
Setelah mendapatakan kabar buruk semacam itu, anggota Blood Cross di Shelter 13 jelas tidak lagi bahagia. Sebaliknya, mereka merasa marah dan benci. Mengutuk penyerang yang begitu tidak tahu malu karena memanfaatkan celah untuk melakukan perampokan.
Meski suasana tidak lagi ceria, tetapi pekerjaan mereka terus berlanjut. Sementara hunter yang dipekerjakan sebagai tentara bayaran duduk santai sambil menunggu perhitungan poin yang mereka dapatkan dengan menukar bahan-bahan dari monster, para petugas dan penjaga mulai berkeliling untuk mencatat dan mengangkut bahan.
Pada saat sampai di tempat Alexander, pencatat dan para penjaga tertegun sejenak. Memiliki ekspresi penuh keraguan, wanita pencatat itu bertanya.
“Apakah ... kamu benar-benar melakukan ini sendiri?”
Bukannya marah ketika ditanyai, Alexander memasang senyum ramah sembari membalas, “Kalian bisa bertanya pada rekan-rekan di sekitar.”
Mendengar itu, para penjaga melihat hunter di sekeliling. Saat itu juga, para hunter yang dibantu dan membantu Alexander mulai berbicara.
“Dia memang melakukannya sendirian, Pak. Bahkan ada level 2 di sana! Tentu saja, level 2 masih memerlukan bantuan kami.”
“Hey, jangan lihat dia ramah dan masih muda .. pemuda itu benar-benar monster!”
“Ya. Dia adalah monster yang tahu malu!”
“...”
Pada saat mendengarkan ucapan mereka, Alexander mengerutkan keningnya. Pemuda itu tidak bisa tidak mengeluh.
“Hey, siapa yang kalian sebut monster tak tahu malu? Tahu seperti ini, aku akan membiarkan kalian digigit sampai mati!” ucap Alexander setengah bercanda.
“Kamu jelas tidak banyak terluka, tetapi kamu mengeluh paling banyak Nak!”
“Ya, ya! Kamu yang paling banyak mengeluh!”
“...”
Mendengar begitu bersemangat dan ramainya orang-orang yang sedang memberi saksi, pencatat dan penjaga yang sedang menonton buru-buru bicara.
“Baik! Kami mempercayainya. Tampaknya beberapa prajurit yang bertugas di sekitar juga melihatnya.”
Selesai mengatakan itu, wanita tersebut memandangi Alexander. Cara melihatnya berbeda dibandingkan sebelumnya. Bukan hanya terlihat muda dan tampan, ternyata pemuda di depannya begitu hebat. Walau kekuatannya di level 1, tetapi efisiensi membunuh lebih banyak daripada kebanyakan hunter level 2.
Setelah menghitung semuanya, pencatat tersebut langsung memberi Alexander kertas tanda kependudukannya beserta poin kontribusinya. Bahan dari tanda itu unik dan tidak bisa ditiru orang luar, ditambah cap yang ada di sana, keasliannya sudah bisa dijamin.
Ketika kembali, data tersebut juga akan dilaporkan ke pihak atas, jadi Alexander bisa menggunakan poinnya dengan bebas mulai besok.
Setelah area sekitarnya dibersihkan, Alexander duduk santai untuk mengembalikan energinya. Ketika mengeluarkan surat yang diberikan sebelumnya, mata pemuda itu langsung terbelalak ketika melihat nilainya.
‘Kaya! Hadiah ini benar-benar kaya! Entah bahan yang digunakan Daisy dan Aster atau bahan-bahan yang perlu ditebus di musim dingin, semuanya bisa kembali ditebus!’
Menyimpan kembali dokumen itu, Alexander merasa ingin menangis. Dia sama sekali tidak menyangka kalau kekayaannya bisa dikembalikan hanya dengan waktu yang relatif singkat. Meski melakukan patroli selama dua bulan dan bertarung melawan gelombang binatang buas itu berat, tetapi masih sesuai dengan harganya.
Bukan hanya Alexander, tampaknya para tentara bayaran juga merasa sangat senang.
Pada saat Alexander hendak kembali ke kota, dia akhirnya tersadar.
‘Sebenarnya, poin kontribusi ditambah lebih banyak? Seharusnya mereka tidak membuatnya berlipat ganda, tapi ...
