After Apocalypse

After Apocalypse
Tidak Bisa Berlanjut


__ADS_3

Setelah Aurora pergi, berita mulai menyebar.


Banyak orang mulai berpendapat dan berbagai versi cerita menyebar. Ada yang berkata kalau Aurora tidak tahan dengan sifat ramah Alexander. Ada yang berkata kalau Aurora tidak puas karena Alexander berhubungan dengan wanita lain. Ada juga berbagai versi lain. Namun, satu hal yang pasti ...


Reputasi Alexander langsung jatuh.


Para pria berkata kalau Alexander tidak tahu malu karena mengandalkan Aurora untuk naik ke level sekarang. Para wanita berkata kalau pemuda itu tidak tahu malu, meremehkan perempuan, dan berbeda dengan apa yang mereka pikirkan selama ini.


Meski begitu, Alexander tidak begitu peduli. Dia sama sekali tidak mengharapkan bantuan dari mereka. Selama orang itu tulus kepadanya, tidak peduli seberapa baik atau buruk dirinya, mereka akan menerimanya. Sebaliknya, jika tidak tulus, sebaik apapun mencoba meyakinkan mereka, orang-orang itu akan selalu memiliki prasangka buruk.


Dari sekian banyak orang, tampaknya hanya Clayton dan dua pelayannya yang peduli padanya. Namun, Alexander tidak begitu memikirkannya.


Sebaliknya, pemuda itu malah fokus pada urusannya dan lama-kelamaan dilupakan.


Alexander akan keluar dua hari dalam satu minggu untuk berburu dan menukar poin secukupnya untuk makan. Sedangkan sisa waktunya akan digunakan untuk mengurus pesanan dari para magang hunter perempuan.


Jadi, di permukaan Alexander hanya terlihat hidup malas. Mencari makan untuk dia dan kedua wanitanya. Namun, dia secara sembunyi-sembunyi mengumpulkan cukup dana untuk melakukan beberapa penelitian. Entah itu membuat senjata atau ramuan, bahkan mulai mengumpulkan bahan ramuan level 3.


Dengan begitu, waktu terus berjalan dan keberadaan Alexander pun semakin terlupakan.


Tanggal 01, bulan 01, tahun 400 kalender bulan hitam.


Alexander membuka matanya. Melihat ke kanan dan kirinya dimana kedua wanita itu sudah bangun, dia pun juga bangkit dari ranjangnya.


Dalam waktu ini, ada perubahan besar di rumah Alexander. Awalnya, rumah itu memiliki satu ruang luas dan dua kamar berukuran sedikit lebih kecil.


Alexander memindahkan semua barang ke ruang penyimpanan dimana mereka menyimpan semua bahan entah untuk ramuan atau peralatan. Kamar dimana Daisy dan Aster tinggal dibersihkan, ranjang besar dan lemari kecil ditaruh di sana. Kemudian, mereka bertiga tidur di sana.


Sementara itu, ruang paling besar Alexander bagi menjadi dua dengan memasang dinding kayu tipis. Bagian belakang menjadi dapur tempat mereka memasak dan santai. Bagian depan menjadi ruang multifungsi. Bisa digunakan untuk menerima tamu, bersantai, atau memproses berbagai bahan.


Berjalan menuju ke dapur, Alexander mengambil sedikit air untuk mencuci muka. Di sana, Daisy dan Aster juga sedang mempersiapkan sarapan.


Duduk di kursi sambil menoleh ke jendela belakang rumah, Alexander bisa melihat salju di halaman belakang sudah hampir mencair sepenuhnya. Suhu yang sebelumnya sangat dingin menjadi lebih hangat, pertanda musim semi telah tiba.


“Apakah ada yang salah, Tuan?” tanya Aster.


Alexander menatap ke arah Aster. Pada saat itu, dia mengingat apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Pemuda itu sama sekali tidak menyangka kalau ternyata wanita itu mendapatkan pengalaman pertamanya ketika bersama dengan Alexander.


