
Sekitar satu jam kemudian.
“Ini kemenanganmu V. Tampaknya kali ini aku benar-benar menemukan lawan yang seimbang.”
Gerry duduk di tempatnya dengan senyum masam di wajahnya. Meski baru saja saling kenal, dari tawar-menawar mereka soal harga, dia merasa cocok dengan Alexander. Selain itu, bahkan jika pria itu bilang dirinya kalah, tetapi sama sekali tidak merugi.
Bisa dibilang, kesepakatan yang mereka capai kali ini adalah situasi win-win antara mereka berdua. Sama sekali tidak ada yang dirugikan.
“Jangan terlalu tamak, Gery. Jika berhasil, ini akan menjadi bisnis jangka panjang. Saat itu, kamu pasti bisa tersenyum lebar karena keuntungan yang kamu dapatkan.” Alexander membalas dengan santai.
“Kalau begitu aku akan menerima kata-kata baikmu.” Gery mengangkat cangkirnya, menatap Alexander dengan puas.
“Santai saja. Meski baru saling mengenal, kita adalah jenis yang sama. Selama saling menguntungkan dan tidak ada yang melanggar prinsip, semuanya akan baik-baik saja,” ucap Alexander sebelum menyesap anggur.
Dalam pembicaraan, mereka berdua jelas saling mengenal satu sama lain. Khususnya Alexander. Ketika berbicara dengan Gery, dia yakin kalau pihak lawan adalah jenis yang percaya ‘uang bahkan bisa membuat iblis bekerja’. Itu artinya, selama kesepakatan mereka menguntungkan, Gery akan bekerja keras untuk memperjuangkannya.
Tentu saja, Alexander mau membuat penawaran bagus juga karena reputasi pria di depannya.
Jangan lihat Gery sebagai pemabuk yang suka menghabiskan waktu dengan wanita. Dibandingkan dengan orang-orang licik yang tidak bisa dipercaya, pria ‘romantis’ itu masih tergolong jenis yang baik.
BRUAK!
Saat itu, suara benda berat jatuh ke tanah mengejutkan orang-orang yang sedang minum. Alexander yang sedang berbicara dengan Gery tampak sedikit ragu. Sebaliknya, Grey Jackal tiba-tiba menunjukkan senyum ceria di wajahnya.
“Bukankah kamu ingin mengetahui informasi dan kebiasaan orang-orang di Shelter 11? Selain orang-orang di sisi putih yang bisa diucapkan secara langsung, ada beberapa hal yang lebih baik jika kamu melihatnya,” ucap Gery dengan nada main-main.
“Maksudmu?” tanya Alexander dengan nada penuh keraguan.
“Daripada menjelaskannya, akan lebih baik jika kamu melihatnya sendiri. Ikuti aku!” ucap Gery yang berdiri sambil membawa botol anggur.
“...”
Alexander tidak mengatakan apa-apa. Dia juga berdiri dan mengikuti Gery. Bukan hanya mereka berdua, cukup banyak orang yang bangkit lalu berjalan bagian depan bar.
Sesampainya di sana, orang-orang itu melihat beberapa orang yang berdiri sambil berteriak dan saling menunjuk.
Berbeda di Shelter 13 dimana kebanyakan orang di bar menjaga ketenangan mereka, tampaknya tempat ini jauh lebih ramai. Bukan hanya tidak ada yang melerai, banyak orang yang menonton sambil menambahkan minyak. Membuat provokasi sehingga situasi semakin memanas.
“Cih! Padahal aku ingin membuatmu melihat pertunjukan yang bagus,” ucap Gery dengan nada tidak puas.
“Apakah mereka akan bertarung di sini?” tanya Alexander datar.
“Itu bukan sesuatu yang layak di tonton. Kedua sisi adalah magang hunter. Satu baru saja datang ke Shelter 11 dan sisi lain sudah tinggal cukup lama,” jawab Gery.
“Itu tidak menjawab pertanyaanku.” Alexander melirik ke arah Gery.
