After Apocalypse

After Apocalypse
Misi Penyelamatan


__ADS_3

Beberapa jam berlalu begitu saja.


Pada saat membuka matanya, Aurora langsung melihat langit malam penuh bintang yang luas. Pemandangan seperti itu membuatnya tertegun dan merasa bingung. Saat itu juga, dia tiba-tiba merasa kedinginan.


Baru kemudian, Aurora menyadari kalau dia tidak memakai apa-apa di balik jubah tebal yang menutupi seluruh tubuhnya. Kejadian yang begitu tiba-tiba membuatnya merasa bingung dan panik. Wanita itu kemudian merasa marah dan malu.


‘Alexander! Ini pasti ulah Alexander!’


Sambil memikirkan itu, Aurora langsung melihat sekitar. Pada saat melihat sosok Alexander yang sedang duduk beberapa meter darinya. Pemuda itu tampaknya merasakan tatapannya, jadi menoleh sambil bertanya, “Sudah bangun?”


“Um ... iya.”


Aurora merasa rumit. Pada awalnya, wanita itu berpikir untuk memarahi Alexander. Namun, kemarahan itu langsung sirna ketika mendengar suaranya. Hal itu membuatnya terasa tidak nyaman. Seolah otak dan tubuhnya tidak sinkron, bahkan sedikit bertentangkan.


Aurora hendak bangun, tetapi segera berhenti ketika mengingat dirinya sama sekali tidak mengenakan apa-apa di balik jubah yang menutupinya. Sambil mencengkeram ‘selimut’ itu, dia semakin bingung.


Sesaat kemudian, wanita itu tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda di tubuhnya. Dengan mata terbelalak, dia menatap Alexander dengan ekspresi tidak percaya.


“Alexander ... kamu ...”


“Kamu hampir mati karena keracunan. Itu adalah satu-satunya cara. Syukurlah kamu cukup beruntung. Bisa selamat meski melewati beberapa lika-liku,” ucap Alexander dengan ekspresi santai di wajahnya.


Melihat ekspresi lega di wajah Alexander, Aurora merasa agak malu. Untung saja dia tidak mengetahui apa yang dipikirkan pemuda itu. Jika sampai mengetahuinya, wanita itu pasti sudah memarahi dan memaki Alexander.


Pada saat melihat Aurora baik-baik, Alexander menghela napas lega.


‘Untung saja dia selamat. Setelah banyak membantu dan berinvestasi dengan miracle root yang begitu langka, akan sangat disayangkan jika dia sampai mati.’


Setelah itu, Alexander mengambil ransel Aurora lalu meletakkannya di dekat wanita itu. Melihat Aurora yang kebingungan, dia langsung berkata dengan nada datar.


“Kamu memakainya sendiri. Terlalu banyak dan berlapis-lapis, jadi lakukan saja sendiri.”


Mendengar itu, Aurora tertegun di tempatnya. Wajahnya menjadi semakin merah karena malu dan marah. Dia malu karena Alexander membantunya merawat luka dan membersihkan tubuhnya. Namun wanita itu juga marah ketika melihat ekspresi penuh keengganan di wajah pemuda itu.


‘Apa maksud dari ekspresi itu? Enggan? Merasa tubuhku terlihat buruk dan tidak layak?’


Berbagai kemungkinan membuat Aurora semakin tidak nyaman. Dia benar-benar ingin mengutuk keras, tetapi tidak bisa melakukannya.


Pada akhirnya, hanya dua kata yang terucap dari bibirnya.


“Terima kasih.”


Gerakan Alexander terhenti sejenak. Pemuda itu menatap ke arah Aurora dalam-dalam, sebelum akhirnya mengangguk ringan.


Tidak ingin berpikir macam-macam, Alexander segera pergi untuk mengemas beberapa jarahan yang susah payah dia bawa naik ke permukaan. Delapan ujung kaki laba-laba yang sangat cocok dibuat menjadi belati, dua tanduk, dan sebuah kantung racun.


Apakah berurusan dengan perempuan itu menarik? Jawabannya tentu saja menarik, dan sebagai laki-laki, Alexander juga menganggapnya menarik. Namun ...


Berurusan dengan berbagai bahan langka untuk membuat senjata dan ramuan membuatnya lebih tertarik!


 


Keesokan paginya.


Alexander menatap ke arah Aurora yang sejak semalam bertingkah aneh. Pemuda itu mengerutkan kening sambil bertanya.


“Apakah kamu merasa tidak nyaman? Apakah ada yang salah?”

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Alexander yang begitu tiba-tiba, Aurora tersentak. Dia menatap ke arah pemuda itu. Setelah beberapa saat, wanita itu akhirnya menggelengkan kepala.