Pemuda itu jelas agak bingung. Menurut cerita Daisy dan Aster sendiri, Aster telah menikah. Meski suaminya meninggal kurang dari satu minggu setelah mereka menikah, tetapi seharusnya mereka telah melakukan itu.

__ADS_1


Jadi, Alexander sampai pada dua kesimpulan. Entah mantan suami Aster itu kurang sehat, atau memang sengaja menjaganya terlebih dahulu lalu berusaha menciptakan momen indah sebelum melakukannya.


Alexander menggelengkan kepalanya. Dia tidak berniat untuk memikirkan hal tidak penting semacam itu.


“Kita telah mengambil terlalu banyak pesanan. Meski menurun di musim dingin, tetapi tidak bisa disangkal kalau apa yang kita lakukan ini merusak pasar. Bisa dibilang, ini adalah tindakan ilegal.” Alexander menghela napas panjang.


“Maksud anda ...” ucap Daisy dengan ekspresi khawatir.


“Tindakan yang diambil para hunter perempuan itu mulai menjadi terlalu agresif. Kita akan berhenti menerima pesanan dalam beberapa waktu ini,” balas Alexander. Ekspresinya menjadi lebih serius. “Kita akan menghindari hal-hal berantakan ini terlebih dulu.”


“Baik!” Daisy dan Aster membalas serempak.


“Omong-omong, apa yang kita kumpulkan selama enam bulan terakhir sudah cukup untuk bertahan beberapa waktu. Hanya saja ... ini agak merepotkan,” gumam Alexander.


Dalam enam bulan terakhir, banyak hal yang telah terjadi. Daisy dan Aster akhirnya mengonsumsi 8 potion level 1. Hampir bisa menembus batasan hunter resmi.


Sementara itu, Alexander sendiri merasa sangat tertekan. Dia mengumpulkan cukup banyak benda berharga dan kupon, tetapi sarana untuk memperoleh bahan ramuan level 3 sangat sulit. Setelah sibuk mencari pedagang tidak resmi, dia menemukan tiga orang agar bisa mendapatkan bahan ramuan evolusi tanpa dicurigai.


Setiap orang hanya bisa menjualnya 3 bulan sekali. Jadi Alexander hanya bisa membuat satu ramuan evolusi level 3 setiap tiga bulan sekali.


Sebenarnya itu sangat cepat bagi orang lain. Bahkan terlalu cepat sehingga hampir mustahil dilakukan.


Meski begitu, ada sesuatu yang membuat Alexander agak tertekan. Karena dia mengambil terlalu banyak pesanan untuk keuntungan, itu langsung merusak pasar. Sebenarnya pemuda itu terpaksa melakukannya karena harga berbagai bahan untuk membuat potion khusus sangat mahal. Tetap saja, itu berdampak pada pasar.


Bukan hanya orang-orang di pinggiran Distrik 3 yang berkencimpung dalam bisnis gelap mengincarnya, tetapi para prajurit dari Blood Cross juga mulai mempermasalahkan ini. Dibandingkan orang-orang di sisi gelap, Alexander menganggap Blood Cross merepotkan karena bisa mengirim beberapa orang level 3 untuk memburunya.


Jadi, Alexander memilih untuk menghentikan pekerjaannya untuk sementara. Biarkan semuanya tenang sebelum mengambil tindakan selanjutnya.


“Omong-omong, bagaimana dengan latihan kalian?” tanya Alexander.


“Saya sudah siap untuk latihan tahap selanjutnya, Tuan!” balas Aster dengan ceria.


“Itu ... bisakah saya meminta sedikit waktu, Tuan?” ucap Daisy dengan agak ragu.


Bukan hanya hampir menjadi hunter sesungguhnya, tetapi latihan pedang Daisy dan Aster berjalan dengan lancar. Aster yang awalnya pemalu menjadi penuh semangat dan ceria di sisi Alexander. Sementara itu, Daisy yang sebenarnya cukup berbakat merasa kewalahan karena kecepatan Aster.


Melihat ke arah Daisy dan Aster, Alexander mendecak rendah. Sekarang, tidak bisa disangkal kalau keduanya menjadi anggota jajaran wanita paling cantik di Shelter 13.