__ADS_1
“Hey! Mereka tentu akan bertarung! Kenapa hal semacam itu masih ditanyakan? Hanya saja, itu pertarungan biasa. Mereka tidak mungkin berani melakukan pertarungan hidup dan mati.”
“Pertarungan hidup dan mati? Di tempat ini?” tanya Alexander dengan ekspresi bingung di balik topengnya.
“Tentu saja tidak di sini, Bung. Sebenarnya Shelter 11 memiliki arena pertarungan bawah tanah. Biasanya orang yang memiliki konflik berat akan menyelesaikan urusan mereka di sana dengan jantan. Bertarung sampai mati layaknya ksatria!” ucap Gery penuh semangat.
“Tidak melakukan semuanya secara pribadi?” gumam Alexander.
Mendengar ucapan Alexander, Gery tertegun sejenak. Mengetahui kalau rekannya adalah tipe yang suka menyelesaikan banyak hal dalam diam, dia akhirnya menjelaskan.
“Bertarung sampai mati bukan hanya untuk menyelesaikan konflik, tetapi juga menumbuhkan pamor. Ketika berhasil mengalahkan lawan, namanya akan menjadi lebih populer. Bukan hanya dikenal orang, tetapi akhirnya juga bisa diakui beberapa orang kuat untuk menerima misi.
Pada akhirnya, kehidupan pemenang pertarungan itu akan membaik.”
“...”
Mendengar ucapan Gery, Alexander mengangguk dalam diam. Dia mengerti alasan mereka bertarung. Rasanya seperti gladiator dalam cerita yang pernah didengarnya. Masalahnya, pemuda itu tidak terlalu setuju.
Bertarung sampai mati hanya untuk popularitas adalah hal bodoh. Setidaknya itulah yang Alexander yakini. Tanpa perlu membuat kekacauan yang tidak perlu, dia yakin kalau kekuatan adalah hal utama.
Sama seperti berlian yang indah, bahkan akan berkilau di tempat kotor dan berlumpur.
Jika memiliki kekuatan yang luar biasa, entah itu kekayaan atau ketenaran pasti akan menyusulnya. Namun, bukan itu yang paling penting.
‘Setelah melihatnya sendiri, barulah aku sadar kenapa manusia tidak pernah maju.’
Menurut apa yang diajarkan kakek atau leluhurnya, musuh manusia adalah monster ganas yang menguasai dunia saat ini. Namun, manusia malah bertarung dengan sesamanya untuk kepentingan pribadi.
Sebenarnya itu masih bisa dimaklumi. Masalah yang lebih penting adalah ... mereka tidak memiliki kesadaran diri dan hanya menikmati posisi mereka saat ini. Hidup di sudut dunia yang gersang dan menikmati hidup di tepi kematian.
‘Aku pikir Pak Tua itu sombong, ternyata memang seperti yang dia katakan. Sepertinya umat manusia memang sudah tidak bisa diselamatkan.’
Alexander menggelengkan kepalanya. Dia sama sekali tidak berniat memikirkan hal semacam itu lagi. Pemuda itu memiliki tujuannya sendiri dan kekuatannya sekarang tidak bisa mencapai tujuan itu.
Merebut kembali dunia? Monster acak saja bisa dengan mudah membunuhnya, jadi dia tidak memiliki impian yang begitu mulia seperti itu.
“Apakah ada yang salah, V?” tanya Gery yang melihat Alexander hanya diam saja.
“Tidak apa-apa.” Alexander menggeleng ringan.
“Lihat! Tampaknya ini lebih menarik daripada apa yang kita lihat,” ucap Gery terburu-buru.
Tidak seperti yang dipikirkan Gery dan kebanyakan orang, ternyata semuanya berjalan lebih intens. Kedua belah pihak tidak hanya saling mencaci maki, tetapi hampir bertarung.
Di satu sisi, tampak sosok pria muda berusia sekitar 25 tahun. Dia memiliki rambut coklat ikal dan mata hijau. Pria itu tinggi dan berkulit sedikit gelap, tetapi juga sangat kurus.
