihak Blood Cross berpikir kalau pemuda itu tidak puas dan meminta perawatan lebih tinggi, dia mengatakan alasannya.
‘Kebebasan.’
Kata itu membuat banyak orang merasa marah, bingung, dan tercengang. Mereka ingin menyalahkan Alexander, tetapi tidak bisa melakukannya karena hal semacam itu tidak bisa dinilai harganya.
Bagi seseorang, menjadi budak adalah sesuatu yang membahagiakan.
Bagi orang lain, jabatan tinggi sama sekali tidak seindah kebebasan di dunia kacau balau ini.
Pada akhirnya, Alexander juga berkata kalau bersedia membantu Blood Cross untuk melakukan berbagai misi. Namun dia akan dibayar sebagai tentara bayaran, tidak perlu pangkat tinggi dan perawatan berlebihan, tetapi juga tidak membuang kebebasannya.
Dengan begitu, pamor Alexander melejit tinggi. Banyak orang di Shelter 13 mengenalnya, bukan hanya sebagai orang bodoh yang menolak kekayaan ...
__ADS_1
Tetapi juga pemuda ramah, baik hati, serta mencintai perdamaian dan kebebasan.
>> Bersambung.