Jadi begitu!’
__ADS_1
Mata Alexander berbinar. Alasan kenapa pihak Blood Cross di Shelter 13 memberi nilai dua kali lipat bukan karena usaha mereka, tetapi karena situasi yang sangat kacau. Setelah pukulan keras dimana banyak petinggi mati di Distrik 1 atau di luar shelter, mereka takut para tentara bayaran membuat masalah.
Orang-orang itu menyuap para tentara bayaran dengan uang sebagai pengalih perhatian! Biarkan mereka mendapatkan waktu untuk menstabilkan kekacauan yang terjadi!
“Pintar. Sebagai penguasa wilayah selama ratusan tahun, mereka memang pintar,” gumam Alexander dengan suara yang hanya bisa dia dengarkan.
“Apa yang sedang kamu gumamkan?”
Pada saat itu, suara wanita yang familiar terdengar di telinga Alexander. Ketika menoleh, dia melihat Aurora yang berjalan ke arahnya. Penampilan wanita itu benar-benar tidak kalah berantakan dibandingkan dirinya. Jelas, pertempuran yang dialaminya tidaklah mudah.
Aurora sendiri ditugaskan di tempat yang cukup jauh dari Alexander, jadi mereka tidak bisa saling membantu. Meski begitu, keduanya memanfaatkan waktu ini untuk mempertajam pedang mereka. Mengasah diri agar meningkatkan kemampuan pribadi.
“Bukan apa-apa.” Alexander mengangkat bahu. “Tampaknya kamu sudah tidak lagi marah padaku, Nona?”
Mendengar ucapan Alexander, Aurora tertegun sejenak. Saat itu, barulah dia ingat kalau sebelumnya marah pada pemuda yang menjengkelkan itu. Namun, setelah bertarung di bawah tekanan berat dimana hidup dan mati berjarak begitu tipis, hal-hal seperti kemarahan itu telah hilang.
“Tidak. Sebenarnya aku tidak marah,” ucap Aurora, berbohong tanpa berkedip.
“...”
Alexander mengangguk santai, sama sekali tidak berniat mengungkitnya.
“Sebelumnya ... maafkan aku yang sedikit tidak stabil dan kekanak-kanakan. Aku sedikit mengacau, jadi aku harap kamu memakluminya. Jadi, tolong jaga aku sampai perjanjian kita terselesaikan,” ucap Aurora sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Ucapan Aurora membuat Alexander terkejut sampai hampir jatuh karena tersandung kakinya sendiri. Dia menatap wanita itu beberapa saat sebelum mulai bicara.
“Apakah kamu tidak apa-apa? Kamu tidak terkena racun ganas yang mematikan, bukan?”
“Apakah kamu yakin tidak sakit? Mungkinkah kamu terkena parasit atau semacamnya? Otakmu baik-baik saja?”
“...”
Pertanyaan demi pertanyaan itu membuat sudut bibir Aurora berkedut. Dia langsung menendang tulang kering Alexander lalu pergi sambil mengutuk.
“Kamu sakit! Kamu sakit parah dan otakmu benar-benar sakit!”
Melihat Aurora yang pergi dengan marah, Alexander hanya mengangkat bahu. Karena suasana hatinya sedang baik, dia sama sekali tidak mempermasalahkan ucapan pemuda itu. Yang lebih penting ...
Sekarang pemuda itu mulai menghitung cara membelanjakan poin kontribusinya dengan efisien!
---
Satu minggu kemudian.
Pagi buta di dalam ruang bawah tanah, Alexander melihat satu botol ramuan evolusi yang ada di atas meja.
“Meski tertunda selama dua bulan lebih, aku benar-benar masih bisa mendapatkan ramuan evolusi di musim dingin!”
Pada awalnya, Alexander juga telah membuat rencana untuk musim dingin. Jika beruntung, bisa mendapatkan satu atau dua ramuan dengan lebih banyak usaha. Namun, dia tidak menyangka kalau akan mendapatkan keuntungan dari masalah yang dihadapinya.
Berbeda dengan dirinya yang telah menyiapkan bahan utama jauh-jauh hari, Aurora sendiri tidak bisa menukarkan potion evolusi level 2 karena tidak bisa menemukan bahan dan Alexander tidak mau bertukar dengan poin kontribusi wanita itu.