“Tidak ada apa-apa. Sama sekali tidak ada masalah.”


“Apakah kamu yakin?”


Alexander langsung mendekati Aurora dan mencoba membuka topengnya. Namun, saat itu wanita tersebut langsung melompat mundur. Bahkan mundur terlalu jauh karena ingin


menghindarinya.


“Jika tidak mau membicarakannya, aku tidak akan memaksamu. Namun, aku harus mengingatkanmu. Segera beradaptasi dengan tubuhmu. Kekuatan, kecepatan, dan ketahanan tubuhmu meningkat pesat.


Selain itu, kamu juga harus mulai mempelajari dan menguasai berbagai kemampuan yang telah kamu dapatkan. Akan sia-sia jika kam mendapatkan kemampuan luar biasa dari makhluk bermutasi, tetapi tidak bisa menggunakannya.”


Perkataan Alexander membuat Aurora merasa nyaman. Wanita itu sedikit bingung. Dia merasa nyaman karena pemuda itu tidak ingin memaksakan dirinya untuk mengaku, atau karena perhatian yang diberikan. Mungkin bisa karena keduanya.


“Aku mengerti. Aku akan segera menguasainya,” balas Aurora.


“Baiklah. Jika tidak ada hal lain, maka kita akan melanjutkan perjalanan.” Alexander mengangguk ringan.


Melihat sosok Alexander dari samping, Aurora merasa sedikit tidak nyaman. Dia jelas melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pemuda itu bertarung habis-habisan dengan laba-laba hitam. Namun, akhirnya malah dirinya yang mendapatkan miracle root.


“Alexander!” panggil Aurora.


“En? Ada apa?” Alexander menoleh.


“Jika ... Semisal kita tidak menemukan makhluk bermutasi lain, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Aurora.


Wanita itu tahu seberapa langka makhluk semacam itu. Jika sampai melepaskannya, tidak tahu kapan kesempatakan akan datang. Mungkin dalam sekejap, atau mungkin tidak akan muncul sampai akhir hayatnya.


“Tiga hari!” Alexander mengulurkan tiga jarinya. “Jika kita tidak bisa menemukan makhluk yang aku inginkan dalam tiga hari, maka kita akan kembali.”


“Aku lebih memilih menunda beberapa tahun daripada menyesal mengambil miracle root yang salah. Sedangkan untuk miracle root yang kamu serap ... jangan terlalu memikirkannya. Mengerti?” ucap Alexander dengan senyum lembut.


Tentu saja dia tidak ingin Aurora terus menyebutnya karena akan membuatnya kepikiran. Namun, tampaknya wanita itu memiliki pemikiran berbeda. Dia merasa Alexander mengatakan itu untuk menghiburnya.


Memiliki senyum lembut di balik topengnya, wanita itu mengangguk ringan.


“Terima kasih.”


Setelah itu, mereka pun mulai melanjutkan perjalanan.


Hanya saja, perjalanan itu berjalan begitu hambar. Mereka tidak menemukan sesuatu yang berguna. Sebaliknya, mereka beberapa kali menghindari bahaya.


Beberapa jam kemudian, Alexander tiba-tiba membuat isyarat kepada Aurora agar wanita itu waspada. Pemuda itu menarik pedangnya keluar, lalu menunjuk ke arah tertentu.


Melihat ke arah yang Alexander tunjuk, ekspresi Aurora langsung berubah menjadi sangat serius. Bahkan lebih dingin dan terlihat berbahaya dibandingkan sebelumnya.


“Jejak kaki manusia? Bagaimana bisa ada jejak kaki manusia di tempat seperti ini?” gumam Aurora dengan ekspresi penuh kejutan dan rasa tidak percaya.


“Tentu saja ada Hunter lain.” Alexander membalas datar. “Masalahnya, kita tidak tahu para hunter itu berasal dari mana dan memiliki jejak permusuhan dengan kita atau tidak. Jika dilihat dari tempatnya, seharusnya masih hunter dari Shelter 13. Namun, aku tidak tahu apakah mereka musuh atau rekan kita.”


“...”


Melihat ekspresi serius di wajah Alexander, Aurora terus mengangguk. Dia kemudian bertanya, “Apa yang akan kita lakukan sekarang?”


“Alasan kita datang adalah mencari miracle root. Jadi lebih baik menghindari mereka dan mengambil jalan memutar.” Alexander langsung membuat keputusan tanpa sedikit pun keraguan.

__ADS_1


“Baik.”