Dari segi paras, ada beberapa yang bisa bersaing dengan mereka. Hanya saja, dalam segi tubuh, mereka mengalahkan hampir semua wanita di Shelter 13 kecuali putri atau kerabat para petinggi.

__ADS_1


Berbeda dengan para wanita yang bekerja di Distrik 3 atau bahkan menjual jasa di Distrik 5, Daisy dan Aster tampak lebih mempesona. Perawatan Alexander dalam waktu satu tahun ini membuahkan hasil. Selain makan cukup, mereka juga banyak berolahraga. Membuat kedua wanita itu gemuk di tempat yang seharusnya gemuk, kurus di tempat yang seharusnya kurus.


Jelas membuat iri hampir semua wanita di Shelter 13!


Tentu saja, jika mereka mengetahuinya. Namun, hampir tidak ada yang mengetahuinya karena Alexander ‘menyimpan’ mereka baik-baik di dalam rumahnya.


“Bakatmu sudah sangat baik, Daisy. Kamu tidak perlu terlalu rendah diri. Selama bekerja keras, pasti kamu bisa melakukannya,” ucap Alexander.


“Terima kasih, Tuan!” Daisy mengangguk dengan ekspresi penuh syukur di wajahnya.


“Bagaimana dengan saya, Tuan?” tanya Aster penuh harap.


“Bakatmu lebih baik daripada Daisy, tetapi ada masalah besar. Sudah aku bilang berkali-kali, kamu harus menahan diri. Apakah kamu mengerti?” ucap Alexander datar.


“Baik, Tuan!” Aster mengangguk dengan patuh.


Setelah membahas beberapa hal, mereka bertiga sarapan bersama. Baru kemudian ketiganya latihan pedang di halaman belakang.


Siang harinya mereka beristirahat sejenak lalu memproses berbagai bahan ramuan bersama. Sore harinya Daisy dan Aster bersih-bersih, Alexander sendiri mulai membuat ramuan yang dipesan para magang hunter perempuan. Dia berniat menyelesaikan komisi hari ini, lalu bersembunyi beberapa bulan sampai tenang.


Malam harinya, di ruang bawah tanah.


“Sepertinya aku membuat kesalahan perhitungan,” gumam Alexander.


Pada awalnya, alasan kenapa dia memilih Shelter 13 adalah karena lebih mudah mencari bahan. Namun, resiko besar sama sekali tidak dia pertimbangkan.


Berbeda dengan Shelter 11 dan Shelter 13 yang jauh lebih luas, Shelter 13 lebih terbatas karena lokasinya juga berada di area lebih berbahaya. Dengan populasi yang terbatas, gerakan seperti membuka jasa pembuatan ramuan atau peralatan akan menjadi mencolok dan merusak pasar.


“Huh!” Alexander menghela napas. “Sekarang apa yang perlu dilakukan adalah memberikan ramuan kepada pelanggan lalu mengambil bahan ramuan evolusi.”


Setelah mengatakan itu, Alexander mengambil pil berwarna merah darah. Sebuah pil yang harus dia konsumsi untuk mencocokkannya dengan ramuan evolusi level 3 spesial. Jumlahnya sama seperti pil sebelumnya, yaitu 100 pil (karena keinginan Alexander sendiri). Namun karena jangka waktu lama, dia hanya mengonsumsi dua pil sehari.


Setelah menelan pil, Alexander membiasakan diri dengan rasa sakit. Baru setelah semuanya membaik, dia bangkit lalu keluar dari ruang bawah tanah sambil membawa ransel dan sebuah kotak besar berisi beberapa potion.


Setelah memakai jubah hitam dan topeng hitam, pemuda itu keluar dari rumah dan menghilang dalam gelap malam.


Memikirkan bagaimana semuanya berjalan agak berantakan, Alexander bergumam dengan suara yang hanya bisa dia dengar.


“Jika terus seperti ini ... tampaknya memang sudah tidak bisa berlanjut.”

__ADS_1


>> Bersambung.


__ADS_2