__ADS_1
Di sisi lain, tampak sosok pria paruh baya dengan tubuh lebih berotot. Kulitnya lebih gelap, rambutnya dipangkas habis dan menyisakan kumis pirang yang cukup mencolok. Usianya kira-kira 32 sampai 33 tahun.
“Bayi sepertimu tidak pantas tinggal di sini, Nak! Kembalilah ke shelter rendah tempat asalmu! Menolong sesama dan bertingkah seperti pahlawan? Berhentilah bersikap munafik!” teriak pria botak itu.
“Namaku Samuel dan aku bukan bayi seperti yang kamu katakan! Apa salahnya pemuda punya mimpi? Kamu, di usia seperti itu tidak bisa menjadi hunter asli tetapi masih menindas seorang gadis kecil ... malu pada dirimu, Pak Tua!” teriak Samuel.
Mendengar kata tua dan tidak berguna membuat pria botak itu marah. Kedua hal tersebut menjadi titik sakitnya. Dia sudah berjuang sebisanya, tetapi akhirnya ‘kurang beruntung’ dan tidak bisa menembus batasan hunter.
Singkatnya, pria itu adalah seorang yang takut mati jadi menunda perkembangannya dan berakhir seperti ini.
“Bertarung! Kalau begitu aku menantangmu untuk berduel sampai mati! Siapapun yang menang akan mendapatkan apa yang dimiliki yang kalah! Apakah kamu berani, Bocah?” teriak pria itu.
“...” Samuel terdiam sejenak, tampak penuh keraguan.
“Jika tidak berani, berhentilah menggerutu! Ini bukan tempat untuk bayi sepertimu!” teriak pria itu.
Samuel menggertakkan gigir. Setelah beberapa saat ragu, dia menunjuk ke arah wajah pria itu lalu berteriak, “Berani! Tentu saja aku berani menerima tantanganmu!”
Mendengar ucapan Samuel, banyak orang bertepuk tangan dengan ekspresi penuh semangat. Sementara itu, Gery bergumam pelan dan Alexander kebetulan mendengarnya.
“Bertarung sampai mati karena wanita bar. Pemuda itu benar-benar ceroboh. Ini sama sekali bukan sesuatu yang layak.”
Saat mendengar gumaman itu, tatapan Alexander menyapu sosok Samuel. Dia kemudian memperhatikan wanita di belakang pria itu. Melihat betapa ‘menyedihkan’ wanita itu, pemuda tersebut menggelengkan kepalanya.
“Hey V!” panggil Gery.
“Apa?” balas Alexander datar.
“Dengarkan baik-baik yang aku katakan. Ingat orang-orang yang aku sebutkan. Mereka semua adalah hunter level 2 dan kamu harus mewaspadainya. Mulai dari sana ...”
Gery mulai memberi informasi kepada Alexander. Memperkenalkan orang-orang yang cukup terkenal di tempat minum ini. Sebagai tanggapan, pemuda itu terus mengangguk. Dia mengingat beberapa orang yang dia lihat sebelumnya dan menambahkan informasi lebih rinci tentang mereka di dalam kepalanya.
“Kamu cukup berhati-hati, jadi tidak akan ada masalah. Aku harap kamu terus seperti itu dan tidak bertindak ceroboh. Di sini, tidak hanya ada magang hunter, tetapi juga beberapa orang kuat.
Bisa dibilang, Golden Wheat adalah tempat dimana ayam dan elang berkumpul bersama.”
Mendengar penjelasan Gery, Alexander mengangguk ringan. Mengamati banyak magang hunter dan beberapa hunter level 2 yang tersembunyi, dia merasa kalau ucapan rekan bisnisnya cukup tepat.
‘Tempat ayam dan elang berkumpul, ya? Aku rasa ...’
Alexander menatap Gery yang sebenarnya juga hunter level 2 yang cukup kuat tetapi tertutup popularitasnya sebagai perantara. Dengan mata menyempit, dia sekali lagi mengangguk.
‘Itu memang tidak salah.’
>> Bersambung.
__ADS_1