Setelah itu, Alexander dan Aurora memilih jalan memutar. Mereka menghindari tempat kemungkinan orang-orang dari pihak lain berada sembari mencari makhluk lain dan menghindari berbagai monster yang hanya membuat mereka kerepotan.


Hanya saja, entah karena kurang beruntung atau tidak bisa mengelak dari takdir, Alexander dan Aurora akhirnya masih bertemu dengan hunter lain.


Di sisi lain, tampak tiga belas orang yang terdiri dari tiga hunter level 2 dan sepuluh orang hunter level 1. Melihat komposisi musuh membuat Alexander menghela napas lega dalam hatinya. Selama melakukan pertempuran, bahkan jika tidak menang, pemuda itu masih cukup yakin dalam melarikan diri.


Meski begitu, Alexander merasa hal semacam itu tidak perlu dilakukan karena ...


Dari pakaian yang mereka kenakan, dia tahu kalau orang-orang di sini lain adalah para penjaga dari Shelter 13. Anggota Blood Cross yang sedang melakukan tugas mereka.


“Tunggu!”


Seorang pria paruh baya yang kemungkinan besar adalah ketua dari tim tersebut langsung memberi perintah pada bawahannya agar tidak ceroboh. Dia kemudian bertanya pada Alexander dan Aurora.


Salah satunya adalah hunter level 2, dan satunya lagi memiliki kekuatan yang tampak terlalu samar sehingga tidak bisa dia ketahui.


Alexander langsung membuka tudungnya dan memperlihatkan wajah pada orang-orang dari pasukan penjaga. Memiliki senyum ramah di wajahnya, dia berkata.


“Namaku adalah Alexander. Mereka sesekali memanggilku White Flash. Mungkin kalian pernah mendengarnya?


Ini adalah rekanku, Aurora. Kami datang ke sini untuk melakukan penjelajahan. Berharap cukup beruntung mendapatkan panen yang baik.”


Mendengar ucapan Alexander, ekspresi serius pria itu menjadi semakin mengendur. Baru beberapa saat kemudian dia menatap keduanya dengan mata terbelalak.


“Bukankah kalian berdua adalah duo rookie yang terkenal itu? Bagaimana ... bagaimana bisa sudah berada di level 2?” tanya pria paruh baya itu.


“Hey, bukankah ini agak memalukan?” Alexander memasang ekspresi malu. “Kami berdua cukup beruntung. Mungkin lebih tepatnya aku cukup beruntung mengikuti Aurora. Dia berhasil mencapai level 2 akhir-akhir ini dan aku sudah mengambil 8 ramuan. Tidak jauh lagi dari level 2.”


“...”


Melihat ekspresi tercengang orang-orang itu, Alexander melanjutkan.


“Alasan kenapa kami datang adalah mencari miracle root yang cocok untuk Aurora. Awalnya kami memilih beberapa yang cocok, tetapi cukup beruntung menemukan makhluk level 2 yang sekarat setelah bertarung dengan makhluk level 3.


Hey! Aku bahkan tercengang. Sama sekali tidak menyangka dia bisa seberuntung itu! Benar-benar membuatku iri.


Tentu saja, aku tidak terlalu iri karena dia pasti membantuku mendapatkan miracle root kedua.”


Alexander berkata dengan nada terkejut dan kagum. Kalimat terakhirnya agak pelan, tetapi masih terdengar oleh tiga orang level 2 di sisi lain. Membuat sudut bibir mereka berkedut hebat. Sama sekali tidak menyangka ada hunter yang begitu santai dan ceria seperti itu.


Melihat mereka semua diam, Alexander kembali bertanya.


“Lalu, apa yang dilakukan para penjaga di tempat seperti ini?”


Mendengar pertanyaan Alexander, ekspresi pria paruh baya itu menjadi serius.


“Kami sedang menjalankan misi penyelamatan. Apakah kalian melihat kelompok lain dengan Nona Mari di dalamnya?”


“Nona Mari?” gumam Alexander dengan ekspresi serius. Mengingat apa yang pernah dia dengar sebelumnya, pemuda itu memastikan. “Wanita cantik dengan tubuh indah penuh lekukan? Putri dari salah satu petinggi?”


“Ya!” Pria paruh baya itu bersemangat. “Dimana kamu melihatnya?”


Mendengar itu, Alexander menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak melihatnya. Aku hanya memastikan karena pernah mendengar nama itu dari temanku.”

__ADS_1


Ucapan Alexander membuat orang-orang itu merasa disiram dengan air dingin. Mereka semua tertegun di tempat masing-masing tanpa bisa mengatakan apa-apa.


>> Bersambung.


__ADS_2