Pada akhirnya, hanya bisa menunggu musim semi sementara Alexander yang sebelumnya di belakangnya dengan selisih 2 potion sekarang menyusulnya.
__ADS_1
“Kalau begitu tidak perlu ragu-ragu!”
Karena sudah meminum pil racun yang cukup, Alexander mulai minum ramuan evolusi tersebut.
Ketika cairan itu masuk ke dalam perutnya dan mulai diserap tubuhnya, otot-otot di tubuh Alexander menjadi kehitaman. Pemuda itu menggigit bibirnya sampai berdarah, berusaha untuk tidak berteriak. Tangannya mengepal erat sampai kuku-kuku menggali telapak tangannya sendiri hingga berdarah.
Alexander merasa seluruh tubuhnya panas seolah dibakar dalam kobaran api. Tidak hanya itu, dia merasakan sensasi ditusuk jarum di sekujur tubuhnya. Meski begitu, dia tidak berani lengah apalagi sampai kehilangan kesadaran.
Setelah beberapa waktu, Alexander akhirnya bersandar di kursinya dengan ekspresi kelalahan.
“Astaga, ini benar-benar menyakitkan. Entah itu ramuan evolusi, pil racun, dan potion penguat miracle root ... semuanya benar-benar menyiksa. Jika tidak memiliki alasan untuk bertahan, sepertinya aku sudah gila hanya dengan percobaan awan.”
Alexander bergumam pelan dengan ucapan yang hanya bisa dia dengar. Pemuda itu terus mengeluh sambil memejamkan matanya. Dia tidak meminum potion pemulih stamina, membiarkan tubuhnya pulih sendiri karena potion lain bisa mempengaruhi tubuhnya.
Alih-alih menjadi baik, potion tersebut malah bisa melukai tubuhnya.
“Aku mengantuk dan ingin tidur, tetapi sudah berjanji dengan wanita itu. Jika aku tidak menepati janji, dia pasti akan membuat masalah.”
Setelah tubuhnya agak pulih, Alexander bangkit lalu keluar dari ruang bawah tanah. Dia pergi ke ruang utama lalu mengeluarkan berbagai pakaian dan peralatan.
Saat itu juga, pintu kamar lain terbuka, Daisy dan Aster keluar lalu membungkuk hormat kepadanya.
“Selamat pagi, Tuan. Hari ini anda bangun lebih awal,” sapa Daisy.
“Ya. Nanti aku harus pergi agak pagi untuk menemui Aurora.”
“Kalau begitu biarkan saya menyiapkan semuanya, Tuan.” Aster yang awalnya sedikit pemalu langsung berbicara pada Alexander.
“Oh. Baiklah.” Alexander mengangguk ringan.
Sementara dia duduk santai sambil menunggu, Aster sibuk memasak dan Daisy datang sambil membawa air hangat.
Melihat tubuh Alexander yang agak kotor dengan aroma obat yang cukup kuat, Daisy masih berkata dengan senyum lembut di wajahnya.
“Kalau begitu biarkan saya membersihkannya, Tuan.”
Mendengar ucapan Daisy, Alexander mengangguk ringan. Dengan bantuan wanita itu, dia menyeka tubuhnya dengan air hangat lalu berganti pakaian.
Pada awalnya, Alexander merasa sedikit malu dan tidak perlu. Namun beberapa hari kemudian, dia malah mulai terbiasa dilayani.
Entah bersih-bersih rumah atau membersihkan diri, entah menyiapkan makanan dan minuman, Alexander mulai menjalani kehidupan yang begitu nyaman.
Apakah kehidupan kapitalis dan pejabat tinggi yang boros itu buruk? Tentu saja tidak!
Kehidupan itu ... benar-benar terlalu nyaman sampai-sampai bisa membuat orang ketagihan!
Selesai sarapan bersama, Alexander memberikan tugas kepada Daisy dan Aster. Setelah itu, barulah dia keluar dari rumah sembari berkata.
“Aku berangkat.”
Usai menutup pintu dan menguncinya, Alexander pun pergi ke tempat yang disepakati. Tempat dimana dia dan Aurora memutuskan untuk melakukan kerja sama tahap berikutnya.
>> Bersambung.
__ADS_1